The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Mengenal Masyarakat Tengger di Sukapura

Pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2015 sebelum peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka, penulis berkesempatan mengikuti Pilot Test yang diselenggarakan oleh Regional Economic Development Institute (REDI) bekerjasama dengan EP-Performance Oversight and Monitoring Jakarta dalam Field Survey EOPO 1 Endline Evaluation.
Kesempatan ini menyenangkan sekali bagi penulis karena selain melaksanakan tugas di tempat yang begitu dingin udaranya, juga bisa menyalurkan naluri sosiologisnya untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat setempat di sekitar lokasi pilot test tersebut maupun base camp. Base camp kebetulan berada tidak jauh dengan Kantor Kecamatan maupun Polsek Sukapura, atau tepatnya adalah Hotel Sukapura Permai yang terletak di Jalan Raya Bromo No. 135 Sukapura, Probolinggo. Hotel ini berjarak 18 kilometer ke Gunung Bromo namun memerlukan sedikitnya waktu 40 menit mengingat jalannya terus menanjak dan berkelok-kelok.
Biasanya penulis mengawali keingintahuan mengenal lebih dekat dengan masyarakat di sana, bermula dari pertanyaan etimologi dan epistemologi yang menjadi predikat masyarakat itu sendiri dan terus mengalir dengan sendirinya. Tentunya, proses ini hanya bisa dijalankan ketika penulis telah melakukan tugas wajibnya. Pada saat mencari makan siang atau malam, penulis bisa melempar pertanyaan di warung makan, hotel tempat menginap maupun di tempat lain saat penulis bersantai. Dari informasi yang didapat itulah, penulis bisa melakukan triangulasi dengan penelitian yang lain atau melalui kepustakaan yang ada.




Letak Geografis Sukapura
Kecamatan Sukapura merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Probolinggo yang terletak sekitar 35 kilometer ke arah barat daya dari kantor pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Sukapura mencapai 10.208,53 hektar atau 102,08 kilometer persegi. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Lumbang, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Sumber, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
Dilihat dari topografinya, Kecamatan Sukapura berada di lereng Pegunungan Tengger yang terkenal dengan Gunung Bromonya, dengan ketinggian 600-1.850 meter dari permukaan air laut. Sehingga, semua desa di Kecamatan Sukapura berada pada desa lereng/punggung bukit, dan suhu udara dingin. Tanahnya banyak mengandung mineral yang berasal dari letusan gunung berapi yang berupa pasir batu, lumpur bercampur tanah liat yang berwarna kelabu. Sifat tanah semacam ini memiliki tingkat kesuburan yang baik sehingga sangat cocok untuk menanam sayur-sayuran, seperti kentang, kol, wortel, sawi, tomat, dan sebagainya.
Dari 12 desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Sukapura, penulis berkesempatan berkeliling ke Desa Sukapura, Desa Sariwani, dan Desa Ngadisari, yang cukup untuk mengenal masyararakat Tengger secara umum di Sukapura. Karena Kecamatan Sukapura ini merupakan bagian dari wilayah adat suku Tengger bagian timur (Sabrang Wetan), terutama terasa kental di Desa Ngadisari yang berhadapan langsung dengan Gunung Bromo. Sedangkan, wilayah Sabrang Kulon diwakili oleh Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Dalam skala yang lebih luas, sesungguhnya daerah Tengger tidak hanya melingkupi wilayah Sabrang Kulon dan Sabrang Wetan saja melainkan luas daerah Tengger kurang lebih 40 kilometer dari utara ke selatan, 20-30 kilometer dari timur ke barat, di atas ketinggian 1.000 – 3.675 meter. Luas tersebut meliputi empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Tiper permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger, atau masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah Segoro Wedhi, adalah lautan pasir yang sangat luas yang berada pada ketinggian 2.300 meter dengan panjang 5-10 kilometer. Kawah Gunung Bromo dengan ketinggian 2.392 meter, dan masih aktif. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter.




Asal Mula Orang Tengger
Nama Tengger, berdasarkan salah satu legenda masyarakat, berasal dari paduan suku kata terakhir dari nama dua nenek moyang mereka, Rara Anteng dan Jaka Seger (teng dan ger). Rara Anteng dipercaya sebagai putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, sementara Jaka Seger diyakini sebagai putra seorang brahmana yang bertapa di dataran tinggi Tengger (Legendanya bisa dibaca di sini).
Sehingga, masyarakat Tengger pada umumnya meyakini nenek moyang orang Tengger adalah keturunan Majapahit. Pada waktu itu, Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Kemuduran ini disebabkan dari dalam kerajaan sendiri maupun dari luar kerajaan. Bersamaan itu pula, penyebaran agama Islam di Jawa sedang dilakukan oleh para sunan yang berafiliasi dengan Kerajaan Demak.
Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Demak pada saat itu mengalami ketidakharmonisan. Ketidakharmonisan tersebut menyebabkan penduduk Majapahit memilih untuk melarikan diri ke daerah Bali dan ke pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Yang melarikan diri ke Bali, akhirnya melahirkan kebudayaan Bali. Begitu pula, yang memilih tinggal di pedalaman sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru pada akhirnya juga menurunkan orang-orang Tengger yang kita kenal, dan sekaligus membentuk kebudayaannya sendiri yang seolah-olah memisahkan diri dari kebudayaan Majapahit yang sangat India-sentris.
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan Hindu Dharma di Bali maupun Hindu-Siwa di Majapahit. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger lebih ke Hindu Mahayana yang telah bercampur dengan adat istiadat setempat. Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih roh leluhur yang bersemayam di Gunung Bromo sehingga mereka lebih suka memuja Roh Gunung atau persembahan kepada Sang Hyang Gunung Brahma. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo.
Perayaan Kasodo adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14,15, atau 16 bulan Kasodo, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra sulung Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban untuk melindungi orang Tengger dari bencana alam dahsyat.
Gunung Bromo yang dianggap sebagai tempat suci orang Tengger digunakan sebagai persembahan hewan ternak dan hasil bumi pada perayaan Kasodo. Upacara dimulai di Pura Luhur Poten Gunung Bromo, sebuha pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo, dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Persembahan-persembahan tersebut nantinya akan dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.


Kearifan Lokal Orang Tengger
Bentuk-bentuk kerarifan lokal dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Tengger di Sukapura kental akan nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan lokal, di antaranya adalah tata nilai yang dikembangkan oleh masyarakat Tengger dalam mengatur tentang etika penilaian baik-buruk serta benar atau salah.
Masyarakat Tengger di Sukapura memiliki ketentuan adat berupa aturan-aturan adat dan hukum adat yang berfungsi sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat untuk mencegah timbulnya ketegangan sosial yang terjadi dalam masyarakat, seperti tidak boleh menyakiti atau membunuh binatang kecuali untuk korban atau dimakan, tidak boleh mencuri, tidak boleh melakukan perbuatan jahat, tidak boleh berdusta, dan tidak boleh minum-minuman yang memabukkan.
Sejak zaman Majapahit, dataran tinggi Tengger dikenal sebagai daeraht titileman, yaitu suatu daerah terbebas dari membayar pajak. Mereka telah lama mendiami kawasan Tengger dalam damai dan bahagia. Thomas Stamford Raffles, yang menjadi Letnan Gubernur Jawa ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda, pada 11 September 1815 melaporkan perjalanannya ke beberapa distrik di Jawa bagian timur lewat pidato di depan Masyarakat Seni dan Sains Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Saat berkunjung ke kawasan Tengger, ia dapati masyarakat Tengger hidup dalam damai, tertib, teratur, rajin bekerja, jujur, dan selalu riang-gembira.
Selanjutnya, dalam The History of Java ia menulis, mereka tidak mengenal candu dan judi. Ketika ia tanyakan tentang pencurian, perselingkuhan, perzinahan, atau berbagai kejahatan lainnya, mereka para orang gunung itu menjawab, hal-hal buruk itu tidak ada di Tengger.
Ayu Sutarto, seorang budayawan dan peneliti tradisi dari Universitas Jember yang juga menjabat wakil ketua Masyarakat Peduli Bromo melalui makala yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal 7-10 Agustus 2006 silam menyatakan, kejujuran dan ketulusan orang Tengger masih dapat dilihat sampai hari ini. Angka kejahatan di desa-desa Tengger pada umumnya hampir selalu nol. Suasana damai, tenteram, aman, dan penuh toleransi yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger dapat dijadikan acuan dalam periode formatif Indonesia modern. Tengger adalah sebuah pusaka saujana (cultural landscape) yang apabila dibina dan dikelola dengan benar, eksistensinya akan memberi sumbangan yang lebih berarti bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi Indonesia. *** [130815]

Kepustakaan:
Ayu Sutarto, 2006. Sekilas tentang Masyarakat Tengger, dalam Makalah yang disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006
__________ , 2013. Hikayat Wong Tengger: Kisah Peminggiran dan Dominasi, Pentingnya Meningkatan Keberdayaan Masyarakat Tengger untuk Melestarikan Kawasan Konservasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, __________
http://probolinggokab.bps.go.id/data/publikasi/publikasi_79/publikasi/files/search/searchtext.xml
Share:

Klenteng Tjoe Ling Kiong

Bagi orang Tionghoa, klenteng bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga sebagai tempat interaksi sosial serta ekonomi. Itulah sebabnya kehadiran sebuah klenteng menjadi sangat penting dalam masyarakat Tionghoa, terutama daerah Pecinan di suatu kota. Masyarakat Tionghoa diyakini keberadaannya di Tuban sudah sejak lama.
Berdasarkan sejarah, Ma Huan, seorang penerjemah dari Laksamana Cheng Ho, yang ikut mendampingi ekspedisi besarnya, mengatakan bahwa di Tuban waktu itu sudah terdapat permukiman orang Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guangdong dan Fujian, tepatnya daerah Zhangzhou dan Guanzhou. Di Tuban, mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai “seribu keluarga lebih”.
Banyaknya orang Tionghoa yang bermukim di Tuban kala itu, berusaha mendirikan klenteng sebagai tempat peribadatan mereka. Di Tuban, terdapat dua klenteng yang telah berusia ratusan tahun lebih. Salah satunya adalah “Ciling Gong” atau dalam dialek Hokkian disebut sebagai “Tjoe Ling Kiong”. Papan nama yang dipasang di depan tempat peribadatan tersebut adalah “Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Ling Kiong”. Klenteng ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 104 Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah utara alun-alun Tuban, dekat jalan yang menjadi pintu masuk menuju Pantai Boom.
Seperti biasa, klenteng ini didominasi oleh warna merah, kuning dan hijau, sehingga dari alun-alun terlihat kekhasan bangunan klenteng tersebut. Meski tidak memiliki tempat parkir yang cukup bagi umat maupun pengunjungnya, tidak serta merta mengurangi kemegahan klenteng ini. Masyarakat setempat menyebut klenteng ini dengan sebutan “klenteng perempuan”.


Klenteng Tjoe Ling Kiong merupakan tempat peribadatan pemeluk ajaran Tri Dharma, yang terdiri atas agama Buddha, Tao dan Konghucu. Eksistensi klenteng ini dipersembahkan untuk Dewi Tianhou. Tianhou atau Ma Zu atau Mak Co (Hokkian), juga dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu (Mandarin) atau Thian Siang Sing Bo, adalah dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian (Hokkian). Banyak klenteng Tianhou menyebar sepanjang kota-kota pantai di Asia Tenggara. Tapi di samping altar utamanya juga terdapat patung dewa lain, yaitu Fude Zhengshen dan Jialian. Fude Zhengshen adalah Dewa Bumi dan Kekayaan. Oleh orang Fujian disebut sebagai Hok tek ceng sin atau Toa pe kong (Dabo gong, istilah Mandarinnya). Dewa ini juga banyak didapati pada klenteng-klenteng di seluruh Jawa.
Sulit diketahui kapan berdirinya klenteng ini, karena tidak ada inskripsi yang tertinggal mengenai kapan diresmikannya bangunan tersebut. Di dalam klenteng ini terdapat inskripsi tentang restorasi yang dilakukan pada tahun 1850. Jadi diperkirakan klenteng tersebut sudah ada jauh sebelum tahun 1850.
Pada tahun 1980 bagian depan klenteng tersebut dirobohkan berhubung adanya pelebaran jalan. Sangat disayangkan bahwa klenteng yang sangat bersejarah ini terpaksa bagian depannya harus dibongkar karena alasan adanya pelebaran jalan. *** [190913]

Kepustakaan:
Samuel Hartono, et.al, 2005, Alun-Alun dan Revitalisasi Identitas Kota Tuban, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33 No.1, Desember 2005 atau http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals
Share:

Klenteng Kwan Sing Bio

Banyak orang menganggap bahwa klenteng Kwan Sing Bio atau Guansheng Miao merupakan klenteng yang tertua di Indonesia. Meskipun mitos ini belum pernah terbukti, tapi banyak orang Tionghoa percaya, sehingga klenteng ini sekarang menjadi klenteng paling penting di Pulau Jawa.
Klenteng Kwan Sing Bio terletak di Jalan Martadinata No. 1 Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini tepat berada di pinggir jalan raya pantura yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan menghadap ke Laut Jawa. Cukup mudah menuju ke klenteng ini karena banyak angkutan umum yang melintasinya.


Klenteng Kwan Sing Bio merupakan tempat ibadah bagi penganut agama Buddha, Tao dan Konghucu, atau yang biasa dikenal dengan Tri Dharma. Tempat ibadah ini dipersembahkan kepada Dewa Kwan Kong. Selaras dengan hal itu, Kwan Sing Bio memiliki makna klenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong. Ulang tahun dari dewa ini dirayakan pada tanggal 24 bulan keenam pada sistem penanggalan Tionghoa. Sehingga pada setiap tahun pada tanggal ini banyak peziarah dari seluruh Jawa datang ke Tuban untuk merayakan hari ulang tahun ini.
Sebelum memasuki klenteng, terdapat sebuah gerbang yang sangat unik di mana di bagian atas gerbang tersebut terdapat hiasan seekor kepiting yang berukuran sangat besar. Mungkin hanya klenteng ini yang memiliki hiasan seperti itu di Indonesia. Konon, kepiting yang menjadi ikon klenteng Kwan Sing Bio dibangun pada tahun 1973, berkaitan dengan sejarah awal dibangunnya klenteng ini. Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan areal tambak yang dihuni banyak kepiting, dan setiap malam selalu keluar. Akhirnya, untuk mengenang tempat awal didirikannya klenteng tersebut, digunakanlah hewan kepiting tersebut sebagai hiasan di klenteng Kwan Sing Bio. Klenteng ini diperkirakan didirikan pada tahun 1773, tapi inskripsi tertua yang terdapat di klenteng ini berangka tahun 1871.


Bangunan utama klenteng Kwan Sing Bio terbagi menjadi 3 ruangan. Ruang pertama yang menempati bagian depan dipergunakan untuk membakar hio. Di situ, terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran.
Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang, serta menaruh buah-buahan persembahan. Sedangkan, ruang ketiga yang ada di bagian belakang terdapat arca atau patung Dewa Kwan Kong, dan arca-arca lain yang dikeramatkan. Di depan patung Dewa Kwan Kong ini biasanya umat atau pengunjung klenteng melakukan ritual jiam sie untuk berbagai keperluan seperti kelancaran usaha, menerawang peruntungan nasib dan jodoh serta lainnya. Pengunjung tidak diperbolehkan memotret di daerah ini.
Di halaman belakang klenteng Kwan Sing Bio terdapat bangunan megah laksana Kaisar dari Tiongkok. Istana itu dilengkapi dengan gerbang, kolam, jembatan kelok Sembilan, gazebo, dan lainnya. Bila Anda di sini, seolah-olah sedang berada di Negeri China.
Kompleks klenteng ini memiliki luas areal sekitar 4 – 5 hektar dengan berbagai bangunan dan fungsi yang menjadikan klenteng ini dikenal sebagai klenteng terbesar, dan indah arsitekturnya di Indonesia. Didominasi warna merah, kuning dan hijau yang terang pada bangunannya dengan banyak hiasan naga, lampion, dan lilin berbagai ukuran menambah keindahan klenteng tersebut.
Pada hari ulang tahun klenteng tersebut yang terjadi pada setiap tahun, diadakan upacara-upacara yang dihadiri oleh banyak penganutnya dari seluruh tanah air. Di antaranya dengan melepaskan kura-kura sebagai lambang rezeki dan panjang umur di laut lepas.  *** [210913]
Share:

Makam Sunan Bonang

Kompleks makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di belakang Masjid Agung Tuban. Kurang lebih 300 m dari alun-alun mengarah ke barat daya.
Makam Sunan Bonang merupakan salah satu dari makam Sunan di Jawa Timur yang menempati posisi penting setelah Sunan Ampel dan Sunan Giri. Jika orang berziarah makam wali, maka dapat dipastikan akan berziarah ke makam ini. Sunan Bonang menempati posisi kedua setelah Sunan Ampel dalam jajaran kewalian. Ia menjadi guru beberapa wali lain, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Drajat dan bahkan Sunan Giri (Raden Paku) juga pada tahap awal belajar kepadanya.
Kompleks makam Sunan Bonang di Tuban, ditinjau dari segi arkeologi cukup menarik. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bangunan yang ada di kompleks makam masih dalam keadaan asli, walaupun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.


Kompleks makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dan terbagi menjadi tiga halaman yang disusun berurut ke belakang dari arah selatan ke utara, masing-masing halaman dibatasi pagar tembok penghubung antara halaman satu dengan yang lain berupa gerbang  berbentuk paduraksa.
Di halaman dalam banyak ditemukan nisan-nisan kuno dari batu andesit. Di kompleks tersebut, selain makam Sunan Bonang juga terdapat makam para Bupati dan kerabat Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang terdiri dari jirat dan nisan. Bentuk jirat makam Sunan Bonang seperti profil candi. Pada nisan makam Sunan Bonang terdapat hiasan yang menyerupai hiasan surya Majapahit, dan makam Sunan Bonang dilindungi sebuah cungkup dengan atap sirap dari kayu jati yang berukir. Makam Sunan Bonang masih ditutupi lagi dengan kelambu, sehingga terkesan sangat keramat. Di kompleks tersebut juga ada sebuah masjid kecil yang dikenal dengan Masjid Astana.

Latar Belakang Sejarah
Semasa mudanya, Sunan Bonang bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim, lahir 1448 Masehi dan wafat 1525 Masehi. Beliau adalah putra Sunan Ampel hasil perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, putri Aryo Tejo, Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban.
Menurut cerita, Sunan Bonang bersama Raden Paku (Sunan Giri) suatu hari bermaksud pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanannya mereka hanya sampai di Samudra Pasai. Di Pasai, mereka berjumpa dengan ayahanda Raden Paku yang bernama Maulana Iskak (Syeh Wali Lanang). Keduanya diajarkan ilmu agama Islam dan berbagai ilmu lainnya oleh Maulana Iskak. Setelah selesai belajar pada Maulana Iskak kemudian Raden Paku (Sunan Giri) diberi gelar Raden Satmapta dan Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) diberi gelar Raden Tjakrakusuma. Atas nasehat Syeh Maulana Iskak, keduanya tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Mekkah, tetapi pulang ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Raden Paku menyebarkan ajaran Islam di daerah Giri, Gresik, yang akhirnya terkenal dengan sebutan/gelar Sunan Giri.
Raden Maulana Makdum Ibrahim menyebarkan agama Islam di daerah Bonang, Tuban dan Lasem, yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan/gelar Sunan Bonang. Secara kebetulan pada saat Sunan Bonang mulai aktif berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam, pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit mulai runtuh dan hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk mempercepat penyebaran agama Islam dengan mendirikan pesantren-pesantren dan masjid-masjid. Selain itu, Sunan Bonang juga berusaha memasukkan ajaran agama Islam kepada Raden Patah, seorang putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Halaman 1
Pada halaman pertama terdapat dua bangunan pendapa, dan terletak bersebelahan. Bangunan pendapa itu bentuknya limasan dengan konstruksi bangunan kayu, namun tidak berdinding.
Unsur bangunan yang perlu diperhatikan di sini adalah umpak-umpaknya, yang berwarna putih dan terbuat dari tulang ikan pari. Fungsi bangunan semacam itu selain untuk istirahat, pada waktu-waktu tertentu dipergunakan sebagai tempat selamatan.
Di tempat lain seperti di kompleks makam raja-raja Kota Gede Yogyakarta, bangunan semacam itu disebut sebagai paseban, dan dipakai oleh para peziarah mempersiapkan diri sebelum masuk ke makam utama. Sungguh tepat sekali jika di halaman pertama ini tersedia bangunan seperti itu, karena di sini kita dapat melepaskan lelah sejenak sambil menyeka keringat sebelum menuju ke makam utama.

Halaman 2
Untuk masuk ke halaman kedua, kita melewati sebuah paduraksa yang terbuat dari bata. Jika paduraksa sebagai pintu gerbang kompleks biasanya beratap sirap, maka lain halnya paduraksa ini yang kesemuanya terbuat dari bata. Pintunya teruat dari kayu, dan dihiasi dengan ukir-ukiran yang indah. Di kanan kiri gapura terdapat lubang, sehingga dinding tembok tersebut dapat dipakai untuk jalan. Besar kemungkinannya bahwa dinding tembok gapura ini dahulu tidak berlubang, tetapi karena pertimbangan teknis, pada saat ini tembok tersebut dijebol untuk mengatasi arus pengunjung. Gapura ini mempunyai hiasan yang cukup menarik yang berbentuk geometris, motif sulur-sulur daun, dan hiasan tumpal. Pada tubuh gapura tersebut, dihiasi dengan piring-piring China. Hiasan seperti itu, menyerupai hiasan tubuh candi yang biasanya disebut dengan istilah medallion.


Pada halaman ini terdapat beberapa bangunan fasilitas seperti kamar mandi, WC, serta bangunan masjid yang menurut keterangan dibangun pada tahun 1921. Selain bangunan fasilitas, di sini juga terdapat beberapa tinggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan, dan peti batu. Benda-benda purbakala tersebut sekarang disimpan di dalam halaman kecil yang oleh penduduk setempat disebut sebagai pendapa rantai (rante).

Halaman 3
Setelah puas menikmati keunikan yang terdapat di halaman pertama dan kedua, maka Anda dapat meneruskan perjalanan ke dalam halaman utama, untuk berziarah ke Makam Sunan Bonang.  Gapura masuk menuju halaman utama berbentuk sangat indah dan kaya akan hiasan piring-piring China.
Pada bagian belakang terdapat dinding tembok yang lazim disebut dengan bangunan kelir. Sesuai dengan mitologi kuno, bangunan kelir itu berfungsi sebagai penolak bala. Di antara hiasan yang berupa piring China tersebut, beberapa di antaranya terdapat tulisan dengan huruf Arab. Tulisan-tulisan itu di antaranya ada yang berbunyi Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Setelah sampai di halaman ketiga, maka nampak halaman yang penuh dengan makam-makam. Sebagian besar makam itu merupakan makam baru, namun beberapa di antaranya terdapat juga makam-makam kuno. Makam Sunan Bonang berada di dalam cungkup yang cukup besar dan nampak angker. Bangunan cungkup ini mempunyai mustaka yang terbuat dari perunggu dengan hiasan motif tumpal, serta dilengkapi hiasan semacam padma.
Bagian puncak mustaka berbentuk bulat, sedangkan bagian bawahnya berbentuk persegi. Cungkup makam berbentuk sinom dengan atap terbuat dari sirap dan dindingnya dari tembok yang diberi lubang semacam kisi-kisi. Selain mempergunakan dinding tembok, cungkup ini juga mempergunakan dinding kayu, yang lazim disebut dengan nama dinding gebyok. Jirat makamnya mempunyai keunikan tersendiri yaitu beberapa hiasannya menyerupai pola-pola perbingkaian seperti pada candi-candi Hindu. Nisannya terbuat dari batu putih, dan kondisinya masih baik. *** [190913]

Kepustakaan:
Nurcholis & H. Ahmad Mundzir, 2013, Menapak Jejak Sultanul Auliya Sunan Bonang, Tuban: Mulia Abadi.
Share:

Museum Kambang Putih

Museum Kambang Putih terletak di Jalan Kartini No. 3 Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau berada di barat daya alun-alun Kota Tuban. Lokasi museum ini sangat strategis, berada di jantung kota yang masuk dalam kawasan utama dan senantiasa ramai pengunjung. Karena berada tidak jauh dari makam Sunan Bonang dan Masjid Agung Tuban yang menempati areal sebelah barat alun-alun.
Sebelum ada bangunan ini, museum tersebut menempati kompleks pendapa Kabupaten Tuban. Baru pada 4 Januari 1984, dengan didirikan bangunan berarsitektur Belanda klasik yang terletak di sebelah barat Kantor Bupati Tuban, museum tersebut dipindah kemari. Semula bangunan berfungsi sebagai kamar bola, namun pada 28 Maret 1984 baru difungsikan sebagai museum.
Museum ini menempati lahan seluas 150 m², dan berlantai satu, merupakan museum umum yang diselenggarakan olen Pemerintah Kabupaten Tuban. Kendati mungil untuk ukuran sebuah museum, akan tetapi museum ini memiliki segudang sejarah yang mungkin belum seluruhnya diketahui. Di museum Kambang Putih terdapat koleksi sejarah yang jumlahnya mencapai 600 koleksi.


Benda-benda koleksi museum ditempatkan dalam tempat pajangan yang berbeda dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti numismatik, etnografi, arkeologi, dan lain-lain. Banyaknya koleksi yang dimiliki museum ini tak sebanding dengan volume ruangan untuk memamerkan berbagai koleksi yang ada sehingga perlu penataan yang lebih efisien, atau kalau memungkinkan perlu diperlebar atau diperluas bangunan museum tersebut melalui penambahan beberapa lantai ke atas. Di tambah dengan banyaknya becak yang mangkal di depan museum juga menambah keruwetan dalam pandangan mata setiap pengunjung yang akan melihat museum tersebut.
Di antara benda-benda koleksi museum Kambang Putih terdapat beraneka macam fosil, kapak batu dan kapak perunggu, nekara, dan lain-lain. Juga ada beberapa arca-arca kuno maupun kayu berukir dengan hiasan relief yang ditemukan di kompleks makam Sunan Bonang, menghiasi etalase museum tersebut.
Tidak hanya itu saja, mulai dari lingga dan yoni, jangkar pasukan Tar-tar, manuskrip kuno dari daun lontar, mata uang kuno, keramik hingga ongkek pun ada di museum ini.
Museum ini dinamakan Kambang Putih karena merujuk pada sejarah Tuban yang salah satu kabupaten tertua di Indonesia. Konon, sebelum menjadi Tuban, daerah ini merupakan kawasan pasir putih yang bila dilihat dari kejauhan di tengah laut tampak mengambang. Para ekspedisi China yang acap kali melihat daerah ini, dan pada akhirnya banyak yang bermukim di daerah ini. Dari pasir putih di tepi pantai Tuban kala itu yang seolah-olah mengambang di tengah lautan tersebut, akhirnya daerah ini dikenal dengan Kambang Putih. Sehingga, tepatlah penamaan museum ini yang menggali dari kisah kekunaannya sendiri. *** [190913]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami