Rabu, 18 Mei 2016

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama (MLK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Malang Kota Lama, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 429 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1 yang berada di Kota Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Kolonel Soegiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini tepat berada di belakang The Balava Hotel, yang berseberangan dengan Rumah Sakit (RS) Panti Nirmala.
Bangunan Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda (Het station Kotta Lama te Malang gelegen op 429 m hoogte), yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang sepanjang 49 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879.


Proyek jalur kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah, dan bertahap. Pertama, diselesaikan dulu jalur rel dari Bangil hingga Lawang pada tahun 1878, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan jalur rel dari Lawang sampai Malang yang selesai pada tahun 1879.
Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan stasiun kereta api yang berada di paling selatan Kota Malang, dan sekaligus merupakan stasiun yang tertua di kota tersebut. Penyebutan nama Kota Lama hanya sekadar untuk membedakan dengan Stasiun Malang yang dibangun belakangan, yaitu Stasiun Kota Baru Malang.
Stasiun ini memiliki 6 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, arah utara menuju ke Stasiun Kota Baru Malang, dan arah selatan menuju Stasiun Pakisaji. Sedangkan, jalur 4 merupakan jalur menuju ke Depo Pertamina. Pada peron 1 terdapat bangunan emplasemen yang menggunakan struktur kayu dan atap pelana serta di atas atapnya terdapat vestibule yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Struktur ini hampir mirip dengan struktur emplasemen yang terdapat di Stasiun Blitar, yaitu dengan menggunakan sistem overkapping.


Dulu, dari Stasiun Malang Kota Lama ini juga terdapat jalur trem yang menghubungkan ke Blimbing sepanjang 6 kilometer yang dibangun oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) pada tahun 1903. MSM ini merupakan perusahaan trem yang mendapat konsensi pada tahun 1894 untuk membangun jaringan rel trem.
Dari Blimbing, jalur tersebut terhubung dengan Singosari, yang sebelumnya sudah dibangun jalur trem Singosari hingga Tumpang melalui Blimbing dan Pakis sepanjang 23 kilometer. Jadi, Stasiun Blimbing kala itu merupakan pertemuan jalur dari Singosari yang akan ke Tumpang dan ke Malang. Begitu pula, yang dari Stasiun Malang Kota Lama yang ingin ke Tumpang maupun Singosari, tremnya pasti melintasi Blimbing.
Jadi, pada waktu itu Stasiun Malang Kota Lama merupakan stasiun yang ramai dan sibuk. Karena dari stasiun tersebut terhubung ke beberapa stasiun. Selain jalur trem yang sudah diterangkan di atas, dari stasiun ini juga terhubung dengan Gondanglegi. Percabangan lengkapnya yang dari Gondanglegi, bisa dibaca di tulisan sebelumnya, yaitu Stasiun Kereta Api Kepanjen. Sayang, jalur trem tersebut sudah tidak aktif lagi.
Semenjak didirikan Stasiun Kota Baru Malang pada tahun 1941, pamor Stasiun Malang Kota Lama sedikit memudar hingga pada akhirnya oleh Pemerintah Hindia Belanda, stasiun tersebut dijadikan stasiun untuk mengangkut hasil bumi dan perdagangan dari Malang ke Surabaya dan sekitarnya. Meski sekarang, stasiun ini kembali beraktivitas sebagai stasiun yang menaikkan dan menurunkan penumpang, namun tingkat kesibukannya tidaklah seperti Stasiun Kota Baru Malang. Hal ini disebabkan lokasi Stasiun Malang Kota Lama semakin ‘terpencil’. Tidak kelihatan dari jalan besar karena terhalang bangunan The Balava Hotel yang menjulang, dan para pengantar penumpang pun sekarang merasa repot sejak di depan stasiun dibangun jalan layang. Lengkaplah rasa alienasi stasiun tersebut. *** [180516]

0 komentar:

Posting Komentar