The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Jembatan Peninggalan Kolonial di Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jembatan Peninggalan Kolonial di Malang. Tampilkan semua postingan

Jembatan Jaruman Turen

Sungai atau kali Jaruman adalah salah sungai yang membelah wilayah Turen. Sungai ini merupakan anak Sungai Lesti. Sungai Jaruman berhulu di lereng Gunung Semeru yang berada di daerah Wajak dan bermuara di Sungai Lesti, selatan Desa Suwaru.
Kendati Sungai Jaruman tidak begitu lebar dan panjangnya hanya 17,60 kilometer, akan tetapi nama sungai itu sudah dikenal oleh masyarakat sejak dulu kala. Dalam Prasasti Turyyan bertarikh 929 Masehi terdapat informasi tentang upaya membendung Sungai Jaruman untuk kepentingan pertanian. Bendungan itu dikenal dengan bendungan Turyyan yang lokasinya tidak jauh dari tempat Prasasti Turyyan.



Kemudian memasuki masa Hindia Belanda, kisah Sungai Jaruman ini juga muncul. Ditandai dengan dibangunnya sebuah jembatan untuk lintasan rel trem dari Gondanglegi menuju Dampit. Jembatan itu dikenal dengan Jembatan Jaruman (Spoorbrug op de Jaroeman-rivier bij Malang). Jembatan ini terletak di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi jembatan ini berada di sebelah barat PT Pindad Turen.



Pembangunan jembatan ini berkaitan dengan adanya proyek pembangunan jalur trem Gondanglegi-Talok-Dampit sepanjang 15 kilometer. Pengerjaan jalur trem ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1899. MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsensi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jalur trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur trem sepanjang 85 kilometer.



Jalur trem sepanjang 15 kilometer tersebut, pembangunannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Gondanglegi-Talok sejauh 7,8 kilometer yang selesai pada tahun 1898. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Talok-Dampit yang selesai pada tahun 1899. Untuk pembangunan Jembatan Jaruman masuk dalam pembangunan tahap pertama. Jadi, jembatan itu selesai dikerjakan pada tahun 1898. Jembatan trem ini ada di sebelah selatan jembatan jalan umum sebelum memasuki Turen dari arah Gondanglegi. Sekarang jembatan trem itu sudah rusak tetapi konstruksi tiang batu yang besar masih berdiri kokoh.
Dalam buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017, hal. 258), Olivier Johannes Raap mengisahkan bahwa dulu di jalur trem terlihat rangkaian trem sedang bergerak dari Dampit menuju Malang atau sebaliknya. Satu gerbong barang bersama dua gerbong penumpang dihela oleh sebuah lokomotif seri B17/B24. Lokomotif beroda empat buatan pabrik Hohenzollern (Jerman) ini menggunakan bahan bakar kayu jati atau batu bara dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 30 kilometer per jam.
Ada beberapa tipe lokomotif bentuk kotak yang dulu dipekerjakan oleh berbagai perusahaan kereta api di Jawa. Tipe-tipe kotak itu agak mirip satu dengan yang lainnya. Lokomotif MS inilah yang paling besar dengan panjang 5,9 meter. Dari 13 lokomotif yang dibeli pada periode 1897-1911, saat ini hanya tersisa satu unit yaitu B1706 yang dipajang di Museum Transportasi di Jakarta. *** [290518]
Share:

Jembatan Talang Bululawang

Kabupaten Malang memiliki memori kolonial yang cukup banyak, seperti bangunan, taman, jalur rel maupun jembatan. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Malang pada masa pemerintahan Hindia Belanda menjadi salah satu tumpuan penyokong bagi perekonomian pemerintah Hindia Belanda melalui perkebunan-perkebunannya. Perkebunan-perkebunan besar yang ada di Kabupaten Malang pada waktu itu antara lain meliputi tebu, kopi, karet, dan teh.
Sehingga, banyak dijumpai peninggalan-peninggalan masa Hindia Belanda yang kehadirannya berkenaan dengan adanya kepentingan bagi perkebunan-perkebunan itu. Salah satu bangunan lawas peninggalan masa Hindia Belanda yang masih berdiri kokoh adalah Jembatan Talang Bululawang (Waterbrug te Boeloelawang bij Malang). Jembatan ini terletak di dua desa yaitu Desa Bululawang dan Desa Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi jembatan ini berada di sebelah tenggara Pasar Bululawang ± 500 meter, atau utara PG Krebet Baru ± 3 kilometer.


Jembatan Talang sebenarnya merupakan jembatan untuk mengalirkan air irigasi melewati lembah atau Sungai (Kali) Manten. Warga setempat menyebutnya dengan talang air. Sehingga, akhirnya nama jembatan itu dikenal dengan Jembatan Talang. Jembatan Talang ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1904/1905, setelah Jembatan Talang Kepanjen (Waterbrug te Kepanjen bij Malang).
Pembangunan Jembatan Talang ini merupakan bagian dari proyek pembangunan Daerah Irigasi Kedungkandang. Daerah Irigasi Kedungkandang yang berada di Kota dan Kabupaten Malang memiliki luas baku areal persawahan seluas 5.183 hektar dan mendapat pasokan air dari Bendung Kedungkandang yang berada di Kelurahan Polehan, Kecamatan Kedungkandang di Kota Malang dan suplesi dari Kalimeri di Dam Tangkil, Kecamatan Bululawang.


Daerah Irigasi Kedungkandang merupakan daerah irigasi yang terletak pada Daerah Pengaliran Sungai Amprong, dengan luas daerah pengaliran sungai seluas 94,41 Km². Daerah Irigasi Kedungkandang meliputi 5 kelurahan di Kota Malang dan 25 desa di Kecamatan Bululawang dan Gondanglegi.
Pemerintah Hindia Belanda membangun Daerah Irigasi Kedungkadang beserta Jembatan Talang ini bertujuan untuk mengatasi kelangkaan air di daerah Bululawang dan Gondanglegi. Daerah Bululawang dan Gondanglegi dulu sudah dirintis untuk perkebunan tebu yang sangat luas. Karena tanahnya kering, tanamannya banyak yang tumbuh kurang optimal dan kekeringan sehingga mengakibatkan sebagian tanaman tersebut mati. Tanaman itu akan tumbuh subur mana kala musim penghujan datang.


Pemerintah Hindia Belanda menyadari, jika tanaman tebu itu bisa berkembang baik dan subur tentunya akan menghasilkan kualitas hasil yang baik pula. Hal ini juga yang melandasi di Kabubapen Malang menjadi lokasi untuk berdirinya pabrik gula, yaitu PG Krebet.
Bila dibandingkan dengan Jembatan Talang Kepanjen, Jembatan Talang Bululawang lebih panjang ukurannya. Panjangnya mencapai 100 meter dengan ditopang oleh 5 pilar terbuat dari batu bata setinggi 50 meter. Dari 5 pilar itu dihubungkan dengan 7 lengkungan, sehingga kesan arsitektur kolonialnya begitu menonjol ditengah keasrian di lingkungan sekitarnya yang menghijau.
Lebar saluran air yang di atas jembatan tersebut sekitar 3 meter dengan kedalaman 1 meter, dan yang berada di sebelah timur diberi pagar terbuat dari besi. Sehingga, badan saluran air di sebelah timur bisa digunakan untuk menyeberang penduduk antar desa. Karena, ujung jembatan di sebelah utara masuk wilayah Desa Bululawang, dan ujung selatan jembatan masuk dalam Dusun Krapyak Jaya, Desa Krebet Senggrong.
Dilihat dari sejarah, keunikan, dan kelangkaan bangunan, sebenarnya Jembatan Talang Bululawang ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata andalan, baik wisata heritage maupun alam. Karena tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki spot wisata seperti jembatan ini. Terlebih keberadaannya yang masih berada di lingkungan yang sangat asri dan natural ini. *** [290518]

Share:

Viaduk Buk Gluduk Malang

Sore itu langit cerah. Bersama teman, ngabuburit ke Malang. Refreshing sebentar untuk mengurangi kepenatan sambil menunggu datangnya buka puasa. Dengan membonceng teman berkendara REVO keluaran tahun 2015, berangkatlah ke Kampung Warna-Warni Tridi dan Jodipan.
Di sana kita memuaskan mata dengan aneka warna-warni cat yang menghiasi rumah-rumah penduduk di tepian sepanjang Sungai Brantas. Tak hanya itu, saya pun bisa mengabadikan sebuah kereta api yang sedang melintas di atas jembatan yang di bawahnya adalah jalan beraspal. Jembatan jalur rel ini, oleh warga sekitar dikenal dengan Viaduk Buk Gluduk.
Viaduk ini terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi viaduk ini berada pada pertemuan antara Jalan Gatot Subroto, Jalan Trunojoyo, dan Jalan Panglima Sudirman, atau sebelah utara Jembatan Jodipan.



Pembangunan viaduk ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel Malang-Kepanjen-Wlingi-Blitar sepanjang 74 kilometer, yang dikerjakan oleh Staatsspoorwegen (SS) dari tahun 1896 hingga tahun 1897. SS adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1875. SS menjadi perusahaan besar pesaing Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Jalur pertama yang dibangun oleh SS adalah lintas Surabaya-Pasuruan, dengan lintas cabang dari Bangil menuju Malang. Pada perkembangannya, cakupan SS semakin luas. SS juga membangun jalur kereta api di berbagai daerah lain.



SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah timur Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Yogyakarta-Surakarta, yang berlanjut dari Surakarta ke Madiun. Seentara itu, SS Westerlijnen menguasai jalur selatan Jawa Tengah hingga Priangan. Mulai dari Yogyakarta menuju Kroya, di mana terdapat percabangan lintas selatan menuju Priangan selatan hingga Bandung-Bogor via Sukabumi dan utara menuju Cirebon hingga Batavia. Dari Batavia, jalur SS masih berlanjut hingga ujung barat Pulau Jawa. Sedangkan di Sumatera, jalur milik SS tersebar di wilayah Sumatera bagian selatan (Staatspoorwegen op Zuid-Sumatera/ZSS), Sumatera Barat (Staatsspoorwegen ter Sumatera’s Wetkust/SSS), dan Aceh (Atjeh Tram/AT atau Atjeh Staatsspoorwegen/ASS).



Olivier Johannes Raap dalam bukunya Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramdeia, 2017, hal. 56) menerangkan bahwa, viaduk ini merupakan jembatan pertama yang berlokasi beberapa ratus meter di sebelah selatan Stasiun Malang Kotabaru. Nama aslinya Spoorbrug te Malang (Jembatan Kereta Api di Malang).
Konon, nama Buk Gluduk diambil dari suara menggeluduk yang timbul ketika kereta api melintas jembatan tersebut. Buk dalam bahasa Jawa berasal dari bahasa Belanda boog, yang artinya pelengkungan, meskipun jembatan ini tidak berbentuk lengkung. Lama-kelamaan kata ‘buk’ digunakan untuk menyebut semua bentuk jembatan saja.
Dulu, di atas tiang penyangga yang dekat dengan Jalan Untung Suropati Selatan terlihat tiang sinyal masuk stasiun yang disebut dengan sinyal tebeng. Sinyal itu berfungsi untuk membimbing bagi masinis yang akan melintas viaduk. Kalau bulatan berwarna merah mengarah ke pandangan masinis yang akan melalui rel tersebut berarti masinis tidak boleh lewat, tapi kalau diputar 90 derajat (as tegak) sehingga hanya tampak dari jauh sebagai bentuk plat pipih dan tidak kelihatan warna apa-apa maka jalur tersebut aman untuk dilewati sang masinis. Sekarang, sinyal mekanik paling kuno berbentuk bulatan itu sudah tidak ada lagi.
Pada 1920-an viaduk ini pernah direnovasi, dan konstruksi besi yang baru masih mampu bertahan sampai sekarang. Viaduk dalam kisah perjalanan perkeretaapian di Malang ini, kini menjadi penanda yang khas menuju Kampung Wisata Warna-Warni Tridi dan Jodipan dari arah Stasiun Malang Kotabaru dan Rampal. *** [260518]

Kepustakaan:
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie Op Java En Sumatra. Kluwer Technische Boeken B.V. Deventer-Antwerpen
Prayoga, Yoga Bagus., dkk. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher
Raap. Olivier Johannes. (2017). Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami