Minggu, 10 November 2013

Klenteng Boen Bio Surabaya

Klenteng Boen Bio merupakan salah klenteng tua yang berada di Kota Surabaya. Klenteng ini terletak di Jalan Kapasan 131 Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya tidak begitu jauh dengan Pasar Kapas Krampung.
Klenteng yang awalnya bernama Klenteng Boen Thjian Soe ini didirikan pada tahun 1883 oleh dua orang Tionghoa, yaitu Go Tik Lie dan Lo Toen Siong, di areal lahan seluas 500 m² atas pemberian Mayor The Toan Ing di daerah Kapasan Dalam, daerah Kapasan yang berada di tengah perkampungan. Pembangunannya dikerjakan oleh insinyur dari Tiongkok.
Karena lokasi semula berada di dalam kampung, kemudian pada 1903 ketika Kang Yu Wei, seorang reformis Tiongkok, berkunjung ke klenteng ini dan mengusulkan agar klenteng tersebut dipindah ke pinggir jalan besar. Hal ini dimaksudkan agar supaya klenteng ini mudah dijangkau umatnya.
Pada 1906 dilakukan pemugaran, dan segera dibangun klenteng yang lebih representatif. Pembangunan klenteng tersebut bisa berjalan dengan baik karena adanya bantuan para donator yang kini namanya diabadikan di prasasti yang menempel di bangunan tersebut. Pada 1907, klenteng tersebut mulai diresmikan, dan namanya menjadi Boe Bio. Boen dalam bahasa Fujian berarti sastra atau budaya,  Bio dalam bahasa Fujian berarti kuil. Jadi, Boen Bio berarti Kuil Kesusasteraan. Klenteng Boen Bio memang pada awalnya dibuat untuk memuja Boen Tjhiang, Dewa Kesusasteraan, dan Khonghucu. Namun, patung Boen Tjhiang telah dipindahkan ke Klenteng yang ada di Kampung Dukuh.


Klenteng Boen Bio konon kabarnya merupakan satu-satunya klenteng yang khusus diperuntukkan bagi agama Khonghucu di Asia Tenggara. Sebagai klenteng Konghucu, di sini tidak ada patung-patung dewa-dewa maupun Sang Buddha, yang ada justru patung Khonghucu atau lebih dikenal dengan sebutan Nabi Khong Co. Khonghucu adalah seorang pemikir dari China yang menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, dan ketulusan. Namun, Khonghucu sendiri sebenarnya lebih merupakan suatu filsafat ketimbang agama.
Klenteng ini merupakan saksi bisu pertahanan terakhir dari kejayaan aliran Khonghucu di Surabaya di tengah perubahan zaman, budaya, dan politik di sebagian penganutnya yang lebih memilih beralih ke kepercayaan yang lainnya.
Seperti bangunan klenteng pada umumnya, klenteng Boen Bio juga menggunakan arsitektur khas China. Di bagian depannya terdapat empat pilar berukiran naga dengan detail ornamen dan warna kuning emas biru laut yang sangat indah, lima pintu, dan enam jendela pintu. Sementara itu, di bagian ruang utama terdapat dua pilar yang juga berhiaskan ukiran naga. Uniknya, di bagian tengah ruang utama terdapat sederetan bangku di kiri kanannya dengan fokus menghadap ke altar untuk memuja Khonghucu.
Klenteng Boen Bio ini sebenarnya tergolong bangunan klenteng yang lumayan besar dengan luas bangunannya 629 m² yang berdiri di atas tanah seluas 1.173 m². Namun, sayangnya klenteng ini tidak memiliki cukup untuk areal parkir bahkan klenteng ini boleh dikata terlalu mepet dengan Jalan Kapasan. *** [021113]

0 komentar:

Posting Komentar