Kamis, 21 Juni 2012

Penyucian Agung, Konservasi Berbalut Budaya

Masyarakat Bali kuno dikenal sebagai masyarakat agraris dengan kultur spiritual yang kuat. Tanpa menyebutnya dengan konservasi, sumber-sumber air disucikan untuk melindungi para petani dari bencana kekeringan.
Sejak zaman raja-raja berkuasa di Bali, penyucian dilakukan di hampir semua kawasan vital bagi para petani, seperti gunung, danau, dan hutan. Kawasan itu sangat penting bagi berlangsungnya tradisi agraris masyarakat Bali.
Gunung-gunung yang membentang di tengah-tengah Pulau Bali mulai dari barat hingga timur adalah kawasan vital bagi pertanian Bali. Di bentangan gunung itu, rakyat dan raja-raja di Bali mendirikan pura hingga jumlahnya tak kurang dari 1.000 bangunan, baik pura kecil maupun pura besar.
Gunung Agung adalah gunung terbesar di Bali yang sangat disucikan penduduknya. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya pura terbesar di Bali, Pura Besakih di Kecamatan Rendang, dan beberapa pura besar lainnya, seperti Pasar Agung di Kecamatan Selat. Gunung Agung adalah sumber air terbesar bagi masyarakat petani zaman dulu.
Antropolog Universitas Udayana, Ida Bagus Gede Puja Astawa, mengatakan, pada zaman raja-raja, mereka tak pernah menyebut kegiatan penyucian sebagai kegiatan konservasi. “Rasionalitas konservasi itu dibalut dalam selubung budaya. Mereka hanya  di menyebutkan pantangan untuk tidak merusak dan mengganggu kelangsungan ekosistem di gunung,” kata Astawa.
Pada zaman raja-raja itu pulalah, berkembang konsep spiritual mengenai Gunung Agung yang menyebutkan bahwa gunung tak ubahnya seperti kepala manusia. Dalam penghayatan masyarakat Bali kuno, kepala adalah organ tubuh yang paling suci karena merupakan bagian tubuh yang paling penting. Gunung harus dihormati seperti layaknya menghormati dan menyucikan kepala.
“Konsepsinya sederhana, kalau kepala rusak, semua tubuh manusia tidak akan berfungsi baik. Demikian pula dengan gunung, yang kalau dirusak akan menimbulkan bencana bagi masyarakat Bali ketika itu, yaitu masyarakat petani. Bencana bagi masyarakat petani kala itu yang paling ditakuti adalah kekeringan,” kata Puja Astawa.
Masyarakat Bali memiliki pandangan bahwa hidup kita akan tenang kalau kepala dijaga dengan baik. “Kepala sangat dihargai, sangat dihormati. Kalau kepala pusing, akan pengaruhi hidup kita. Kalau Gunung Agung itu dieksploitasi, sama dengan mengobok-obok kepalanya Pulau Bali. Itulah kenapa ada pura besar dan banyak pura kecil lain di Gunung Agung. Itu adalah cara masyarakat Bali kuno menghormati dan melindungi Gunung Agung,” kata Puja Astawa.
Sampai sekarang, di Bali masih berkembang tradisi bagi para petani untuk memberikan sesajen ke pura di sekitar sumber air di Gunung Agung.
Konsep penyucian alam yang menjadi tempat hidup masyarakat Bali bahkan diperkirakan sudah ada sejak zaman megalitikum. “Dari konsep orientasi spiritual mereka, mereka sudah mengenal penyucian alam yang dianggap sebagai buana agung karena akan memberikan berkah dan rahmat kepada manusia sebagai buana alit,” kata Geria.
Bandesa Adat Desa Sebudi, Kecamatan selat, Kabupaten Karangasem Mangku Gede Umbara, mengatakan, masyarakat sangat menghormati Gunung Agung karena merasa sebagai pusat kehidupan yang harus disucikan. “Masyarakat menghormati Gunung Agung yang telah memberi air. Tidak banyak yang tahu bahwa cara menghormati gunung itu adalah cara menjaga air yang sejak dulu diwariskan nenek moyang kami,” kata Umbara. ***

*) KOMPAS edisi Sabtu, 17 Desember 2011 hal. 37

0 komentar:

Posting Komentar