Selasa, 29 Desember 2015

Makam Waliyullah Sunan Sendang Raden Nur Rahmat

Usai melakukan shalat dhuhur, kami mengunjungi sebuah makam kuno yang berada di samping masjid. Makam kuno ini mengundang perhatian kami karena kompleks makamnya sepintas menyerupai pura atau candi. Sesuai papan yang dipasang di depan pintu kompleks makam kuno tersebut, tertulis nama Makam Waliyullah Sunan Sendang Raden Nur Rahmat dengan menggunakan huruf Hijaiyah (Arab) berwarna kuning dengan latar papan berwarna hijau berpelisir warna kuning. Kompleks makam ini terletak di Jalan Nur Rahmat, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam ini berada di sebelah utara dan barat Masjid Nur Rahamat Sendang Duwur, atau berada di Bukit Tunon dengan ketinggian sekitar 50-70 di atas permukaan laut.
Sesuai nama kompleks makam tersebut, tokoh utama yang dimakamkan di situ adalah Raden Nur Rahmat. Beliau dilahirkan di Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, pada tahun 1320 M. Ia adalah putra dari Raden Abdul Kohar bin Malik bin Syekh Abu Yazid Al Baghdadi. Syekh Abu Yazid Al Baghdadi adalah seorang ulama terkenal yang berasal dari Baghdad (Irak), sehingga Raden Nur Rahmat masih memiliki darah seorang ulama dari Baghdad. Ibu Raden Nur Rahmat adalah Dewi Sukarsih, puteri dari Tumenggung Joyo dari Sedayu Lawas. Setelah ayah Raden Nur Rahmat wafat, ia diboyong oleh ibunya pindah ke daerah Bukit Tunon guna menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.


Setelah bertemu dan mendapat pencerahan dari Sunan Drajat, Raden Nur Rahmat diberi gelar sebagai Sunan Sendang untuk mengajarkan agama Islam di Sendang Duwur, dan diperintahkan segera mendirikan sebuah masjid. Bangunan masjid itu pun, konon merupakan bangunan langgar atau surau milik Mbok Rondo Mantingan (Ratu Kalinyamat) yang dipindahkan oleh Sunan Sendang dari Mantingan, Jepara, menuju Sendang Duwur hanya dalam semalam. Dari masjid inilah Sunan Sendang terus melakukan syiar agama Islam dengan sabar dan ikhlas. Akhirnya, beliau dikenal sebagai seorang penyebar agama Islam di Sendang Duwur yang memiliki kewalian yang setara dengan Wali Songo.
Sunan Sendang wafat pada tahun 1585 M, dan dimakamkan di kompleks pemakaman yang berdampingan dengan masjid tersebut. Lokasi makam Raden Nur Rahmat berada di sebelah barat masjid, akan tetapi pintu utama menuju ke makam Sunan Sendang ini berada di sebelah utara masjid menghadap ke timur atau jalan.
Untuk memasuki pelataran makam Sunan Sendang, peziarah harus melewati pelataran kelompok kuburan dan gapura. Memasuki gapura pertama berbentuk bentar dari Jalan Nur Rahmat, peziarah akan melewati jembatan kecil yang di bawahnya berupa kolam. Kemudian dijumpailah pelataran pertama. Di pelataran ini, terdapat makam-makam. Di bagian selatan, terlihat terbuka sedangkan yang berada di sebelah utara dibatasi pagar lagi yang terbuat dari batu kapur, dan di tengah-tengah pagar tersebut ada gapura paduraksa berukuran kecil. Sehingga, peziarah yang akan memasuki makam tersebut harus membungkukkan badan.


Lanjut ke pelataran kedua, peziarah bisa melewati gapura paduraksa dari pelataran pertama atau melewati gapura bentar dari halaman masjid di sebelah utara. Pada pelataran kedua ini juga terdapat makam-makam yang terdapat di sebelah utara, papan pengumuman, bangunan limasan untuk menyimpan kayu, dan bangunan berbentuk limasan beratap genteng yang masih tergolong baru. Bangunan baru ini digunakan untuk tempat menerima tamu peziarah. Di samping, bangunan baru ini terdapat pintu besi yang dikunci untuk menuju ke pelataran berikutnya. Pintu besi ini dihimpit oleh pagar yang terbuat dari tembok.
Setelah diizinkan oleh Juru Kunci, peziarah bisa masuk ke pelataran ketiga dan menapaki jalan setapak yang meninggi yang melengkung ke kiri, atau tepatnya berada di sebelah barat masjid. Tempat yang paling tinggi inilah akan ditemui sebuah cungkup yang berisi makam Raden Nur Rahmat alias Sunan Sendang. Dari cungkup ini, arah mata memandang ke barat tampak terlihat perkampungan nun jauh kehijauan.
Kompleks makam Sunan Sendang ini merupakan bangunan berarsitektur tinggi menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Islam. Di kompleks makam ini terdapat gapura di bagian luar berbentuk candi bentar dan gapura bagian dalam berbentuk paduraksa. Di Jawa bentuk candi bentar itu didirikan pada zaman sesudah keruntuhan Nusantara Hindu, yaitu pada zaman perkembangan pengaruh-pengaruh Islam yang lazim dinamakan dengan zaman peralihan.
Makam Sunan Sendang ini juga banyak dikunjungi peziarah. Biasanya tak jarang para peziarah yang mengunjungi makam Sunan Drajat, akan singgah juga ke makam Sunan Sendang ini. Karena jarak antara makam Sunan Sendang dengan makam Sunan Drajat berjarak sekitar 9 kilometer. *** [071115]

0 komentar:

Posting Komentar