The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Lampung Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lampung Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Kotabumi

Stasiun Kereta Api Kotabumi (KB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kotabumi, merupakan salah satu stasiun kereta api kelas I yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional (Divre) 4 Tanjungkarang yang berada pada ketinggian + 28 m di atas permukaan lain. Stasiun Kotabumi terletak di Jalan Stasiun No. 1 Kelurahan Cempedak, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara Terminal Kotabumi ± 290 meter.

Keberadaan Stasiun Kotabumi (Station Kotaboemi van de Staatsspoorwegen in Zuid-Soematra) ini terkait dengan pembangunan jalur kereta api (rel) Blambangan-Kotabumi-Cempaka sejauh 28 kilometer. Pembangunan jalur rel itu dimulai pada tahun 1921 dan selesai pada tahun 1923 oleh De Staatsspoorwegen in Zuid-Soematra, atau biasa ditulis juga dengan Zuid Soematra Spoorwegen (ZSS).


Stasiun Kotabumi Tampak Depan (Foto: Jarwadi/29/01/2021)

ZSS membangun jalur kereta api di Sumatera Selatan-Lampung sejauh 661 kilometer pada tahun 1914 hingga 1932. Jalur-jalur tersebut menghubungkan: Tanjungkarang-Kotabumi-Martapura-Baturaja-Prabumulih, Prabumulih-Palembang, Prabumulih-Muara Enim-Lubuk Linggau, Muara Enim-Tanjung Enim. ZSS merupakan perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS) untuk wilayah Sumatera Selatan-Lampung. Komoditi yang diangkut oleh ZSS sendiri mulai dari batu bara, kayu, minyak kelapa, bahan perkebunan, dan juga penumpang (Yoga Bagus Prayogo, 2017: 13).


Fasad Stasiun Kotabumi (Foto: Jarwadi/29/01/2021)

Pada waktu jalur rel Blambangan-Kotabumi-Cempaka ini dibangun, jalur rel ini merupakan jalur kereta api kelas 2 (spoorweg 2e klasse) sehingga bangunan stasiunnya pun semula cukup sederhana, berbentuk limasan dan kemungkinan hanya merupakan bangunan utama stasiun saja. Peningkatan jalur rel ini menjadi jalur kereta api kelas 1 (spoorweg 1e klasse) terjadi pada tahun 1940. Bersamaan itu pula dilakukan penambahan dan perbaikan bangunan di lingkungan stasiun.


Stasiun Kotabumi dilihat dari palang sepur (Foto: Jarwadi/29/01/2021)

Dulu, stasiun ini memiliki empat jalur kereta api. Namun jalur 4 sekarang sudah tidak digunakan lagi semenjak selesai pembangunan jalur ganda pada 9 Desember 2020. Jalur 2 dan 3 digunakan sebagai sepur lurus di mana jalur 2 untuk sepur lurus yang menuju ke arah selatan (Stasiun Candimas), dan jalur 3 digunakan sebagai sepur lurus yang mengarah ke utara (Stasiun Cempaka).

Dampak dari pembangunan jalur ganda ini memang mengalami peningkatan infrastruktur di stasiun tersebut, termasuk adanya pembuatan peron pulau yang cukup tinggi berkanopi kecil di antara jalur 1 dan 2. Sehingga tampak terjadi perubahan dalam bangunan stasiun tersebut. Akan tetapi dilihat dari bentuk bangunan utama stasiunnya masih menyisakan memori heritage, seperti bentuk limasan, jendela yang besar dan pintu bekas gudang.

Sebagai stasiun kelas I, Stasiun Kotabumi mempunyai aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang yang tergolong ramai. Hal ini disebabkan banyaknya jadwal lalu lalang kereta api yang melintas di stasiun tersebut, seperti KA Sriwijaya, KA Kuala Stabas maupun KA Rajabasa. *** [300121]


Kepustakaan:

Oegema, J. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Yoga Bagus Prayogo, 1995-; Yohanes Sapto Prabowo; Diaz Radityo; Teguh Prastowo. (2017). Kereta api di Indonesia: sejarah lokomotif uap / Yoga Bagus Prayogo, Yohanes Sapto Prabowo, Diaz Radityo; editor, Teguh Prastowo. Yogyakarta:: Jogja Bangkit Publisher.

Share:

Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”

Museum Lampung telah dirintis sejak tahun 1975 oleh Kepala Kantor Pembinaan Permuseuman Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Provinsi Lampung di Tanjung Karang.  Wujud pembangunan fasilitas gedung pameran dan kantor baru dikerjakan pada tahun anggaran 1978/1979, didasarkan pada keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 064/P/1978 tentang Pengangkatan Pimpinan dan Bendaharawan Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Lampung.
Peletakan batu pertama pembangunan Museum Lampung dilakukan oleh Kepala Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Lampung Drs. Supangat pada tanggal 13 Juni 1978 di lokasi Jalan Teuku Umar No.64 Gedongmeneng, sekarang menjadi Jalan H.  Zainal Abidin Pagar Alam No.64 Gedongmeneng, Bandar Lampung.


Pada tahun 1984 sehubungan dengan pelaksanaan Purna Pugar Taman Purbakala Pugungraharjo yang dipusatkan di Museum Lampung, masyarakat mulai mengenal lebih dekat keberadaan museum. Untuk memenuhi minat masyarakat yang ingin berkunjung, maka Kakanwil Depdikbud Provinsi Lampung menerbitkan Surat Edaran No. 0085/I.12/J/1986 tanggal 2 Januari 1986 tentang dibukanya Museum Lampung setiap hari Sabtu.
Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. DR. Fuad Hasan.


Sementara itu, penambahan nama “Ruwa Jurai” untuk Museum Lampung ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.0233/0/1990 tertanggal 1 April 1990. Penambahan itu disesuaikan dengan logo Provinsi Lampung “Sang Bumi Ruwa Jurai”.
Pada era otonomi daerah, berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor 03 Tahun 2001 tertanggal 9 Februari 2001 status Museum Lampung beralih menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah Dinas Pendidikan Provinsi. Sejak bulan Februari 2008 UPTD Museum Lampung beralih menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.
Museum Lampung memiliki arsitektur modern yang secara sepintas tidak seperti bangunan tradisional Lampung, namun sesungguhnya bangunan Museum Lampung pada prinsipnya mengambil konsep dasar Balai Adat atau Sessat, dengan bentuk empat persegi panjang. Model rumah panggung tercermin pada tiang-tiang di bagian luar dan dalam gedung. Tangga yang terdapat di dalam gedung untuk menghubungkan lantai bawah menuju lantai atas, merupakan penggambaran tangga yang ada pada rumah tradisional Lampung. Museum ini memiliki beberapa fasilitas penunjang dalam menyelenggarakan permuseuman, yaitu: Ruang Lobby, Ruang Pamer Tetap (terdiri atas 2 lantai), Auditorium, Ruang Kantor UPTD Museum, Perpustakaan, Storage (gudang koleksi), Ruang Fumigasi beserta fasilitas penunjang lainnya, termasuk halaman museum yang sangat luas yang bisa dipergunakan untuk kegiatan pendukung permuseuman.
Museum Lampung memiliki 4.690 koleksi benda budaya ada tahun 2011, yang terdiri: koleksi geologika (69 buah), biologika (91 buah), etnografika (2.051 buah), arkeologika (314 buah), historika (61 buah), numismatika/hiraldika (1.348 buah), filologika (44 buah), Keramologika (680 buah), seni rupa (8 buah), dan teknologika (24 buah).  *** (250413)

Kepustakaan:
Purwanti, Dra., & Rosniar, Dra., 2011, Buku Panduan Museum Lampung, Lampung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.
Share:

Prasasti Dalung

Prasasti Dalung merupakan prasasti yang terbuat dari lempengan tembaga. Bertuliskan aksara Arab Pegon, dan berbahasa Jawa Banten. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sultan Banten untuk mengatur perniagaan dan pelayaran di daerah Lampung.


Prasasti ini terdiri dari 32 baris yang dikelompokkan dalam 12 poin yang bisa disebut pasal. Tiap-tiap pasal ditulis pada baris baru dan diakhiri dengan tanda lingkaran kecil dengan titik di tengahnya. Pada pasal penutup berbunyi: “Dhawuh undang-undang dalem Îki ing akhiring wulan Jumadil awal tahun Be’ séwu satus rong tahun lumaku saking hijrah Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wassalam”
Prasasti yang sebenarnya berisi hukum laut dan perdagangan ini, ditetapkan pada akhir bulan Jumadil Awal Tahun Be 1102 Hijriyyah, atau bertepatan dengan akhir Februari 1691 M.


Prasasti ini ditemukan oleh Abu Bakar Hasirah di Desa Bojong, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Lalu, sepeninggal Abu Bakar Hasirah, prasasti ini dimiliki oleh keturunannya di Desa Bojong, yaitu  Dalom Rusdi.  Namun, kabar terakhir dari Syaiful, salah seorang petugas Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo, prasasti Dalung yang asli sekarang dipegang oleh Hasan Wakal, Kepala Desa Bojong, yang juga merupakan salah satu keturunan pemegang sebelumnya. Rumah Informasi hanya memasang replikanya saja, termasuk Museum Lampung juga memamerkan replikanya yang dibuat pada tahun 2003 dengan No. Inventaris 3968.
Dengan adanya penemuan prasasti Dalung ini, membuktikan bahwa di Situs Purbakala Pugungraharjo ini telah masuk Islam. Diperkirakan masuknya Islam melalui Way Sekampung dan Way Sekampung (dekat Kota Metro) diketemukan dua buah medali Sam Pho Khong. *** (310313)
Share:

Prasasti Bungkuk

Prasasti ini ditemukan di Desa Bungkuk, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung pada 8 Maret 1985. Penemuan prasasti ini terjadi secara kebetulan, ketika itu ada seorang warga pergi memancing di pinggir Way Batanghari yang melintas di Desa Bungkuk. Kail pancingnya tiba-tiba tersangkut oleh benda benda berat, sehingga pemancing menyempatkan diri turun ke sungai tersebut untuk melepaskan kail pancingnya agar supaya bisa digunakan lagi untuk memancing. Namun, ternyata pemancing menemukan batu berisi tulisan usai mau melepaskan kail pancing dari sangkutannya. Setelah dilaporkan kepada yang “berwajib”, diketahui bahwa batu bertulis tadi ternyata adalah prasasti.
Prasasti ini dipahatkan pada batu andesit, dengan memiliki ukuran tinggi 63 cm, tebal 63 cm, diameter atas 70 cm, dan diameter bawah 61 cm. Keadaannya sudah aus sehingga tidak dapat terbaca dengan lengkap. Prasasti ini terdiri dari 13 baris beraksara Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.


Dari tulisan yang masih jelas dan dibaca oleh Boechari dan Hasan Djafar, diketahui bahwa prasasti ini berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya.
Berdasarkan paleografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-7 M, dan saat ini prasasti aslinya berada di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo yang terletak di Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sedangkan, di Museum Lampung juga terdapat replikanya yang dibuat pada tahun 1999 dengan No. Inventaris 3613. *** (310313)



Share:

Taman Purbakala Pugungraharjo

Situs Kepurbakalaan Pugungraharjo merupakan kompleks megalitik yang secara administratif termasuk wilayah Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Situs ini terletak pada koordinat 05° 18' 054" LS dan 105° 32' 003" BT, dengan ketinggian 80 m di atas permukaan laut.
Situs Pugungraharjo ditemukan oleh transmigran lokal ketika sedang menjalankan aktivitasnya dalam membuka hutan Pugung untuk dijadikan lahan pertanian. Di antara pembuka hutan itu antara lain Barno Raharjo, Sardi, Karjo dan Sawal. Ketika itu, mereka menemukan susunan batu besar, gundukan tanah yang berbentuk bujur sangkar, dan sebuah patung utuh yang bercirikan zaman klasik khususnya berlanggam Budhis. Oleh Kepala Desa dan pemuka masyarakat, akhirnya temuan tersebut dilaporkan ke Lembaga Purbakala Jakarta.
Sejak diketemukan pada tahun 1957 yang kemudian dilaporkan ke Lembaga Purbakala, maka selang beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 1968 dilakukanlah penelitian awal oleh Lembaga yang dipimpin oleh Drs. Buchori. Tahun 1973 Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional bekerja sama dengan Pennsylvania Museum University melakukan pencatatan dan pendokumentasian kepurbakalaan Pugungraharjo yang hasilnya dituangkan dalam Laporan Penelitian Sumatera. Penelitian berikutnya pada bulan Oktober 1975 yang dipimpin oleh Drs. Soekatno TW berhasil membuat peta lokasi dan mengidentifikasi beberapa temuan permukaan. Pada bulan Maret 1977 sebuah kegiatan penelitian yang adipimpin oleh Drs. Haris Sukendar menemukan beberapa batu berlubang dan bergores yang sebarannya makin melebar. Pada bulan April 1980 kegiatan penelitian ditindaklanjuti dengan ekskavakasi pada situs batu mayat yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa kompleks megalitik Pugungraharjo memiliki luas ± 25 Ha.
Sebenarnya pengungkapan tradisi megalitik di Sumatera telah banyak dilakukan para pakar jauh sebelum Indonesia merdeka, antara lain Tombringk, Steinmetz, Ullman, Schnitger, Van der Hoop dan Funke. Namun nama Pugungraharjo yang ditemukan oleh para transmigran ini tidak satupun di antara mereka yang mengenalnya.
Selain penelitian intensif yang dilakukan oleh berbagai instansi maupun perorangan, Situs Megalitik Pugungraharjo telah mengalami pemugaran sejak tahun 1977/1978 sampai dengan 1983/1984 yang dilaksanakan pemugarannya oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala melalui Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Lampung.

Hasil Penemuan Arkeologis
Berdasarkan hasil penelitian arkeologi diketahui bahwa Situs Purbakala Pugungraharjo sangat unik dan menarik, mengingat kandungannya cukup variatif baik ditinjau dari sisi kronologi, artefak maupun fiturnya. Tinggalan di situs ini secara kronologi begitu lengkap mualai dari zaman prasejarah, klasik hingga zaman Islam, demikian pula artefaknya sangat beragam seperti keramik asing dari berbagai dinasti, keramik lokal, manik-manik dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna, dolmen, menhir, pisau, mata tombak, batu berlubang, batu asahan, batu pipisan, kapak batu, batu trap punden, gelang perunggu, batu bergores dan sebagainya. Adapun fiturnya berupa benteng-benteng parit yang memanjang di dalamnya, sejumlah punden baik besar maupun kecil dan di sebelah selatannya bentangan sungai sebagai “dindingnya”.
Beberapa peninggalan purbakala yang masih terlihat di situs ini hingga kini, antara lain:

Benteng Pugungraharjo
Benteng Pugungraharjo merupakan tanggul yang berasal dari gundukan tanah yang berbentuk persegi panjang yang berada di sebelah barat dan timur.  Panjang benteng sebelah barat 300 m, sedangkan sebelah timur 1.200 m dengan ketinggian gundukan tanahnya antara 2 – 3,5 m, dengan sebuah parit yang cukup dalam berukuran 3 – 5 m.
Dengan dua tanggul tersebut, benteng terbagi dari dua bagian dengan memperlihatkan bentuk benteng tidak menyudut tetapi melingkar. Pada beberapa bagian terdapat jalan yang menghubungkan bagian luar dan dalam benteng serta di beberapa tempat ada beberapa pintu gerbang jalan masuk ke dalam benteng.
Adapun fungsi benteng diperkirakan sebagai tempat perlindungan untuk mempertahankan serangan, baik dari binatang buas maupun dari serangan suku lainnya.

Punden Berundak
Punden berundak di situs ini diketemukan di dalam benteng maupun di luar benteng, dengan ukuran yang variatif. Ada yang besar, ada yang kecil, dan ada yang berundak satu, dua maupun tiga. Punden berundak ini termasuk hasil karya manusia pendukung tradisi megalitik yang dapat dikelompokkan ke dalam megaltik tua. Bangunan punden berundak ini tersebar di Indonesia bersama-sama dengan batu datar, dolmen dan menhir. Peninggalan-peninggalan tersebut di atas oleh Von Heine Geldern diperkirakan muncul bersama-sama persebaran beliung persegi pada masa neolitik. Ini berarti masa pendukung megalitik sekitar 2.500 tahun Sebelum Masehi, maka sudah barang tentu punden berundak di situs ini muncul pada masa-masa kemudian.
Punden berundak yang ada di situs ini menyerupai bentuk piramida, mengingatkan kepada bentuk-bentuk bangunan pemujaan di Sumeria (Laut Tengah) yang oleh penduduk setempat disebut Ziggurat, melambangkan gunung suci. Kepercayaan semacam ini tampaknya dipegang oleh pendukung tradisi megalitik di Pugungraharjo, di mana punden berundak yang menyerupai gunung tersebut juga dianggap merupakan tempat suci, dan dianggap tempat bersemayam arwah nenek moyang. Munculnya punden-punden berundak yang berbentuk piramida ini dikarenakan dengan lahan Pugungraharjo yang datar tanpa bukit maupung gunung, maka dibuatlah bangunan-bangunan punden yang menyerupai gunung untuk memperoleh tempat yang lebih suci untuk tempat pemujaan. Bahkan ada sebagian para ahli yang mengatakan bahwa cikal bakal Candi Borobudur adalah diilhami oleh bentuk punden berundak.


Di Situs Taman Purbakala Pugungraharjo terdapat 13 buah punden berundak yang berada dalam satu kawasan. Ini jarang ditemui di wilayah lain. Namun dari ke-13 buah punden berundak tersebut, kini hanya tinggal 7 buah saja yang masih bisa disaksikan.

Batu berlubang
Batu berlunbang ini terdapat di bagian timur situs yaitu dekat mata air. Batu berlubang ini terbuat dari bahan batuan kali yang berwarna hitam abu-abu. Pada bagian permukaan yang datar terdapat empat buah lubang yang sangat licin menunjukkan bekas dipakai. Adapun jumlah keseluruhan batu berlubang 19 buah .
Batu berlubang ini kemungkinan fungsi utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis yaitu untuk melumatkan sesuatu yang perlu dihaluskan, di samping itu, juga ada hubungannya dengan upacara kematian.
Penamaan batu berlubang di sini adalah untuk membedakan dengan jenis lumping batu dan batu dakon. Lumpang batu biasanya memiliki garis tengah luar dan dalam yang lebih besar dan pada tepinya terdapat tonjolan yang berfungsi sebagai penahan biji-bijian yang ditumbuk serta kadang juga ada permukaan yang datar dan lengkung. Sedangkan batu dakon khusus menyebut batu berlubang yang dibentuk seperti mainan dakon.

Batu bergores
Batu bergores seluruhnya terletak di tepi sungai kecil yang terletak di bagian selatan situs berjumlah empat buah.
Batu bergores di situs ini adalah salah satu ciri menarik dari sekian temuan di situs ini. Batu seperti ini juga ditemukan di Situs Sumberjaya. Batu bergores di Situs Taman Purbakala Pugungraharjo memperlihatkan adanya kesejajaran dengan batu bergores di Kampung Cideresi, Pandeglang khususnya batu bergores dengan bentuk huruf T. Yang menarik pula untuk disimak dari keberadaan batu bergores ini adalah letaknya yang tidak jauh dari batu mayat. Ini menjadi satu pertanyaan apakah ada konteks kedua temuan tersebut dalam kegiatan ritual khususnya dengan lambang kesuburan.

Kompleks Batu Mayat (Batu Kandang)
Kompleks batu mayat berupa susunan batu tegak dan batu datar yang berdenah persegi panjang, dengan bentuk seperti kandang. Oleh penduduk setempat, batu yang seperti kandang ini disebut batu mayat. Pemberian nama batu mayat ini tampaknya didasarkan pada temuan menhir (batu tegak) yang berbentuk kemaluan laki-laki (phallus) yang pada waktu diketemukan dalam posisi roboh dan menyerupai mayat.
Batu ini berbentuk bulat panjang dan pada kedua ujungnya dipahatkan phallus dengan ukuran panjang 205 cm, garis tengah 40 cm, dan ukuran ruang segi empat 9 x 8 m, diperkirakan bahwa obyek peribadatan terpusat pada batu yang berbentuk menhir ini.


Dengan penggambaran phallus ini diharapkan agar batu berbentuk menhir ii mengandung kekuatan gaib yang lebih besar dan tegar dalam menolak bahaya yang mengancam. Tidak jauh dari letak menhir, di sebelah selatannya terdapat batu bertuliskan huruf T, yang melambangkan kesuburan (wanita), dan di sebelah barat menhir terdapat batu datar atau meja batu. Sedangkan batu pendukung di sekelilingnya terdapat juga menhir-menhir kecil.
Fungsi dari kompleks batu mayat ini diprediksi sebagai tempat upacara pemujaan yang berkaitan dengan pemujaan dan lambang kesuburan.

Kolam Megalitik
Sebagaimana diketahui, kehidupan manusia tidak terlepas dengan air. Begitu pula nenek moyang kita dalam mempertahankan hidup dan beraktivitas tidak bisa jauh dari air. Di kolam megalitik inilah, nenek moyang kita beraktivitas untuk mengambil air dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mengambil air suci untuk keperluan ritual.


Kolam ini dinamakan kolam megalitik, karena di dalam kolam ini banyak ditemukan peninggalan megaltik, seperti batu berlubang, dan batu bergores. Di tempat ini, diperkirakan nenek moyang kita meramu, mengasah senjata, dan lain-lain.
Ada sebuah legenda bahwa di kolam ini, para putri Ratu Pugung melakukan mandi, mencuci, dan meramu untuk membuat awet muda, serta mengambil air untuk upacara ritual. Hingga kini, kolam megalitik dimitoskan memiliki air bertuah. Airnya dipercayai bisa menjadikan awet muda dan dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Selain itu, di Situs Taman Purbakala Pugungraharjo masih banyak ditemukan artefak, seperti manik-manik, arca, keramik, dan lain-lain. Artefak-artefak tersebut disimpan di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo, yang lokasinya tidak begitu jauh dengan lokasi penemuan artefak tersebut. *** (310313)

Sumber:
  • Saronto, Selayang Pandang Situs Taman Purbakala Pugungraharjo Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, 2010 (dalam bentuk makalah).
  • Brosur Taman Purbakala Pugungraharjo, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Wilayah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung 1999.
Share:

Tari Melinting

Tari Melinting merupakan tari adat tradisional keagungan Keratuan Melinting, yang diciptakan oleh Pangeran Panembahan Mas, Ratu Melinting. Tari ini biasanya dipentaskan pada saat acara Gawi  Adat (Begawi) sebagai tari tradisional lepas, untuk hiburan pelengkap pada saat acara Gawi Adat.
Konon, tari melinting ini merupakan tarian Keluarga Ratu Melinting dan hanya dipentaskan oleh Keluarga Ratu saja di tempat yang tertutup seperti sessat atau balai adat. Sehingga, bukan sembarang orang yang boleh mementaskannya. Penarinya hanya sebatas pada putra-putri Ratu Melinting, dan hanya dipertunjukkan pada saat Gawi Adat Keagungan Keratuan Melinting.
Busana yang dikenakan oleh para penari ini sangatlah khas.  Penari wanita mengenakan Siger Melinting, cadar warna merah dan putih, kebaya putih tanpa lengan, tapis melinting, rambut cemara panjang, kipas warna putih, gelang ruwi dan gelang kano.
Sedangkan, penari pria memakai kopiah emas melinting, baju dan jung sarat yang diselempangkan, baju teluk belanga, kain tuppal disarungkan, kipas warna merah, bulu seretai, sesapur handak putih, bunga pandan, dan celana panjang putih. ***

Share:

Masjid An Nur Sukadana

Memasuki Jalan Annur di Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, suasana kekhasan kampung etnik hadir di wilayah ini. Kekhasan tersebut ditandai dengan masih banyaknya bangunan rumah kuno khas Lampung yang masih berdiri.
Tidak hanya itu, di jalan tersebut juga berdiri satu bangunan berarsitektur khas Lampung berwarna hitam masih berdiri tegak, tepat di depan Balai Desa Sukadana. Rumah tersebut menjadi ikon bagi masyarakat Sukadana dan telah ditetapkan menjadi cagar budaya dengan sebutan “Rumah Tradisional Sukadana”.


Selain itu, di samping cagar budaya tersebut masih tegak berdiri sebuah masjid. Masjid ini memiliki menara yang besar dan lumayan tinggi dan menandakan ketuaan umurnya. Tak ada prasasti atau semacamnya yang mununjukkan kapan menara masjid itu dibangun, namun H. Badri, salah seorang pengurus masjid tersebut, menunjukkan sebuah bangunan yang konon dipergunakan sebagai penanda waktu shalat di antara bangunan masjid dan menara tersebut. Di bangunan tersebut, tertulis tanggal 27 Oktober 1934. Menurutnya, tulisan tanggal tersebut konon dipercaya sebagai awal permulaan berdirinya Masjid An Nur.


Masjid seluas ukuran 14 x 14 m ini, awalnya terbuat dari  kayu nangi. Sebuah kayu lokal yang dulunya banyak ditemui di Sukadana. Namun kini, masjid ini telah mengalami beberapa renovasi dengan menambah serambi kiri, kanan dan depan dengan bangunan berbahan semen. Kendati demikian, di dalam masjid tersebut kekunaan yang dimilikinya masih terpancar dalam dua saka depan. Sedangkan, dua saka di belakangnya telah dilapisi semen sehingga kayunya tertutup.
Masjid ini dinamakan Masjid An Nur karena memang masjid ini didirikan oleh K.H. Muhammad Nur. Beliau adalah salah seorang pejuang dan penyiar agama Islam di Lampung. dan sekaligus merupakan pendiri pondok pesantren An Nur di Sukadana. *** [140113]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami