Kamis, 02 Januari 2014

Sejarah Sepeda

Awalnya bentuk sepeda tidak seperti yang kita lihat seperti sekarang ini. Sepeda berasal dari kata dalam bahasa Perancis, yaitu velocipede. Velo artinya cepat, dan pede artinya kaki. Jadi, velocipede artinya kaki yang (melangkah) cepat. Dinamakan demikian, karena pada waktu ditemukan bentuk sepeda adalah dua roda yang dihubungkan dengan link dan pengendaranya melajukan sepeda dengan kayuhan kaki pada tanah.
Sepeda pertama di dunia mirip dengan sepeda dorong dari kayu bernama Celerifere yang ditemukan oleh Conte Mede de Sivrac dari Perancis pada tahun 1790. Kemudian dikembangkan oleh Baron von Drais dari Jerman pada tahun 1816 yang diberi nama Draisine.
Suatu hari, ketika Drais bepergian dengan kereta kuda, Drais melewati sebuah jalan. Jalan tersebut telah tertutup untuk kendaraan yang besar karena ada pohon tumbang di jalan. Drais mendapat ide untuk membuat kendaraan kecil dengan dua roda berderet yang dijalankan dengan kaki. Sepeda bikinan Drais kurang mendapat sambutan yang baik sehingga tidak populer.
Lalu, Mac Milan, seorang pandai besi berkebangsaan Inggris, mulai berpikir untuk membuat sepeda yang lebih baik. Tak lama kemudian, Mac Milan telah membuat sepeda yang dapat bergerak tanpa menapakkan kaki ke tanah lagi. Tetapi sepeda ini juga tidak mendapat sambuatan yang baik. Baru pada saat Michaux dan putranya membuat sepeda yang dijalankan dengan pedal. Sepeda buatan Michaux memperoleh sambutan luar biasa. Dengan pedal, mengendarai sepeda menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Sebenarnya, sepeda buatan Michaux ini merupakan pengembangan dari sepeda yang telah dibuat oleh Drais.
Pada akhir tahun 1880 bentuk sepeda semakin berkembang. Roda depan dibuat lebih besar dengan kerangka dari pipa, bantalan roda dan jeruji kawat/logam. Magey dari Perancis menemukan bahan sepeda dari kayu, besi dan karet agar sepeda menjadi lebih kuat dan lebih enak dilihat. Agar sepeda dapat berlari kencang, ia memperbesar roda depannya. Bentuk sepeda juga makin cantik dan dapat berlarilah kencang. Banyak orang membanggakan kecantikan dan kecepatan sepeda mereka. Akan tetapi, sepeda yang semula dibuat supaya lebih mudah dikendarai telah berubah menjadi sepeda yang berbahaya bagi wanita dan orangtua.
Sepeda aman (safety bicycle) pertama dibuat dan diproduksi secara massal oleh pabrik di Inggris pada tahun 1885, di mana kedua rodanya dibuat sama besar dan pedal dengan roda belakang dihubungkan dengan rantai. Roda sepeda dilengkapi dengan ban luar dan ban dalam dari bahan karet alam dan ban dalam diisi udara. Mulanya, ketika Starley dan Sutton, dua orang berkebangsaan Inggris, memasang roda ukuran sama pada sepeda tipe safety, orang-orang yang melihat sepeda itu hanya mencemooh. Mereka memutar otak untuk mencari cara supaya orang-orang dapat mengetahui kehebatan sepeda safety. Setelah melalui proses yang panjang, sepeda akhirnya menjadi kendaraan yang aman untuk dikendarai, berpenampilan cantik dan juga cepat.
Bentuk sepeda seperti sekarang berasal dari tahun 1895 dan kurang lebih 10 tahun kemudian sepeda dimodernisir dengan free wheel rem tromol dan torpedo.
Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945) di negara kita, penduduk di kota-kota kecil dan desa banyak menggunakan sepeda dengan ban mati dari karet pejal/utuh, mengingat sangat mahalnya harga ban berisi udara karena masih diimpor dari luar negeri.
Sejak awal kemerdekaan, sepeda merupakan alat transportasi barang kebutuhan hidup sehari-hari antar kota dan desa yang letaknya berdekatan dan di daerah pedalaman.
Kini status sepeda tidak hanya sebagai alat transportasi orang maupun barang, melainkan ada yang menjadikan sepeda sebagai barang klangenan atau barang yang disayangi ( a beloved thing) menyangkut modelnya, keaslian pembuatannya, riwayat dan kenangannya sehingga nilainya menjadi relatif tinggi, bahkan ada yang mempercayai bahwa sepeda tersebut membentuk status sosial tersendiri bagi pemiliknya. ***

Kepustakaan:
Annia Kissanti, 2009, Ensiklopedi Asal-Usul, Bantul: Araska
Soeprapto dalam Buletin Museum Mpu Tantular “Nawasari Warta” Edisi Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar