The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Jakarta Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan

Gedung KNKT Kementerian Perhubungan

Pada waktu menghadiri pemberian anugerah bagi fotografer terbaik bidang heritage yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional di Galeri Nasional, pulangnya menggunakan bus Trans Jakarta dari Halte Gambir. Ketika sedang menanti bus yang menuju ke arah Kalideres, penulis duduk di halte tersebut. Ternyata di di depan halte tersebut berdiri sebuah bangunan lawas yang terlihat kokoh dan megah.
Sesuai dengan papan nama yang terpasang di gedung tersebut, tertulis KNKT dengan huruf yang lumayan besar. KNKT singkatan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi, sebuah komite keselamatan di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Jadi, bangunan berlantai 3 dengan dominasi warna putih tersebut adalah Gedung KNKT Kementerian Perhubungan.
Gedung KNKT ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 5 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada sebelah timur laut Stasiun Gambir, atau selatan Gedung Pertamina Pusat.
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor) dalam bukunya, Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (PT. Gramedia, Jakarta, 2009) menulis, pada tahun 1916, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek dari firma AIA (Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau) merancang gedung kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Batavia dan mengembangkan arsitektur modern yang diprakarsai P.A.J. Moojen.


Berlokasi di pusat kota Batavia, ciri khas gedung KPM menjadi pusat perhatian pada masa itu. Pengaturan volume, bagian depan yang simetris dan rincian yang halus, hiasan Art Deco dan motif-motif yang digabungkan memberi ciri khas dan gambaran kualitas yang luar biasa. Kemungkinan rancangan arsitekturnya berasal dari Amerika Selatan, meski arsitektur kolonial Inggris di Malaysia juga menghasilkan gaya arsitektur yang sama.
Meski Art Deco dibawa ke Malaysia sekitar satu dasawarsa lebih lambat dari Indonesia, kemiripan antara gedung KPM dan gedung Anglo-Oriental di Kuala Lumpur sangat mencolok. Bagaimanapun, gedung Anglo-Oriental baru dibangun pada tahun 1936.
N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) atau yang dalam bahasa Inggrisnya, Royal Packet Navigation Company, merupakan sebuah perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan hukum di Amsterdam, namun kantor pusat operasinya berada di Batavia semenjak zaman Hindia Belanda. Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antar pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih populer dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, perusahaan ini masih tetap beroperasi hingga dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960 tentang Nasionalisasi Perusahaan N.V. K.P.M. di Indonesia. Dengan pengundangan Peraturan Pemerintah ini, Panitia Penguasa N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij yang dibentuk dengan Surat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 12/PM/KB/19588 tertanggal 4 Maret 1958 dinyatakan bubar dan segala sesuatunya yang bertalian dengan pekerjaan Panitia tersebut dan pelaksanaan peraturan ini ke arah likwidasi perusahaan termaksud diserahkan kepada Menteri Perhubungan Laut.
Kemudian sesuai dengan dinamika dalam Kementerian Perhubungan, gedung tersebut pernah mengalami beberapa pemakaian di bawah kendali Kementerian Perhubungan terutama yang di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Namun, sekarang ini gedung berlantai 3 tersebut digunakan oleh organisasi di bawah Kementerian Perhubungan, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Akan tetapi, karena papan nama yang terpampang lebih dominan KNKT maka bangunan tersebut akhirnya dikenal sebagai Gedung KNKT Kementerian Perhubungan. *** [071212]

Kepustakaan:
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor), 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, Jakarta: Gramedia
https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960
Share:

Pintu Air Manggarai

Melintas dari depan Stasiun Manggarai menuju ke Terminal Manggarai sambil menoleh ke kanan sebelum melewati viaduct, terlihat pintu air tua yang cukup unik. Pintu air tersebut dikenal dengan sebutan Pintu Air Manggarai atau Manggarai Water Gate.
Pintu Air Manggarai terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi pintu air ini berada di sebelah barat laut dari Stasiun Manggarai.
Pintu Air Manggarai terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB) yang dibangun oleh Departement Waterstaat dari tahun 1920 sampai tahun 1922 dan berfungsi sebagai bangunan pengendali aliran Sungai Ciliwung mengingat Jakarta sering terkena banjir pada waktu itu. Dalam sejarahnya, banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat direkam pada tahun 1621, dan diulang pada 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007 hingga sekarang.


Pintu Air Ciliwung Lama mengalirkan sebagian kecil aliran Sungai Ciliwung ke arah Sungai Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat mengalirkan aliran lainnya yang lebih banyak ke arah Banjir Kanal Barat. Pada kondisi air banjir, Pintu Air Ciliwung Lama tidak dibuka maksimal karena untuk menjaga supaya aliran yang berlebihan melalui Sungai Ciliwung Lama tidak menimbulkan banjir khususnya daerah sekitar Pintu Air Ciliwung Lama, Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Akibat tidak dibukanya Pintu Air Ciliwung Lama secara maksimal menyebabkan aliran menjadi terkonsentrasi melalui Pintu Air Banjir Kanal Barat yang daya alirnya terbatas sehingga menyebabkan terhambatnya aliran yang menyebabkan terjadinya pengempangan (back water) yang menyebabkan naiknya elevasi muka air banjir di sebelah hulu.
Setelah terendam banjir besar pada awal 1918 yang melumpuhkan Batavia, membuat pemerintah Hindia Belanda memikirkan dan mengupayakan rencana untuk mengatasi banjir. Ditugaskanlah Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal dari Departemen Pekerjaan Umum, dan dikerjakan bertahap selama dua tahun.
Konsep van Breen dan rekan-rekannya sebenarnya cukup sederhana, hanya saja diperlukan perhitungan yang teliti dan implementasi serta biaya yang tinggi. Intinya adalah untuk mengontrol aliran air dari sungai hulu dan membatasi volume air masuk kota. Oleh karena itu, saluran perlu dibangun di bagian selatan kota untuk menampung limpahan air, dan kemudian mengalir ke laut melalui bagian barat kota. Saluran penampungan yang dibangun sekarang dikenal  sebagai Banjir Kanal yang memotong dari Pintu Air Manggarai ke Muara Angke.
Dilihat dari sisi historisnya, Pintu Air Manggarai merupakan pintu air yang telah berusia tua sehingga bangunan ini sudah tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Kendati demikian, di kesenjaan umur dari bangunan ini, peran penting sebagai pengendali banjir masih menunjukkan kekokohannya. *** [280514]
Share:

Stasiun Kereta Api Manggarai

Sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki banyak stasiun kereta api. Hal ini lantaran jaringan rel kereta api yang melintas di Kota Jakarta terhubung dengan jaringan yang ada di Pulau Jawa. Salah satu stasiun yang ada di Jakarta adalah Stasiun Kereta Api Manggarai, atau yang biasa disebut dengan Stasiun Manggarai saja.
Stasiun Manggarai terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Terminal Bis Manggarai, dan tidak begitu jauh dengan Pintu Air Manggarai. Letaknya merupakan batas antara Jakarta Pusat dengan Jakarta Selatan dan dengan Jakarta Timur.


Stasiun Manggarai merupakan stasiun besar yang berada di ketinggian +13 m yang pengoperasiannya di bawah wewenang Daerah Operasi (Daop) I Jakarta dengan menggunakan kode stasiun MRI. Stasiun ini memiliki jalur hampir sebanyak Stasiun Jakarta Kota atau yang biasa dikenal dengan nama Stasiun BEOS. Aset yang dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) ini dilabeli dengan nomor register 043/01.12850/MRI/BD.


Menurut sejarahnya, jalur kereta api yang di Kampung Manggarai dibangun oleh perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dari tahun 1870 hingga 1873 untuk menghubungkan antar daerah di Jakarta maupun ke Bogor, dan di jalur tersebut juga didirikan stasiun yang masih sangat sederhana. Akan tetapi, baru pada tahun 1912 di jalur ini dibangun sebuah stasiun yang memakan waktu selama enam tahun, dan diresmikan pada 1 Mei 1918 untuk menggantikan peran Stasiun Meester Cornelis (kini namanya Stasiun Jatinegara) yang semakin padat serta Stasiun Bukit Duri yang terlalu kecil. Pembangunan Stasiun Manggarai yang permanen dalam bentuknya seperti sekarang ini dilakukan oleh perusahaan kereta api negeri, Staats Spoorwegen dengan hasil rancangan dari seorang arsitek Belanda bernama Ir. J. van Gendt. Selain stasiun, van Gendt juga membangun sekolah pendidikan perkeretaapian dan rumah-rumah dinas untuk para pegawai Staats Spoorwegen di sekitar stasiun tersebut.
Stasiun ini pernah digunakan untuk mendukung perjalanan rombongan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta saat hijrah dan memindahkan ibukota negara sementara ke Yogyakarta dengan kereta khusus pada tanggal 3 Januari 1946.
Menilik aspek historisnya, maka bangunan Stasiun Manggarai ini telah ditetapkan sebagai bangunan benda cagar budaya (BCB) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011/M/1999/12 Januari 1999. Oleh karena itu, Stasiun Manggarai harus dijaga, dirawat dan tetap dilestarikan keaslian bentuknya. *** [280514]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami