Selasa, 29 Desember 2015

Makam Mbah Mayang Madu

Informasi ini diperoleh tanpa sengaja. Pada waktu kami singgah di pinggir jalan yang ada dawet siwalan khas pesisir pantura, semula kami ditanya dengan pertanyaan khas dari daerah. Berasal dari mana, dan mau ke mana? Dari menjawab pertanyaan tersebut kepada penjual dawet bahwa kami habis dari Makam Sunan Drajat, terjadilah obrolan ringan. Lalu muncullah informasi dari penjual dawet tersebut bahwa di Lamongan ini juga terdapat makam Mbah Mayang Madu.
Mbah Mayang Madu niku moro sepuhipun Sunan Drajat,” tandas penjual dawet tersebut. Dari situlah naluri keingintahuan muncul, dan langsung minta diantarkan ke makam tersebut. Makam tersebut kebetulan tidak jauh dari tempat di mana ia berjualan. Hanya menyeberang jalan raya, terus melewati lorong yang berada di timur TK Al Mu’awanah sampailah ke lokasi makam tersebut. Penjual dawet itu kebetulan ingat makam tersebut, karena beberapa hari yang lalu menghadiri peresmian Situs Makam Mbah Mayang Madu. Makam ini terletak di Dusun Banjaranyar, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam ini berada di sebelah barat Masjid Jelaq, atau di selatan TK Al Mu’awanah.
Kisah Mbah Mayang Madu ini bermula dari adanya kapal yang ditumpangi oleh seorang pedagang muslim asal Banjarmasin pecah terbentur karang dan karam di laut pada tahun 1440-an. Tubuh pedagang itu akhirnya terdampar di tepi pantai Jelaq, dan kemudian ditolong oleh Mbah Mayang Madu, penguasa kampung Jelaq pada saat itu.


Pedagang tersebut akhirnya dirawat di rumah Mbah Mayang Madu, dan dipersilakan tinggal untuk beberapa saat. Pada waktu tinggal di rumah ketua kampung tersebut, pedagang tersebut terketuk hatinya untuk mengajarkan agama Islam di tengah-tengah kampung nelayan tersebut. Kebetulan pada waktu itu, penduduk kampung nelayan Jelaq pada umumnya masih menganut agama Hindu termasuk Mbah Mayang Madu juga. Pedagang itu mulai berdakwah dan mensyiarkan ajaran Islam kepada penduduk Jelaq dan sekitarnya.
Lambat laun perjuangan pedagang asal Banjarmasin tersebut mulai membuahkan hasil. Mbah Mayang Madu yang awalnya beragama Hindu. Dengan melihat kepribadian yang ada pada pedagang tersebut dalam menyampaikan ajaran Islam, maka Mbah Mayang Madu akhirnya tertarik untuk masuk agama Islam dan ikut mensyiarkan agama Islam di daerah Jelaq dan sekitarnya. Karena pedagang muslim tersebut berasal dari Banjarmasin, maka penduduk setempat akhirnya menyebutnya dengan nama Mbah Banjar.
Pada suatu hari, Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu berkeinginan untuk mendirikan tempat pengajaran dan pendidikan agama agar syiar Islam semakin berkembang, namun mereka menemui kendala dikarenakan masih kurangnya tenaga edukatif yang mumpuni di bidang ilmu diniyah. Akhirnya mereka pun sepakat untuk menghadap Sunan Ampel di Ampel Denta, Surabaya. Gayung pun bersambut, Sunan Ampel memberikan restu dengan mengutus putranya Raden Qosim untuk turut serta membantu perjuangan kedua tokoh tersebut.
Akhirnya, Raden Qosim pun berangkat ke Paciran dan singgah sebentar ke tempat Sunan Giri di Gresik kemudian dilanjutkan berlayar ke Paciran. Kisah pelayaran Raden Qosim ini serupa dengan yang di alami Mbah Banjar, yaitu mengalami musibah di lautan. Kapalnya pecah dihantam gelombang, dan akhirnya Raden Qosim diselamatkan oleh ikan Cucut menuju ke tepi pantai dengan dikawal oleh ikan Talang. Menurut tarikh, peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1485 M. Di sana, Raden Qosim disambut baik oleh Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.


Raden Qosim kemudian menetap di kampung nelayan Jelaq, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelaq, Raden Qosim mendirikan sebuah surau di suatu petak tanah yang terletak di areal Pondok Pesantren Putri “Sunan Drajat”.
Beliau pun mengatakan bahwa barang siapa yang mau belajar mendalami ilmu agama di tempat tersebut, semoga Allah menjadikannya manusia yang memiliki derajat luhur. Karena doa Raden Qosim inilah para pencari ilmu pun berbondong-bondong belajar di tempat beliau dan Raden Qosim mendapat gelar Sunan Drajat. Sementara itu, untuk mengenang perjuangan Mbah Banjar maka dusun yang sebelumnya bernama Kampung Jelaq diubah namanya menjadi Banyuanyar untuk mengabadikan nama Mbah Banjar dan anyar sebagai suasna baru di bawah sinar petunjuk Islam.
Setelah beberapa lama beliau berdakwah di Banjaranyar, maka Raden Qosim mengembangkan daerah dakwahnya dengan mendirikan masjid dan pondok pesantren yang baru di Kampung Sentono. Beliau berjuang hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di belakang masjid tersebut. Kampung di mana Sunan Drajat mendirikan masjid dan pondok pesantren itu akhirnya dinamakan pula sebagai Desa Drajat.
Awalnya, makam Mbah Mayang Madu ini sangatlah sederhana. Dipagari dengan susunan batu kapur, dan di tengah-tengah deretan pagar tersebut terdapat pintu berbentuk paduraksa untuk menuju batu nisan Mbah Mayang Madu. Yang uniknya, di atas pintu paduraksa berwarna putih tersebut terdapat ornamen seperti pada atap klenteng. Namun semenjak peresmian Situs Makam Mbah Mayang Madu pada 11 September 2015, makam ini memiliki cungkup yang megah. Atapnya terdiri ata 4 tumpang berbentuk seperti atap pagoda berbahan genteng, dan ditopang oleh sejumlah tiang terbuat dari beton serta lantainya terbuat dari keramik. Sedangkan, pada makam Mbah Mayang Madu tertutup oleh tembok dengan pintu menghadap selatan. Kendati telah direnovasi, kekhasan makam Mbah Mayang Madu sebagai sebuah makam kuno masih bisa terlihat, terutama dari pintu gapura paduraksa. *** [071115]

0 komentar:

Posting Komentar