Rabu, 27 November 2013

Mengunjungi Benteng Kraton Buton di Bau-Bau, Benteng Terluas di Dunia

Tidak banyak yang tahu, benteng terluas di dunia ada di Indonesia. Berlokasi di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, benteng Kraton Buton lebih luas daripada benteng kerajaan di Denmark. Di dalamnya tinggal warga satu kelurahan, mayoritas pewaris keturunan Kraton Buton.
Kemegahan benteng Kraton Buton sudah terlihat dari jauh. Benteng seluas lebih dari 22 hektar dengan panjang 2.740 m tersebut mengelilingi perkampungan adat asli Buton yang berada di Kelurahan Melai. Tidak heran bila benteng Kraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) dan Guinness World Records pada September 2006 sebagai benteng terluas di dunia.
Memasuki pintu gerbang, tampak pemandangan seperti perkampungan pada umumnya. Anak-anak kecil bermain di halaman rumah, sedangkan ibu-ibu asyik mengobrol di depan rumah. Warga Kelurahan Melai terdiri atas 537 kepala keluarga dengan 1.098 jiwa. Mereka hidup rukun dan bersahaja.
Yang pasti, warga amat memperhatikan warisan budaya Kesultanan Buton sehingga sampai kini bangunan benteng yang memagari kampung mereka tetap terpelihara dengan baik.
Termasuk mempertahankan model rumah panggung dengan gaya arsitektur rumah adat Buton. Rumah-rumah tersebut masih berdiri kukuh.
Memang kini juga banyak berdiri rumah-rumah zaman sekarang dengan fondasi beton dan dinding tembok.
Menurut Kepala Desa Kelurahan Melai, Siti Sarinah, ada rencana pemerintah kota untuk menyeragamkan model hunian warga di kelurahannya. Untuk menjaga keaslian warisan leluhur Kesultanan Buton, warga pendatang akan diwajibkan mengganti rumah beton dengan rumah panggung dari kayu.
“Sebab, di wilayah kraton, sesuai dengan aturan nenek moyang, harusnya yang boleh berdiri hanya rumah panggung. Bagi warga yang rumahnya terlanjur berdiri dengan fondasi batu dan berdinding tembok kemungkinan akan diminta untuk mengubahnya menjadi rumah panggung,” papar kepala desa perempuan itu.
Rina-panggilan Siti Sarinah-menuturkan, di area benteng masih banyak situs peninggalan sejarah Kesultanan Buton yang terpelihara dengan baik. Salah satunya sebuah masjid agung dan tiang bendera yang berdiri tegak di depan masjid tersebut. Di samping masjid tua, banyak obyek menarik lainnya. Di antaranya, batu Popapua yang merupakan batu yang disakralkan karena menjadi tempat pengambilan sumpah para raja atau Sultan Buton.
Ada juga batu Wolio yang dianggap sebagai simbol kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Batu Wolio berwarna gelap dan besarnya seperti seekor lembu yang sedang duduk berkubang.
Tidak hanya itu, makam Sultan Murhum yang merupakan Sultan Buton pertama juga berada di dekat area masjid. Kondisi makam Sultan Murhum pun terjaga dan terpelihara dengan baik. Di area makam yang panjangnya sekitar 3 m itu terdapat 20 anak tangga. Konon, setiap orang dengan khusyuk berdoa kepada Allah SWT di makam tersebut, permintaannya akan dikabulkan. Makam itu banyak dikunjungi warga setempat maupun masyarakat luar. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri juga pernah berziarah di makam itu.
Benteng tersebut memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga (bastion) yang dalam bahasa setempat disebut baluara. Tiap pintu gerbang (lawa) dan baluara “dijaga” empat sampai enam meriam. Jumlah meriam di seluruh penjuru benteng sebanyak 52 buah. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri.
Di samping bangunan kuno, masyarakat yang bermukim di kawasan benteng juga masih melakukan berbagai upacara ritual, layaknya yang terjadi pada masa Kesultanan Buton. Upacara besar terakhir terjadi saat penobatan Sultan Buton yang baru tahun lalu (2012). Upacara penobatan tersebut menandai sejarah baru masyarakat Kraton Buton. Sejak meninggalnya Sultan Buton ke-37, La Ode Muhammad Falihi, pada 1960, belum ada lagi acara penobatan sultan.
Setelah 52 tahun meninggalnya Sultan Buton ke-37, H. La Ode Muhammad Jafar SH diangkat menjadi Sultan Buton ke-39 tahun lalu. Upacara penobatan yang dikenal dengan istilah Bulilingiyana Pau Laki Wolio itu bertempat di Baruga Kraton Kesultanan Buton, Kota Bau-Bau.
Tidak hanya itu, warga Kelurahan Melai juga masih menjalankan tradisi turun-temurun. Seperti tradisi pingitan atau yang disebut posuo. Menurut Lurah Rina, setiap anak gadis yang sudah akil balig akan menjalani tradisi posuo. Selama delapan hari delapan malam, si gadis tidak boleh keluar rumah. Di dalam rumah pun dia diharuskan berdiam diri menghadap arah kiblat dan sebaliknya.
“Empat hari menghadap kiblat, empat hari berikutnya menghadap sebaliknya. Ya sesuai matahari terbit dan tenggelam. Selama itu pula dia harus berdzikir dan menahan diri. Makanannya pun dibatasi. Pingitan tersebut dilakukan agar si gadis nantinya siap mengarungi rumah tangga,” papar perempuan 42 tahun yang masih keturunan bangsawan Kraton Buton itu.
Warisan lainnya adalah sekitar 100 jenis kain tenunan khas Buton yang tercipta dari tangan-tangan terampil masyarakat Buton. Rina menuturkan, kaum ibu Kelurahan Melai gemar menenun denga menggunakan peralatan tradisional.
“Masyarakat di sini suka menenun. Motifnya pun bermacam-macam. Sebab, memang, ada motif tersendiri untuk anak-anak dan dewasa. Laki-laki dan perempuan pun beda motif sarung tenunnya,” ujar lurah yang baru sebulan menjabat itu.
Ibu dua putri itu melanjutkan, sebagai ajang promosi budaya Benteng Kraton Buton, pada Desember mendatang akan diadakan prosesi penyarungan benteng. Benteng dengan luas wilayah 3.34 km² itu akan disarungi dengan menggunakan sarung tenun khas Buton. “Ini untuk menarik kunjungan wisatawan asing.”
Menurut catatan sejarah, benteng Kraton Buton didirikan karena Sultan ke-4 Kesultanan Buton, Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631) gundah melihat banyaknya bajak laut yang menyerang rakyatnya. Untuk menghalau serangan bajak laut itu, Sultan memerintahkan prajuritnya membangun 16 baluara di sekeliling bukit Wolio. Pendirian baluara itu tidak dilakukan sembarangan.
Sultan mendasarkan pembangunan 16 baluara itu pada proses kelahiran manusia. Angka 16 dianggap angka kehidupan (nuftah). Sebab, pada umur 160 hari, janin di kandungan seorang ibu akan ditiupkan roh tanda kehidupan oleh Tuhan. Demikian pula dengan 16 baluara itu. Bangunan-bangunan tersebut diharapkan memberikan jaminan kehidupan bagi seluruh rakyat Kesultanan Buton pada masa itu.
Saat pemerintahan Sultan ke-5, Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645) terjadi perubahan besar-besaran. Sultan Gafarul memerintahkan ribuan prajurit dan seluruh rakyatnya membangun benteng besar di puncak bukit Wolio dengan menghubung-hubungkan bangunan baluara itu dalam satu rangkaian. Karena sejak awal pembangunan benteng Kraton Buton didasarkan pada proses kehidupan manusia, Sultan Gafarul Wadudu kemudian memerintahkan pembangunan 12 buah lawa (pintu gerbang) di sekeliling benteng. Angka 12 mengacu pada adanya 12 buah pintu (lubang) di tubuh manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Panjang keliling benteng tersebut 3 km dengan tinggi rata-rata 4 m dan lebar (ketebalan) dinding mencapai 50 cm. Bahan baku utama yang digunakan adalah batu-batu gunung yang disusun rapi dengan dengan kapur dan rumput laut (agar-agar) sebagai bahan perekat. Luas seluruh kompleks kraton yang dikitari benteng 401.911 m². Untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan masyarakat di dalam kompleks benteng, Sultan Gafarul Wadudu juga membuat pasar. Begitu besar dan luasnya bangunan benteng Kraton Buton itu, diperlukan setidaknya 13 tahun lagi bagi Sultan Gafarul Wadudu untuk menyelesaikannya. Selama proses pembangunannya, seluruh lelaki yang ada di wilayah Kesultanan Buton diwajibkan terlibat secara penuh. [SEKARING RATRI ADANINGGAR]

Sumber:
JAWA POS Edisi Kamis, 31 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar