The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Jakarta. Tampilkan semua postingan

Toko Bunga Mu’is Florist Kali Besar

Pada zaman dulu, Kali Besar merupakan kawasan yang sempat menjadi sebuah kawasan yang hidup, ramai, dan menjadi daerah yang berkembang pesat karena Kali Besar merupakan akses keluar masuknya kapal dari mancanegara.
Tidak heran jika bangunan-bangunan yang berada di sekitar kawasan Kali Besar adalah bangunan yang berfungsi sebagai gudang atau kantor perdagangan milik Belanda, di antaranya adalah bangunan lawas yang digunakan oleh Toko Bunga Mu’is Florist. Toko bunga ini terletak di Jalan Kali Besar Timur No. 25 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi toko bunga ini berada di sebelah selatan PT Jasa Raharja, atau di depan Terminal Bus Jakarta Kota.
Bangunan toko bunga ini didirikan pada tahun 1910. Dulu, bangunan lawas ini merupakan kantor milik Harrison & Crosfield, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan teh, kopi, karet, kayu, bahan kimia serta produk pertanian lainnya yang berasal dari Inggris.


Kantor Harrison & Crosfield ini sengaja dibangun di tepi Kali Besar, dekat dengan Hoenderpassarbrug (sekarang dikenal dengan Jembatan Kota Intan) dan tidak begitu jauh dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, bertujuan untuk mengawasi lalu lintas hasil perkebunan milik mereka sendiri serta mengawasi pembelian hasil dari perkebunan milik perusahaan lainnya.
Setelah perkebunan milik Harrison & Crosfield yang ada di Nusantara dilepaskan, bangunan lawas mengalami beberapa alih fungsi maupun penggunannya. Bangunan lawas ini pernah digunakan untuk gudang logistik PT Jasa Raharja, yang kantornya berdampingan dengan bangunan ini. Kemudian pada tahun 2012, bangunan ini sempat kosong.
Kini, bangunan bergaya Art Deco ini menjadi Toko Bunga Mu’is Florist dan terkadang digunakan untuk menyimpan aneka barang juga, seperti kain-kain perca. Namun sayang, bangunan ini kurang terawat dan tampak kusam. Bagian dalamnya pun tak kalah lusuhnya, langit-langit atapnya banyak yang rusak dan interiornya terkesan berantakan.
Seandainya bangunan bekas kantor Harrison & Crosfield ini masuk dalam program revitalisasi yang dilakukan oleh JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corp), bangunan ini akan menambah khasanah inventarisasi bangunan heritage yang ada di Kota Tua Jakarta. *** [250216]

Share:

Galeri Melaka Jakarta

Tak hanya di Kelurahan Pinangsia, deretan bangunan kuno yang membentuk Kota Tua Jakarta (Batavia Benedenstad) tapi di Kelurahan Roa Malaka juga menyimpan sekumpulan bangunan lawas. Salah satunya adalah gedung tua yang difungsikan sebagai Galeri Melaka. Galeri ini terletak di Jalan Malaka No. 7-9 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi galeri ini berada di sebelah barat STIMIK Swadharma, atau selatan bekas gedung Chartered Bank of India, Australia and China.
Dulunya bangunan lawas yang digunakan oleh Galeri Melaka ini merupakan gedung milik Borneo Company atau Het nieuwe gebouw der Borneo Company, yang dibangun pada tahun 1923. Gedung ini dirancang oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, sebuah biro arsitek yang cukup terkenal di Batavia (sekarang Jakarta). Sejak 1921 biro arsitek ini dikenal dengan Biro Arsitek Fermont-Cuypers saja, karena Hulswit yang pernah bergabung dalam biro arsitek ini telah meninggal.
Setelah ditinggalkan oleh Borneo Company, gedung tua ini dipakai oleh NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh yang kantor pusatnya berada di Amsterdam, Belanda. NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh merupakan perusahaan perdagangan atau importir komoditas hasil perkebunan yang ada di Hindia Belanda untuk dipasarkan ke Eropa dan investasi.


Pada masa penjajahan Belanda kedudukan kelas menengah ditempati oleh kelompok pengusaha Belanda terutama kelompok Sembilan Besar, yakni Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij), NV Lindeteves Stokvis, Internationale Credit en Handelvereeniging (Internatio), NV Jacobson van den Berg & Co., Geo Wehry, Harmsen & Verwey, NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh, M.H. Marondelle en Voute, dan Reis Coy di tingkat atas dan pedagang-pedagang Tionghoa di tingkat bawah sebagai kelas menengah bawah. Dalam konstruksi struktur sosial yang diciptakan oleh Belanda, peran golongan menengah ini tidak lebih daripada sekadar memenuhi kepentingan kolonialisme Belanda sebagai penguasa. Bahkan kelompok ini, di samping menjadi golongan perantara antara kolonial Belanda dengan masyarakat setempat, juga digunakan oleh masyarakat ningrat untuk mengambil keuntungan dari masyarakatnya.
Gedung berlantai dua yang dirancang oleh arsitek Belanda ini memang didesain sebagai gudang rempah-rempah dan sekaligus perkantoran perusahaan yang menempatinya. Besar, memanjang, dan banyak ruangan. Pintu utamanya umumnya lebar dan tinggi. Hal ini sepertinya telah diantisipasi oleh sang arsitek, agar memudahkan untuk lalu lalang bagi alat transportasi yang ingin mengangkutnya dari ruang penyimpanan rempah-rempah di lantai satu menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa, atau Kali Besar. Pada saat itu, Kali Besar yang berada sekitar 200 m arah timur dari gedung ini menjadi akses keluar masuknya kapal dari mancanegara.
Akhir tahun 1950-an, seluruh perusahaan besar Belanda yang sebagian besar berkantor di kawasan Kali Besar dan sekitarnya, dinasionalisasi menjadi BUMN. Sehingga, mayoritas gedung tua yang terdapat kawasan tersebut secara otomatis banyak yang beralih menjadi aset milik BUMN. Termasuk gedung Borneo Company atau NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh menjadi gedung milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero). Hal ini bisa dilihat dari plakat yang terpasang di atas pintu utama dari gedung klasik ini.
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) atau Indonesia Trading Company (ITC), adalah perusahaan hasil merger dari 3 BUMN, yaitu PT Tjipta Niaga (Persero), PT Dharma Niaga (Persero) dan PT Pantja Niaga, berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003 yang berlaku efektif sejak tanggal 31 Maret 2003.
Kini, gedung Borneo Company atau NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh disewakan oleh PPI kepada Kerajaan Malaysia untuk dijadikan sebuah galeri yang dinamakan Galeri Melaka. Galeri yang diresmikan pada 22 Februari 2013 ini memamerkan sejarah dan perkembangan negeri Melaka khususnya sektor pariwisata. Di dalam galeri, pengunjung bisa melihat gambar dan foto yang menampilkan sebuah cerita lengkap tentang Melaka. *** [250216]

Share:

Gedung Kimia Farma Jakarta

Menyusuri Jalan Budi Utomo memang seperti melakukan perjalanan tempo doeloe. Kawasan tersebut, dulunya dikenal dengan Weltevreden. Weltevreden didirikan, sebagai perluasan Batavia pada waktu. Sehingga, di kawasan Weltevreden ini juga meninggalkan jejak berupa bangunan kuno peninggalan Hindia Belanda yang berada di kawasan ini. Salah satunya adalah Gedung Kimia Farma.
Gedung ini terletak di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah kanan gedung Kementerian Keuangan, atau sebelah barat SMK 1 Jakarta.
Dulu, Jalan Budi Utomo dikenal dengan nama Jalan Freemasonry, atau yang dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselaarweg. Dinamakan Jalan Freemasonry, karena di sepanjang jalan tersebut ada Loji Freemasonry pertama di Asia yang dibangun di Batavia (kini Jakarta). Loji tersebut dinamakan Loji La Choisie atau Loji “Kaum yang Terpilih”.
Gedung ini dibangun pada tahun 1761 oleh Petrus Albertus van der Parra atas prakarsa Jacob Cornelis Matthieu (JCM) Radermacher yang pada waktu masih berusia 20 tahun. Orang ini sangat berperan penting dalam gerakan persaudaraan Freemasonry di Batavia dan juga Asia.


Setelah jadi, gedung tersebut digunakan sebagai pusat gerakan Freemansory, atau tempat perkumpulan kaum theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur. Makanya di sejumlah literatur berbahasa Belanda, gedung tersebut kerap ditulis dengan nama Logegebouw De Ster in het Oosten (Bangunan Loji Bintang Timur). Perkumpulan tersebut merupakan underbow zionisme sejak abad ke-18 di Hindia Belanda. Dahulu, di sebelah loji ini terdapat perumahan para perwira dan petinggi Hindia Belanda.
Di dalam bangunan loji tersebut, para anggotanya sering melakukan aktivitas ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita pikiran tertinggi manusia. Bahkan, beberapa aktivitasnya di dalam loji adalah memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Karena itu, gedung tersebut sering disebut oleh masyarakat Betawi sebagai rumah atau gedung setan, karena memang di tempat itu mereka dulu menyembah roh-roh dan setan.
Gedung tersebut kemudian dirombak pada tahun 1848 menjadi megah seperti sekarang ini. Teras depan dengan deretan kolom gaya Doric menjadikan gedung tersebut memiliki ciri khas arsitektur gaya Indische Empire. Gaya arsitektur seperti ini berkembang di Hindia Belanda, pada awalnya mencoba meniru arsitektur Eropa pada pertengahan abad ke-18  dengan datangnya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daendels adalah bekas perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis. Pada waktu itu, di Perancis timbul aliran arsitektur Neoklasik.
Dandels mengubah beberapa bangunan yang sudah berdiri maupun yang akan dibangun di Hindia Belanda pada waktu itu, dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.
Seiring dengan perjalanan sejarah, gedung tempat Loji La Choisie ini pada tahun 1917 dipakai sebagai kantor N.V. Chemicalien Handle Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, di tahun 1958 pemerintah RI melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma. Selanjutnya pada 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah jadi Perseroan Terbatas menjadi PT. Kimia Farma (Persero). Perubahan inilah yang menyebabkan gedung loji tersebut menjadi Gedung Kimia Farma seperti sekarang ini. *** [071212]

Kepustakaan:
Handinoto, 1994. “Indische Empire Style”: Gaya Arsitektur “Tempo Doeloe” yang Sekarang Sudah Mulai Punah, dalam DIMENSI 20/Ars Desember 1994
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/batavia-loji-mason-pertama-di-asia.htm
http://m.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/04/26/m32p4w-jaringan-zionis-di-rumah-setan
Share:

Gedung Pertamina Perwira

Sehabis shalat Dhuhur di Masjid Istiqal, penulis mencoba menyusuri Jalan Perwira menuju Jalan Medan Merdeka Timur. Di situ terlihat bangunan lawas bermenara dengan dominasi warna putih. Bangunan lawas tersebut jelas mudah dikenali karena di atas menaranya terpasang logo dan tulisan Pertamina. Bangunan tersebut adalah Gedung Pertamina.
Gedung ini terletak di Jalan Perwira No. 2-4 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di barat daya Masjid Istiqlal.
Menurut catatan sejarah yang ada, pada tahun 1907 Shell dan KoninklijkeNederlandsche Petroleum Maatschappij membentuk perusahaan patungan yang diberi nama N.V. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) atau Perusahaan Perminyakan Batavia, setelah kedua perusahaan minyak tersebut terlibat persaingat sengit dalam mendapatkan konsensi ladang minyak di Hindia Belanda.


BPM merupakan perusahaan pengolahan perminyakan yang memiliki modal 80 juta gulden termasuk kilang dan pabrik penyulingan. Kemudian BPM berhasil menguasai seluruh produksi dan ekspor perminyakan di Hindia Belanda yang mengukuhkan monopolinya pada tahun 1911 dengan mengambil alih Dordtsche Petroleum. BPM adalah satu-satunya perusahaan perminyakan yang beroperasi di Hindia Belanda yang memiliki 44 konsensi, yaitu 19 di Sumatera, 18 di Jawa, dan 7 di Kalimantan. Keseluruhan produksinya pada tahun 1911 adalah 1.700.000 metrik ton yang terdiri atas 22% produksi Sumatera Utara, 10% dari Jawa Timur, dan 34% asal Kalimantan dan Pulau Tarakan sebesar 4%. Pada masa itu jumlah tersebut adalah 3,7% dari produksi perminyakan dunia. Shell-Koninklijke menjadi penghasil perminyakan tunggal di Hindia Belanda di masa-masa sebelum Perang Dunia I.
Kondisi yang baik ini mendorong BPM untuk mendirikan kantor pusatnya di Hindia Belanda yang berlokasi di Batavia pada tahun 1938. Kantor pusat BPM atau Hoofdgebouw van de Bataafsche Petroleum Maatschappij di Batavia dibangun megah dengan menaranya yang khas berbentuk kubus. Di puncak menaranya terdapat tulisan BPM di empat bidang pada kubus tersebut.
Pada tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan BPM-Shell Indonesia oleh PN Permina (Perusahaan Tambang Minyak Negara) dengan nilai US$110 juta. Lalu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1968 tertanggal 20 Agustus 1968 PN Pertamina dan PN Pertamin dimerger menjadi satu perusahaan bernama PN Pertamina. Sejak 17 September 2003, namanya berubah menjadi PT. Pertamina (Persero) sampai sekarang, dan secara otomatis gedung yang digunakan oleh BPM di Batavia tersebut berubah menjadi milik Pertamina. Puncak kubus dari gedung tersebut pun, logo BPM sekarang menjadi logo Pertamina. *** [071212]

Kepustakaan:
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008. Sejarah Nasional Indonesia V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Jakarta: Balai Pustaka
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Perminyakan_di_Indonesia
Share:

Gedung Galangan Kapal VOC

Bangunan ini terlihat saat penulis sedang menikmati pemandangan Sunda Kelapa dari loteng Menara Syahbandar Sunda Kelapa. Sambil menoleh setiap arah mata angin, terlintas bangunan dengan logo VOC yang cukup besar sehingga terlihat dari menara tersebut, dan bangunan tersebut mengundang keingintahuan penulis untuk mendekatinya dan sekaligus mengetahui kisahnya. Bangunan tersebut ternyata adalah Gedung Galangan Kapal VOC.
Gedung ini terletak di Jalan Kakap No. 1-3 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di barat daya Menara Syahbandar Sunda Kelapa atau selatan Museum Bahari.


Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam bukunya, Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2000 menulis, bangunan galangan kapal tersebut dibangun pada tahun 1628 sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan dagang Hindia Belanda, yang dikenal dengan sebutan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Bangunan lawas ini, dulunya dijadikan gudang barang keperluan galangan kapal di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Lama-lama, gudang ini dijadikan tempat menyimpan dan memperbaiki kapal-kapal besar yang akan berlayar ke perairan terbuka selama berbulan-bulan. Selain kapal besar, galangan kapal ini terdapat pula kapal-kapal kecil yang dibuat di sini.
Pada tahun 1721, galangan kapal ini pernah mengalami kebakaran. Sebelum terbakar, lantai dua dari bangunan ini bentuknya rata tanpa selasar. Namun, setelah dibangun kembali bangunan yang memanjang ditambahi selasar di lantai duanya serta jendela-jendela segitiga di atapnya. Sehingga, bila dirunut dari tahun dibangun galangan kapal ini, usia galangan kapal yang dibangun di atas tanakh urukan ini lebih tua dari bangunan Museum Bahari. Lokasi Museum Bahari dulu masih berupa rawa-rawa atau empang.


Tidak seperti di Surabaya, bangunan galangan kapal Marina yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939 bisa dinasionalisasi dan menjadi cikal bakal PT. PAL, tapi untuk galangan kapal VOC di Jakarta entah kenapa bangunan bersejarah ini pada akhirnya bisa di tangan perseorangan dalam kepemilikannya. Pernah dipegang pemiliknya yang bermarga Panggabean dan bangunan tersebut dijadikan gudang untuk menyimpan drum-drum bahan kimia. Lalu, sekarang beralih ke Susilowati Then (KOMPAS, 11 Februari 2015) dan dijadikan Cafe Resto Galangan VOC.
Usaha bisnis yang dilakukan Susilowati ini masih lumayan jika dibandingkan dengan bisnis sebelumnya menyangkut masalah heritage, karena masih mempertahankan bentuk aslinya dan mau merawat bangunan tersebut. Bagaimanapun juga, lokasi galangan kapal VOC ini tidak bisa dipisahkan dengan sejumlah bangunan serta lokasi heritage yang ada di sekitarnya, seperti Menara Syahbandar, Pasar Ikan Heksagon, Museum Bahari maupun Pelabuhan Sunda Kelapa. *** [210612]

Share:

Gedung 1927

Gedung megah yang bercat putih di tepi Kali Besar sebelah barat terlihat unik di samping dominan di antara gedung yang lainnya. Bangunan tersebut menghadap ke timur, dan di atasnya tertulis angka 1927. Sehingga, gedung tersebut kerap kali dinamakan Gedung 1927 oleh masyarakat setempat.
Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 22 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara Toko Merah, atau bersebelahan dengan Law Firm H. Djohan Djauhary.


Huib Akihary dalam bukunya, Architectuur & Stedebouw in Indonesie 1870/1970 (De Walburg Pers, Zutphen, 1990) menyebutkan, gedung 1927 ini pada masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Het gebouw van het dagblad Nieuws van den Dag. Gedung ini didesain ulang oleh biro konstruksi Associate Selle & de Bruyn Reyerse & de Vries dan dikerjakan dari tahun 1925 dan selesai pada tahun 1927. Oleh karena itu, pada fasad depan bagian atas tertulis angka 1927. Hal ini sebagai penanda bahwa bangunan tersebut berdiri pada tahun tersebut.
Gedung yang memiliki langgam Art Deco ini, mempunyai fasad yang melebar dengan jendela-jendela vertikal pada lantai satunya. Lantai duanya cenderung diperbanyak rooster untuk sirkulasi angin yang banyak pada tepi bawah dan tepi atas pada lantai tersebut, sedangkan bagian tengahnya relatif tertutup. Hal ini untuk meredam masuknya sinar matahari secara sporadis karena gedung tersebut menghadap ke timur atau arah matahari terbit.
Sekarang bangunan gedung ini sudah tidak digunakan untuk aktivitas “Berita Harian” tapi sempat dipakai untuk Athena Executive Club atau Athena Discotheque. Ketika penulis melihat bangunan ini, gedung ini digunakan untuk Old City Karaoke. *** [210612]
Share:

Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah

Deretan bangunan kuno yang berada di sebelah utara Taman Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, mengundang pesona bagi mata yang memandangnya. Banyak wisatawan, baik dari mancanegara maupun nusantara, yang berkeliling ke bangunan tersebut untuk sekadar melihat kemegahan gedung-gedung yang ada maupun untuk menelisik kisah dibalik berdirinya bangunan kuno tersebut. Salah satu bangunan kuno yang menarik perhatian adalah Gedung Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah.
Gedung kantor pos ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 3 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini berada di timur laut Taman Fatahillah, atau berada di sebelah barat laut Museum Seni Rupa dan Keramik.


Bangunan kantor pos ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner, seorang arsitek pada Bouwkundig Bureau yang ada di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum), dan pembangunannya dikerjakan oleh biro konstruksi N.V. Nederlandsche Aanneming Maatschappij (Nedam) pada tahun 1928.
Dari awal didirikan, bangunan ini memang digunakan sebagai kantor pos (post en telegraafkantoor). Layanan pos pada masa Hindia Belanda memang masih memegang peran yang penting dalam hal informasi maupun komunikasi. Oleh karena, gedung kantor pos ini dibangun di depan gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda (Stadhuis) di Batavia agar supaya arus informasi bisa diterima dengan cepat.
Gedung berlanggam Art Deco ini memiliki sirkulasi udara alamiah karena banyak jendela vertikal yang terdapat di gedung tersebut. Selain itu, juga untuk memaksimalkan pencahayaan dari sinar matahari yang menembus ruangan dalam gedung tersebut.
Kantor pos ini mempunyai dua lantai. Lantai 1 masih untuk melayani jasa pos, sedangkan lantai 2 sempat dipakai oleh Dinas Lalu Lintas dan Jalan Raya, tetapi sekarang telah digunakan sebagai ruang seni kontemporer (contemporary art space) bernama Galeria Fatahillah. *** [210612]
Share:

Cafe Batavia

Kawasan kota tua di Jakarta menjadi salah satu tempat wisata favorit di Provinsi DKI Jakarta. Banyak deretan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menghiasi kawasan tersebut, terutama yang mengitari Taman Fatahillah (Stadhuisplein). Di kawasan kota tua ini terdapat Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Kantor Pos Taman Fatahillah, dan Cafe Batavia.
Cafe ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 14 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi cafe ini di sisi utara Museum Wayang atau di sudut barat laut Taman Fatahillah.
Windoro Adi dalam bukunya Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010) menjelaskan bahwa, Cafe Batavia ini merupakan bangunan tua yang dulunya pernah digunakan sebagai salah satu kantor Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1837, tujuh tahun setelah gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda (sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta) di seberangnya didirikan.


Dalam perjalanannya, bangunan Cafe Batavia ini pernah berganti-ganti kepemilikan. Gedung ini pernah dibeli oleh saudagar Arab. Lalu, tahun 1990 Paul Hassan, orang berkebangsaan Perancis yang menjadi teman dekat mantan Menteri Pendidikan Fuad Hassan, membelinya. Paul menjadikan bangunan tersebut sebagai galeri lukisan.
Pada Februari 1991 bangunan ini dibeli oleh Eka Chandra, dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sebuah kafe. Bangunan ini lalu direnovasi seperti bentuk aslinya agar supaya nuansa klasik masih melekat dalam kafe tersebut. Kafe tersebut akhirnya diberi nama Cafe Batavia dan dibuka untuk umum pertama kalinya pada tahun 1993.
Menapaki anak tangga ke lantai dua Cafe Batavia, kita serasa dibawa ke awal abad ke-19. Di kafe itu, mata kita dihadang puluhan foto hasil jepretan masa lalu. Foto-foto itu dipajang di depan tembok berwarna putih pucat. Sebagian cahaya lampu kristal lama yang tak begitu terang jatuh ke permukaan kaca bingkai foto.
Perabotan, vas, bar beserta perangkatnya, lampu-lampu tembok dan plafon yang digantungi kain terawangan warna putih, semuanya seperti ingin membangun kenangan masa kolonial Belanda di Batavia.
Memang ada beberapa set sofa pendek dan lebar yang desainnya sudah lebih modern di beberapa sudut ruang, tetapi tak mengganggu kesan umum karena tenggelam oleh banyak foto masa silam.
Menu yang tersaji dalam kafe ini juga bervariatif, baik Indonesian, Chineese maupun European Food, dengan berbagai istilahnya.
Cafe Batavia ini memang dirancang oleh pemiliknya dengan konsep tempo doeloe yang seakan membawa kita ke zaman Jakarta saat masih bernama Batavia. Menikmati hidangan dengan nuansa klasik, sangat digemari oleh wisatawan asing yang berkunjung ke kota lama Jakarta ini. *** [210612]

Share:

Jembatan Kota Intan

Jembatan yang berlokasi dekat Hotel Batavia (dulu Hotel Omni Batavia) ini dibangun tahun 1628 dan diberi nama Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Pada tahun 1655 diperbaiki kemudian diberi nama baru oleh VOC Belanda menjadi Het Middelpunt Brug atau Jembatan Pusat. Namun masyarakat setempat pada waktu itu menyebutnya “Jembatan Pasar Ayam”.


Pada tahun 1938 diperbaiki lagi dan berganti nama menjadi Jembatan Juliana. Sejak Indonesia merdeka, jembatan ini diberi nama “Jembatan Kota Intan” sesuai dengan nama lokasi setempat, di mana di kawasan tersebut terdapat Kastil Batavia bernama “Diamond”.


Jembatan Kota Intan sering disebut juga sebagai Jembatan Jungkit karena jembatan itu dapat diangkat bila ada kapal yang melintas. Di masa Batavia, kapal yang mengangkut rempah-rempah dari pedalaman ke Pasar Ikan atau sebaliknya ke gudang dan pasar sering melewati sungai di bawah Jembatan Kota Intan.
Jembatan tua peninggalan Belanda itu menghubungkan sisi timur dan barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu tersebut sekarang sudah tidak berfungsi lagi. *** [210612]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami