Sabtu, 19 Desember 2015

Masjid Jami’ Ambon

Sepulang dari Museum Siwalima, angkot yang saya tumpangi melintas di depan sebuah masjid yang didominasi warna hijau muda. Spontan saja, saya minta diturunkan di masjid tersebut. Sesuai dengan tulisan Arab yang berada pada gevel pintu masuk utama masjid tersebut, diketahui bahwa masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ambon. Masjid Jami’ ini terletak di Jalan Sultan Baabullah, Kelurahan Honipopu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Lokasi masjid ini berdampingan dengan Masjid Raya Al Fatah, dan berada di pinggir Sungai Wai Batu Gajah.
Abdul Baqir Zein dalam bukunya, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia (Gema Insani Press, Jakarta, 1999) menulis, Masjid Jami’ Ambon didirikan pada tahun 1860 di atas tanah wakaf yang diberikan oleh seorang janda bernama Kharie. Pada awal didirikan, arsitektur bangunan masjid ini masihlah sangat sederhana. Menggunakan konstruksi bertiang kayu dan berdinding papan serta menggunakan rumbia sebagai atapnya. Ukurannya pun pada waktu itu tidaklah sebesar ini. Atapnya masih berbentuk seperti piramida teriris.
Kedudukan Pulau Ambon yang menjadi persinggahan pertama bagi kapal-kapal dagang untuk melanjutkan perjalanan ke Maluku Utara pada masa silam dari jalur selatan, menyebabkan hilir mudik orang dari luar Ambon yang semakin banyak, termasuk di daerah tempat lokasi Masjid ami’ Ambon yang tak begitu jauh dengan Pelabuhan Ambon. Di antara mereka, kemudian banyak yang bermukim sementara di kala transit maupun akhirnya menetap secara permanen di sekitar Pelabuhan Ambon. Kondisi yang demikian, menyebabkan daya tampung masjid tersebut tidak mampu lagi menampung jamaah karena agama Islam semakin bertambah di Ambon karena banyak di antara pedagang yang singgah adalah seorang pedagang Islam. Tak menutup kemungkinan para pedagang Islam tersebut selain melakukan kewajibannya sebagai individu muslim.


Pada 1898 dibangunlah sebuah masjid baru di atas lokasi masjid lama. Bangunannya sudah semi permanen dan lebih luas dari bangunan sebelumnya. Atapnya berbentuk tumpang satu dengan atap seng. Masjid tersebut juga sudah memiliki serambi depan, dengan bentuk limasan yang menyatu dengan bangunan utama masjid tersebut.
Pada 1933, kota Ambon dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Wai Batu Gajah. Sedemikian dahsyatnya banjir tersebut sehingga menghayutkan rumah-rumah penduduk  di kiri dan kanan sungai tersebut. Termasuk masjid yang berbentuk semi permanen ini, ikut hancur pula diterjang banjir bandang.
Pada 1936, warga yang berdomisili di sekitar masjid tersebut melakukan musyawarah untuk membangun masjid itu sebagai sarana ibadah yang sering digunakan sebelumnya. Maka dilakukan renovasi dengan mendirikan bangunan yang lebih besar dan permanen. Pendanaannya berasal dari  swadaya murni masyarakat muslim Ambon, dan baru dapat dirampungkan pada 1940.
Pada 1942, menjelang berakhirnya pemeritahan Kolonial Belanda di Maluku, serdadu Kompeni bersiap menghadapi kedatangan tentara Jepang yang akan merebut posisi mereka di Nusantara dengan cara membuka keran yang berada di sebelah hulu Sungai Wai Batu Gajah sehingga permukaan sungai digenangi oleh minyak yang terbakar.
Akibatnya, masjid itu pun turut terbakar. Namun, umat Islam di Ambon segera membangun kembali masjid yang terbakar itu, untuk menunjukkan pada Belanda ketegaran tekad umat Islam dalam mempertahankan masjid tersebut.
Pada 1944, ketika tentara Sekutu memborbardir Kota Ambon untuk mengusir tentara Jepang, mengakibatkan kota itu hancur. Namun Masjid Jami’ Ambon ini tetap utuh dan selamat.
Pada 1950, ketika pecah pemberontakan kaum separatis RMS (Republik Maluku Selatan), mereka berusaha memasuki masjid ini dan menangkap empat orang yang berada di dalamnya, termasuk seorang khatib masjid.
Pada 1960, Penguasa Perang Daerah Maluku menghibahkan lahan tanah yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Jami’ Ambon. Hibah tanah ini untuk mengantisipasi membludaknya jamaah yang melakukan shalat Jumat, Id, dan shalat Lima Waktu di Masjid Jami’ Ambon. Karena memang pengurus masjid sudah berencana untuk memperluas bangunan masjid.
Pada 2004, Masjid Jami Ambon direnovasi terutama penggantian lantai masjid, atap, menara dan juga  kubah masjid tanpa merubah bentuk asli dalamnya. Kemudian pada tahun 2011, tanah hibah yang berada di sebelahnya dibangun masjid baru yang besar dan luas untuk mengantisipasi semakin banyaknya jamaah masjid terutama pada hari Jumat maupun hari besar Islam lainnya. Masjid baru tersebut diberi nama Masjid Raya Al Fatah.
Oranga dari luar Ambon yang menyaksikan dua masjid berkubah tersebut bersebelah tentu akan bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi. Ada yang memperkirakan terjadinya persaingan antara umat Islam di Ambon sehingga harus membuat dua masjid “kembar”, namun bagi tahu, hal tersebut tidaklah menjadi masalah. Karena demi menyelamatkan sejarah masjid yang melekat erat di sanubarai umat Islam Ambon, dan untuk memenuhi sebuah bangunan masjid yang lebih besar dan luas guna menampung jamaah Masjid Jami Ambon maka dibangunlah Masjid Raya Al Fatah. Kendati demikian, meski sudah berdiri Masjid Raya Al Fatah, masjid yang lama pun, yaitu Masjid Jami’ Ambon, masih tetap digunakan untuk melakukan shalat lima waktu dalam kesehariannya. *** [021015]

0 komentar:

Posting Komentar