Sabtu, 04 Agustus 2012

New York Pun Ditukar dengan Pulau Run

Dari Kota Banda Neira, Pulau Run terlihat seperti sebongkah batu hitam yang mengapung di tengah Laut Banda. Hujan lebat yang tak kunjung reda dan hantaman gelora ombak setinggi 2 meter membuat salah satu pulau di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku, itu seolah timbul-tenggelam. Di musim angin timur yang kerap mengirim badai, salah satu pulau penghasil pala itu adalah dataran terpencil dan nyaris dilupakan.
Di belahan dunia lain, di Amerika Serikat, Kota New York di Pulau Manhattan gemerlap dengan cahaya. Inilah kota teramai di dunia, yang dianggap sebagai simbol kemajuan peradaban dunia modern.
Sekitar 400 tahun lampau, Pulau Run dianggap lebih bernilai dibandingkan dengan Pulau Manhattan yang kala itu bernama Nieuw Amsterdam. Terdengar absurd saat ini, tetapi itulah ironi sejarah ketika harga 1 gram pala lebih mahal dibandingkan dengan 1 gram emas. Demi monopoli pala di Kepulauan Banda, Belanda rela menukar Pulau Manhattan dengan Pulau Run.
Saat ini, barangkali pala lebih banyak tersembunyi di pojok dapur. Namun, hingga abad ke-18 pala dan cengkeh adalah rempah-rempah yang paling didambakan dunia. Mitos yang berkembang adalah pala bisa mengobati segala macam penyakit. Perburuan menuju sumber penghasil rempah ajaib itu pun menjadi masalah hidup dan mati.
Belanda dan Inggris adalah bangsa Eropa yang datang belakangan ke tanah asal rempah di Maluku. Sebelumnya, Portugis dan Spanyol telah lebih dulu menguasai kawasan ini. Armada Belanda, yang terdiri dari tujuh buah kapal di bawah Steven van der Haghen pada 1605 dan merebut Leitimor dari Portugis, merupakan awal proses kolonialisasi Belanda yang panjang di Nusantara.
Berturut-turut Belanda merebut benteng Portugis yang kemudian dinamai benteng Toluko, Oranye, Kalamata (ketiganya di Ternate), Kota Laha yang kemudian disebut Victoria (Ambon), Belgica dan Nassau (Neira), Hollandia (Lonthoir), serta Ravenge (Pulau Ay).
Belanda akhirnya berhasil menguasai nyaris seluruh Kepulauan Banda, kecuali Pulau Run. Pulau kecil itu tetap dikuasai Inggris dan menjadi duri dalam usaha Belanda memonopoli rempah-rempah.
Pulau berbatu, dengan panjang 3,2 kilometer dan selebar 0,8 kilometer mil ini merupakan salah satu penghasil pala, selain pulau-pulau lain di Kepulauan Banda. Run adalah koloni pertama Inggris di dunia. Saat James I berkuasa sebagai raja pertama dari Dinasti Stuart, ia disebutkan sebagai Raja Inggris, Skotlandia, Irlandia, Perancis, dan Pulau Run.
Setelah berkali-kali bertempur, kedua negara akhirnya berkompromi. Belanda-Inggris, melalui perjanjian Breda, sepakat menukar wilayah koloni. Permusuhan dihentikan pada 1667 dengan Traktat Breda. Isinya, Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Amerika Serikat), harus diserahkan kepada Inggris. VOC sepertinya diuntungkan dengan menancapkan kekuasaannya dalam monopoli perdagangan pala dunia.
Belakangan Inggris mengganti nama Nieuw Amsterdam menjadi New York. Tahun demi tahun berganti. Sejarah kemudian memunculkan ironi. New York berkembang menjadi salah satu kota terbesar dunia dengan perdagangan dan budayanya. Sementara Pulau Run, seperti juga pulau-pulau kecil di Nusantara, jauh tertinggal, miskin, dan terlupakan. ***

Sumber:
KOMPAS edisi Sabtu, 28 Juli 2012 hal. 36
 

0 komentar:

Posting Komentar