Jumat, 03 Januari 2014

Masjid Ladju Sumenep

Masjid Ladju merupakan masjid tertua yang ada di Sumenep. Masjid ini terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di depan Rumah Dinas Bupati Sumenep atau sebelah utara Kraton Sumenep.
Sejatinya masjid ini bernama Masjid Al-Mukmin, namun masyarakat setempat terlanjur akrab dengan sebutan Masjid Ladju. Dalam bahasa Madura, ladju berarti lama sehingga dinamakan Masjid Ladju secara historis sesungguhnya untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun lebih dulu ketimbang Masjid Jamik Kabupaten Sumenep. Di dalam Babad Songennep dijelaskan bahwa yang membangun Masegit Ladju (Masjid Lama) adalah Pangeran Anggadipa pada tahun 1639. Pangeran Anggadipa merupakan Tumenggung yang diangkat oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (Mataram) setelah Sumenep berhasil ditaklukkan oleh pasukan Mataram pada tahun 1624. Ia berasal dari Jepara yang akhirnya menikah dengan putri Raden Martapati dari Arosbaya.
Kedatangan Tumenggung Anggadipa membawa perubahan yang sangat berarti bagi perkembangan agama Islam di wilayah Sumenep. Perubahan tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari menjadi tahun Jawa berdasarkan kalender Hijriyah yang dipergunakan umat Islam diterapkan di Sumenep dan mendapatkan respon positif dari masyarakat.


Dilihat dari bangunannya, Masjid Ladju ini lebih kecil bila dibandingkan dengan MasjidJamik Kabupaten Sumenep. Ruang utama Masjid Ladju hanya memiliki 4 soko (pilar penyangga) dengan jendela masjid yang besar dan lebar di mana di dalamnya terdapat mimbar berukir dengan warna yang khas. Sedangkan pintu utama untuk masuk ke ruang utama tersebut berjumlah tiga yang masih menunjukkan keasliannya. Selain itu, di bagian depan masjid sebelah kiri maupun kanan terdapat prasasti peninggalan kraton bertuliskan aksara Jawa.
Awalnya, Masjid Ladju merupakan masjid kraton yang diperuntukkan bagi kerabat KratonSumenep dan masyarakat sekitar yang hendak menunaikan shalat akan tetapi dalam perkembangannya, ternyata bangunan Masjid Ladju sudah tidak mampu lagi menampung jamaah yang kian bertambah banyak. Sehingga, ketika Kraton Sumenep diperintah oleh Panembahan Sumala atau Pangeran Natakusuma, beliau mulai mendirikan masjid baru yang lebih besar, lebih luas dan lebih megah pada tahun 1779 hingga tahun 1787. Masjid kraton yang baru tersebut dikenal dengan Masjid JamikKabupaten Sumenep. *** [081213]

0 komentar:

Posting Komentar