The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Sukoharjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukoharjo. Tampilkan semua postingan

Ciu di Solo Tempo Doeloe Tanggapan atas Opini “Kronik Ciu Bekonang”

Harian Joglosemar, Sabtu (15/09), memuat artikel Andri Saptono bertajuk Kronik Ciu Bekonang. Lewat artikel yang menantang itu, dia mengungkapkan kemasyuran ciu Bekonang, di Sukoharjo, Jawa Tengah. Menurutnya, umur ciu sudah setua daerah itu sendiri. Ciu jelas berbeda dengan arak, walaupun mempunyai cara fermentasi yang hampir sama. Ciu lebih berbahan dasar tetes tebu. Sedangkan arak bisa dari semua sari buah yang difermentasikan. Dan ciu Bekonang bukanlah sebuah jualan yang satu arah. Dari berbagai home industry yang ada di sana, beberapa memang menjualnya kepada industri, tapi ada juga yang menjualnya eceran kepada para pelanggan.
Sungguh sayang, aspek sejarah kurang diulas penulis, mungkin lantaran minimnya ketersediaan data historis. Padahal penting menggali akar sejarah munculnya ciu dan memahami budaya mabuk dalam kehidupan masyarakat Jawa. Industri ciu di Bekonang dan budaya masyarakat Surakarta bukan muncul “kemarin sore”, melainkan sudah ada sejak era kerajaan. Karena itulah, di sini saya akan memberikan ulasan sejarah tersebut agar problematika ciu dapat dipahami dalam perspektif yang lebih luas, tidak melulu dari sudut pandang sosial dan agama.
Aktivitas berpesta miras ternyata sudah lama berakar di kalangan masyarakat pribumi di Nusantara. Dalam naskah kuno Negarakertagama yang ditulis pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit, misalnya, diketahui bahwa minuman keras pada masa itu selalu menjadi bagian dari perjamuan agung di kraton. Wartawan yang juga budayawan, Marbangun Hardjowirogo dalam buku berjudul Manusia Jawa (1984) memberi keterangan singkat bahwa Solo di tahun 1920-an sudah bisa menghasilkan jenewer yang merupakan penjawaan daripada kata Belanda Jenever, di sebuah kawedanan seberang selatan Bengawan Solo, Bekonang. Ciu nama bikinan Bekonang sudah dikenal orang sejak zaman dahulu. Namun, kapan mulai industri ciu ini hadir, tidak dijelaskan oleh Marbangun.
Dalam konteks ini, kita musti menggunakan logika sejarah untuk menafsirkan fenomena ciu. Kemunculan ciu Bekonang sangat berkaitan dengan berdirinya pabrik gula Tasikmadu di Karanganyar yang tempo itu merupakan aset penting Pura Mangkunegaran. Dari pemrosesan tetes tebu yang sedemikian rupa hingga terciptalah air yang bikin pusing made in Bekonang. Subaryono dkk (2001) mencatat, saat itu pembuatan ciu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi walau kadar alkoholnya masih rendah. Awalnya, alkohol diproduksi untuk minuman keras (miras), dan mabuk. Ini akibat dari pengaruh hegemoni kraton yang mempunyai gelaran acara pesta panen raya maupun penyambutan tamu kerajaan mengadakan pesta dan tarian tradisional seperti tayub. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh faktor karakteristik negatif manusia Jawa (Solo) yang suka bermalas-malasan dan penikmatan hidup.
Menurut Marbangun, dalam diri manusia Jawa terdapat memang suatu kecenderungan pada penikmatan hidup sehingga ia bisa digolongkan makhluk hedonik yang memuja dalam segala hal. Soal penikmatan hidup, ia tak tergolong terbelakang, termasuk miras dan tayuban. Pada dasarnya, tayub tak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat petani yang kebetulan menjadi corak penduduk Surakarta kala itu. Ketidakpastian dalam masyarakat agraris menimbulkan kepercayaan untuk memuja dewi kesuburan. Kondisi tersebut lantas memunculkan “tari kesuburan” bernama tayub. Tayub berhubungan erat dengan seks dan miras. Menurut budayawan Ahmad Tohari, hal itu berkaitan dengan sekte Hindu di India Selatan ratusan tahun silam. Pergelaran upacara pemujaan dewi kesuburan acap dilakukan lewat tarian. Miras, dan wanita penjaja seks. Justru penampilan tayub yang beraroma alkohol dan seks itulah yang mengundang daya tarik terutama di kalangan priyayi. Tuan rumah priyayi yang menyelenggarakan tayub merasa wajib menyediakan ciu, badeg, arak atau sejenisnya.
Diriwayatkan oleh Triknopranoto dalam buah karya, Sejarah Kutha Sala, bahwa tempo dulu setiap acara tayuban, kerap terjadi tawuran sebab mereka yang berjoget atau ngibing lepas kontrol kelebihan menenggak miras. Amatlah wajar apabila muncul konotasi buruk mengenai kehidupan kraton dan priyayi di mata Belanda. Bahkan Paku Buwono X sebagai raja terbesar, yang kini menyandang gelar pahlawan nasional itu, juga penggemar alkohol sampai tubuhnya tambun. Kecenderungan priyayi yang terus menuruti hawa nafsu duniawi mengakibatkan kehilangan identitas kepriyayiannya. Oleh karena itu, dalam diri priyayi terjadi – meminjam istilah Sartono Kartodirdjo – “abangisasi”. Selain banyak diminum orang pada waktu ada tayuban, banyak juga dipakai orang untuk melarutkan param guna menggosoki badan supaya bisa terasa hangat.
Kita perlu membuka arsip memori serah terima jabatan GF van Wijk tahun 1914. Di dalamnya diberitakan, patih Kraton Kasunanan membiarkan masyarakat mabuk dan makan daging babi. Menurut patih, tindakan ini lebih baik ketimbang mereka berubah menjadi gerakan radikal yang membahayakan keamanan. Tempat pelacuran selalu identik dengan miras. Artikel berjudul Roemah Perempoean Djalang yang termuat dalam Darmo Kondo, 9 Desember 1925 mengisahkan, di tengah Kampung Kratonan sebelah selatan berdiri sebuah rumah bordil yang mengumpulkan banyak perempuan hina terdiri dari nyonya-nyonya China maupun bumiputera. Rumah itu dikepalai seorang janda China yang biasa dipanggil dengan sebutan Njah Dengkel. Banyak orang China totok atau singkek yang datang di malam hari, dan jumlah kupu-kupu malam juga kian bertambah. Orang China sudah memperoleh lisensi dari pemerintah kolonial. Mereka akhirnya mengembangkan untuk menjual candu dan ciu. Kemudian, muncullah istilah “ciu wewe”. Artinya, ciu yen ora payu, diombe dewe (ciu kalau tidak laku dijual, diminum sendiri). Mereka kulakan ciu di Bekonang.

Operasi Miras
Apakah tempo dulu tidak pernah ada operasi miras? Distrik Bekonang sempat pula menjadi sasaran operasi Belanda. Razia yang digelar dalam lima tahunan (1920 – 1925) berlangsung seru lantaran melibatkan pamong setempat. Seperti lurah, camat, bahkan wedana dan telik sandi penduduk desa yang diberi iming-iming hadiah uang apabila berhasil memberikan informasi mengenai keberadaan pembuat arak kepada polisi. Saking semangatnya mengintai sasaran, para telik sandi kadang-kadang tidak akurat dengan melaporkan pembuat tape singkong sebagai “produsen arak gelap” (Kasijanto, 2006). Seiring bertambahnya waktu, ciu Bekonang kian moncer karena sudah mempunyai pasar serta pelanggan tetap.
Dari hasil riset Arif Widodo (2004) dikatakan, di tahun 1945, perajin industri rumah tangga ciu Bekonang hanya berkisar 20 orang dan hasil produksinya kurang lebih per hari hanya 10 liter saja. Antara tahun 1961 sampai tahun 1964, industri alkohol sudah mulai ada kemajuan, yaitu ada peningkatan kadar alkohol dari 27 persen menjadi 37 persen dengan peralatan yang juga masih sangat sederhana. Alkohol dipasarkan mencapai hampir ke seluruh wilayah Karesidenan Surakarta, Surabaya, Kediri, dan lain-lain. Dampaknya, taraf hidup masyarakat Bekonang meningkat karena dapat bermobilisasi horizontal dan vertikal (kaya dan bersekolah tinggi).
Dari dulu hingga sekarang, satu pernyataan J. Kats, seorang pejabat kolonial Belanda yang tertulis dalam bukunya Het alcoholkwaad yang terbit awal abad 20, masih sangat relevan. Yakni, meskipun alkohol memiliki manfaat tertentu (misalnya untuk pengobatan), cairan memabukkan itu lebih banyak mudharatnya bagi manusia. Tapi sekali lagi, semua ini tergantung penggunanya, bukan pembuatnya. Haruskah kita tega “membunuh” industri ciu yang puluhan tahun menjadi gantungan hidup banyak keluarga itu? *** [Heri Priyatmoko, Kolomnis Solo Tempo Doeloe]

Sumber:
  • Harian JOGLOSEMAR edisi Kamis, 20 September 2012.
Share:

Situs Kraton Kartasura Hadiningrat

Kota Kartasura menarik dibicarakan bukan saja karena sejarah yang telah dimainkannya selama kurun waktu ratusan tahun silam, namun juga eksistensinya yang memiliki peran penting bagi sejarah berdirinya dua Kerajaan Dinasti Mataram, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.


Sejarah Kartasura diawali munculnya pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1650 terhadap Sunan Amangkurat I di Keraton Plered yang menyebabkan Sunan melarikan diri daerah Imogiri dan meneruskan perjalanannya ke arah barat. Namun dalam perjalanan itu, Sunan Amangkurat I meninggal di Wanayasa (daerah Banyumas) pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Tegalwangi, Kabupaten Tegal.


Sebelum meninggal, Sunan Amangkurat I mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II. Putra lain Sunan Amangkurat I yaitu Pangeran Puger melarikan diri ke arah Bagelen (Purworejo) dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga. Setelah kembali ke Plered, ia menobatkan dirinya menjadi Raja Mataram.


Dengan bantuan VOC, Sunan Amangkurat II berhasil melenyapkan pemberontakan Trunojoyo. Setelah Trunojoyo tewas, beliau tidak mau menempati keraton di Plered karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah diduduki musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan kepada Senopati Urawan untuk membuat Keraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dituruti dan akhirnya Senopati Urawan dibantu Nerang Kusuma dan rakyat berhasil mendirikan Keraton di sebelah barat Pajang yakni Wanakerta. Amangkurat II beserta para pengikutnya lalu menempati Keraton Baru itu yang diberi nama Kraton Kartasura Hadiningrat. Secara ekologis, Wanakerta dipilih dengan pertimbangan wilayahnya datar, daerahnya subur dan terlindung oleh Gunung Merapi dan Laut Selatan.  Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat II.


Gejolak di Kerajaan Mataram ternyata tidak berhenti di situ saja. Tahun 1742 terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi di Kartasura dan berhasil menduduki Keraton Kartasura. Raden Mas Garendi adalah putra Pangeran Teposono, sedangkan Pangeran Teposono adalah putra Susuhunan Amangkurat II (Amangkurat Amral). Pemberontakan di Kartasura ini dikenal peristiwa Geger Pacinan atau bedahnya Keraton Kartasura awal jatuhnya Keraton Kartasura. Ketika para pemberontak menduduki Keraton Kartasura yang ketika itu diperintah oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, Susuhunan Paku Buwono II berikut pengawal dan abdi dalem yang setia, mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Setelah Raden Mas Garendi berhasil menduduki Keraton Kartasura dikenal dengan nama atau sebutan Sunan Kuning atau Sunan Amangkurat III. Disebut Sunan Kuning, karena Mas Garendi memimpin orang-orang Cina yang berkulit “kuning” yang memberontak.


Susuhunan Paku Buwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari kaum pemberontak, namun Keraton Kartasura sudah dalam keadaan rusak sehingga tidak pantas untuk dijadikan keratin lagi. Melihat keadaan Keraton Kartasura yang telah rusak ini, Susuhunan Paku Buwono II berkehendak memindahkan Keraton Kartasura ke tempat lain dan pilihan jatuh di Desa Sala (sekarang dikenal dengan Kota Solo), letaknya 14 kilometer sebelah timur Keraton Kartasura, walaupun ketika itu Desa Sala masih berwujud rawa-rawa, masih tergenang air.


Kini Keraton Kartasura (1680 – 1745) tinggal bekasnya saja, dengan pagar tembok/benteng dari batu bata setebal 2-3 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter. Peninggalan (petilasan) yang membuktikan keberadaan Keraton Kartasura, antara lain: Alun-alun, Kolam Segaran (sekarang menjadi lapangan), Gedong obat (dahulu gudang mesiu), Tembok berlubang akibat Geger Pacinan, Sumur Madusaka yang digunakan untuk memandikan pusaka-pusaka kerajaan, makam B.R.Ay. Sedah Mirah, masjid yang dibangun Sunan Paku Buwono II.
Peninggalan  lainnya antara lain Genthong batu, Yoni, Lingga, Masjid Zaman Paku Buwono X serta tombak Kyai Jangkung dan Tombak Kyai Slamet. Sayangnya, kompleks Keraton Kartasura, khususnya di lingkungan benteng kedhaton sudah berubah menjadi tempat pemakaman kerabat Keraton Surakarta. Makam-makam yang terkenal karena dikeramatkan oleh masyarakat, diantaranya adalah Makam Mas Ngabehi Sukareja, Makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah (garwa ampil/ selir PB IX), Makam KPH Adinegoro, Makam Ki Nyoto Carito (dalang terkenal) dan masih banyak yang lainnya.
Pada hari-hari tertentu, Keraton Kartasura sangat banyak dikunjungi orang (berziarah). Tujuan utama para peziarah adalah makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah. Selir Pakubuwana IX ini semasa hidupnya dikenal cantik, pandai berdiplomasi dan memiliki pengasihan.
Peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai di situs Keraton Kartasura berupa reruntuhan bangunan dan nama-nama tempat (toponim). Luas kota Kartasura di masa lampau  diperkirakan mencakup seluruh wilayah Kecamatan Kartasura saat sekarang ditambah beberapa kawasan yang masuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Karanganyar. Saat sekarang, Kartasura  menjadi kota kecamatan biasa. Melalui peninggalan sejarah  berupa reruntuhan bangunan, toponim serta beberapa tradisi budaya masyarakat, maka masih dapat ditelusuri mengenai struktur kota ataupun masyarakatnya yang bermukim.
Kartasura sebagai kota bersejarah di Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya warna. Warisan budaya merupakan potensi yang luar biasa guna meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. ***


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami