The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya di Blitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya di Blitar. Tampilkan semua postingan

LAPAS Klas IIB Blitar

Sewaktu menunggu dijemput ibu-ibu kader Kepanjen yang terlebih dahulu berada di Kota Blitar, saya pun menunggu di Alun-Alun Kota Blitar. Hal ini dilakukan agar mudah menemukannya, karena keberadaan alun-alun di suatu daerah pasti mudah dikenali.
Sambil menunggu jemputan, saya pun berusaha berkeliling di sekitaran alun-alun itu. Pada saat mengelilingi alun-alun di sebelah timur, saya melihat bangunan lawas dan luas. Ukurannya tampak muka dari bangunan kuno itu seimbang dengan ukuran lebar yang dimiliki oleh alun-alun itu.
Bangunan lawas itu merupakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Blitar. Lapas ini terletak di Jalan Merapi No. 2 RT. 04 RW. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Lapas ini berada di sebelah timur Alun-Alun Kota Blitar.
Menurut catatan sejarah yang ada, bangunan lapas ini didirikan pada tahun 1881 oleh pemerintah Hindia Belanda setelah alun-alun selesai dibangun. Dulu, masih bernama Rumah Penjara Blitar atau dalam bahasa Belandanya, De Gevangenis in Blitar lag aan de zuidkant van de alon-aloon (Penjara di Blitar berada di sisi selatan alun-alun).


Dalam tata letak alun-alun, diterapkan sebuah pakem Catur Tunggal yang juga digunakan oleh daerah-daerah lain di wilayah Jawa Timur seperti Lumajang, Probolinggo dan Jember, yakni dikelilingi oleh kediaman penguasa pada bagian utara, penjara pada bagian timur, kantor pemerintahan pada bagian selatan, dan masjid pada bagian barat. Jadi, penjara atau lapas umumnya berada di sebelah timur alun-alun. Bagi pemerintah Hindia Belanda, lokasi penjara yang demikian itu juga memungkinkan untuk mempermudah garis koordinasi antara penguasa dengan tempat tahanan.
Dalam laporannya Holterman yang termuat di Rapport internering Blitar (Laporan internal Blitar) dijelaskan, bahwa pada masa kepemimpinan A. Badal kondisi penjara kurang baik. Asupan nutrisi untuk para tahanan sangat sedikit. Selnya berjubel melebihi kapasitas. Hal ini juga diceriterakan oleh Walraven ketika berkesempatan mengunjungi penjara yang ada di sebelah timur alun-alun itu, bahwa penjara itu ‘jelek’.


Dalam perjalanannya, bangunan penjara yang memiliki luas 6.070 m² ini pernah mengalami beberapa kali perubahan nama. Di awali dari nama Rumah Penjara Blitar (1881-1964), kemudian berganti menjadi Lembaga Pemasyakatan Blitar (1964-1995), dan pada 1995-2003 bangunan itu berganti nama menjadi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Blitar. Selajuntnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.05.PR.07.03 Tahun 2003 Tanggal 16 April 2003, bangunan peninggalan Hindia Belanda berubah nama lagi menjadi Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Blitar. Oleh karena itu, bangunan tersebut sekarang dikenal dengan Lapas Klas IIB Blitar.
Lembaga pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat melaksanakan pembinaan narapidana, dan anak didik pemasyarakatan, termasuk juga dengan apa yang dilakukan oleh Lapas Klas IIB Blitar ini. Lapas ini juga melaksanakan tugasnya dengan melakukan pembinaan narapidana/anak didik, memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil kerja, dan melakukan bimbingan sosial/kerohanian narapidana/anak didik. Hal ini bertujuan agar supaya para narapidana atau anak didik pemasyarakatan setelah bebas bisa menjalani hidupnya secara ‘normal’ kembali. *** [100718]

Share:

Jembatan Lahor Karangkates

Usai meeting membahas Scaling Up SMARThealth di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, saya bergegas memacu sepeda motor Honda REVO tahun 2015 untuk menyusul ibu-ibu kader Kepanjen yang sedang melakukan touring ke Kota Blitar. Perjalanan dari Kepanjen menuju ke Blitar pun saya lakoni dengan kecepatan sedang. Setelah jalan besar sesudah melewati jembatan yang melintasi Sungai Lahor menanjak dan berbelok-belok, saya berhenti di tepi jalan di mana saya bisa melihat jembatan kereta api yang tinggi melintasi Sungai Lahor. Jembatan kereta api itu dikenal dengan Jembatan Lahor Karangkates (Spoorbrug op de Lahor-rivier bij Karangkates). Jembatan ini terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Di sebelah timur jembatan masuk dalam wilayah administrasi Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, dan ujung jembatan yang berada di sebelah barat masuk Dusun Ngelahor, Desa Selorejo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.


Pembangunan jembatan ini berkaitan dengan adanya proyek pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer yang dikerjakan oleh Staatsspoorwagen (SS), dari tahun 1895 sampai dengan tahun 1897. SS adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1875. SS menjadi perusahaan besar pesaing Nederlandsch-Indische Spooweg Maatschappij (NIS).
SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Surakarta-Yogyakarta, yang berlanjut dari Surakarta ke Madiun. Sementara itu, SS Westerlijnen menguasai jalur selatan Jawa Tengah hingga Priangan. Mulai dari Yogyakarta menuju Kroya, di mana terdapat percabangan lintas selatan menuju Priangan selatan hingga Bandung-Bogor via Sukabumi dan utara menuju Cirebon hingga Batavia. Dari Batavia, jalur SS masih berlanjut hingga ujung barat Pulau Jawa.


Proyek jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api lintas timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jalur kereta api sepanjang 55 kilometer itu, pembangunannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1987.
Melihat keberadaan Jembatan Lahor berada di antara Stasiun Pohgajih dan Stasiun Sumberpucung, maka berarti Jembatan Lahor itu masuk dalam pembangunan tahap kedua. Jadi, Jembatan Lahor selesai dibangun pada tahun 1897.
Jembatan tua peninggalan Hindia Belanda ini sekarang menjadi salah satu spot menarik untuk foto-foto. Pemandangannya indah dengan lembah yang dalam dan menghijau serta latar belakang Bendungan Sutami dengan 3 batang cerobong PLTA Sutami, menjadi panorama eksotis yang memanjakan mata terlebih bila bisa menyaksikan kereta api yang melintas di atas Jembatan Lahor tersebut. *** [100718]
Share:

GPIB Jemaat Eben Haezer Blitar

Bangunan yang ada di suatu daerah merupakan simbol dari zaman yang pernah berlangsung pada saat itu. Di Kota Blitar, terdapat banyak bangunan lawas peninggalan masa Hindia Belanda yang didirikan. Salah satunya adalah Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Eben Haezer.
Gereja ini terletak di Jalan P.B. Sudirman No. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di selatan SMK Katolik Santo Yusup, atau sebelah utara PLN UPJ Blitar.
Dalam tulisannya Voorlopig overzicht van Nederlands kerkelij ergoed in Indonesië uit de periode 1815-1942 (Versi Oktober 2012), Chr. G.F. de Jong menjelaskan bahwa, bangunan GPIB ini adalah bekas bangunan Indische Kerk (voormalig gebouw Indische Kerk). Bangunan gereja ini didirikan pada tahun 1932 berdasarkan tulisan dalam sebuah prasasti berbentuk plakat yang tertempel di dinding, depan pintu masuk. Prasasti berbahasa Belanda itu menerangkan bahwa peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh W. van Hattem pada 9 Maret 1932.


Indische Kerk itu kependekan (nama singkat) dari Het Protestan Kerk in Nederlandsch-Indië, yakni kesatuan gereja-gereja Protestan di Indonesia yang dibentuk oleh pemerintah Kerajaan Belanda di Hindia Belanda pada tahun 1815 (baru rampung pada tahun 1835). Di dalam gereja ini segala sesuatu diurus oleh negara mulai dari tanah dan gedung gereja (biasanya yang dekat alun-alun). Oleh karena itu, Indische Kerk acapkali dikenal dengan gereja pemerintah (Staatskerk).
Pada masa pendudukan Jepang, Indische Kerk ini ditinggalkan oleh pendeta dan jemaat yang umumnya terdiri dari orang-orang Belanda. Sehingga, gereja ini sempat mengalami kevakuman dalam aktivitas gerejani. Kemudian setelah Jepang hengkang, dan Blitar kembali ke Hindia Belanda lagi maka gereja ini mulai aktif kembali secara penuh.


Pada 30 Mei – 10 Juni 1948 di Bogor diadakan Sidang Sinode Am Gereja Protestan Indonesia (GPI). Dalam sidang itu dibahas juga sisa wilayah GPI di luar GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), GPM (Gereja Protestan Maluku) dan GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) yang juga memerlukan pelayanan gerejawi. Keputusan Sidang Sinode Am itu akhirnya memutuskan mengenai pembentukan gereja yang keempat di wilayah GPI yang tidak terjangkau ketiga gereja tersebut (GMIM, GPM, dan GMIT), diproses dalam waktu singkat, yaitu 3 bulan lamanya, dan pada 31 Oktober 1948 terwujudlah GPIB (De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesië).
Dari hasil Sidang Sinode Am itu berarti gereja-gereja Protestan di Indonesia selain GMIM, GPM, dan GMIT berkembang dari gereja-gereja warisan pemerintah Hindia Belanda yang disebut Indische Kerk. Jadi dengan demikian, GPIB Jemaat Eben Haezer yang ada di Blitar ini juga merupakan bagian dari GPI.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini mencirikan gaya arsitektur Neo-Gothic yang ditandai dengan menara menjulang yang berada di atas pintu masuk utama gereja ini. Di samping itu, bangunan gereja ini juga memiliki impresi ramping dan tinggi. Kesan bangunannya sebagai warisan kolonial pun masih terlihat dengan jelas. Sehingga, sudah selayaknya bangunan GPIB Jemaat Eben Haezer ini menjadi bagian dari konservasi bangunan lawas yang ada di Kota Blitar. *** [100718]

Share:

Stasiun Kereta Api Talun

Stasiun Kereta Api Talun (TAL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Talun, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 244 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3 atau stasiun kecil yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT.02 RW.01 Kelurahan Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Kantor Camat Talun, atau selatan lampu merah Talun.
Bangunan Stasiun Talun ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1896, dan selesai pada tahun 1897.


Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Setelah jalur rel Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884, maka dilanjutkan pembangunan jalur rel Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896.
Pembukaan jalur kereta api Blitar-Wlingi ini juga merupakan hasil dari desakan yang telah disampaikan oleh para pengusaha yang tergabung dalam Blitarsche Landbouwvereeniging pada 10 Oktober 1889. Dengan demikian sejak itu pengangkutan produk perkebunan dengan kereta api dari Blitar ke Surabaya dapat juga melalui Kepanjen dan Malang. Pada 1900 hampir semua kota-kota di Jawa Timur sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas Belanda di Blitar. Dengan tersedianya jaringan kereta api tersebut, wilayah Blitar dapat memiliki akses menuju pelabuhan atau pusat layanan ekspor.


Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.
Stasiun Talun memiliki 3 jalur. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Garum) maupun ke arah timur (Stasiun Wlingi). Jalur 1 dan 3 digunakan untuk jalur langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, atau pas ada simpangan kereta api di jalur tersebut.
Dari tiga jalur tersebut, terdapat 2 peron. Satu peron sisi yang rendah dan 1 peron pulau yang rendah juga. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.
Namun demikian, stasiun ini masih tergolong beruntung karena masih disinggahi KA Penataran, sehingga setiap harinya masih tampak adanya aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. *** [170716]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami