The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label benda cagar budaya di Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benda cagar budaya di Malang. Tampilkan semua postingan

Monumen Peniwen Affair

Pulang dari menghadiri penyuluhan kesehatan jantung di giat Posbindu PTM Sejahtera Desa Jatiguwi pada Sabtu (17/04/2021), penulis diajak Kepala Seksi PTM dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Malang menengok orang yang pernah bekerja di rumahnya. Namun sebelum menuju rumahnya, penulis diajak singgah ke bangunan bersejarah yang ada di desa itu.

Bangunan itu dikenal dengan Monumen Peniwen Affair yang terletak di Jalan Raya Peniwen, Dusun Kertorejo, Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi monumen ini tepat berada di selatan SD Negeri 2 Peniwen. Jaraknya sekitar 16 km dari ibu kota Kabupaten Malang, Kepanjen.

Monumen Peniwen Affair dari sisi selatan

Monumen ini didirikan atas prakarsa dari warga AMPI Rayon Sumberpucung yang kemudian mendapatkan bantuan dari warga AMPI Daerah Tingkat II Kabupaten Malang dan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Malang.

Pelaksanaan pembangunan monumen dilakukan oleh suatu panitia. Penggalian tanah sebagai permulaan pembangunan monumen pada tanggal 11 Agustus 1983 dan selesai pada tanggal 10 September 1983. Namun peresmian monumen tersebut baru dilaksanakan pada tanggal 10 November 1983.

Monumen Peniwen Affair dari sisi barat

Pendirian Monumen Peniwen Affair ini untuk mengenang anggota Palang Merah Remaja Desa Peniwen yang gugur dibantai KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) secara kejam dan keji pada masa Clash-II (Kartomihardjo, dkk., 1986). Palang Merah Remaja (The Youth Red Cross Monument in Peniwen) itu anggotanya terdiri dari para pemuda desa Peniwen dan sebagian anggota Brigade 16 Sektor Kawi Selatan (Pemda Malang, tanpa tahun).

Pada waktu menjalankan tugas merawat para pasiennya, mereka telah dipaksa Tentara Kerajaan Belanda yang umumnya berasal dari orang-orang pribumi (KNIL) untuk keluar dari Rumah Pengobatan Panti Husada (sekarang digunakan sebagai SD Peniwen) bersama-sama dengan pasiennya sekitar pukul 14.00.

Monumen Peniwen Affair dari gapura/pintu masuk halaman SDN 2 Peniwen

Sesampainya di luar, mereka disuruh jongkok dan ditembaki satu per satu. Merek telah gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.

Sikap membabi buta KNIL ini tidak terlepas dari keputusasaannya yang tidak bisa menemukan pusat pertahanan tentara pejuang Republik Indonesia yang menyingkir ke Peniwen usai melakukan serangan di Kepanjen.

Dengan adanya pembunuhan yang diawali penganiayaan terhadap pasien dan anggota Palang Merah Remaja itu, maka Jemaat Kristen Peniwen mengadakan protes ke Dewan Gereja Dunia (World Church Council) lewat Sinode Jawa Timur yang dipimpin oleh Pendeta Martodipuro.

Prasasti Monumen Peniwen Affair di sisi utara

Surat protes itu kemudian menghasilkan sejumlah kecaman dari dunia internasional kepada Belanda karena kejadian ini. Hal itu membuat Belanda bertambah geram, sehingga mereka kembali menyerbu Peniwen dengan mengerahkan pasukan artileri tempurnya gereja-gereja untuk menangkap sang pendeta.

Belanda akhirnya dituduh melakukan kejahatan perang karena menyerang anggota Palang Merah dan masyarakat sipil. Mereka pun akhirnya mundur dari Peniwen dan semakin menjauh dari Indonesia setelah tercapainya kesepakatan dalam Perjanjian Roem-Rojen pada Mei 1949.

Makam Pahlawan Palang Merah Remaja di depan monumen

Monumen dibangun di atas sebidang tanah milik desa, di tepi jalan desa jurusan Peniwen-Jambuwer, yang berjarak sekitar 300 m dari GKJW Peniwen. Monumen yang berbentuk patung figur seorang anggota Palang Merah Remaja sedang merangkul untuk menolong seorang anggota Palang Merah Remaja lainnya yang badannya penuh luka tembakan ini, menghadap ke arah selatan.

Patung berdiri di atas sebuah tiang penyangga/pilar yang bertumpu pada bagian dasar berbentuk persegi empat di atas dasar berbentuk persegi lima.

Pada bagian tengah badan tiang penyangga dijumpai 2 buah prasasti. Prasasti di bagian depan menghadap ke arah selatan tertulis “MONUMEN PENIWEN AFFAIR 19 FEBRUARI 1949”. Sedangkan, prasasti di bagia belakang menghadap ke arah utara bertuliskan “TELAH GUGUR DI SINI PARA PAHLAWAN REMAJA PMI DAN RAKYAT YANG GUGUR” yang diikuti 12 nama Pahlawan Remaja PMI dan 5 rakyat yang gugur. Akan tetapi deretan makam yang terbujur rapi dari barat ke timur di muka monumen itu hanya ada 10 jasad saja karena yang lainnya tidak dikebumikan di situ.

Selain prasasti, pada tiang penyangga itu juga terlihat ada relief. Relief itu menghadap ke arah barat, utara, dan timur. Relief tersebut menggambarkan adegan-adegan proses kejadian pada waktu terjadi pembantaian oleh KNIL di Peniwen.

Berdasarkan peristiwa bersejarah yang terjadi di tempat itu, sekarang Monumen Peniwen Affair menjadi salah satu dari dua monumen Palang Merah di dunia yang sudah diakui oleh internasional. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pun mengakuinya melalui salah satu badan, yakni UNESCO sebagai warisan sejarah dunia dari era perang dunia. *** [160621]


Kepustakaan:

Pemda Malang. (____). Monumen Peniwen Afair. Malang: Warga AMPI Kabupaten Dati II Malang

Kartomihardjo, Prayoga. & Saptono, Prapto. & Soekarsono.  (1986).  Monumen Perjuangan Jawa Timur.  Jakarta :  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional



Share:

GKI Bromo Malang

Jalan Bromo merupakan bagian dari kawasan Ijen dengan lingkungan kolonialnya. Jalan yang menghubungkan Jalan Kawi (Kawistraat) dengan Jalan Semeru (Smeroestraat) ini masih menyimpan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Bangunan-bangunan tersebut pada umumnya berfungsi sebagai permukiman orang-orang Eropa di Malang. Salah satu bangunan lawas yang sampai saat ini masih terlihat megah adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bromo.
Gereja ini terletak di Jalan Bromo No. 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Gereja ini berada  di sebelah timur Apotek Kimia Farma, atau sebelah barat BRI Kantor Cabang Malang Kawi. Tepatnya berada di pojok pertemuan antara Jalan Kawi dengan Jalan Bromo.


Awalnya bangunan yang digunakan GKI Bromo ini merupakan rumah milik orang Eropa. Rumah tersebut dibangun pada saat ada rencana perluasan pembangunan (bouwplan) V yang dimulai pada tahun 1924/1925. Bouwplan V ini memang diperuntukkan bagi perumahan golongan orang-orang Eropa dengan tipe rumah vila.
Kemudian rumah tersebut dibeli oleh Han Tiauw An. Han Tiauw An adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa kelahiran Pasuruan. Salah satu usahanya yang dikenal oleh masyarakat setempat adalah perusahaan otobus Adam. Bus Adam kala itu sempat mewarnai dunia transportasi di Malang.
Perusahaan yang pada masa Hindia Belanda merupakan perusahaan swasta mulai tanggal 1 Oktober 1942 dijadikan milik Negara dan masuk dalam Tobu Rikoejoe Kjoekoe. Pegawai perusahaan warga Indonesia dan Tionghoa yang berjumlah kurang lebih 40 orang tetap bekerja pada perusahaan itu (Soeara Asia, 1 Oktober 1942).


Han Tiauw An adalah anak laki-laki dari pasangan Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio. Han Hoo Tjoan adalah seorang pengusaha sukses dari Pasuruan yang kemudian diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi Kapitein der Chinezen di Pasuruan (1881-1886). Kapitein der Chinezen atau Kapitan China adalah gelar yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk pemimpin komunitas Tionghoa agar Belanda lebih mudah mengatur keberadaan mereka. Jadi, Kapitein der Chinezen bukanlah gelar kepangkatan seperti dalam dunia militer. Institusi Kapitan China di Hindia Belanda memiliki tiga pangkat, yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen, yang secara keseluruhan dipanggil Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa.
Pada pendudukan Jepang, perkabaran Injil kepada orang-orang Tionghoa di Malang mengalami perkembangan. Terbentuk Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) di Malang.  Pada 1953 bangunan rumah milik Han Tiauw An digunakan sebagai Badan Pendidikan THKTKH. Sekolah itu bukan seperti badan pendidikan pada umumnya tapi merupakan sekolah yang berkutat kepada ajaran Kristen. Karena Kie Tok Kauw Hwee itu berarti Gereja Kristen, sedangkan Tiong Hoa menunjuk kepada masyarakat China.
Pada 1958 rumah tersebut mulai dipakai untuk kegiatan pelayanan berupa katekisasi. Dalam perkembangannya ada 2 perangkat gereja yaitu yang berbahasa Tionghoa dan yang berbahasa Indonesia, yang kemudian saling memisahkan diri. THKTKH yang berbahasa Indonesia mengganti namanya menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur. Pada 5 Januari 1961 rumah yang dulu dikenal sebagai Badan Pendidikan THKTKH kemudian diganti menjadi GKI Jatim Malang, dan dengan demikian sekaligus rumah tersebut akan menjadi tempat perkabaran Injil yang diadakan setiap hari Minggu pukul 17.00 dan 18.00 WIB. Pada 19 Februari 1961 kebaktian untuk pertama kalinya diselenggarakan, dengan dipimpin oleh DS Hwan Ting Kiong (Pendeta MI Gamaliel).
Jika dilihat dari sejarah dan konteksnya, GKI adalah sebuah gereja yang lahir dari kelompok etnis Tionghoa. Namun sekarang, GKI telah berkembang menjadi sebuah gereja yang lebih kompleks dengan ciri khas keindonesiannya. GKI telah memutuskan dirinya sebagai gereja yang ekunemis dan multicultural, sebagai salah satu gereja yang menerima berbagai macam kebudayaan antropologis dalam arti budaya yang terkait dengan latar belakang suku atau etnisitas. Dalam perkembangan itu kemudian GKI Jatim Malang pun berubah menjadi GKI Bromo. Nama yang disesuaikan dengan lokasi keberadaan bangunan gereja itu berada di Jalan Bromo.  *** [060717]

Kepustakaan:
Hudiyanto, Reza. (2014). “Menimbun Barang Menuai Prasangka”: Ekonomi Kota Malang Pada Era Pemerintahan Jepang (1942-1945). Sejarah dan Budaya, Tahun Kedelapan, Nomor 1, 72-82. http://journal.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/4756
Purwanto, Widi. (2006). Model Bergereja GKI Dalam Konteks Masyarakat Indonesia (Undergaduate thesis, Duta Wacana Christian University, 2006). Retrieved from http://sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/nim/01991638
http://gkiswjatim.org/
http://permalink.gmane.org/gmane.culture.region.china.budaya-tionghua/
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Yx9KEYf5H-AJ:sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/
https://www.geni.com/
Share:

Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung Malang

Setiap melintas jalan utama yang menghubungkan Kota Malang dengan Kepanjen, Anda akan menemukan bangunan rumah yang memiliki bentuk dan gaya aristektur kolonial yang khas. Bangunan tersebut persis berada di depan Pabrik Gula (PG) Kebon Agung, dan dikenal dengan Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung.
Rumah Dinas Administrator ini terletak di Jalan Raya Kebonagung, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Rumah Dinas ini tepat berada di depan PG Kebon Agung.


Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung (Suikerfabriek Kebon Agung Administrateurswoning) merupakan tempat tinggal yang diberikan kepada administrator selama ia masih bekerja di pabrik gula tersebut. Yang dimaksud dengan administrator adalah pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi pabrik gula yang bertanggung jawab memimpin dan mengolah semua kegiatan usaha yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan seluruh operasional produksi, finansial, dan administrasi dengan efektif dan efisien. Jadi, Rumah Dinas Administrator itu adalah tempat tinggal pimpinan pabrik gula (direktur atau manajer).


Pembangunan rumah dinas ini dilakukan setelah PG Kebon Agung berdiri (1905) terlebih dahulu. Halamannya cukup luas. Kesan kolonial tampak terlihat dari fasadnya yang terpengaruh bentuk arsitektur vernacular Belanda. Masyarakat setempat dulu menyebut dengan istilah Rumah Besaran, yakni rumah yang besar dan sekaligus untuk pembesar pabrik gula tersebut.
Usia bangunan rumah yang sudah tua menyebabkan Rumah Dinas Administrator tersebut menjadi sebuah bangunan kuno yang memiliki nilai arsitektur atau gaya bangunan pada masanya, yakni bangunan kolonial berasal dari abad ke-19 dan awal abad ke-20. Oleh sebab itu nilai penting dari Rumah Dinas Administrator itu adalah terletak pada nilai arsitektural dan historisnya. *** [110418]

Share:

GKJW Peniwen Malang

Desa Peniwen merupakan sebuah desa yang berada di lereng selatan Gunung Kawi dan jauh dari perkotaan. Desa tersebut memiliki kekhasan sebagai sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Hampir 99% penduduknya menganut agama Kristen.
Sebagai desa Kristen, Desa Peniwen masih menyimpan sejumlah bangunan lawas yang menjadi saksi perjalanannya dalam menganut kekristenannya. Bangunan lawas tersebut merupakan sebuah bangunan ibadah yang bernama Gereja Kristen Jawa Wetan (GKJW) Peniwen. Gereja ini terletak di Jalan Raya Peniwen No. 15 Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di sebelah timur Kantor Desa Peniwen ± 130 meter.
Gereja ini merupakan hasil kegiatan pekabaran Injil kaum awam dan Perhimpunan Pekabar Injil Belanda (Nederlandsch Zendelingsgenootschap – NZG). Menurut F.D. Wellem dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2006: 126-128), terdapat dua perhimpunan pekabaran Injil yang berjasa bagi munculnya GKJW, yaitu NZG dan Komite Jawa. Komite Jawa memberitakan Injil di kalangan orang Madura di pesisir Jawa Timur (1876). Hasil pekerjaannya diserahkan kepada NZG.



Pada tahun 1851, NZG mulai memberitakan Injil kepada orang Jawa dengan mengutus misionarisnya yang pertama, yaitu Pendeta J.E. Jellesma. Ia berkedudukan di Mojowarno. Di sana sudah terdapat jemaat yang terdiri dari orang Kristen Jawa yang diusir dari Ngoro karena menerima corak kekristenan Johannes Emde (Barat). Setelah Coenrad Laurens Coolen meninggal (1873), pengikut Coolen diasuh oleh NZG. Dengan demikian NZG membangun di atas pekerjaan Emde dan Coolen.
Johannes Emde adalah seorang Jerman yang menikah dengan seorang wanita Jawa dan giat memberitakan Injil kepada orang Jawa pada tahu 1814. Ia adalah anggota jemaat GPI Surabaya. Corak kekristenan yang dibentuk oleh Emde adalah kekristenan Eropa (Barat). Sedangkan Coenrad Laurens Coolen adalah seorang Indo-Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda tetapi ibunya seorang Jawa. Pada tahun 1827, ia membuka hutan di Ngoro dan memberitakan Injil kepada orang Jawa yang berdiam di atas tanahnya sehingga terbentuk jemaat Kristen di Ngoro. Di Ngoro, Coolen membentuk kekristenan yang bercorak Jawa, yaitu campuran antara kekristenan dan kejawen. Dua corak ini hidup sebelum NZG bekerja di jawa Timur.



NZG membuka sekolah, rumah sakit, dan desa-desa Kristen. Desa-desa itu, antara lain adalah Swaru, Peniwen, Sitiarjo, Tulungagung, Sumberagung, Dupak dan Tanjungrejo. Dengan usaha-usaha itu banyak orang Jawa yang menjadi Kristen. Perkembangan GKJW dimulai dari desa.
Setelah Desa Swaru terbentuk pada tahun 1857, beberapa keluarga Kristen dari desa tersebut mencoba babat alas (membuka hutan) di lereng selatan Gunung Kawi pada 17 Agustus 1880, yang kelak menjadi Desa Peniwen. Ada sekitar 20 orang yang membuka hutan di sana yang dipimpin oleh Kiai Zakheus Laksanawi. Pembukaan hutan tersebut selain untuk mencari lahan baru bagi usaha pertanian masyarakat, juga untuk membentuk desa Kristen baru setelah Desa Swaru.
Pada saat babat alas itulah, mereka juga mendirikan sebuah gereja untuk digunakan sebagai tempat peribadatannya. Awalnya bangunannya masihlah cukup sederhana, dan lokasinya pun belum berada di tempat sekarang melainkan berada di dekat Monumen Peniwen Affair. Setelah itu, terbentuklah sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Krajan. Perkampungan tersebut menjadi bagian dari pedukuhan yang ada di Desa Kromengan.



Pada tahun 1883, Pendeta Johannes Kreemer dari Persekutuan Kristen Jawa di Kendalpayak, A.V. Leven, dan A. Setirum mengunjungi kampung ini guna memberkati kampung Kristen yang baru berdiri tersebut. Kemudian pada tahun 1895, kampung tersebut berubah menjadi sebuah desa dan secara administratif disahkan menjadi Desa Peniwen.
Dalam perjalanannya, desa tersebut menjadi berkembang baik dari jumlah penduduknya maupun hasil pertaniannya. Lalu, muncullah ide untuk membangun sebuah gereja yang lebih representatif bagi jemaatnya. Akhirnya pada tahun 1931 dibangunlah gereja yang baru yang lokasinya berada di sebelah timur dari bangunan gereja yang lama ± 400 meter. Bangunan gereja tersebut masih bisa disaksikan sampai sekarang dengan sebutan GKJW Peniwen.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini memiliki langgam Neo-Gothic. Dengan konstuksi pintu dan jendela yang tinggi nampak sebagai ciri arsitektur kolonial Belanda yang telah disesuaikan dengan iklim tropis lembab di daerah Malang. Atapnya berbentuk limasan dengan kemiringan. Pintu utamanya terletak di bagian depan dan berada di tengah, yang diapit oleh dua jendela besar. Pintu utama gereja ini juga dilengkapi dengan porch.
Sedangkan, di bagian dalam gereja berbentuk gaya Joglo Jawa dengan ornamen-ornamen yang terbuat dari kayu. Arsitektur dari gereja ini memang mewujudkan perpaduan antara arsitektur kolonial  dan Jawa.
Kini, GKJW Peniwen merupakan sebuah gereja yang memiliki cakupan wilayah pelayanan yang sangat luas. Berada di antara tiga kecamatan yang berada pada dua kabupaten yang berbeda, yaitu Kecamatan Selorejo dan Kecamatan Doko di Kabupaten Blitar, dan Kecamatan Kromengan di Kabupaten Malang. Untuk wilayah Kecamatan Selorejo, merupakan daerah pelayanan yang biasa disebut Pepanthan Wilayah Barat. Pepanthan Wilayah Barat ini mempunyai 6 pepanthan, salah satunya adalah Pepanthan Boro. Pepanthan Boro merupakan gereja yang menjadi pusat bagi Pepanthan Wilayah Barat. Hal ini terjadi karena akses jalan yang mudah ditempuh dari Induk/Peniwen ke pepanthan dan bagi semua pepanthan yang ada di wilayah barat. *** [100817]

Kepustakaan:
Wellem, F.D., (2006). Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: Gunung Mulia
https://revivalentine.blogspot.co.id/p/sejarah-desaku-peniwen.html?view=classic
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:qmiEEyn8e_4J:sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/getintro/01120016/d8d7b63a7913f5157fa4afce518d7d80/intro.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
Share:

Gedung PT Pindad Turen

Pulang dari monitoring aktivitas SMARThealth di Dusun Sonokembang, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, saya menyempatkan berkeliling Turen. Sambil berkeliling tersebut, saya mencoba menyaksikan sebuah kompleks bangunan yang begitu luas. Bangunan tersebut dikenal dengan Gedung PT Pindad (Persero) Turen.
Persero ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 1 Kelurahan Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi persero ini berada di pojok pertigaan Sedayu, atau sebelah selatan Kantor Kecamatan Turen.
PT Pindad, atau yang lengkapnya bernama Perseroan Terbatas Perindustrian TNI Angkatan Darat, merupakan perusahaan industri manufaktur Indonesia di bawah Kementerian BUMN yang bergerak dalam bidang produk militer dan produk komersial. Kegiatan PT Pindad (Persero) Turen mencakup desain dan pengembangan, rekayasa, assembling, dan fabrikasi serta perawatan.
Dari informasi sejumlah warga yang berada di sekitar PT Pindad tersebut, sebelumnya daerah Turen ini keadaannya sepi sekali. Namun seiring kehadiran PT Pindad yang berada di Turen pada tahun 1968, daerah Turen kemudian menjadi ramai.


Menurut sejarahnya, Gedung PT Pindad Turen ini semula adalah gedung dari pabrik tapioka Turen yang dimiliki oleh perusahaan Belanda bernama Handelsvereeniging Amsterdam (de tapiocafabriek ‘Toeren’ van de Handelsvereeniging Amsterdam). Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) merupakan salah satu perusahaan dagang dan perkebunan yang ada di Hindia Belanda. Perusahaan ini didirikan di Belanda oleh asosiasi atau perkumpulan para pedagang di Amsterdam pada tahun 1879, dengan tujuan untuk mengatasi krisis ekonomi yang dihadapi Belanda paska Perang Jawa (1825-1830).
Pabrik tapioka di Turen ini didirikan pada tahun 1916 dengan maksud untuk memperluas usaha dagang HVA selain tebu. Bangunan pabrik tapioka ini dulu dikelilingi oleh tanaman singkong yang menjadi bahan bakunya. Tapioka adalah pati dari singkong yang dikeringkan dan dihaluskan. Selain digunakan sebagai bahan memasak, tapioka sering diolah menjadi bahan baku untuk industri, seperti industri peragian, industri pangan, industri tekstil, dan lain sebagainya.
Di Turen, HVA memiliki izin perkebunan sebanyak 7.200 lahan per tahun. Dalam pembangunan pabrik tersebut, HVA sempat mengalami kesulitan dalam pengiriman instalasi untuk pabrik. Selain itu, pada awal produksinya, pabrik tapioka tergolong kurang menggembirakan. Hal ini lantaran munculnya sejumlah penyakit dan hama pada tanaman singkong yang diusahakan oleh HVA.
Pabrik tapioka di Turen yang berdiri di atas lahan seluas 160 hektar ini, masih mampu bertahan hingga menjelang kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, pabrik ini termasuk sejumlah pabrik yang dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia, yang kemudian pada tahun 1968 dijadikan sebagai pabrik persenjataan PT Pindad.
Saat ini, PT Pindad memiliki dua lokasi pabrik, yaitu di Turen, Malang, dan Bandung. Yang berada di Turen berada di bawah Direktorat Produk Militer, dan yang berada di Bandung berada di bawah Direktorat Produk Komersial. Direktorat Produk Militer membawahi Divisi Amunisi, Divisi Senjat dan Unit Bisnis Workshop dan Prototipe, sedangkan Direktorat Produk Komersial membawahi Divisi Mekanik, Listrik, Forging dan Pengecoran, Unit Bisnis Tool Shop, Stamping dan Laboratorium.
Divisi Amunisi yang berlokasi di Turen memiliki fasilitas untuk memenuhi kebutuhan permintaan pemerintah dan juga pengembangan produk. Fasilitas produk dilengkapi dengan pendirian Filling Plat untuk mendukung produksi mortar shells, bom, TNT blocks, shaped charges. dan lain-lain. *** [220118]

Share:

Stasiun Kereta Api Dampit

Stasiun Kereta Api Dampit (DPT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Dampit, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian ± 490 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Jalan Pajang RT. 04 RW. 06 Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini sekarang menjadi deretan pertokoan, namun letak pastinya menurut warga setempat berada di antara Koperasi Simpan Pinjam Lumbung Makmur dan Koperasi Simpan Pinjam Makmur Sejati. Papan penanda dari PT KAI terpasang tepat berada di samping Toko Andi Motor.


Bangunan Stasiun Dampit sudah tidak tampak utuh lagi laiknya sebuah stasiun kereta api pada umumnya, karena telah berubah menjadi kaplingan pertokoan. Hanya saja bila dicermati secara seksama, aura sebagai bekas sebuah stasiun kereta api sesungguhnya masih terlihat dari atap seng tua yang umumnya merupakan bagian dari kompleks Stasiun Dampit. Sangat disayangkan memang dengan hilangnya salah satu bangunan heritage yang ada di Dampit.
Padahal bangunan Stasiun Dampit tersebut merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Gondanglegi-Talok-Dampit sepanjang 15 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1899.


MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.
Stasiun Dampit ini dulunya merupakan stasiun terminus. Artinya, stasiun ini menjadi tempat perjalanan awal maupun akhir dari perjalanan sebuah kereta api, karena sudah tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Oleh karena itu, Stasiun Dampit ini sering juga dikenal sebagai stasiun ujung (kop station).


Keberadaan stasiun ini dulunya tidak terlepas dari ekonomi perkebunan yang telah manjadikan Malang sebagai kabupaten yang menarik perhatian pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keberhasilan pengembangan ekonomi perkebunan telah memberikan dampak berantai berupa pembukaan jalur kereta api dari Malang ke Surabaya pada tahun 1879, pembangunan jalur trem Malang-Dampit pada tahun 1898, munculnya perusahaan dagang, dan lain sebagainya.
Jaringan rel kereta api yang dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dan kopi dari perkebunan tebu dan kopi yang banyak ditemui di daerah Dampit dan sekitarnya menuju ke pabrik gula/kopi dan kemudian gula serta kopinya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain itu, perusahaan ini juga mengangkut penumpang ke berbagai tempat di Kabupaten Malang.
Pada tahun 1973 jadwal keberangkatan trem dari Dampit menuju Gondanglegi pada pukul 09.00 dan 16.00 WIB. Biayanya saat itu sebesar limangrepes atau Rp 5,- (lima rupiah). Jadwal trem dari Stasiun Dampit itu, hanya mengarah ke Stasiun Gondanglegi saja.
Namun sayang, jalur trem itu sudah tidak aktif lagi (opgebroeken). Jalur Dampit-Talok-Gondanglegi ditutup oleh PJKA pada tahun 1978 lantaran sudah tidak bisa dipertahankan secara komersial kala itu. Penyebabnya karena kalah bersaing dengan moda angkutan darat lainnya. *** [210318]
Share:

Stasiun Kereta Api Gondanglegi

Stasiun Kereta Api Gondanglegi (GDL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Gondanglegi, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada Ketinggian ± 359 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Suropati, Kampung Stasiun RT. 05 RW. 03 Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat TPU Islam, atau depan Polsek Gondanglegi masuk ke utara.
Bangunan Stasiun Gondanglegi ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898.


MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.
Dari jalur inilah kemudian Stasiun Gondanglegi ini kerap disebut juga sebagai Stasiun Trem MSM Gondanglegi. Trem yang beroperasi di jalur ini umumnya menggunakan lokomotif dengan tenaga kayu bakar. Makanya dulu, di Stasiun Gondanglegi ini senantiasa terdapat tumpukan kayu bakar yang dijadikan sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.


Jaringan rel kereta api yang dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di temui di daerah Gondanglegi dan sekitarnya menuju ke pabrik gula dan kemudian gulanya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain itu, perusahaan ini juga mengangkut penumpang ke berbagai tempat di Kabupaten Malang.
Awalnya, Stasiun Gondanglegi ini hanya memiliki 2 jalur saja. Namun, seiring dibangunnya jalur Gondanglegi-Talok-Dampit dan Gondanglegi-Kepanjen, maka jalurnya bertambah lagi menjadi 5 jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus. Sedangkan, jalur 1 digunakan untuk persusulan atau persilangan trem, dan jalur 4, dan 5 digunakan sebagai jalur istirahat rangkaian trem sambil membawa kayu bakar lagi. Tumpukan kayu bakar tersebut diletakkan di samping jalur 5.


Jalur Gondanglegi-Talok-Dampit merupakan jalur rel trem dari Stasiun Gondanglegi yang mengarah ke timur. Dibangun oleh MSM pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1899 dengan panjang 15 kilometer. Persilangan jalur antara yang ke utara dan yang ke timur berada di daerah Pancir yang masuk wilayah administratif Desa Putat Kidul. Adapun jalur Gondanglegi-Kepanjen sepanjang 17 kilometer baru dibangun pada tahun 1900.
Pada tahun 1973 jadwal keberangkatan trem dari Gondanglegi menuju Dampit pada pukul 04.00 dan 12.00 WIB. Sebaliknya, dari Dampit menuju Gondanglegi terjadwal pada pukul 09.00 dan 16.00 WIB. Biayanya saat itu sebesar limangrepes atau Rp 5,- (lima rupiah). Jadwal trem dari Stasiun Gondanglegi itu, baru yang mengarah ke Dampit saja.
Koneksitas jalur trem dari Stasiun Gondanglegi menuju ke arah utara (Stasiun MalangKotalama), ke arah barat (Stasiun Kepanjen), dan ke arah timur (Stasiun Turen maupun Dampit), menjadikan stasiun ini ramai setiap harinya. Namun sayang, jalur trem itu sudah tidak aktif lagi (opgebroeken). Jalur Gondanglegi-Kepanjen paling awal tidak aktifnya, yaitu semenjak tentara Jepang menjarah rel kereta api (antara tahun 1942-1944) untuk dibawa ke Jepang guna dijadikan bahan untuk membuat alat perang dalam menghadapi perang dengan Tiongkok di Manchuria. Kemudian disusul jalur Gondanglegi-Talok-Dampit pada tahun 1978, dan terakhir jalur Malang-Bululawang-Gondanglegi yang berhenti layanannya (dienst gestaakt) pada 1 Juli 1979.
Kini, Stasiun Gondanglegi menjadi mangkrak. Bangunan stasiun yang berukuran 165 m² ini sudah terkapling menjadi tempat tinggal beberapa keluarga. Tanah stasiun seluas 35.676 m² itu juga sudah tidak kelihatan lintasan relnya alias raib, karena telah berdiri kapling-kapling rumah di atasnya. Padahal aset milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah tercatat dengan nomor register 068/08.65174/GDL/ML. *** [130817]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami