Rabu, 16 Desember 2015

Taman Renungan Bung Karno

Dengan naik ojek, kami diantar keliling Kota Ende. Salah satu lokasi yang ditunjukkan oleh tukang ojek adalah sebuah taman yang hijau dan rindang. Sekilas tampak seperti taman kota yang pada umumnya ada di sebuah daerah. Namun bila sudah memasuki areal taman ini akan terlihat keistimewaan dari taman ini. Taman ini dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno. Taman Renungan ini terletak di Jalan Soekarno, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi taman ini berada di depan Kantor Camat Ende Utara.
Dalam catatan sejarah, Soekarno pernah dibuang ke Ende, Pulau Flores dari tahun 1934 hingga 1938. Ketika di Ende, Soekarno sering memanfaatkan sebagian waktu pembuangannya untuk melakukan permenungan mendalam tentang butir-butir Pancasila yang kini menjadi dasar negara Indonesia. Tokoh Proklamator ini sering bermain bola bersama masyarakat setempat. Saat lelah ia bernaung di bawah pohon sukun berbatang lima. Soekarno duduk pada sebuah bangku kecil, sambil membaca sebuah buku, setelah dibaca kemudian Soekarno menutup bukunya, tangannya disandarkan ke belakang untuk menopang kepalanya. Kepala Soekarno mendongak ke atas melihat cabang-cabang sukun yang berjumlah lima itu sambil menikmati hembusan angin dan mulai berpikir jauh tentang Indonesia. Di bawah pohon sukun inilah, Soekarno menemukan konsep dasar Indonesia, Pancasila.


Ende sangat mempengaruhi Soekarno, karena di Ende-lah Soekarno “menemukan dan merancang” Pancasila. Secara pribadi, Ende menjadi tempat perkembangan penting dalam diri Soekarno, yaitu perubahan dari manusia “singa podium” menjadi “manusia perenung”. Soekarno di Jawa adalah Soekarno “pembakar massa”. Soekarno di Ende adalah Soekarno reflektif, pemikir, lebih banyak waktu dipakai untuk tenggelam dalam perpustakaan, bertukar pikiran dengan sekelompok paderi dari Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah, yang tidak ada hubungannya dengan gerakan kebangsaan sebagaimana para misionaris lain di Jawa. Kehidupan rakyat Ende, yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama tetapi hidup rukun dan damai, benar-benar memperkaya imajinasi Soekarno terhadap Indonesia merdeka kelak. Bahkan, itu menjadi bahan renungannya setiap hari di bawah sebuah pohon sukun.


Sekitar tahun 1970-an, pohon sukun tersebut mati dan pemerintah setempat mengganti dengan menanan anakan pohon yang sama dilokasi yang sama. Kemudian sejak tahun 1980-an, pohon sukun itu berganti nama menjadi Pohon Pancasila.
Dulu, lokasi Soekarno merenung di bawah pohon sukun tersebut dikenal sebagai Taman Remaja Ende, sedangkan di sebelah timurnya adalah Lapangan Perse. Perse merupakan singkatan dari Persatuan Sepak Bola Ende yang terkenal pada tahun 1970-an. Jadi, Lapangan Perse itu awalnya merupakan satu-satunya stadion sepak bola pada era itu. Setiap ada perhelatan sepak bola, puncak pertandingan antar klub atau antar kabupaten pasti digelar di lapangan ini.
Namun, sejak Wakil Presiden Boediono meresmikan patung Bung Karno yang berada di dekat pohon sukun tersebut pada 1 Juni 2013, yang dulunya dikenal dengan Taman Remaja berubah menjadi Taman Renungan Bung Karno atau biasa disebut juga dengan Taman Pancasila. Sedangkan, Lapangan Perse berubah menjadi Lapangan Pancasila. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa tempat-tempat tersebut memiliki sejarah yang ada kaitannya dengan munculnya falsafah lima sila atau Pancasila. *** [260915]

Kepustakaan:
Dhaniel Dhakidae, 2013. Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara

0 komentar:

Posting Komentar