Kamis, 21 Juni 2012

Yang Tinggi Yang Disucikan

Tempat tinggi, seperti pegunungan dan bukit, bagi masyarakat Bali melambangkan kesucian, istana para dewa, dan leluhur. Keyakinan itu terekam di Pura Penulisan. Berada di ketinggian 1.745 meter di atas permukaan laut, tepatnya di atas Bukit Penulisan, Kintamani, Bangli, Pucak Penulisan merupakan pura tertinggi di Pulau Dewata. Letaknya di ketinggian itu menjadikan Pura Penulisan istimewa.
Dalam karyanya, Custodians of the Sacred Mountains, Thomas A Reuter menyebutkan, lantaran ketinggian fisik dan spiritualnya Puncak Penulisan juga dianggap kaja (arah ke gunung) oleh desa-desa yang mengelilinginya. Kaja adalah orientasi arah yang paling baik dalam kosmologi orang Bali lantaran menjurus ke arwah leluhur dan dewa-dewa di langit.
Penghormatan terhadap Penulisan itu terlihat dari keberadaan bangunan-bangunan pura, seperti Pura Tegeh Kauripan, Pura Daa atau pura gadis suci ata gadis tua (Daa tua), pura-pura di Bukit Panarajon, serta Pura Pucak Penulisan yang sering dipakai sebagai label untuk menyebut kompleks pura itu secara keseluruhan.
Pemuliaan bagi Penulisan diperkuat dengan adanya arca-arca perwujudan atau tokoh-tokoh raja yang didewakan, terutama di teras paling tinggi yang menjadi lokasi Pura Tegeh Kauripan (Gunung Kauripan atau gunung kehidupan). Arca perwujudan biasa diletakan di tempat-tempat yang dianggap suci dan dihormati.
Beberapa arca itu tertulis nama, antara lain, Ratu Gunapriyadharmapatni dengan suaminya, Dharmodayana, istri Raja Anak Wungsu, dan Astasuraratnabhumibanten yang merupakan raja Bali penduduk asli yang terakhir sebelum masuknya Majapahit. Arca leluhur yang didewakan itu pakaian dan perhiasannya seperti arca dewa, tetapi tidak mempunyai atribut yang dapat dihubungkan dengan arca dewa tertentu.
Arkeolog dari Balai Arkeologi, Denpasar, Bali, Ngurah Suarbhawa, mengatakan, keberadaan peninggalan sejarah di pura itu mendukung dugaan bahwa dulunya di pura itu terdapat bangunan kuno yang sezaman dengan arca-arca yang ada di sana. Sebagian arca diperkirakan berasal dari abad ke-11. “Itu berarti pemuliaan terhadap gunung telah ada jauh sebelum kuatnya pengaruh Majapahit di Bali sekitar abad ke-14,” ujar Suarbhawa.
Di pura itu pula terdapat gedong pusar tasik yang merupakan tempat yang dihormati dan ditutupi dinding kayu sekelilingnya. Thomas A Reuter menuliskan, gedong pusar tasik merupakan pusat samudra purba yang berisi mata air suci. Saluran air di bawahnya diyakini berhubungan dengan tempat-tempat suci yang sangat jauh letaknya. Pada upacara pakelem (penenggelaman), setiap sepuluh tahun sekali, seekor itik putih yang diberati uang kepeng dan ditandai dengan lontar akan dijatuhkan ke dalam sumur mata air itu.
Dalam kompleks itu, Pura Tegeh Kauripan berdampingan dengan Pura Daa yang merupakan simbolisasi dari dewi perempuan. Kedua pura itu dianggap sebagai aktualisasi simbolis pembelahan konseptual perempuan dan laki-laki. Bagian lain dari kompleks itu ialah Pura Penulisan yang sering dipakai sebagai penamaan bagi keseluruhan pura di Bukit Penulisan. Pura Penulisan berisi pelinggih yang dipersembahkan bagi Ratu Gede Penyarikan, utusan atau juru tulis dari dewa-dewa atau seorang raja. Kehadiran bangunan dan arca menandai kompleks Penulisan sebagai tempat yang disucikan. ***

*) KOMPAS edisi Sabtu, 17 Desember 2011 hal. 40

0 komentar:

Posting Komentar