Jumat, 03 Januari 2014

Sejarah Singkat Sumenep

Sumenep yang sekarang menjadi salah satu nama Kabupaten yang berada di Pulau Madura, tergolong sudah tua. Di dalam Kitab Pararaton, mencantumkan kata Songennep untuk menyebutkan wilayah Sumenep, sehingga Songennep merupakan nama paling awal untuk Sumenep. Sebutan kata Songennep lebih sesuai dengan logat Madura yang lebih banyak mempergunakan kata “O” ketimbang kata “U”.
Secara etimologi, Songennep berasal dari bahasa Kawi yang terdiri dari kata song dan ennep. Song artinya relung, dan ennep berarti mengendap. Jadi, Songennep diartikan sebagai lembah bekas endapan yang tenang.
Perubahan nama dari Songennep menjadi Sumenep terjadi sekitar abad ke-18 pada saat pemerintah Hindia Belanda, karena bagi bangsa Belanda, lafal U lebih mudah diucapkan daripada lafal O.
Sumenep sebagai daerah pemerintahan mulai dipimpin oleh seorang Adipati pada abad ke-13, dengan ditugaskannya Arya Wiraraja oleh Kertanegara, Raja Singasari kala itu, untuk menjadi Adipati di Sumenep. Pelantikan Arya Wiraraja sebagai Adipati merupakan titik awal berlangsungnya sistem pemerintahan di Sumenep, yang sebelumnya Pulau Madura hanya diperintah oleh seorang yang berpangkat Akuwu yang namanya tak pernah tercatat dalam sejarah.
Pemindahan Arya Wiraraja ke Sumenep sebagai Adipati disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat antara Kertanegara dengan Arya Wiraraja menyangkut kebijakan Kertanegara kala itu. Tentang tujuan pengangkatan Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep ini memang ada beberapa pendapat. Akan tetapi, dari riwayat dan latar belakang kedekatannya dengan Wangsa Rajasa, kita bisa menilai jikalau Arya Wiraraja yang merupakan penasihat utamanya berusaha dijauhkan dari lingkaran kelompok politiknya dengan jalan diangkat menjadi Adipati yang merupakan kenaikan jabatan yang luar biasa mengingat tokoh ini sebelumnya hanya menjabat sebagai babatangan atau juru ramal.
Slamet Moeljono dalam bukunya, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit (1983:102) mengatakan bahwa atas pengangkatannya menjadi Adipati Sumenep, Arya Wiraraja merasa tidak puas terhadap kebijakan Kertanegara. Saat itu dia baru berumur kurang lebih 41 tahun. Sebagai orang yang banyak makan garam dalam dunia politik, Arya Wiraraja mengetahui bahwa pada saat itu Jayakatwang, Raja Gelang-gelang, menaruh dendam kepada Kertanegara. Karena dahulu Raja Kediri, Dandang Gendis pernah dikalahkan oleh Ken Arok yang notabene merupakan nenek moyang Kertanegara. Akibatnya, Daha harus tunduk berada di bawah kekuasaan Singasari. Hal itu dijadikan kesempatan oleh Arya Wiraraja untuk mempengaruhi Jayakatwang agar mengadakan perhitungan terhadap Singasari. Ia menulis surat yang isinya berbunyi: “Tuanku, hamba memberi tahu, jika Tuanku ingin berburu di tegal lama, sebaiknya sekarang Tuanku berburu. Pada saat ini tidak ada buaya, tak ada harimau, tak ada bantengnya, tak ada ularnya, tak ada durinya, yang ada macan tanpa gigi.”
Wiraraja mengutus anaknya Wiranjaya mengantarkan surat itu kepada Jayakatwang yang merasa dendam kepada keturunan Ken Arok, yang telah memporak-porandakan Kerajaan Kediri di bawah tahta Prabu Kertajaya yang tak lain adalah nenek moyang dari Jayakatwang. Dengan surat itu, Jayakatwang menyambut gembira dan mulai menghimpun kekuatan untuk menyerang Singasari.
Setelah pasukan Daha dirasa kuat, Jayakatwang mulai mengatur strategi untuk menaklukkan Kertanegara. Pasukan lalu diberangkatkan lengkap dengan senjata perangnya. Tiba di Singasari, penyerangan pun dilancarkan. Karena pasukan Kertanegara banyak dikirim melakukan ekspansi ke luar Jawa (dikenal dengan ekspedisi Pamalayu), meskipun dipertahankan oleh tentara yang gagah berani, akhirnya pasukan Singasari harus menderita kekalahan. Raja Kertanegara menemui ajalnya.
Raden Wijaya yang merupakan salah satu menantu Prabu Kertanegara, terpaksa harus menyingkir ke Madura guna menghindari perburuan dari pasukan Jayakatwang. Pelarian Raden Wijaya beserta kedua belas pengikut setianya ke Madura diterima dengan baik oleh Arya Wiraraja karena hubungan Arya Wiraraja dengan Raden Wijaya yang telah berjalan baik mengingat dulunya Arya Wiraraja pernah mengabdi kepada leluhur Raden Wijaya menjadi penasihat utamanya. Di Madura, sambutan hangat kepada Raden Wijaya ini tetap dilakukan dengan member segala keperluan Raden Wijaya, seperti makanan, pakaian, dan fasilitas kerajaan serta nasihat-nasihat kenegaraan yang berguna.
Sambutan Arya Wiraraja yang luar biasa disertai saran-sarannya yang sangat berharga telah membuat semangat Raden Wijaya bangkit kembali. Setelah beberapa waktu mengungsi di Madura, Arya Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya untuk menggunakan taktik seolah-olah menyerah kepada Adipati Jayakatwang yang sekarang telah mengangkat dirinya menjadi raja dengan kedudukan di Kediri. Pada mulanya saran itu ditolak, tetapi melihat yang mengeluarkan saran seperti itu adalah seorang penasihat utama Wangsa Rajasa yang telah terbukti kelihaian, kecerdikan serta kesetiannya terhadap keluarganya, Raden Wijaya akhirnya menuruti. Raden Wijaya kemudian berangkat menyerahkan diri ke Kediri dengan diantar oleh para keluarga besar Arya Wiraraja sendiri yang telah menjadi pengikutnya sejak lama. Raja Jayakatwang sendiri yang berhubungan baik dengan Arya Wiraraja menyambut baik kabar ini dan kemudian mengutus menteri Segara Winotan untuk menyambut rombongan ini di pelabuhan Jung Biru.
Sambutan hangat dilakukan oleh Raja Jayakatwang, di mana kedatangan Raden Wijaya di Kediri dianggap merupakan kemenangan besar bagi dirinya sebagai legitimasi persatuan antara dua keluarga besar yang berseteru dan menjadikan Raden Wijaya sebagai tahan kota. Apalagi jika melihat Arya Wiraraja yang berada di Madura sebagai penjaminnya sehingga Raja Jayakatwang sangat memperhitungkannya karena posisi daerah Madura yang merupakan wilayah strategis dan perlu dirangkul serta ide-ide Arya Wiraraja yang sangat cemerlang sehingga akan diperlukannya dalam memperkuat kedudukannya sebagai Raja Jawa. Raden Wijaya sendiri selama ada di ibu kota Kediri selalu menunjukkan sikap sopan dan sangat menghargai
Raja Jayakatwang sebagaimana saran dari penasihatnya. Segala yang diperintahkan Raja Jayakatwang dilakukannya dengan senang hati sehingga menyebabkan kecurigaan Sang Raja berangsur-angsur menjadi memudar. Karena kepercayaan Raja Jayakatwang, maka ketika Raden Wijaya mengusulkan untuk membangun suatu desa di sebelah utara sebagai tempat peristirahatan Raja Jayakatwang jika sedang berburu sehingga usulan ini diterima dengan memberikan tanah di hutan Terik. Raja Jayakatwang juga meminta kesanggupan Arya Wiraraja dalam membangun desa ini sebagai tanda kesetiaan Adipati Madura tersebut kepada penguasa yang baru.
Setelah disetujui pembukaan desa di hutan Terik tersebut, segera Adipati Arya Wiraraja mengirimkan orang-orag Madura untuk membuka hutan dan akan dijadikan desa persinggahan. Orang-orang Madura yang terbiasa bekerja di dalam lingkungan dan tanah yang tandus bekerja dengan senang hati karena suburnya daerah yang baru di buka ini. Dalam kisah pembangunannya, diceriterakan orang-orang Madura kehabisan bekal dan memakan buah maja yang banyak tumbuh di hutan Terik tersebut sehingga nama daerah baru itu dinamakan Majapahit. Setelah selesai pembangunan Desa Majapahit tersebut, banyak orang-orang Madura menempati tanah baru ini dengan senang hati karena kesuburan tanahnya.
Berkat siasat yang yang telah diatur dengan baik oleh Arya Wiraraja, Raden Wijaya dengan rakyat Madura akhirnya bisa mengalahkan Jayakatwang, serta mengusir Raja Tartar, dan kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit.
Setelah pengangkatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit dengan bergelar Kertarajasa Jayawardhana, Raden Wijaya memenuhi janjinya untuk membagi dua tanah Jawa yang dikuasainya, yaitu di bagian barat yang kerajaannya dikenal dengan nama Majapahit yang beribu kota di daerah sekitar Trowulan, Mojokerto sekarang. Adipati Arya Wiraraja sendiri kemudian mendapatkan bagian timur di mana kerajaannya bernama Lamajang Tigang Juru dengan ibu kota berkedudukan di Kabupaten Lumajang sekarang.
Setelah pemerintahan Arya Wiraraja, hubungan Sumenep dengan Majapahit terus berlangsung, dan bahkan kemudian hubungan dipererat dengan perkawinan Jakatole dengan Dewi Ratnadi, putri Prabu Brawijaya. Ditaklukkannya Majapahit oleh Sultan Demak, maka terjalin hubungan antara Sumenep dengan Sultan Demak. Suatu hubungan politik yang kemudian membawa perkembagan Islam di Sumenep, selanjutnya mempengaruhi pada kerabat kraton untuk menuntut ilmu di beberapa pesantren di Jawa.
Pada saat kekuasaan di jawa beralih kepada Mataram, maka hubungan Sumenep dengan Mataram dapat terjalin, dan menjadikan Sumenep sebagai raja bawahan Mataram. Hubungan politik Sumenep sebagai raja bawahan Mataram, mengakibatkan munculnya kewajiban membayar pajak dan upeti yang harus diserahkan kepada Sultan Mataram. Sumenep sebagai kerajaan bawahan tidak memiliki hak otonomi untuk mengelola pemerintahannya.
Ditaklukkannya Mataram oleh VOC, merupakan kesempatan bagi pemerintahan Sumenep untuk meminta perlindungan VOC dengan menyerahkan beberapa upeti seperti yang diserahkan kepada Sultan Mataram. Ketika Sumenep kemudian di bawah lindungan VOC, penguasa di Sumenep diberi hak otonomi untuk mengelola pemerintahannya secara mandiri.
Namun hak otonomi yang diberikan kemudian berakibat dicabutnya hak-hak istimewa yang pernah diberikan Mataram kepada Sumenep. Jabatan Adipati berubah menjadi pegawai bawahan yang digaji oleh pemerintah kolonial Belanda. Orang Sumenep yang dikenal ulet, berani dan pantang menyerah kemudian diperalat oleh pemerintah kolonial untuk membantu menumpas para pemberontak yang melawan pemerintahan kolonial Belanda.
Untuk melawan kelihaian politik Belanda, maka kemudian Sultan Abdurrahman, penguasa Sumenep yang ke-32, menjalankan politik ajala sotra untuk membatu perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi di berbagai daerah Nusantara. Politik ajala sotra, yaitu sejenis taktik dan siasat untuk melawan politik devide et impera milik Belanda. Politik ajala sotra tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa, tapi harus secara halus dan hati-hati. Kalau tidak bisa, akan berbahaya pada dirinya sendiri.
Bangkitnya rasa nasionalisme di berbagai wilayah dengan berbagai organisasi kepemudaan dan politik, membangkitkan pula nasionalisme di daerah Sumenep untuk menentang penjajahan. Perubahan politik yang kemudian mengakibatkan pemecatan dan penangkapan kerabat Kraton Sumenep yang dicurigai sebagai pemberontak terhadap kolonial Belanda. ***

Kepustakaan:
Mansur Hidayat, 2013, Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru: Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur, Denpasar: Pustaka Larasan
Tim Penulis Sejarah Sumenep, 2003, Sejarah Sumenep, makalah yang disampaikan pada Seminar Buku Penulisan Sejarah Sumenep pada 10 Desember 2003

0 komentar:

Posting Komentar