The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Malang. Tampilkan semua postingan

Gedung Balai Kota Malang

Mengunjungi Alun-Alun Tugu memberikan keuntungan tersendiri. Karena kawasan Alun-Alun Tugu dikelilingi oleh bangunan-bangunan peninggalan masa pemerintahan Kolonial Belanda. Bangunan tersebut pada umumnya berfungsi sebagai sarana pemerintahan dan pendidikan yang sampai pada saat ini masih terlihat megah. Salah satu sarana pemerintahan yang masih bisa dilihat adalah Gedung Balai Kota Malang.
Gedung Balai Kota Malang terletak di Jalan Tugu No. 1 Keluraham Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini menghadap ke Alun-Alun Tugu, dan berdekatan dengan Hotel Splendid Inn maupun Hotel Tugu.
Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Asisten Residen yang berkantor di selatan alun-alun (sekarang Kantor Pos). Setelah Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (Kotamadya) pada 1 April 1914, Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Wali Kota). Jabatan wali kota waktu itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru pada tahun 1919, Malang mempunyai wali kota pertama yaitu H.I. Bussemaker. Alun-alun sebagai simbol pemerintahan lama dianggap sudah tidak mewakili gaya pemerintah baru yang lebih modern dan diusulkan untuk membuat daerah pusat pemerintahan baru yaitu di daerah Jan Pieterszoon P Coenplein (Lapangan J.P. Coen). Karena lapangan tersebut berbentuk bundar maka disebut Alun-alun Bundar.



Pada 26 April 1920 dibuat perencanaan kota yang di dalamnya termasuk pembangunan gedung balai kota sebagai tempat pemerintahan yang baru. Gagasan perencanaan itu timbul setelah wali kota mengadakan sayembara perencanaan Balai Kota Malang dengan juri Ir. W. Lemei, Ir. Ph. N Te Winkel dan Ir. A. Grunberg. Dari 22 peserta lomba tidak ada satu pun yang memenuhi syarat, maka pada 14 Februari 19127 diputuskan oleh dewan kota agar rancangan yang paling baik diadakan perubahan dan segera dilaksanakan pembangunan dengan anggaran F.287.000. Rancangan yang akhirnya dipakai adalah karya H.F. Horn dari Biro Arsitek di Semarang dengan motto: Voor de burgers van Malang (untuk warga Malang). Pembangunan Balai Kota dilaksanakan dari tahun 1927 sampai tahun 1929, dan mulai ditempati pada September 1929 oleh wali kota kedua, Ir. EA Voorneman.
Pada saat telah ditempati, Balai Kota Malang masih terasa ada beberapa kekurangan pada desain bangunan tersebut, terutama pada desain interior bangunannya. Akhrinya, pihak Balai Kota Malang meminta bantuan kepada Cosman Citroen. Citroen merupakan arsitek kolonial Belanda generasi kedua setelah tahun 1900 yang berdomisil di Surabaya. Ia pernah merancang Balai Kota Surabaya (1925). Sehingga, ketika Citroen diminta membantu pihak Balai Kota Malang, maka ia langsung merancang sendiri ruang wali kota yang sampai sekarang masih terlihat megah.
Pada waktu terjadi Operatie Product atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Agresi Militer Belanda I, Belanda mulai melakukan penyerbuan ke Malang dan disambut dengan pembumihangusan oleh para pejuang kita. Dalam tragedi Bumi Hangus tersebut, banyak gedung-gedung penting yang dulu dibangun oleh pihak Kolonial Belanda dibakar oleh pejuang kita. Termasuk salah satunya adalah Gedung Balai Kota Malang.
Setelah agresi yang dilancarkan oleh Belanda, baik Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II selesai, dan situasi perang kemerdekaan telah benar-benar berakhir maka gedung balai kota mulai dibangun kembali, dan sekarang bangunan yang tetap dipertahankan keasliannya ini menjadi bangunan cagar budaya di Kota Malang yang menjadi ikon Kota Malang. *** [260415]

Share:

Pabrik Rokok PT. Banyu Biru Malang

Setengah hari diajak keliling Kota Malang dengan sepeda motor oleh teman memang menyenangkan. Selain membuat fresh usai seminggu suntuk melakukan pekerjaan kantor, juga memberi wawasan geografis baru mengenai Kota Malang. Kotanya ramai, sejuk, dan yang tak kalah menariknya adalah banyaknya bangunan lawas di daerah tersebut. Hal ini wajar karena pada saat saya bertandang ke sana, sedang ada Karnaval memperingati 101 tahun Kota Malang.
Salah satu yang terlewati saat membonceng sepeda motor matic adalah bangunan lawas bernama Pabrik Rokok PT. Banyu Biru yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim No. 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pabrik rokok ini berada di pusat kota, yang tidak begitu jauh dengan Alun-Alun Kota Malang atau GPIB Immanuel, atau posisinya berada di belakang Hotel Riche.
Perusahaan rokok PT. Banyu Biru Malang didirikan pada 28 Maret 1958 dengan akte pendirian No. 503/A/I/b/17 oleh Soeryo Sutanto. Awalnya, hanya memperkerjakan 19 orang saja untuk memproduksi rokok sigaret kretek (SKT), yaitu pembuatan atau pelintingan yang dilakukan dengan tangan.


Karena usianya semakin uzur, Soeryo Sutanto menyerahkan pengelolaan usaha yang didirikan tersebut kepada anak laki-lakinya yang bernama Drs. Hendrawan Sutanto. Setelah pimpinan perusahaan dipegang oleh Hendrawan Sutanto, perusahaan memperluas jenis produksinya dengan memproduksi rokok sigaret filter atau dikenal dengan sigaret kretek mesin (SKM).
Pada saat ini, perusahaan telah mempekerjakan tenaga kerja lebih dari 200-an orang yang terbagi pada dua pabrik dan menempati beberapa bagian. Sedangkan, usaha yang telah dijalankan ini telah mendapatkan izin usaha dari pemerintah dengan nomor Izin Usaha Tetap sesuai dengan Surat Keputusan (SK) No. 339/Dja/IUT-1/Non-PMA PMSN/XI/90.
Pada saat ini, Pabrik Rokok PT. Banyu Biru Malang memproduksi 2 jenis rokok, yaitu rokok kretek dan rokok filter dengan menggunakan 5 cap, cap yang satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan, baik mengenai rasa, jenis pembungkusannya maupun harganya. Rokok-rokok yang diproduksi oleh perusahaan rokok ini dilabeli dengan merek:  BB King Size, Harummanis Spesial 12, Korvet Filter 12, Korvet Filter 16, Harummanis Super Star, dan Harummanis Super Merah.
Pabrik Rokok PT. Banyu Biru Malang memang tidak sebesar dan setenar dengan perusahaan rokok yang telah akrab di telinga kita, seperti: H.R. Sampoerna, Bentoel, Gudang Garam maupun Djarum, akan tetapi dilihat dari pemasarannya, perusahaan rokok ini sesungguhnya memiliki pangsa pasar tersendiri karena karakteristik penggemar rokok tersebut. Pemasaran rokok produksi PT. Banyu Biru ini telah merambah Palembang, Lampung, Sukabumi, Bandung, Garut, Pontianak, Banjarmasin, Palu, Manado, dan Mataram. *** [250415]

Share:

Museum Sejarah Bentoel

Menyusuri daerah pemukiman Tionghoa (Pecinan Malang) yang terdapat di sebelah tenggara dari Alun-Alun Kota Malang atau di sekitar Pasar Besar memang mengasyikan. Lingkungan yang padat hunian dan ramai akan aktivitas ekonomi. Namun, di tengah lingkungan yang padat tersebut bukan berarti tidak ada sama sekali hunian yang berhalaman luas. Sebagai contohnya adalah bangunan bernuansa arsitektur lokal yang di depannya terdapat pohon pudak dan pinus, masih memiliki halaman yang cukup luas. Bangunan tersebut adalah Museum Sejarah Bentoel.
Museum ini terletak di Jalan Wiromargo No. 32 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah barat Pasar Besar Malang ± 100 meter.
Menurut informasi yang didapat dari museum, pendirian Museum Sejarah Bentoel tidak lepas dari keberadaan industri rokok yang berkembang di Kota Malang. Perkembangan rokok Bentoel disebabkan penduduk kota sebagai konsumen rokok dan faktor pendukung industri lainnya. Oleh karena itu, atas inisiatif pribadi dari keluarganya Ong Hok Liong, pendiri Rokok Tjap Bentoel, ingin mendirikan sebuah museum sebagai salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Bentoel yang berhubungan dengan bidang pendidikan. Bentoel percaya bahwa setiap perusahaan seharusnya berkomitmen untuk menjalankan usahanya secara bertanggung jawab terhadap para pemangku kepentingan, seperti mitra bisnis, pemerintah, dan lingkungan sekitarnya.


Bentoel mendirikan Museum Sejarah Bentoel dengan menempati bekas rumah milik Ong Hok Liong. Museum ini dibuka untuk umum sejak tahun 1994 dan dikelola sebagai media pembelajaran serta sebagai wujud penghargaan atas sejarah dan budaya. Sebelumnya, yaitu akhir tahun 1970, rumah bersejarah milik Ong Hok Liong ini pernah dibongkar oleh direksi PT. Perusahaan Tjap Bentoel untuk dijadikan bangunan kantor bertingkat, namun rencana tersebut dibatalkan dan rumah lama tersebut didirikan kembali untuk dijadikan museum seperti saat ini.
Museum ini memang pernah mengalami “mati suri” dalam beberapat tahun karena pengaruh internal dalam manajemen Bentoel, yang mengalami beberapa perubahan kepemilikan. Dari perusahaan yang dikelola oleh keluarga hingga lebur ke dalam PT. BAT Indonesia Tbk. Baru pada Kamis, 31 Oktober 2013, museum ini dibuka kembali untuk umum dengan gaya penampilan koleksi yang berubah juga.


Memasuki bangunan museum yang memiliki lebar 12 m dan panjang 16 m yang berdiri di atas lahan seluas 400 m² ini, pengunjung akan bisa menikmati berbagai ruang pamer yang terdapat dalam museum. Pintu utama ada di sebelah timur karena bangunan museum ini menghadap ke timur. Sebelum memasuki bangunan museum, terlebih dahulu pengunjung akan melewati teras. Di teras tersebut, pengunjung bisa membaca plakat yang tertempel di sisi kiri dan kanan dari pintu utama. Plakat yang berada di sebelah kiri dari sudut mata pengunjung, tertulis Selamat Datang dari Museum Sejarah Bentoel, dan plakat di sebelah kanannya bertuliskan panduan berkeliling museum ini dengan disertakan gambar denah dari bangunan museum ini.
Setelah teras, pengunjung bisa melintasi pintu utama untuk masuk ke dalam museum. Di sini, pengunjung dapat membaca perjalanan Bentoel dan melihat barang-barang milik Ong Hok Liong yang terekam dalam Galeri Sang Pendiri. Kemudian, pengunjung dapat melanjutkan ke ruang Galeri Foto yang berisi arsip iklan Bentoel yang diperankan oleh sejumlah bintang film. Ruang Galeri Tembakau dan Cengkeh menampilkan proses peracikan sigaret kretek maupun sigaret filter dari awal berdiri pabrik Bentoel hingga proses yang lebih modern. Usai menyaksikan di dua ruangan ini, pengunjung bisa istirahat dulu di ruang duduk yang berada di antara ruang Galeri Foto dan ruang Galeri Tembakau dan Cengkeh, sambil menyaksikan sepeda onthel milik Ong Hok Liong.
Ruang bagian belakang dari bangunan museum, terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang Brand Bentoel, Bentoel Kini, dan Tentang Bentoel Group. Pada ruang Brand Bentoel, pengunjung akan dapat melihat deretan kotak rokok yang pernah diproduksi oleh Bentoel, dan dilanjutkan dengan melihat-lihat di ruang Bentoel Kini. Sedangkan, pada ruang Tentang Bentoel Group, pengunjung bisa menyaksikan kiprah perusahaan Rokok Bentoel dalam perjalananannya selama ini.
Mengakhiri kunjungan di dalam museum ini, pengunjung bisa keluar dari pintu belakang yang langsung menghadap ke taman yang asri di belakang bangunan museum ini. *** [250415]


Share:

Gedung Bank Mandiri KCP Malang Merdeka

Menyusuri Alun-Alun Kota Malang memberi sensasi tersendiri. Deretan bangunan lawas di seputar alun-alun cukup memukai dan mengundang rasa ingin tahu yang lebih besar. Hampir di setiap sudut alun-alun dihadapkan pada keberadaan bangunan lawas yang menawan dan khas. Salah satunya adalah gedung Bank Mandiri KCP Malang Merdeka.
Bank Mandiri ini terletak di Jalan Merdeka Barat No. 1 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi bank ini berada di samping Masjid Jami’ Malang atau berseberangan dengan Hotel Pelangi.



Menurut catatan sejarah yang ada, gedung yang digunakan Bank Mandiri ini dulunya merupakan gedung milik Nederlandsch-Indisch Handelsbank yang selesai pembangunannya pada pertengahan Agustus 1938. Gedung tersebut merupakan hasil rancangan dari Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek  Belanda yang dilahirkan di Banyubiru, dekat Salatiga, Jawa Tengah, pada tahun 1882.
Pada 1950, Nederlandsch-Indisch Handelsbank berganti nama menjadi De Nationale Handelsbank. Kemudian De Nationale Handelsbank dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1939. Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, pemerintah mendirikan Perseroan Terbatas Bank Umum Negara (BUNEG) berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1959 Tanggal 10 Agustus 1959.



Dalam perjalanan sejarahnya, Bank Umum Negara mengalami beberapa kali perubahan. Ketika dalam tahun 1964, sebuah bank asing milik Inggris The Chartered Bank dinasionalisasi berdasarkan Ketetapan Presiden No. 6 Tahun 1964, pengelolaan bank tersebut selanjutnya diserahkan kepada Bank Umum Negara sebagaimana yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri Urusan Bank Sentral No. Kep. 15/UBS/65 Tanggal 19 Februari 1965. Dalam tahun itu juga, Bank Umum Negara tersebut berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV. Penggantian nama ini merupakan perwujudan dari kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Bank Sentral No. Kep. 65/UBS/65 Tanggal 30 Juli 1965, untuk menggabungkan bank-bank milik pemerintah dalam satu wadah pengelolaan, yaitu Bank Negara Indonesia. Akhirnya, berdasarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 1968, Bank Negara Indonesia Unit IV tersebut berubah nama menjadi Bank Bumi Daya (BBD).
Selang berjalan selama 31 tahun, Bank Bumi Daya akhirnya harus dimerger dengan tiga bank lainnya, yaitu Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank Expor Impor (EXIM), menjadi Bank Mandiri. Tak heran, bila sebagian warga Malang masih mengenal gedung Bank Mandiri tersebut sebagai gedung eks Bank Bumi Daya.
Sekarang ini, Bank Mandiri menjadi salah satu bank terkemuka di Kota Malang. Namun, khusus untuk Bank Mandiri KCP Malang Merdeka memiliki arti tersendiri bagi Kota Malang. Bukan sebagai bank besar saja, akan tetapi sebagai bank yang mempunyai gedung peninggalan kolonial bergaya Art Deco. Gedung ini juga menambah khazanah deretan bangunan lawas yang berada di sekeliling Alun-Alun Kota Malang. *** [250415]

Share:

GPIB Immanuel Malang

Alun-Alun Kota Malang merupakan jantung kota yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sedemikian rupa. Deretan bangunan perkantoran, hotel dan tempat ibadah berdiri di sekelilingnya mewarnai keindahan alun-alun tersebut. Salah satunya adalah GPIB Immanuel.
Gereja ini terletak di Jalan Merdeka Barat No. 9 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi GPIB ini berada di sebelah utara Masjid Malang, atau di pojok barat laut Alun-Alun Kota Malang.
Menurut catatan sejarah yang ada, gereja ini diresmikan penggunaannya pada 30 Juli 1861 dengan nama Protestantse Kerk te Malang. Awalnya, gereja ini sangatlah sederhana. Bangunannya belum ada menara yang menjulang, dan fasadnya hanya berbentuk tiga lengkungan yang menyatu dengan gevelnya.



Karena bentuknya masih sederhana, Pemerintah Hindia Belanda membongkarnya dan kemudian membangunnya kembali dengan gaya arsitektur Gothic yang menawan pada tahun 1912. Pada waktu itu, halaman yang mengelilingi gereja masih hijau dan luas. Namun, seiring perkembangan kota, halaman yang berada di depan dan di sebelah utara diambil untuk pelebaran jalan kota sehingga menjadi semakin sempit.


Gereja ini pada mulanya digunakan sebagai tempat ibadah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Pendeta dan pejabat gereja semuanya orang Belanda, termasuk bahasa yang digunakan dalam peribadatan juga memakai bahasa Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Protestantse Kerk diserahkan ke Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada tahun 1948. Jemaatnya pun berubah, dari dominasi orang-orang Belanda menjadi jemaat yang multikultural dari suku-suku yang ada di Indonesia yang menetap di Malang. Sedangkan, nama Immanuel adalah nama jemaat yang ditetapkan berdasarkan data historis yang semula bernama Protestantse Gemeente te Malang menjadi jemaat ke-36 jajaran GPIB.
Gereja yang memiliki luas bangunan 800 m² di atas lahan seluas 1.300 m² ini berdiri tepat di perempatan alun-alun bagian utara. Posisi ini menjadikan kemegahan gereja ini bisa dilihat tidak dari satu arah saja. Menara gereja yang menjulang khas tradisi arsitektur Gothic menjadi ciri khas GPIB Immanuel, dan membuat kagum yang memandangnya.
Kondisi arsitekturnya masih tetap dipertahankan seperti semula. Bahkan, kursi yang ada di dalam gereja masih asli berujud bangku yang terbuat dari kayu jati. *** [250415]
Share:

Gedung Bank Indonesia Malang

Bila Anda sedang berkunjung ke Kota Malang, jangan lupa sempatkan untuk berjalan-jalan di seputar Alun-Alun Kota Malang atau yang biasa disebut juga dengan Alun-Alun Merdeka. Pada kawasan Alun-Alun Merdeka terdapat beberapa bangunan lawas yang memiliki nilai sejarah dalam perjalanan Kota Malang yang sarat akan nilai sosial, ekonomi dan budaya. Salah satunya adalah Gedung Bank Indonesia Malang.
Gedung bank ini terletak di Jalan Merdeka Utara No. 7 Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi bank ini berada di sebelah utara Alun-Alun Kota Malang atau di depan Ramayana Department Store.


Dulu, gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang merupakan gedung Kantor Cabang De Javasche Bank  Malang. Gedung De Javasche Bank ini merupakan hasil rancangan Biro Arsitek Hulswit, Fermont dan Ed Cuypers dari Batavia yang mulai dibangun pada tahun 1915 dan resmi dibuka pada 1 Desember 1916.
Berdirinya De Javasche Bank ini tidak terlepas dari kondisi keuangan di Hindia Belanda pada awal abad 18 yang dianggap memerlukan penertiban dan pengaturan sistem pembayaran dalam bentuk lembaga baru dan diwujudkan ketika Raja Willem I menerbitkan Surat Kuasa kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda pada 9 Desember 1826 yang memberikan wewenang kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk sebuah bank. Pada 24 Januari 1828 didirikan bank sirkulasi berdasarkan Surat Keputusan Jenderal Hindia Belanda No. 25 dan ditetapkan dalam akte pendirian De Javasche Bank.


Pada masa penjajahan Jepang (April 1942) semua kantor De Javasche Bank ditutup dan fungsinya sebagai bank sirkulasi digantikan oleh Nanpo Kaihatsu Bank. Dengan berakhirnya penjajahan Jepang (6 Agustus 1946) dan Sekutu berkuasa kembali. De Javasche Bank beroperasi lagi. Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1951 tertanggal 15 Desember 1951 De Javasche Bank dinasionalisasi (Lembaran Negara Tahun 1951 No. 120) dan Undang-Undang No. 11 Tahun 1953 tertanggal 1 Juli 1953, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia yaitu Bank Sentral Republik Indonesia.
Gaya bangunan Bank Indonesia di Kota Malang tidak seperti Bank Indonesia yang ada di Indonesia yang pada umumnya gaya arsitekturnya Neo-Klasik dengan kolom-kolom Yunani yang tinggi, namun di Malang terkesan modern, dan bentuk arsitekturnya sampai sekarang relatif tidak mengalami perubahan. Perubahan terjadi saat material atap diganti setelah peristiwa Bumi Hangus Malang pada Desember 1947. Pemugaran (restorasi) resmi dilakukan pada tahun 1950-an setelah kondisi Republik Indonesia stabil, serta  pada tahun 1970-an. Bentuk fisik lainnya yang berubah setelah itu adalah penambahan pagar besi yang kelihatan kokoh. *** [250415]

Share:

Toko Oen Malang

Julukan Paris van East Java kepada Kota Malang bukanlah tanpa alasan. Alamnya yang indah, iklimnya yang sejuk, kotanya bersih, kulinernya serta banyak bangunan bersejarah yang tersebar di sudut-sudut kota. Salah satunya adalah Toko Oen yang legendaris, yang pada gevel bangunannya terdapat tulisan Toko ˶Oen˝, Restaurant Ice Cream Palace Patissier.
Toko ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 5 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi toko ini berada di sebelah utara Toko Gramedia dan berseberangan jalan dengan Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus.
Begitu masuk ke toko ini, suasana tempo doeloe langsung terasa. Ada kursi rotan, ada kursi besi zaman dulu, dan terpampang spanduk bertuliskan Welkom in Malang, Toko Oen Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft.
Sejarah Toko Oen (Chyntia Elsinta Indrawati, 2012: 50) bermula dari kiprah seorang ibu rumah tangga bernama Liem Gien Nio, istri dari Oen Tjoen Hok di Yogyakarta pada tahun 1910, yang kerap membuat kue maupun ice cream ala Belanda di saat luang. Kegemaran Liem Gien Nio dalam membuat kue dan ice cream di waktu luang tersebut mengilhaminya untuk mendirikan sebuah toko yang bisa menjual kue dan ice cream tersebut. Akhirnya, berdirilah Toko Oen. Liem Gien Nio menggunakan nama depan suaminya, “Oen”, sebagai merek dagang.


Seiring dengan semakin banyaknya pelanggan, menunya pun juga berkembang dengan adanya masakan Eropa dan Tiongkok. Ketika nama Toko Oen mulai dikenal, Liem Gien Nio pun berusaha membuka toko di Yogyakarta (1910-1937) dan membuka cabang di Jakarta (1934-1973), Malang (1936-1990), dan Semarang (1936 hingga sekarang). Yang menjadi pelanggan pada umumnya orang Belanda, pribumi dari golongan atas dan Tionghoa karena masakan seperti jarang dijumpai dan cita rasanya cocok untuk lidah mereka.
Toko Oen Malang menempati lokasi yang strategis yang dulu dikenal dengan sebutan Kayutangan. Di depannya terdapat Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (De Katholik Kerk in Malang) dan gedung Societeit Concordia (sekarang Mall Sarinah). Lokasinya inilah yang menyebabkan Toko Oen di Malang mudah dikenali oleh orang Belanda kala itu.


Pada masa itu, toko ini merupakan restoran terbesar di Kota Malang yang dijadikan sebagai tempat bekumpulnya orang-orang Belanda. Bahkan, pada waktu Konggres KNIP diselenggarakan di Malang pada 25 Februari 1947, toko ini menjadi tempat mangkal para peserta konggres se-Indonesia untuk beristirahat makan siang. Semasa pendudukan kembali Belanda pada Juli 1947, toko ini merupakan salah satu bangunan yang selamat dari pembumihangusan.
Namun setelah salah satu anggota keluarga pengelola Toko Oen Malang meninggal dunia, toko ini sempat dijual kepada pengusaha kayu di Malang yang kebetulan masih keponakannya. Karena tidak mendapat pengolaan yang serius, toko ini kurang berkembang. Pada tahun 1990, toko ini dijual kepada Danny Mugianto dan dioperasikan terus oleh pemilik baru tersebut dengan tetap memakai nama “Oen”.
Toko Oen Malang menyajikan berbagai macam masakan, baik masakan Indonesia maupun beberapa masakan Belanda, seperti Rondo’s (roti panggang dan salad), Toast Crackers-Flying Sautchers, Sandwiches, Appetizer, European Cuisine, Salads, Steaks, Old Fashioned Ice Cream, yang merupakan ciri khas dari toko ini, dan juga Indonesian Specialities, Oriental Cuisine yang merupakan penambahan dikarenakan disesuaikan dengan keinginan konsumen. Selain itu, ada juga roti dan kue kering yang menggunakan resep tradisional yang dipertahankan sejak toko ini didirikan. Selain menyediakan berbagai macam makanan, Toko Oen juga menjual berbagai souvenir, seperti kaos, mug, dan lain-lain. Toko ini juga memberikan jasa yang dibutuhkan para wisatawan, seperti mencari hotel di Malang maupun di Jawa Timur pada umumnya.
Toko Oen Malang, selain terkenal akan kulinernya yang memiliki cita rasa tersendiri juga menampilkan fasad bangunan yang mendapat pengaruh langgam Art Deco, sederhana dan geometris. Penggunaan elemen geometris yang terlihat dari bentuk gevel dari Toko Oen yang menghiasi fasad pada bagian atas menunjukkan salah satu ciri arsitektur Art Deco. Fasad pada bagian bawah, dengan dominasi dari komposisi jendela, pintu, ventilasi dan tritisan yang merupakan salah satu elemen dari bangunan sebagai elemen dekoratif dari fasad merupakan salah satu ciri khas dari arsitektur modern di masa kolonial.
Mampirlah ke Toko Oen bila sedang bepergian ke Malang. Anda akan menikmati sensasi suasana heritage tempo doeloe bercitra kolonial, baik bangunannya dan sekaligus kulinernya. *** [250415]

Share:

Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang

Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang (ML) atau biasa disebut Stasiun Malang merupakan salah satu stasiun yang berada di bawah kewenangan Daerah Operasional (DAOP) 8 Surabaya pada ketinggian + 444 m di atas permukaan laut. Stasiun ini disebut sebagai Stasiun Malang Kota Baru adalah untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kota Lama yang usianya lebih tua, dan sekaligus merupakan stasiun terbesar di Malang.
Stasiun ini terletak di Jalan Trunojoyo No. 10 Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada tidak jauh dari Alun-Alun Bundar maupun Balaikota Malang.
Awalnya, Stasiun Malang dibangun sekitar tahun 1920-an, tetapi pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 1876 jalur rel kereta api Surabaya-Malang telah dibuka. Namun, stasiun tersebut menghadap ke timur karena letak stasiun sebelumnya berada di sebelah timur rel kereta api. Sehingga, pada waktu itu penumpang yang baru turun dari kereta api akan bisa menyaksikan pemandangan Gunung Panderman di sebelah barat.


Pada saat itu, di sepanjang jalan raya Kayoetangan-Tjelaket baru terdapat beberapa rumah orang Eropa, dan di sebelah timur rel kereta api, sehingga stasiun ditempatkan di sebelah timur rel kereta api dan berhadapan langsung dengan tangsi militer. Namun seiring peningkatan jumlah penumpang, bangunan stasiun ini sudah tak mampu menampung peningkatan tersebut. Maka dibuatlah bangunan stasiun yang baru di sisi barat dari jalur rel kereta api yang sampai sekarang masih bisa disaksikan. Sedangkan, bangunan stasiun yang berada di sebelah timur difungsikan sebagai kantor dan gudang untuk menyimpan alat-alat perawatan jalur kereta api.


Stasiun Malang yang sekarang menghadap ke barat ini merupakan hasil rancangan arsitek J. Van der Eb dan mulai didirikan pada tahun 1941. Artika Tri Widyanti, dkk (2009: 39) menjelaskan bahwa karakter bangunan stasiun ini ditentukan oleh elemen-elemen yang melekat pada bangunan tersebut yang mencerminkan international style dengan langgam art deco, yaitu dapat diketahui melalui atap bangunan dengan bentuk dominasi atap datar, bentukan massa bangunan yang cenderung didominasi kubisme dengan ketinggian bangunan yang tidak mencolok, penggunaan sedikit ornamen (vertikal dan horisontal), penggunaan bentuk-bentuk bukaan yang cenderung sederhana (tanpa ornamen) dan menggunakan ukuran yang kecil dengan jumlah banyak. Meskipun beberapa dari elemen-elemen tersebut telah mengalami perubahan tetapi elemen-elemen penting pada bangunan tersebut masih dapat mewakili gaya bangunan seperti aslinya, misal gaya bangunan yang tidak berubah, bentukan massa bangunan, atap bangunan induk dan atap ruang tunggu, desain, struktur dan material terowongan/lorong yang juga masih tetap sama, dan lain sebagainya.
Bangunan Stasiun Malang yang memiliki luas 1.875 m² yang berdiri di atas tanah stasiun seluas 27.034 m² dengan nomor register 002/08.65117/MLG/ML ini pernah mengalami renovasi. Kendati demikian, hasil renovasi yang dilakukan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak jauh berbeda dengan bentuk aslinya. Sesuai dengan misinya sebagai bangunan umum yang memiliki peran istimewa, maka perletakannya harus memancarkan pesannya ke seluruh penjuru kota. Hal ini didasarkan pada rencan perluasan Kota Malang (Bouwplan) pada tahun 1935 yang dirancang oleh Ir. Thomas Karsten pada Bouwplan II – V (daerah Alun-Alun Tugu sampai Jalan Ijen).
Sebagai bangunan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda, Stasiun Malang ini telah bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI (Persero) yang dilindungi oleh Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [250415]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami