The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Pasuruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Pasuruan. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Sukorejo

Stasiun Kereta Api Sukorejo (SKJ) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukorejo, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 238 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III.
Stasiun ini terletak di Jalan Sukorejo-Bangil, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Pasar Sukorejo ± 50 meter.


Bangunan Stasiun Sukorejo ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Bangil-Sengon-Lawang-Malang yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatspoorwegen (SS) dari tahun 1878 hingga 1879 sebagai bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen). Jalur sepanjang 49 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Bangil menuju Malang. Pengerjaan jalur rel ini merupakan kelanjutan dari proyek jalur rel sebelumnya, yaitu Surabaya-Bangil-Pasuruan, tapi jalur rel ini yang mengarah ke selatan.


Stasiun ini memiliki 3 jalur. Jalur 1 digunakan sebagai sepur luruh, dan jalur 2 untuk persilangan. Sedangkan, jalur 3 digunakan untuk jalur buntu/darurat. Pada tahun 2012, penulis sempat naik kereta api ekonomi dari Stasiun Sukorejo menuju Surabaya setelah selesai melakukan Survey Financial Literacy Migrant Worker. Tapi dalam kunjungan terakhir ke stasiun ini (01/08/15), sudah tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini kecuali jika terjadi persilangan antarkereta api.
Stasiun ini memiliki bentuk bangunan stasiun yang hampir mirip dengan Stasiun Tanggulangin maupun Stasiun Singosari. Tidak memiliki atap pada peronnya, ruang tunggu maupuh hall terbuat dari konstruksi kayu dan fasilitas administratif yang terdiri atas ruang kepala stasiun/staff serta ruang sinyal menggunakan tembok. Di depan stasiun terdapat menara air yang juga dibangun oleh  Staatspoorwegen sebagai fasilitas pendukung stasiun tersebut.
Stasiun Sukorejo ini memiliki luas bangunan stasiun sekitar 229 m² di atas lahan seluas 9.066 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 135/08.67161/SKJ/PS. *** [010815]

Share:

Stasiun Kereta Api Bangil

Stasiun Kereta Api Bangil (BG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bangil, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 9 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun yang besar karena menjadi stasiun yang berada di persimpangan atau pertemuan jalur rel antara Surabaya – Probolinggo dan Surabaya - Malang.
Stasiun Bangil terletak di Jalan Gajah Mada, Desa Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini tidak begitu jauh dengan RSI Masyitoh.
Bangunan stasiun Bangil ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api dari Surabaya menuju Pasuruan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1876 oleh Staatspoorwegen, perusahaan milik negara yang mengelola kereta api di Hindia Belanda, dan selesai pada tahun 1878. Pimpinan proyek dalam pengerjaan jalur rel kereta api ini dipimpin oleh David Maarschalk, seorang anggota militer Belanda yang pernah terlibat dalam membuat desain jalur rel dari Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor).


Pengerjaan jalur Surabaya – Pasuruan ini memakan waktu sekitar dua tahun, dan diresmikan oleh Mr. J.W. van Lansberge, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 16 Mei 1878 di Spoorstation Semoet (sekarang Surabaya Kota). Setelah itu, pembangunan jalur rel dilanjutkan menuju ke Malang dari Bangil secara bertahap. Pada saat pengerjaan jalur rel menuju Malang inilah, stasiun Bangil ikut dibangun. Peresmian jalur ini dilaksanakan pada 20 Juli 1879.
Stasiun ini memiliki 8 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat (menuju Surabaya) dan timur (menuju Banyuwangi) serta jalur 3 sebagai sepur lurus arah selatan (menuju Malang hingga Blitar). Untuk saat ini, hampir semua kereta api yang melintasi jalur ini akan singgah di stasiun Bangil kecuali KA Bima dan KA Jayabaya.
Mengenai bentuk bangunan stasiun ini tergolong masuk bangunan stasiun kelas II. Meski bangunan stasiun ini berukuran 547 m² namun tanah stasiunnya lumayan luas, yaitu 71,064 m². Hal ini dikarenakan stasiun Bangil memegang peranan penting sebagai stasiun percabangan dua jalur utama ke Banyuwangi maupun Malang. Bangunan stasiun Bangil ini telah ditetapkan sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 123/08.67153/BG/PS. ***
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami