Jumat, 13 Juli 2012

Gedung Ex-Nederlandsche Handel Maatschappij

Bagi kalangan pengamat arsitektur, bangunan warisan kolonial Belanda yang terletak di kawasan BEOS tepatnya di depan stasiun kereta api Jakarta Kota, adalah sebuah karya masterpiece. Arsitekturnya cenderung sederhana namun memiliki nilai estetika tinggi, baik dari desain gedung yang indah dan proporsional maupun detail dan ragam hiasnya yang menawan.
Menurut data sejarah, bangunan yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475/1993, dirancang oleh tiga orang arsitek Belanda, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan C. van Linde. Tahun 1929 gedung ini mulai dibangun oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai gedung Factorij, Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia – sebulan lainnya Netherlands Trading Society (NTS).


Pada masa Perang Dunia II, tentara Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi Nusantara. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, gedung kantor Factorij NHM tutup sejak Maret 1942 dan beroperasional  kembali pada 14 Maret 1946. Setelah Factorij NHM dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) pada 5 Desember 1960, riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor Pusat BKTN Urusan Ekspor Impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965 dimulainya era  “Bank Tunggal”, gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II sampai dengan 31 Desember 1968 dan lahirlah Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Gedung ini digunakan sebagai Kantor Pusat Bank Exim hingga tahun 1995 atau setelah Bank Exim menempati gedung kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 (sekarang Plaza Mandiri).
Gedung yang dahulunya beralamat di Stationsplein 1-Binnen Nieuwpoortstraat ini dibangun di atas tanah seluas 10.039 m² (sebelumnya terdapat bangunan Schlieper yang terbakar tahun 1913) dalam satu taman yang luas menyatu dengan gedung Stasiun Kereta Api di seberangnya. Dengan foreground hijau terbuka dan luas, gedung Factorij NHM kala itu terlihat sangat megah dan monumental.
Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk ini, memang masih memiliki pesona yang kuat. Bangunannya terdiri dari empat lantai seluas 21.509 m² dengan arsitektur yag simetris, memiliki main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan.  Ketinggian permukaan lantai dasarnya lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan pada entrance-nya terasa anggun. Lantai lobby dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik, sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin biasa.
Salah satu bagian yang menarik dari gedung bersejarah yang berada di gerbang “Kota Toea Jakarta” ini, adalah ragam kaca patri yang menggambarkan adanya empat musim dan tokoh nakhoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman yang mendarat di Banten tahun 1596. Terdapat juga kaca hias yang disumbang oleh C.J. Karel van Aalst atas nama Ratu Kerajaan Belanda.
Keunikan lain gedung ini mempunyai koridor yang total panjangnya hampir 1,5 km, cocok untuk jogging sambil menikmati keindahan interior sekaligus koleksi museum Bank Mandiri. Ruang khazanah (kluis) yang terdapat di lantai dasar luasnya pun tidak tanggung-tanggung, 924 m².
Sekarang bangunan kuno yang masih menyisakan nilai-nilai arsitektur dan sejarah sebuah gedung perbankan ini, digunakan sebagai salah satu kegiatan sosial Bank Mandiri dalam rangka mempublikasikan sejarah perkembangan berdirinya. Upaya menjadikan gedung ini sebagai museum, merupakan langkah konkrit melestarikan peninggalan bersejarah.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan “Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta. ***

0 komentar:

Posting Komentar