The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Museum di Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum di Solo. Tampilkan semua postingan

Museum Istana Mangkunegaran

Museum Istana Mangkunegaran berada di dalam Kompleks Pura Mangkunegaran, yang berlokasi di tengah-tengah Kota Surakarta (Solo). Tepatnya berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Museum ini menempati sebuah bangunan utama dari Pura Mangkunegaran, yaitu Dalem Ageng.  Dalem Ageng merupakan bangunan yang berada di Pura Mangkunegaran yang menjadi tempat diadakan upacara-upacara tradsional dan memiliki bentuk limasan dengan 8 buah tiang penyangga (saka guru), dan tidak memiliki plafon, sehingga usuk-usuk dan reng-reng dapat dilihat, yang merupakan simbol dari matahari (surya sumirat).
Di museum ini terdapat suatu koleksi benda-benda purba, yang dikumpulkan mulai tahun 1926. Koleksi ini sekarang ditempatkan benda-benda perunggu, seperti benda-benda keperluan untuk meditasi dan barang-barang dari emas, seperti gelang, kalung, subang, anting-anting, rantai, badong, jam, tempat cerutu dan masih banyak lagi.
Di samping koleksi tersebut, juga dipamerkan barang-barang ampilan upacara, seperti sumbu (tempat sapu tangan), tempat sirih, kecohan/tempat meludah, dan lain-lain. Senjata-senjata kuna juga dipamerkan, seperti keris, tombak dan pedang. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat almari besar dengan ukuran MN (Mangkunegaran) yang berisi pakaian-pakaian yang dilapisi emas untuk tarian Bedhaya Srimpi dan Langendriyan.
Semua koleksi tersebut dipamerkan di museum ini dan sekarang dapat dilihat oleh umum, agar bangsa kita mendapatkan rasa harga diri karena barang-barang tersebut adalah hasil karya bangsa kita sendiri.
Karena museum ini merupakan Obyek Wisata Budaya dari Pura Mangkunegara beserta lingkungan istana secara keseluruhan, maka sejak 1968 dibuka untuk umum dan kepariwisataan di Pura Mangkunegaran diurus oleh Biro Pariwisata Mangkunegaran.

Maksud dan Tujuan Koleksi
Adapun maksud dan tujuan dari koleksi tersebut, antara lain adalah bahwa bangsa kita telah menunjukkan bahwa kebudayaan kita di masa lampau telah begitu tinggi adat serta peradabannya. Untuk itu dalam koleksi ini ingin memamerkan sebagian dari budaya bangsa yang selama ini tenggelam.
Kita mencoba untuk menghidupkannya kembali dengan jalan menunjukkan kepada bangsa kita pada generasi yang sekarang yang belum begitu mengenal peradaban bangsa kita di zaman lampau.
Semoga menjadi kenyataan bahwa akan tiba masanya bahwa benda-benda seni zaman kuna tidak dianggap keramat, yang mendatangkan keuntungan atau kesengsaraan tetapi sebagian kebudayaan bangsa yang mempunyai nilai budaya yang tinggi yang bisa memainkan peranan dalam studi mengenai sejarah dan kebudayaan bangsa.

Asal-usul Benda Koleksi
Dengan terus-menerus membeli benda-benda dari perak dan emas yang dibuat oleh pandai emas Jawa Kuna diperoleh gambaran yang jelas bagaimana kemampuan mereka itu, tetapi cara seperti itu tidak memungkinkan orang untuk mengetahui secara pasti dari mana asal benda-benda tersebut.
Bahwa sebagian besar dari koleksi benda-benda yang berasal dari emas dibeli di Surakarta dan Yogyakarta. Berbicara mengenai asal-usul benda-benda tersebut bahwa benda-benda itu telah dicatat sepanjang ditemukan di wilayah dalam praja Mangkunegaran kebanyakan berasal dari daerah sekitar Wonogiri, sesuai dengan penemuan prasasti di tahun 1933 yang berupa prasasti tahun 903 M, mengenai perahu ferry yang bebas bea di Bengawan Solo di tempat yang sekarang bernama Wonogiri.
Seribu tahun yang lalu, letak keraton tidak begitu jauh ke selatan, karena hubungan dengan India maupun dengan negara asing dilakukan di pantai utara. Oleh karena itu sebaiknya kita menghubungkan dengan asal-usul benda emas di daerah Gunung Kidul itu dengan ferry yang bebas bea itu masuk di Bengawan Solo, yang barangkali dimaksud untuk memajukan perjalanan ziarah ke makam raja-raja dan pertapaan.
Untuk di daerah Yogyakarta ditemukan di selatan ibukota Bantul, yang terletak dekat dengan candi-candi utama.
Di daerah Surakarta diperoleh arca-arca di bagian dari cand-candi Nusukan yang sekarang telah hilang. Yang letaknya di dekat jembatan kereta api di atas Sungai Kalianyar.
Tempat penemuan lain yaitu Mojogedang, Sragen yang mana dulu terdapat kompleks kecil yang terdiri dari candi utama yang di depannya terdapat tiga monument kecil. Dibangun arca Siwa, di situs itu terdapat arca Siwa kepala tiga yang masih terdapat lingga dan yoni.

Benda-Benda Koleksi
Aneka koleksi benda yang dipamerkan di dalam Museum Istana Mangkunegaran, antara lain:
1.       Kereta
2.       Arca Logam
3.       Arca Batu
4.       Peralatan dari logam
5.       Senjata
6.       Lukisan dan foto
7.       Topeng
8.       Tanda Penghargaan
9.       Pakaian Tari
10.   Wayang Beber
11.   Koleksi Kristal
12.   Kaligrafi ***


Share:

Museum Radyapustaka

Pada hari Rabu, 6 Juli 2011 saya mengantar anak berkunjung ke Museum Radyapustaka. Permintaan ini sebenarnya sudah lama, namun karena kesibukan penelitian di lapangan kala itu, baru kali ini saya bisa memenuhi  keinginan anak. Kunjungan ke museum tersebut sebenarnya bermula dari pertanyaan anak saya, “Bapak, di dalam museum itu isinya apa to?”
Museum tertua di Indonesia tersebut terletak di Jl. Slamet Riyadi, Surakarta, bersebelahan dengan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta. Lokasinya yang strategis dan menyatu dengan Taman Sriwedari, memudahkan pengunjung dari berbagai daerah bisa menjumpainya dengan berbagai moda transportasi darat.
Kenapa kita musti ke museum? Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro dalam Seminar Satu Hari Museum Artha Suaka Bank Indonesia di Jakarta pada tanggal 20 Desember 2005, menyebutkan bahwa museum mempunyai manfaat bagi masyarakat, yaitu: sebagai pusat warisan yang harus dipelihara dan dikembangkan, sebagai pusat pengenalan dan pembelajaran, sebagai pusat penelitian, sebagai pusat pertemuan masyarakat (community center) dan institusi pariwisata.
Sehingga tidak ada ruginya kita mengajak keluarga, handa taulan maupun kerabat berkunjung ke museum Radyapustaka ini. Selain bisa menyaksikan benda purbakala atau cagar budaya, juga bisa mencari buku-buku kuno di perpustakaan yang berada di tengah Museum Radyapustaka. Koleksinya lumayan banyak dan yang paling bikin betah di sana karena layanan dari pustakawan di sana sangat bagus. Kita baru bertanya keyword yang mau kita butuhkan, mereka sudah bisa mencarikan apa yang kita inginkan meski saat ini perputakaan tersebut tengah menyelesaikan katalogisasi dan menuju proses digitalisasi naskah.
Dari perpustakaan tersebut, saya berusaha meresume dari berbagai sumber untuk mengetahui sejarah singkat riwayat museum Radyapustaka:


Paheman Radyapustaka (PR) adalah suatu lembaga ilmu pengetahuan, didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 (masih zaman Raja Surakarta, Paku Buwono IX). Pendiri pertama ialah mendiang Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV, seorang Patih Keraton Surakarta Hadiningrat. Di kota Sala (orang luar daerah sering menyebutnya dengan Solo), beliau terkenal dengan sebutan Kanjeng Indraprasta, seorang prajawan yang besar minatnya terhadap ilmu kebudayaan.
Sejak lahirnya PR memang telah berbentuk lembaga swatantra (otonomi), lengkap dengan perpustakaan dan museumnya. Pengurus dipilih oleh anggota. Ketua pertama kala itu, terpilih Radeh Tumenggung Haryo (RTH) Djojodiningrat. Anggota-anggotanya terdiri dari para guru dan para karya yang dipandang memiliki keahlian di dalam pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan ilmu dan kebudayaan. Para anggota tidak diwajibkan membayar uang iuran, hanya diminta kesanggupannya ikut bersama-sama, memelihara kelangsungan lembaga. Pelaksana pekerjaan sehari-hari pada waktu itu yaitu Raden Mas (RM) Suwito.


Perlu kita ingat, bahwa pada waktu itu PR telah memelopori menerbitkan majalah bulanan bahasa Jawa, berisi artikel-artikel tentang pengetahuan dan kebudayaan, bernama Sasadara dan Candrakanta, beberapa kitab kesusasteraan Jawa telah dapat diterbitkan pula dan juga kursus pedalangan yang diberi nama Padha Suka, singkatan dari Pamulangan Dhalang Surakarta, mulai tahun 1923 sampai dengan tahun 1942. Pengajarnya kala itu, Raden Ngabehi Lebdocarito dan Raden Ngabehi Dutodiprojo. Selain itu juga mengadakan kursus memainkan gamelan (nabuh) dan kursus bahasa Kawi. Pada tahun 1922 pernah mengadakan sarasehan mengenai aturan surat menyurat dalam bahasa Jawa (tatananing penyerat Jawi).
Pada tanggal 1 Januari 1913, Radyapustaka dipindah tempatnya dari Kepatihan ke gedung Kadipala, yaitu gedungnya sekarang ini untuk melaksanakan tugas hidupnya lebih lanjut.
Gedung Kadipala itu semula milik seorang Belanda bernama Johannes Busselaar. Gedung itu dibeli oleh Raja Surakarta, yang kala itu bertahtalah Paku Buwono IX, dengan perantara onder-major Raden Mas Tumenggung (RMT) Wiryodiningrat, melalui seorang Belanda bernama Donald Soesman tercantum dalam akta notaris tanggal 13 Juli 1877 No.10 seharga 65.000 gulden. Menurut meetbriefnya dd 22 Februari 1864, tanah eigendom, dengan batas-batas sebagai berikut:
• Utara: sebelah selatan Jl. Purwosari timur (sekarang Jl. Slamet Riyadi) mulai jalan kecil ke Barat, kurang lebih 115 meter.
• Timur: mulai jalan besar ke Selatan sampai jalan kecil, kurang lebih 168 meter.
• Barat:mulai jalan besar ke Selatan, kurang lebih 173 meter.
• Selatan: dari Timur ke Barat, kurang lebih 78 meter.
Bentuk gedung dan rumah-rumah sisinya sampai sekarang ini belum berubah, hanya bekas rumah keretalah yang oleh Radyapustaka dibangun menjadi Walidyasasana. Dan bekas kamar mandi di dalam rumah, dijadikan kantor untuk Ketua, sedang rumah sisi sebelah barat dipinjam Sriwedari pada waktu Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purwodiningrat menjadi pembesarnya, termuat dalam surat tertanggal 12 November 1931 No.130/5. [060711]

Kepustakaan:
 R.M Sajid, 1984, Babad Sala, Rekso Pustoko Mangkunegaran: Solo, hal.79.
 _______, ____, Nawawindu Radyapustaka 1820 EHE 1890, __________. [221211]


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami