The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Kediri Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kediri Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih (NDL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngadiluwih, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 78 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Stasiun Ngadiluwih, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Kantor Camat Ngadiluwih ± 260 m.
Bangunan Stasiun Ngadiluwih ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kediri dan arah selatan menuju Stasiun Kras. Jalur 1 dan 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Meski Stasiun Kras tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun keci, namun keberadaannya masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya. Karena di stasiun ini masih terdapat satu kereta api yang singgah melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Dhoho. Sehingga, aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini masih menghiasi aktivitas stasiun ini dalam kesehariannya. *** [170617]
Share:

Stasiun Kereta Api Susuhan

Stasiun Kereta Api Susuhan (SS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Susuhan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +60 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kertosono-Kediri, Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Polsek Gampengrejo ± 210 m, atau selatan Kantor Pos Gampengrejo ± 220 m.
Bangunan Stasiun Susuhan ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Minggiran dan arah selatan menuju Stasiun Kediri. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api Minggiran

Stasiun Kereta Api Minggiran (MGN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Minggiran, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +56 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Minggiran RT. 01 RW. 03 Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur BRI Unit Bangsongan, atau selatan Dealer Tri Jaya Motor.
Bangunan Stasiun Minggiran ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Papar dan arah selatan menuju Stasiun Susuhan. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api Papar

Stasiun Kereta Api Papar (PPR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Papar, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +52 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Kelurahan Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur GPDI Agape Papar, atau sebelah barat daya Kantor Kecamatan Papar ± 400 m.


Bangunan Stasiun Papar ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).


Stasiun Papar saat ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Purwoasri dan arah selatan menuju Stasiun Minggiran. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Sebelumnya, stasiun ini mempunyai 4 jalur, karena dulu dari stasiun ini terdapat percabangan jalur ke Pelem. Jalur tersebut merupakan jalur rel yang dibangun oleh Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) pada tahun 1898 sepanjang 14 kilometer. KSM adalah perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda yang konsesi pada tahun 1881, 1895 dan 1898 untuk konstruksi stasiun dan jalur yang ada di sekitar Kabupaten Kediri.


Setahun sebelum adanya jalur Pelem-Papar, sudah ada lebih dahulu jalur trem Jombang-Pulorejo-Pare-Pelem-Gurah-Pesantren-Kediri sepanjang 50 kilometer. Dari jalur ini, KSM juga membangun percabangan ke sejumlah daerah lainnya. Jalur trem Pesantren-Wates sepanjang 14 kilometer (1897), jalur trem Pare-Semanding-Kepung sepanjang 12 kilometer (1898), jalur trem Semanding-Kencong-Kunto sepanjang 9 kilometer (1899), jalur trem Pulorejo-Ngoro-Kandangan-Kunto sepanjang 13 Kilometer (1898-1899), jalur trem Gurah-Jenkol-Brenggolo-Kawarasan sepanjang 9 kilometer (1899), dan jalur trem Brenggolo-Plosoklaten sepanjang 1 kilometer (1900).
Jadi, pada waktu itu Stasiun Papar ini cukup tergolong stasiun yang ramai. Karena selain ada jalur oosterlijnen, juga terdapat jalur trem. Masyarakat yang ada di Papar kala itu bisa bepergian dengan kereta api maupun trem. Namun sayang, jalur trem tersebut sekarang sudah tidak aktif lagi.
Kini, di Stasiun Papar masih terlihat ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan pendumpang. Kendati hanya ada satu kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu KA Dhoho tujuan Blitar dan tujuan Kertosono, stasiun ini masih beruntung ketimbang stasiun lainnya yang sekelasnya yang cuma digunakan untuk persilangan atau persusulan sajan. *** [140817]

Fotografer: Rensi Mei Nandini
Share:

Stasiun Kereta Api Purwoasri

Stasiun Kereta Api Purwoasri (PWA) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Purwoasri, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +59 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur laut Kantor Kepala Desa Purwoasri ± 160 m.
Bangunan Stasiun Purwoasri ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kertosono dan arah selatan menuju Stasiun Papar. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api Kras

Stasiun Kereta Api Kras (KRS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kras, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 75 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang lokasinya paling selatan di Kabupaten Kediri. Stasiun Kras terletak di Jalan Stasiun Kras, Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Balai Desa Kras, atau berjarak sekitar 200 m dengan Jalan Raya Kediri-Tulungagung.


Bangunan Stasiun Kras ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 64 kilometer yang merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur). Peresmian jalur ini dilakukan pada 16 Mei 1884.
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Ngadiluwih dan arah timur menuju Stasiun Ngujang. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Meski Stasiun Kras tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun keci, namun keberadaannya masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya. Karena di stasiun ini masih terdapat satu kereta api yang singgah melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Dhoho. Sehingga, aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini masih menghiasi aktivitas stasiun ini dalam kesehariannya. *** [130617]
Share:

Candi di Kediri

Candi Surowono terletak di Desa Surowono, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Candi Tegowangi terletak di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api Kediri

Stasiun Kereta Api Kediri (KD) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kediri, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +68 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api besar yang ada di Daop 9.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kediri, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur laut Grand Surya Hotel ±  300 m, atau timur Masjid Auliya Setono Gedong ± 400 m.
Bangunan Stasiun Kediri ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh Perusahaan Kereta Api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini diresmikan pada tahun itu juga. Sehingga, Stasiun Kediri ini termasuk salah satu stasiun tua yang ada di Jawa Timur.


Stasiun Kediri memiliki 6 jalur dengan 1 jalur sepur lurus yang menghubungkan ke Stasiun Ngadiluwih di sebelah selatan, dan Stasiun Susuhan di sebelah utara. Selain jalur aktif tersebut, dahulu ada jalur kereta milik KSM (Kediri Stoomtram Maatschappij) yang bercabang dari jalur 2 menuju Pesantren yang dibangun pada tahun 1897. Dari Stasiun Pesantren ini, jalur kereta api bercabang dua. Yang menuju arah tenggara sampai ke Wates. Sedangkan yang mengarah ke timur laut maupun utara, menuju ke Gurah, Pelem, Pare, Pulorejo, dan Jombang. Kesemuanya itu merupakan jalur rel kereta api Jombang-Pulorejo-Pare-Pelem-Gurah-Pesantren-Kediri sepanjang 50 kilometer. Jalur ini masih aktif hingga tahun 1972.
Dulu, dari Stasiun Gurah terdapat percabangan jalur menuju Jenkol, Brenggolo, dan Kawarasan. Jalur sepanjang 9 kilometer ini dikerjakan oleh KSM pada tahun 1899. Dari Brenggolo, jalur ini dilanjutkan menuju ke Plosoklaten sepanjang 1 kilometer yang dibangun pada tahun 1900.
Selain itu, dari Stasiun Pelem dulu juga terhubung ke Stasiun Papar. Jalur sepanjang 14 kilometer ini juga dikerjakan oleh KSM. Kemudian dari Stasiun Pare dulu juga terdapat jalur percabangan menuju Semanding dan Kepung sepanjang 12 kilometer yang selesai dikerjakan pada tahun 1898. Di Semanding pun ada percabangan juga ke Kencong hingga Kunto sepanjang 9 kilometer yang dibangun pada tahun 1899.
Dari Stasiun Kunto inilah, jalur kereta api bisa terhubung ke Ngoro, Mojoagung, Gemekan, hingga tembus ke Stasiun Mojokerto. Untuk jalur Mojokerto-Mojoagung-Ngoro sepanjang 34 kilometer dikerjakan oleh OJS (Oost-Java Maatschappij) dari tahun 1889 dan selesai pada tahun 1890. Tapi sayang, kesemua jalur yang dibangun oleh KSM dan OJS tersebut sudah tidak berfungsi lagi.
Stasiun Kediri memiliki gedung utama dengan luas 991 m² yang berdiri di atas lahan seluas 991 m², dan terdaftar sebagai aset PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan Nomor Register 001/7.64121/KD/BD. Dilihat dari fasad bangunannya, stasiun ini menggunakan arsitektur bergaya Indische Empire. Gaya arsitektur ini merupakan gaya imperial yang pertama kali dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels (1808-1811). Gaya arsitektur ini ditandai dengan bangunan tembok tinggi kokoh yang pada pinggiran atapnya biasa diberi ornamen besi tempa, serta menggunakan  jendela yang besar-besar dan memakai jalusi besi. *** [230116]
Share:

Rumah Sakit HVA Toeloengredjo

Diajak teman – Mugi Gumanti namanya - nyadran ke Kediri memberi pengalaman tersendiri. Menginap di Pare semalam dulu sebelum mengunjungi makam orangtua teman di Kota Kediri. Jarak antara Pare dengan Kota Kediri sekitar 25 kilometer, namun karena perjalanannya dikemas dengan acara berkeliling Kota Kediri maka perjalanan tersebut makin mengasyikan saja. Banyak yang bisa disaksikan sepanjang perjalanan dengan menggunakan mobil.
Ketika lepas dari Kampung Inggris, mobil melintasi bangunan kuno yang khas dan menarik perhatian kami. Bangunan kuno tersebut adalah Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo. Rumah sakit ini terletak di Jalan Achmad Yani No. 25 Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di pinggir jalan raya menuju ke Jombang.
Menurut catatan historis yang ada, RS HVA Toeloengredjo didirikan pada tahun 1908 oleh perusahaan pedagangan di bidang perkebunan swasta milik orang Belanda yang bernama NV. Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Sesuai yang membuatnya, maka nama rumah sakit tersebut dinamai RS HVA Toeloengredjo. Artinya, rumah sakit yang dibangun oleh NV. Handels Vereeniging Amsterdam yang berlokasi di Tulungrejo.


Perusahaan Handels Vereeniging Amsterdam merupakan perusahaan perdagangan di bidang perkebunan yang memfokuskan usaha bisnisnya pada industri gula, molase dalam bentuk alkohol yang digunakan untuk rumah sakit, spiritus, dan tembakau. Kediri saat itu menjadi kota strategis karena menjadi pusat pertanian, perkebunan dan industri. Perusahaan HVA ini memiliki beberapa perusahaan pabrik gula (PG) yang berada di Kediri, yaitu PG Meritjan dan PG Pesantren. Hal inilah yang menjadikan RS HVA ini didirikan di Pare, Kediri karena memang dibangunnya rumah sakit tersebut digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan bagi karyawan pabrik gula maupun perkebunan milik HVA yang ada di Kediri.
Seiring perjalanan sang waktu, RS HVA Toeloengredjo kini menjadi rumah sakit milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. PTPN X didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 15 tanggal 14 Februari 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT Perkebunan (Eks PTP 19, Eks PTP 21-22 dan Eks PTP 27) yang dilebur menjadi PTPN X (Persero) dan tertuang dalam Akte Notaris Harun Kamil, SH No. 43 tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami perubahan kembali sesuai Akte Notaris Sri Eliana Tjahjoharto, SH No. 1 tanggal 2 Desember 2011. Namun terhitng mulai tanggal 19 januari 2013, RS HVA Toeloengredjo resmi menjadi salah satu Strategic Business Unit (SBU) PTPN X yang dikelola oleh PT Nusantara Medika Utam, yang juga membawahi RS Gatoel di Mojokerto dan RS Perkebunan di Jember.


Sebagai SBU PTPN X, RS HVA Toeloengredjo diarahkan menjadi suatu unit perusahaan yang berdiri sendiri dan diukur atau dihitung dalam arti profit/lose mengarah ke profit center. Oleh karena itu, RS HVA Toeloengredjo sekarang ini tidak hanya menangani pasien dari karyawan pabrik gula atau karyawan lainnya yang berada di bawah PTPN X sebagai penjelmaan Handels Vereeniging Amsterdam (baca: nasionalisasi) seperti awal berdirinya tapi menjelma menjadi rumah sakit umum. Sehingga, RS HVA Toeloengredjo berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai keunggulan rumah sakit ini terus dikembangkan, di antaranya layanan dokter 24 jam, dokter spesialis on call 24 jam, peralatan modern, layanan ambulance 24 jam, UGD dan layanan penunjang medis serta apotek 24 jam. Selain itu, RS HVA Toeloengredjo juga merupakan pusat rujukan Bedah Orthopedi, Bedah Urologi dan Bedah Plastik. Poli Spesialis lengkap serta didukung oleh dokter spesialis yang profesional dan on call 24 jam. Maka wajar, bila RS HVA Toeloengredjo saat ini merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Pare.
Mengunjungi RS HVA Toeloengredjo ini memang terasa nuansa kolonialnya. Karena rumah sakit yang memiliki luas bangunan 9.907 m² yang berdiri di atas lahan seluas 25.111 m² ini masih mempertahankan bangunan peninggalan di masa Hindia Belanda tersebut meski ada beberapa penambahan di areal tersebut namun tanpa menghilangkan bentuk aslinya.
Nuansa klasik ini memang sengaja masih dipertahankan oleh pihak pengelola agar rumah sakit tersebut tidak hilang sisi historisnya sebagai warisan budaya di masa Hindia Belanda. Hanya saja pihak pengelola juga jeli terhadap para konsumennya, untuk menghilangkan kesan seram oleh bagian tata ruang diberikan ornamen-ornamen modern yang indah dengan tujuan menghilangkan kesan “wingit” tersebut tanpa menghilangkan kesan klasiknya. Bisa dikatakan rumah sakit ini memiliki nuansa hotel dengan beragam tipe kamar sesuai kebutuhan pasien. Ruang kamar didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien dan juga keluarga.
Melihat perjalanan historis yang dimiliki, RS HVA Toeloengredjo ini tergolong bangunan cagar budaya (BCB) yang perlu dijaga kelestariannya karena sarat nilai penting akan sejarah Pare, dan kedepannya bisa dikembangkan menjadi wisata heritage (heritage tourism) di Kabupaten Kediri. *** [240515]
Share:

Arca Totok Kerot

Arca Totok Kerot merupakan rangkaian dari perjalanan keliling Kediri sebelum mencapai Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo yang menjadi kunjungan terakhir. Arca Totok Kerot adalah arca atau patung yang cukup besar terbuat dari batu andesit, dan masih menyimpan misteri.
Arca ini terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi arca ini berada satu kilometer dari simpang lima gumul yang mulai menjadi ikon di Kabupaten Kediri, atau sekitar 11 kilometer arah selatan Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Menurut ceritera rakyat setempat, arca ini merupakan penjelmaan putri cantik, anak demang di Lodaya, Blitar, yang memiliki kesaktian. Sang putri berkeinginan pergi ke Pamenang untuk diperistri oleh Prabu Jayabaya yang tersohor akan kedigdayaannya kendati dilarang oleh orangtuanya. Lalu, berangkatlah sang putri tersebut ke negeri Pamenang, di mana Prabu Jayabaya bertahta.


Sayang impian sang putri itu tidak terwujud karena Prabu Jayabaya menolak untuk memperistrinya. Akhirnya, terjadi perang tanding di antara keduanya. Karena kalah sakti, sang putri mulai terdesak. Saat itulah, Prabu Jayabaya mengeluarkan sabda dengan menyebut sang putri memiliki kelakuan seperti buto (raksasa), dan berubahlah sang putri menjadi arca berbentuk buto. Arca ini kemudian dikenal dengan Totok Kerot. Totok, dalam bahasa Kawi berarti kutukan, dan kerot adalah suara gigi yang beradu saat mengumbar marah.
Dulunya, arca ini terbenam di dalam tanah di persawahan milik warga selama ratusan tahun, dan baru ditemukan oleh penduduk pada tahun 1981. Kemudian baru tahun 1983, arca tersebut tergali secara utuh. Konon, arca yang menghadap ke barat ini pernah dipindahkan ke alun-alun Kediri akan tetapi kemudian balik lagi ke tempat asalnya.
Bila dilihat dari bentuknya, arca Totok Kerot merupakan arca Dwarapala. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster (buto). Biasanya Dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Penulis pernah melihat arca Dwarapala sebesar ini di Singosari dan Candi Plaosan. Di Singosari, diyakini sebagai arca Dwarapala terbesar di Jawa, dan kembar. Menurut penduduk setempat di sana, arca Dwarapala tersebut diperkirakan sebagai pintu gerbang ke Kraton Singosari. Sedangkan, yang berada di Candi Plaosan yang sudah ada sejak abad ke-9 untuk melindungi Candi Plaosan sebagai tempat ibadah umat Buddha.
Tak seperti di Singosari maupun Plaosan, arca Totok Kerot masih menyimpan tanda tanya secara arkeologis. Lokasinya yang menyendiri di tengah persawahan yang saat penulis berkunjung sedang ditanami jagung, menunjukkan tidak lazim. Lalu, arca Dwarapala pada umumnya buto berkelamin laki-laki tapi arca Totok Kerot berkelamin perempuan. Dua pertanyaan inilah yang masih menggelayuti sejumlah arkeolog akan tabir dari arca tersebut. *** [240515]
Share:

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang

Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak lama dan beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi aset sejarah. Salah satu dari sekian karya arsitektur yang dapat memperlihatkan ekspresi dari pengungkapan manusia dan lingkungannya serta dapat berkomunikasi karena di dalam karya tersebut banyak memperlihatkan simbol-simbol yang akrab dengan manusia dan lingkungannya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.
Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Wisma Mbah Kung, dan berada di sebuah bukit kecil yang di bawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelilingnya penuh pepohonan bambu.


Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang atau Gereja Puhsarang didirikan atas prakarsa dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek Ir. Henri Maclaine Pont. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1885 dari seorang Ibu yang keturunan Bugis, dan Ayah yang orang Belanda.
Romo Wolters meminta kepada Maclaine agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam merancang gereja di stasi Puhsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu. Corak lokal Gereja Puhsarang tercetus, ketika konsep Romo Wolters yang diajukan tersebut bertemu dengan konsep sang arsitek Henri Maclaine Pont. Sehingga muncul keunikan dalam hal ke-Jawa-an, kekatolikan, lokalitas, sekaligus universalitas yang setiap bagiannya berguna untuk sebuah pengajaran serta tempat untuk melakukan perenungan akan arti sebuah misteri iman.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan gereja ini dilakukan oleh Monseignor Theophile de Backere CM pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan Sakramen Maha Kudus. Bangunan gereja ini selesai pada tahun 1937.


Secara fisik, bangunan utamanya menyerupai sebuah tenda atau sebuah kubah besar yang ditopang pada keempat sudutnya oleh soko guru. Bentuk tenda dan soko guru merupakan esensi dari arsitektur Jawa. Kompleks Gereja Puhsarang ini terdiri atas bangunan induk, pendapa, gapura mirip candi, gapura Santo Yusuf, menara Santo Henrikus, ruang gamelan, ruang terbuka dan patung Kristus Raja. Dalam membangun gereja ini, Maclaine selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal serta bangunannya disesuaikan dengan situasi setempat.
Gereja Puhsarang, kini menjadi landmark atau tetenger dari kawasan tersebut, dan sekaligus mempunyai arti yang cukup penting bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena fasilitas yang terdapat di sekitar gereja cukup dapat mewadahi kegiatan-kegiatan pokok dari masyarakat setempat. Fasilitas tersebut seperti ruang terbuka, sekolah serta makam, sehingga fasilitas tersebut menjadikan lingkungan gereja menjadi pusat kegiatan umum masyarakat sekitar gereja maupun masyarakat Desa Puhsarang pada umumnya. *** [240515]

Kepustakaan:
Maria I. Hidayatun dan Christine Wonoseputro, 2005. Telaah Elemen-Elemen Arsitektur Gereja Puhsarang Kediri Sebuah Pengayaan Kosa Kata Arsitektur Melayu (Nusantara), dalam International Seminar on Malay Architecture as Lingua Franca Jakarta, June 22-23 2005
Share:

Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri

Sebagai kota tua, Kediri menyimpan memori sejarah yang cukup banyak. Salah satunya adalah kawasan pecinan (China Town) yang banyak dihuni oleh orang Tionghoa. Dalam literatur sejarah, orang Tionghoa terkenal sebagai orang yang ulet dalam berdagang sehingga setiap daerah yang ada permukiman Tionghoa pada umumnya memiliki basis ekonomi yang kuat dan sekaligus terhubung dengan dunia luar. Hal ini karena terkait dengan supply chain komoditas yang diperjualbelikan yang menjadi andalan orang Tionghoa.
Selain itu, di daerah ini juga berdiri sebuah tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang masih cukup megah yang bernama Klenteng Tjoe Hwie Kiong.  Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di tepi Sungai Brantas, persis di tikungan Jalan Yos Sudarso.
Klenteng ini penulis kunjungi setelah terlebih dahulu mengunjungi gedung lama Bank Indonesia Kediri, dan sholat sebentar di Masjid Agung Kediri. Setelah selesai sholat, mobil Daihatsu Hijet 2000 balik arah kembali menyusuri Jalan Dhaha terus belok ke kanan menuju Jalan Yos Sudarso yang digunakan sebagai jalur satu arah. Tepat berada di tikungan, pintu gerbang klenteng (pai lou) sudah terlihat. Pintu gerbang klenteng ini tidak seperti pada klenteng umumnya yang berbentuk paduraksa, melainkan menyerupai benteng yang didominasi warna merah dan kuning. Pada pintu gerbang tersebut ditempeli tulisan “Revitalisasi Cagar Budaya Klenteng Tjoe Hwie Kiong Di Bawah Pengawasan dan Arahan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur”. Tulisan ini jelas menunjukkan bahwa klenteng tersebut telah berumur tua.


Menurut informasi yang didapat, Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun pada tahun 1895 oleh warga Tionghoa yang telah bermukim di Kediri. Mereka menggalang dana dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mewujudkan tempat ibadah pada waktu itu. Pada waktu itu, banyak orang Tionghoa yang berasal dari Fujian, Tiongkok yang meninggalkan negerinya untuk mengadu nasib di tempat lain. Termasuk di antaranya ada yang menuju ke Kediri melalui Sungai Brantas.
Dulu, Klenteng straat sudah menjadi kawasan yang ramai. Klenteng straat, yang sekarang berubah menjadi Jalan Yos Sudarso merupakan bagian dari kota lama di wilayah Kota Kediri yang banyak dihuni oleh orang-orang Tionghoa. Deretan rumah khas Tiongkok yang membentuk hunian pemukiman, banyak menghiasi daerah ini. Mereka berjualan segala kebutuhan masyarakat, mulai dari sembako, pakaian hingga perlengkapan lainnya di sepanjang hampir dua kilometer jalan tersebut. Pemukimannya pun sudah cukup padat. Hal ini dikarenakan daerah ini dekat dengan Sungai Brantas yang dulu merupakan jalur transportasi utama dari Kediri menuju Surabaya atau sebaliknya.
Memasuki halaman klenteng yang begitu luas ini terlihat bangunan utama klenteng berikut bangunan pendukung lainnya. Sebelum masuk bangunan utama, tepat di depan pintu terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk ada kan chuang (jendela rendah yang dapat memberikan pemandangan keliling dan berbentuk bulat. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu (mutiara api berbentuk bola) ditaruh di atas kepala orang dan diapit oleh dua xing long (naga berjalan). Sedangkan, di kanan di depan bangunan utama terdapat kim lo (tempat pembakaran kertas persembahyangan).


Lanjut ke dalam, akan dijumpai beberapa altar untuk memuja para dewa, di antaranya altar Tri Nabi Agung. Altar sebelah kiri yang berlogo Yin-Yang berisi rupang Lao Tze yang digunakan sebagai altar pemujaan penganut Tau. Di tengah ada altar berlogo Swastika berisi rupang Buddha Sakyamuni yang diperuntukkan bagi penganut Budda, dan yang di sebelah kanan berupa altar berlogo Genta adalah rupang Kong Hu Cu yang digunakan bagi penganut Kong Hu Cu.
Keluar dari bangunan utama searah mata memandang ke barat, Anda akan melihat bangunan mirip rumah panggung berukuran kecil bercat merah. Panggung ini digunakan untuk pertunjukkan wayang potehi. Anda bisa menonton sambil duduk yang telah disediakan oleh pengurus klenteng. Wayang ini akan dilakonkan pada sore (15.00 WIB – 17.00 WIB) maupun malam hari (19.00 WIB-21.00 WIB) tapi tidak setiap hari. Pagelaran wayang Potehi ini berdasarkan pemesanan dari jemaatannya.
Tepat di belakang panggung wayang Potehi, berdiri menjulang patung  Makco Thian Siang Sing Boo. Patung seberat 18, 7 ton dengan tinggi 5 meter ini sengaja didatangkan dari Desa Buthien, Tiongkok, yang diyakini sebagai asal Makco pada 9 Oktober 2011. Makco, di kalangan orang Tionghoa dikenal sebagai dewi penolong yang welas asih. Sehingga, harapan dipasangnya patung Makco yang menghadap langsung ke Sungai Brantas ini adalah untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian masyarakat Kota Kediri.
Selain bangunan utama klenteng yang menghadap ke barat atau Sungai Brantas, di sebelah kanan terdapat gedung Mitra Graha berlantai 2. Gedung ini digunakan untuk mendukung bagi bangunan klenteng secara keseluruhan. Sedangkan, di sebelah kiri klenteng terdapat gedung Pasada Graha. Gedung ini dibangun oleh PT. Gudang garam Tbk pada 24 Mei 2011. Selain untuk acara yang berhubungan dengan agenda klenteng, gedung berlantai 3 ini juga bisa disewakan untuk umum. *** [240515]
Share:

Gedung Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kediri

Kota Kediri secara geografis terbelah oleh Sungai Brantas. Diperkirakan dulu, wilayah sebelah barat Sungai Brantas yang sekarang menjadi Jalan Jaksa Agung Suprapto menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda dan area perumahan elit Belanda. Sedangkan, wilayah sebelah timur Sungai Brantas yang sekarang menjadi alun-alun diperkirakan menjadi pusat pemerintahan yang dipegang oleh orang pribumi. Hal ini dtandai dengan adanya bangunan Pendopo Kabupaten Kediri yang berada di timur alun-alun.
Sebagai kawasan pusat pemerintahan, maka di sekeliling alun-alun banyak bermunculan kantor-kantor penunjang pemerintahan tersebut. Salah satunya bangunan lawas yang dulunya untuk mendukung pemerintahan yang berpusat di Pendopo Kabupaten tersebut adalah Gedung Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kediri.


Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 143 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kediri Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di selatan alun-alun Kota Kediri atau di belakang Dhoho Plasa.
Bangunan gedung DPU tersebut merupakan salah satu bangunan dari sekian bangunan peninggalan masa Hindia Belanda yang masih ada dan cukup terawat. Pada gevel tertulis dengan jelas angka secara vertikal. Dari arah penulis membaca, di sebelah kiri tertulis angka 1929 dan sebelah kanan tertulis angka 1933. Sehingga, diperkirakan gedung Kantor DPU Kabupaten Kediri dibangun pada tahun 1929, dan diresmikan pada tahun 1933.
Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda 1870-1940 (Andi Offset, Yogyakarta, 1996) menulis, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis basah Indonesia. Penggunaan gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Gevel adalah bagian berbentuk segitiga dari bagian akhir dinding atap dengan penutup atap yang melereng. Selain itu, ventilasi yang baik dengan dtandai bentuk jendela yang besar dan banyaknya rooster di atas jendela menggambarkan sirkulasi udara dipandang sangat penting.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda yang cukup luas ini perlu tetap dipertahankan keberadaannya meski di depannya telah bermunculan plasa maupun department store. Tidak hanya sebagai elemen perkotaan yang bercitrakan heritage tapi sekaligus juga mempertahankan memori sejarah perkembangan Kota Kediri sendiri. *** [240515]
Share:

Candi Surowono

Candi Surowono terletak di Desa Surowono, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi Surowono terbuat dari batu andesit yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok sedangkan untuk fondasi, Candi Surowono menggunakan bata.



Denah Candi Surowono berukuran panjang 7,8 m dan lebar 7,8 m. Di tubuh candi, terdapat relief cerita Arjuna Wiwaha dan Bubuksah Gagang Aking. Pada bagian kaki candi memuat relief Ramayana sedangkan di pipi tangga candi bercerita binatang.



Candi Surowono atau Candi Bloran berdenah bujur sangkar terdiri dari bagian batur, kaki, tubuh dan atap candi. Bagian atap, kaki dan sebagian tubuh candi dalam keadaan baik, sedangkan tubuh bagian atas dan atap candi sudah rusak. Diduga Candi Surowono ini adalah Candi Surabhana yang disebut dalam Kitab Negarakertagama.



Menurut kitab ini, Candi Surabhana dibangun oleh Bhre Wengker Wijayarajasa, yang pada tahun 1361 M dikunjungi oleh Hayam Wuruk dalam perjalanannya keliling daerah. *** [200112]

Share:

Museum Airlangga

Museum Airlangga terletak di Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Awalnya, museum ini bernama Museum Tirtoyoso karena berada di areal pemandian Tirtoyoso (Kuwak) Kota Kediri yang berada di Jl. Ahmad yani dan bersebelahan dengan Stadion Brawijaya. Bangunan awal museum pada zaman Belanda ini sangat unik dengan gapuranya yang berhias kalamakara. Seiring berjalannya waktu, kondisi museum benar-benar menyedihkan dan sangat rawan pencurian, hingga pada akhirnya ada tukar guling lahan antara PT. Gudang Garam dengan Pemkot Kediri di dekat Goa Selomangleng.
Goa Selomangleng ditemukan secara tak sengaja oleh warga sekitar. Goa yang terdiri dari tiga ruang ini menurut cerita adalah tempat pesanggrahan Dewi kilisuci, Putri Raja Airlangga. Konon, Goa Selomangleng tempat muksa Dewi Kilisuci. Di dalam goa tersebut terdapat relief yang menceritakan kehidupan Dewi Kilisuci saat dilamar Prabu Kelono Siwandono, Raja Bantar Angin. Juga relief Patih Buto Luhcoyo yang setia mendampingi Dewi Kilisuci.



Namun, sejak pindah di kawasan Selomangleng, tepatnya di Jl. Mastrip No. 1 Selomangleng ini, pada tahun 1990 museum ini berganti nama menjadi Museum Airlangga untuk mengenang jasa dan kejayaan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan.



Kawasan Goa Selomangleng di mana Museum Airlangga berada, terletak di daerah bukit Gunung Klotok yang berhawa sejuk, latar belakang perbukitan dan Gunung Wilis menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin  menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.

Koleksi Museum Airlangga 


Di museum ini terdapat banyak tetirah atau situs bersejarah yang menggambarkan peradaban masyarakat Kediri dan sekitarnya. Situs ini berupa patung atau arca, alat-alat pertanian, hingga peninggalan masa kejayaan Raja Airlangga. *** [190112]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami