The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tangerang Selatan Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangerang Selatan Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Sudimara Ciputat

Stasiun Kereta Api Sudimara (SDM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sudimara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 28 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kereta api kelas III. Stasiun Sudimara terletak di Jalan Raya Jombang, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Jombang.
Bangunan Stasiun Sudimara yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda meski fasade bangunan ini sedikit mengalami perubahan dengan penambahan ruangan di sebelah kanan bagian depan. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang. Peresmian stasiun ini dilakukan pada 1 Oktober 1899.


Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).
Pada awal mulanya, Stasiun Sudimara ini berfungsi sebagai stasiun lintasan kereta api saja (Stopplaats), namun kemudian berubah menjadi stasiun kecil (halte) untuk melayani warga sekitar yang menjual hasil perkebunannya ke Batavia Zuid (sekarang Jakarta Kota) maupun Tanah Abang. Pada 16 Maret 1954, Direksi Djawatan Kereta Api menaikkan Stasiun Sudimara menjadi stasiun kelas IV.
Sekarang, stasiun ini menjadi stasiun kelas III. Akan tetapi sejak dioperasikan KRL (Kereta Listrik), atau dalam bahasa menterengnya disebut Commuter Line hingga Stasiun Maja di Tangerang, Stasiun Sudimara ini menjadi stasiun yang tergolong ramai, sibuk dan padat jadwal lintasannya. Hal ini juga tak terlepas dari perkembangan hunian yang ada di sekitar stasiun tersebut, karena Ciputat merupakan daerah penyangga Kota Jakarta.


Proyek jalur ganda (double track) yang melintasi Stasiun Sudimara yang diresmikan pada 4 Juli 2007 semakin menggairahkan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang di stasiun ini. Sebagai akibatnya, fisik stasiun ini pun turut dikembangkan mengikuti lonjakan penumpang dari stasiun ini. Konon, stasiun ini merupakan stasiun dengan pengguna terpadat ke 2 setelah Stasiun Tanah Abang pada jalur hijau Commuter Line. Dengan volume ± 15.000 penumpang per harinya. Belasan ribu penumpang pengguna Commuter Line harus berdesakan pada stasiun ini. Situasi inilah yang menyebabkan PT KAI (Persero) mengembangkan stasiun ini agar daya tampungnya bisa maksimal. Peron ditinggikan semua, dan disediakan penyeberangan antar peron, serta pintu masuk dibuat menjadi dua lokasi. Satu berada di selatan jalur rel, dan yang satunya berada di utara jalur rel, berdampingan dengan bangunan lama stasiun. Bangunan stasiun yang baru lebih modern tampilannya, cenderung terbuka dan tinggi langit-langitnya.
Stasiun ini memiliki 3 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Rawa Buntu hingga Merak. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Jurangmangu hingga Tanah Abang. Sedangkan, jalur 3 ini merupakan jalur persediaan untuk langsiran kereta api saja.
Bangunan lama Stasiun Sudimara ini masih beruntung, tidak dirobohkan. Sehingga, jejak historinya masih bisa dilihat. Hanya saja, bangunan lama tersebut kurang terawat bila dilihat dari tampak mukanya (fasade). Seandainya, bangunan lama ini tetap dipelihara atau difungsikan sebagai museum mini Stasiun Sudimara, tentunya akan menambah nilai tambah bagi keberadaan stasiun ini. Tidak perlu dihadirkan koleksi yang sulit dikumpulkan, tapi tampilkan saja yang ada di stasiun tersebut, seperti pajangan foto dengan story line perjalanan stasiun ini dari waktu ke waktu. Hal ini selaras dengan ujaran Isidore Marie Auguste François Xavier Comte (1798-1857), seorang filsuf Perancis, yang berbunyi: “Savoir Pour Previour”. Artinya, mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. *** [010516]
Share:

Situ Gintung Ciputat

Tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Ciputat dengan Lebak Bulus, terdapat sebuah daerah yang sering dikunjungi oleh masyarakat Ciputat dan sekitarnya untuk bersantai. Mereka pada umumnya menikmati telaga dengan keasriannya. Terlebih bagi yang gemar memancing, telaga ini merupakan tujuan favorit mereka. Tenang, dan sekaligus mudah mengaksesnya.
Telaga tersebut memang tidak terlalu luas, namun hijaunya rerimbunan daun pepohonan yang mengitari telaga tersebut, membuat pengunjung betah untuk bersantai di sana. Telaga tersebut dikenal dengan Situ Gintung. Situ ini terletak di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi situ ini terletak di sebelah timur lampu merah Gintung.
Situ Gintung merupakan satu dari 160 lebih situ yang ada di wilayah Jabodetabek. Situ, berasal dari bahasa Sunda yang artinya adalah telaga atau danau. Dulunya, Situ Gintung ini adalah danau alami berupa rawa-rawa. Kemudian, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Situ Gintung sebagai  daerah tangkapan air yang ditampung dari sungai Cidurian dan Cisadane, untuk mengairi persawahan yang terletak di bagian hilir (arah timur laut). Lalu, dibendung dan dibangun pintu air. Pengerjaannya dimulai sejak tahun 1932, dan selesai pada tahun 1933.


Luas area Situ Gintung pada saat dibangun, diperkirakan sekitar 31 hektar, namun sekarang diperkirakan tinggal 24 hektar saja. Daerah hilir yang dahulunya merupakan persawahan terletak di sepanjang bantaran (flood plain) saluran air Situ Gintung yang berada di cekungan sebelah timur laut tanggul dan dibatasi oleh tebing di sebelah timur dan baratnya, serta membentang hingga sungai Pesanggrahan. Luas wilayah yang merupakan persawahan tersebut diperkirakan sekitar 18 hektar.
Sekitar tahun 1980, keindahan Situ Gintung mulai dilirik para pebisnis. Salah satu tepi Situ Gintung kemudian dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam dan perairan di mana terdapat restoran, kolam renang, dan sarana outbound. Akibat adanya fasilitas ini, menjadikan kawasan Situ Gintung juga dilirik untuk pemukiman penduduk yang berurbanisasi di Jakarta. Sehingga, sekitar kawasan ini menjadi padat hunian. Saking padatnya hunian, terutama yang berada di sebelah utaranya, kawasan Situ Gintung menjadi slum area (daerah kumuh). Di sekitar pintu air hingga jembatan, dulunya merupakan hunian ala tepi sungai Ciliwung. Rumahnya berhimpitan dan kumuh. Tapi sekarang, kekumuhan tersebut sudah tidak ada lagi. Daerah buangan air dari Pintu Air Situ Gintung menjadi daerah hijau, yang banyak ditanami tumbuhan peneduh. Hal ini tidak terlepas dari adanya peristiwa 27 Maret 2009 di mana Situ Gintung jebol.
Berawal pada tanggal 26 Maret 2009 mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB, hujan lebat disertai angin kencang dan petir melanda kawasan Ciputat dan sekitarnya, membuat permukaan air telaga Situ Gintung meningkat dan melebihi kapasitas. Akibatnya tanggul Situ Gintung tak sanggung menahan luapan air yang berada di telaga Situ Gintung tersebut, dan jebol.


Jebolnya tanggul Situ Gintung mengakibatkan bencana banjir bandang yang menghanyutkan tanah dari tanggul dan lumpur dari telaga serta beberapa bangunan yang berada tepat di bawah tanggul. Turbulensi aliran ke arah hilir diduga makin membesar volume dan berat jenisnya akibat makin banyaknya material dari bangunan dan benda-benda lain yang tersapu banjir. Dampak terbesar dari aliran air dan lumpur ini diperkirakan mencapai puncaknya pada kawasan pemukiman dan bangunan di sekitar gedung perpustakaan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang berlokasi sekitar 650 meter dari titik pecahnya tanggul.
Dari buku Data Korban Bencana Situ Gintung, yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan, memperlihatkan rekapitulasi akhir hasil pencacahan korban bencana Situ Gintung yang dihimpun oleh Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Situ Gintung terdapat 915 korban jiwa dari 316 KK yang tersebar dalam 8 RW  serta ratusan rumah penduduk luluhlantak di Kelurahan Cireundeu. Dahsyatnya dampak yang ditimbulkan tersebut, nama Situ Gintung menjadi pemberitaan utama di hampir semua media massa nasional. Dari tidak dikenal secara luas, menjadi terkenal di seantero Indonesia.
Setelah masa tanggap darurat selesai, Situ Gintung beserta kawasannya mulai dibangun kembali, dan selesai pada bulan Februari 2011. Perbaikan yang sangat signifikan dari tanggul Situ Gintung, adalah adanya saluran air untuk mengalirkan air apabila volume air tidak dapat ditampung. Saluran air ini mengalir sampai ke daerah Petukangan. Selain itu, pada sisi kiri dan kanan saluran sekarang menjadi ruang hijau. Pada sisi kiri saluran, juga dibangun sebuah monumen untuk mengenang korban tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung pada 2009. Ini menjadi tanda, bahwa kita harus lebih waspada untuk menghadapi musibah, dan berharap kejadian yang lalu tidak akan terulang kembali. *** [170416]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami