Sabtu, 04 Januari 2014

Asta Tinggi

Asta Tinggi adalah tempat dari akhir perjalanan kehidupan para Raja Sumenep, keturunan maupun kerabatnya. Dalam bahasa Madura, Asta Tinggi merupakan perpaduan dua kata, yaitu asta dan tinggi. Asta berarti makam atau kuburan, dan tinggi di sini menunjukkan lokasi makam yang berada di daerah perbukitan. Jadi, Asta Tinggi merupakan kompleks pemakaman bagi Raja Sumenep beserta keluarganya di dataran tinggi.
Asta Tinggi terletak di Jalan Asta Tinggi, Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Kompleks makam ini berada sekitar 2,5 kilometer arah barat dari Kota Sumenep.
Luas areal kompleks makam ini berukuruan 112,2 meter x 109,25 meter yang dikelilingi tembok yang hanya terdiri dari batu kapur yang tersusun rapi tanpa bahan adukan semen dan pasir, sedangkan arsitektur bangunan yang ada di makam tersebut dipengaruhi oleh kebudayaan dari beberapa daerah (Belanda, Arab, China maupun Jawa) kendati sekilas kebudayaan Hindu masih kelihatan menonjol.


Bindara Akhmad dalam buku Lintasan Sejarah Sumenep dan Asta Tinggi Beserta Tokoh di Dalamnya, menerangkan bahwa makam pertama yang ada di Asta Tinggi adalah makam dari Pangeran Anggadipa yang merupakan seorang Adipati. Makam perempuan di samping beliau adalah makam dari istri beliau yang bernama R.Ayu Mas Ireng, R.Ayu Mas Ireng sendiri adalah putri dari Panembahan Lemah Duwur. Dulu pada awalnya Asta Tinggi tidak memiliki pagar hanya rimba belantara dan batuan terjal. Untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya, Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Sumenep membangun pagar hanya dengan batu-batu yang disusun rapi. Asta Tinggi sendiri memiliki dua bagian dimana bagian barat memiliki corak jawa. Di bagian timur sendiri lebih didominasi oleh corak Cina, Eropa, Arab dan Jawa. Pembangunannya sendiri berlanjut dari masa pemerintahan Panembahan Sumala dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat yang tidak lain dan tidak bukan adalah putranya, dan masih berlanjut lagi di masa pemerintahan Panembahan Natakusuma II. Keberadaan kompleks pemakaman ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke-16 namun baru mulai ada pembangunan seperti sekarang ini dimulai pada 1750 Masehi.
Bangunan bagian barat terdiri atas 3 kubah. Di dalam kubah 1 disemayamkan R. Ayu Mas Ireng, Pangeran Anggadipa, Pangeran Seppo, Pangeran Rama, R. Ayu Artak dan Pangeran Panji Polang Jiwa. Kubah 2 terdiri atas makam Ratu Ari, Pangeran Jimat, dan R. Aria Wiranegara, sedangkan di dalam kubah 3 terdapat makam R. Bindara Saod, R. Ayu Dewi Rasmana, dan lain-lain.


Bangunan bagian timur terdiri atas 1 kubah, yang di dalamnya disemayamkan Panembahan Sumala, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, Panembahan Moh. Saleh, dan lain-lain.
Dulu, sewaktu Kraton Sumenep masih memiliki kekuasaan, yang menjaga Asta Tinggi adalah sejumlah abdi dalem kraton yang dibayar dengan tanah untuk dikelolanya sendiri. Namun sekarang, yang menjadi juru kuncinya sudah diatur oleh pemerintah setempat dengan membentuk Yayasan Penjaga Asta Tinggi (YASPATI).
Setiap hari, Asta Tinggi banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah. Tidak hanya berasal dari Sumenep saja, melainkan ada yang datang dari kawasan  Pulau Madura yang lainnya, seperti Pamekasan, Sampang maupun Bangkalan. Bahkan ada juga yang berkunjung yang berasal dari luar Pulau Madura. Kemegahan Asta Tinggi menyiratkan betapa Sumenep pernah mempunyai sebuah kejayaan di masa lalunya. *** [071213]

0 komentar:

Posting Komentar