Kamis, 06 Agustus 2015

Stasiun Kereta Api Tanggulangin

Stasiun Kereta Api Tanggulangin (TGA) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tanggulangin, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 6 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Tanggulangin, Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur laut Kantor Kecamatan Tanggulangin ± 500 meter, atau tepat berada di rel yang membelah jalan utama Sidoarjo – Malang.


Bangunan Stasiun Tanggulangin ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini berhubungan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Surabaya-Bangil-Pasuruan sepanjang 63 kilometer oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatspoorwegen (SS) dari tahun 1876 hingga 1878 sebagai bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen). Pimpinan proyek ini dipegang oleh David Marschalk, seorang Inspektur Jenderal Staatspoorwegen dan insinyur sipil yang berpengalaman dalam membuat desain jalur rel. Marschalk memiliki pengalaman dalam mengerjakan jalur rel kereta api dari Batavia (kini Jakarta)-Buitenzorg (sekarang Bogor). Pengalamannya inilah yang menyebabkan ia dipercaya oleh Staatspoorwegen dalam mengerjakan proyek jalan kereta api yang pertama bagi perusahaan kereta api tersebut.
Setelah selesai, pembukaan jalur ini dilakukan secara meriah dan diresmikan oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda, Johan Wilhelm van Lansberge pada 16 Mei 1878. Peresmiannya dilakukan di Stasiun Surabaya Kota, dan kemudian dilanjutkan dengan mencoba jalur tersebut yang diikuti oleh para pejabat hingga StasiunPorong saja. Sehingga, Stasiun Tanggulangin ini termasuk salah satu stasiun yang dilewati oleh rombongan Gubernur Jenderal tersebut.


Stasiun Tanggulangin awalnya memiliki 4 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus serta jalur 1,3, dan 4 untuk persilangan. Akan tetapi, sekarang jalur 4 sudah dibongkar. Dulu, stasiun ini memegang peranan yang cukup strategis dalam perindustrian gula yang berkembang pesat di Sidoarjo. Kebutuhan akan keperluan untuk pabrik gula dipasok lewat stasiun ini. Begitu pula, ketika gula dari pabrik akan didistribusikan juga melalui stasiun ini.
Stasiun yang memiliki bangunan stasiun seluas 177 m² di atas lahan 4.835 m² ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 118/08.61272/TGA/SDA. Stasiun ini mempunyai peron namun tidak memakai atap yang memayunginya seperti pada stasiun besar yang pada umumnya terdapat di ibukota kabupaten. Konstruksi stasiun ini mirip dengan Stasiun Singosari di mana untuk ruang tunggu maupun hall terbuat dari kayu, sedangkan untuk fasilitas administratif, seperti ruang kantor kepala stasiun dan staf serta ruang sinyal terbuat dari tembok yang kokoh dengan jendela yang lumayan tinggi. Hanya saja, bangunan stasiun ini masih dikatakan beruntung jika dibandingkan dengan Stasiun Singosari karena stasiun ini masih mempunyai halaman parkir yang agak luas. Stasiun Singosari sama sekali langsung mepet dengan jalan yang melintas di depan stasiun tersebut.  *** [020815]

1 komentar:

  1. almarhum kakek saya pernah menjadi kepala stasiun tanggulangin ini
    rumah dinasnya dulu ada di dekat pintu kereta api sebelah kanan jalan...yang sekarng sudah nggak berpenghuni lagi

    BalasHapus