The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Sragen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Sragen. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Sumberlawang

Stasiun Kereta Api Sumberlawang (SUM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sumberlawang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 126 m di atas permukaan lain. Stasiun Sumberlawang terletak di Jalan Solo-Purwodadi Km. 30 Dukuh Jadaman, Desa Ngandul, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara Terminal Bus Sumberlawang atau Pasar Sumberlawang yang berjarak sekitar 700 meter, atau di depan Rumah Makan Bu Parti Garang Asem.


Bangunan Stasiun Sumberlawang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Tanggung-Kedungjati- Gundih-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1868 dan selesai pada tahun 1870 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, sepanjang 83 kilometer. Proyek jalur kereta api Tanggung-Kedungjati-Gundih-Solobalapan ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Samarang-Vorstenlanden.
Vorstenlanden merupakan istilah yang digunakan orang Belanda dalam sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki asli Jawa pecahan dari Dinasti Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.


Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara (menuju Gundih) dan selatan (menuju Solo). Stasiun ini dilewati oleh kereta api Kalijaga tujuan ke Purwosari dan Semarang Poncol, kereta api Brantas tujuan Kediri dan Tanahabang (Jakarta), serta kereta api Matarmaja tujuan ke Malang dan Pasar Senen (Jakarta). Namun demikian, karena daerah Sumberlawang masih tergolong sepi, stasiun ini hanya digunakan untuk persilangan saja. Aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang belum tampak pada stasiun ini.
Stasiun Sumberlawang ini merupakan stasiun kelas III/kecil, berbentuk persegi panjang dengan pintu utama berada di tengah bangunan yang atapnya agak menonjol ke depan, dan mengerucut ke atas. Bangunan stasiun ini memiliki ukuran 241 m². Stasiun ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 185/06/SUM/BD.
Perkeretaapian di wilayah Semarang-Vorstenlanden merupakan jalur kereta api yang didirikan pertama kali di Indonesia. Bangunan stasiun ini memiliki keunikan karena nilai historisnya. *** [211215]
Share:

Stasiun Kereta Api Salem

Stasiun Kereta Api Salem (SLM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Salem, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 146 m di atas permukaan lain. Stasiun Salem terletak di Jalan Solo-Purwodadi Km. 20 Desa Kwangen, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara perempatan palang Gemolong berjarak sekitar 100 meter, atau di depan Koperasi Simpan Pinjam Bhina Raharja Cabang Pembantu Gemolong.
Bangunan Stasiun Salem ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Tanggung-Kedungjati- Gundih-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1868 dan selesai pada tahun 1870 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, sepanjang 83 kilometer. Proyek jalur kereta api Tanggung-Kedungjati-Gundih-Solobalapan ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden.


Vorstenlanden merupakan istilah yang digunakan orang Belanda dalam sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki asli Jawa pecahan dari Dinasti Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara (menuju Gundih) dan selatan (menuju Solo). Stasiun ini dilewati oleh kereta api Kalijaga tujuan ke Purwosari dan Semarang Poncol, kereta api Brantas tujuan Kediri dan Tanahabang (Jakarta), serta kereta api Matarmaja tujuan ke Malang dan Pasar Senen (Jakarta).
Stasiun Salem ini merupakan stasiun kelas III/kecil, berbentuk persegi panjang dengan bangunan stasiun berukuran 198 m². Stasiun ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 189/06/SLM/BD.
Perkeretaapian di wilayah Semarang-Vorstenlanden merupakan jalur kereta api yang didirikan pertama kali di Indonesia. Bangunan stasiun ini memiliki keunikan karena nilai historisnya. *** [211215]
Share:

Stasiun Kereta Api Masaran

Stasiun Kereta Api Masaran (MSR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Masaran, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 93 m di atas permukaan lain. Stasiun Masaran terletak di Jalan Stasiun, Kauman RT. 03 RW. 01 Desa Masaran, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di samping Toko Lisa, atau sebelah selatan palang sepur Masaran.
Bangunan Stasiun Masaran ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Madiun-Paron-Sragen-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 97 kilometer.


Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah barat (menuju Solo) dan timur (menuju Sragen). Pada saat ini, di stasiun ini sedang ada pengerjaan penambahan jalur rel lagi sehingga kelak akan menjadi 3 jalur rel kereta api. Hal ini untuk menunjang jalur double track hingga Stasiun Madiun.
Stasiun Masaran ini merupakan stasiun kelas III/kecil, berbentuk persegi panjang dengan bangunan stasiun berukuran 134 m². Stasiun ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 150/06/MSR/BD.
Di stasiun ini tidak terlihat aktivitas menaikkan atau menurunkan penumpang karena stasiun ini hanya digunakan untuk persilangan kereta api saja. Bila dilihat dari bangunannya, stasiun ini sebenarnya layak untuk layanan kereta api. Akan tetapi, karena lokasinya yang masih dekat dengan Stasiun Sragen maupun lokasinya masih berada persawahan, masih dianggap belum prospektif. *** [141215]
Share:

Stasiun Kereta Api Sragen

Stasiun Kereta Api Sragen (SRG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sragen, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 86 m di atas permukaan lain. Stasiun Sragen terletak di Jalan Salak No. 1 Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di tenggara Masjid Raya Al-Falah Sragen, atau barat Pasar Bunder Sragen.


Bangunan Stasiun Sragen ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Madiun-Paron-Sragen-Solobalapan. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, sepanjang 97 kilometer.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat (menuju Solo) dan timur (menuju Paron). Beberapa meter dari rel jalur 4 terdapat Pabrik Gula (PG) Mojo. Pada waktu itu, pengangkutan gula dari PG Mojo juga melalui Stasiun Sragen ini. Oleh karena itu, seringkali Stasiun Sragen disebut juga dengan Stasiun Mojosragen.
Stasiun Sragen ini merupakan stasiun kelas I, dan berbentuk persegi panjang. Di depan pintu utama stasiun terdapat tambahan teras yang berbentuk gevel. Sedangkan, layanan untuk kereta api di Stasiun Sragen pada saat ini terdiri dari kereta api Brantas, Sri Tanjung, Logawa, dan Madiun Jaya. *** [141215]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami