Ketika mau berkunjung ke SMAN 2 Magelang melalui plengkung baru,
tampak terlihat bangunan kuna nan megah. Bangunan tersebut adalah Rumah Sakit
Tentara (RST) Dr. Soedjono. Sesuai namanya, RST ini merupakan rumah sakit milik
TNI AD ini bertugas memberikan pelayanan kepada anggota TNI AD, PNS beserta
keluarganya dan sekaran juga melayani kesehatan bagi masyarakat umum.
Rumah Sakit Tentara tersebut terletak di Jalan RST Soedjono No. 7
Kampung Kalisari RT.05 RW.08 Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota
Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi RST ini berada di Kompleks Rindam
IV/Diponegoro, dan memiliki kesan monumental bangunan rumah sakit sebagai “focal point” dari lingkungan kompleks
militer tersebut sangat kuat.
Sejak didirikan, RST ini memang berfungsi sebagai rumah sakit. Dulu
namanya Militaire Hospitaal yang
dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1917 sebagai salah satu
fasilitas militer yang memberikan pelayanan medis bagi militer Belanda dan
anggota keluarganya yang bertugas di Magelang.
Pada masa pendudukan Jepang (1942), rumah sakit ini diambil alih dan difungsikan untuk merawat tentara Jepang (Dai Nippon). Kemudian, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, rumah sakit ini berubah menjadi Rumah Sakit (RS) Palang Merah Indonesia (PMI) Magelang. Lalu, pada 1 Januari 1947. RS PMI berganti nama menjadi RSU Wates.
Pada 1 Maret 1948, RSU Wates diserahterimakan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Tentara (DKT) Divisi III, dan sejak 1 November 1973 nama rumah sakit
ini diganti menjadi RST Dr. Soedjono. Hal ini untuk mengabadikan nama Letkol
Dr. Soedjono, seorang dokter Brigade Kuda Putih yang gugur ditembak Belanda di
Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.
Bangunan seluas 2.300 m² ini memiliki
gaya arsitektur transisi. Karena pada masa itu memang terjadi perubahan yang
berlangsung cukup singkat dari akhir abad 19 sampai awal abad 20. Awal abad ke
20 merupakan puncak kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia.
Modernisasi dilakukan di semua bidang, tak terkecuali sarana fisik dalam
kompleks militer. Modernisasi tersebut terjadi pada kompleks militer di Batavia
serta kota-kota garnizun yang besar, seperti Cimahi, Magelang, dan Malang.
Yang menarik bagi dunia arsitektur waktu itu adalah pembaharuan secara total model arsitektur yang sebelumnya mempunyai gaya Indische Empire mengalami perubahan dengan gaya arsitektur Kolonial Modern yang disesuaikan dengan iklim setempat. Kaum militer Belanda menyadari betul akan iklim setempat, sehingga mereka menamakan kompleksnya dengan istilah tropenkampementen (kompleks militer daerah tropis).
RST Dr. Soedjono yang tergolong sebagai rumah sakit terbesar di
Pulau Jawa, selain RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan RS Cimahi tak luput dari
transisi arsitektural tersebut. Namun demikian, sejak didirikan, bangunan
setinggi 12 m ini sampai tahun 1980 tidak mengalami perubahan atau pun
penambahan. Kalau pun ada, sifatnya hanya pemeliharaan atau perbaikan bangunan
yang ada saja. Baru mulai tahun 1981, ada beberapa penambahan bangunan, antara
lain bangunan poliklinik (tahun 1981), dan kamar bedah sentral (tahun 1986), dan
yang baru adalah renovasi UGD serta dibukanya pintu gerbang timur yang
bertujuan tidak saja untuk melayani anggota TNI saja tetapi juga penderita
umum. *** [201214]











