Senin, 24 September 2012

Rumah Tradisional Mbaru Niang

Konservasi rumah tradisional mbaru niang di Kampung Wae Rebo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mendapat penghargaan tertinggi, Award of Excellence, dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) kawasan Asia Pasifik, akhir Agustus 2012. Rumah tradisional mbaru niang hanya ada di perkampungan tua di Wae Rebo, sebuah kampung terpencil di Desa Satar Lenda, Manggarai, Pulau Flores. Kampung ini berada pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut. Rumah mbaru niang berbentuk kerucut dan, menurut leluhur, jumlahnya hanya boleh tujuh. Rumah dengan arsitektur unik itu berlokasi di atas gunung.
Keberadaan mbaru niang lebih dulu diketahui wisatawan asing daripada wisatawan dalam negeri. Ketika sekelompok arsitek Indonesia tiba di Desa Wae Rebo pada tahun 2008, rumah adat mbaru niang tinggal empat. Upaya konservasi pun membuahkan hasil, beberapa donator berminat untuk mendanai pembangunan tiga rumah. Dalam proses tersebut, arsitek pun membongkar dan mempelajari teknologi ikatan yang digunakan mbaru niang. Proses ikatan lebih tua daripada teknologi paku. Ketidakrigidan teknologi ikat membuat sebuah bangunan menjadi fleksibel dan adaptif terhadap guncangan yang diakibatkan gempa bumi.  

Struktur rumah
Sesuai dengan namanya, “mbaru” berarti rumah dan “niang” berarti tinggi dan bulat. Rumah tradisional ini berbentuk kerucut, berfondasi kayu, serta beratap ijuk dan alang-alang. Penguat rumah sekitar 99 persen menggunakan ikatan rotan. Pasak hanya digunakan untuk menguatkan balok dan merapatkan lantai. Buku merupakan rangka terluar dari bambu. Wehang merupakan penutup atap mbaru niang. Bahan yang digunakan untuk wehana adalah alang-alang dan ijuk yang diikat. Sedangkan, daun pintunya dinamai para. Bahan yang digunakan untuk hiri ngaung adalah kayu worok. Hiri ngaung diletakkan di dalam lubang dengan alas batu dengan permukaan datar. Fungsinya sebagai kolom untuk menanggung beban lantai dasar. Sedangkan, hiri leles merupakan kolom yang diletakkan di posisi miring untuk menahan beban dari wahe leles.
Rumah adat Wae Rebo ada dua jenis: 1. Niang gendang atau mbaru tembong, yang merupakan rumah utama tempat berlangsungnya semua kegiatan budaya. Tinggi bangunan sekitar 14 meter dan diameter juga sekitar 14 meter. 2. Niang gena atau mbaru niang, yang merupakan tempat tinggal. Tinggi bangunannya sekitar 11 meter, diameternya pun sekitar 11 meter. Dalam pembagian tenda (lantai pertama) di dalam rumah adat tersebut terdapat dua bagian, yaitu nolang dan lutur. Nolang adalah zona privat tempat beraktivitas keluarga, terdiri dari kamar dan tungku tempat memasak. Lutur adalah zona publik tempat tamu beraktivitas. Satu rumah bisa memuat 6-8 keluarga dan pembagian urutan kamarnya berdasarkan urutan kelahiran. Di bagian tengah rumah terdapat tungku api yang juga berfungsi untuk memasak sekaligus mengasapi ijuk, alang-alang, dan kayu rumah sehingga semakin kuat. Pada umumnya, rumah adat terdiri atas lima tingkat. Tingkat pertama berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan. Tingkat kedua hingga keempat sebagai tempat meletakkan peralatan rumah, bahan makanan, dan kayu api. Lantai pertama disebut tenda, kedua disebut lobo, ketiga disebut lentar, keempat disebut lemparai, dan yang kelima disebut hekang kode.
Mbaru niang memiliki sembilan tiang utama, berpusat pada bongkok. Di depan tiang ini, tetua adat duduk saat upacara atau acara formal lain. Seperti diceritakan di atas, bahwa di dalam sebuah perkampungan hanya boleh didirikan tujuh buah rumah adat. Ketujuh rumah adat Wae Rebo adalah Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gendang, Niang Gena Keto, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro. Di dalam deretan ketujuh rumah adat yang memiliki pola melingkar, di tengahnya biasanya terdapat compang, yaitu tempat warga melakukan persembahan kepada Tuhan dan leluhur. ***  

Sumber:
  • KOMPAS edisi Sabtu, 22 September 2012 hal. 14

0 komentar:

Posting Komentar