-
Istana Ali Marhum Kantor
Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)
-
Gudang Mesiu Pulau Penyengat
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Benteng Bukit Kursi
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Kompleks Makam Raja Abdurrahman
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Mesjid Raya Sultan Riau
Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Maluku Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Maluku Utara. Tampilkan semua postingan
Kedaton Kesultanan Ternate
Budiarto Eko KusumoRabu, November 19, 2014Kedaton Kesultanan Ternate, kekunaan, Ternate Heritage, Ternate sultanate palace, Tujuan Wisata di Maluku Utara, Tujuan Wisata di Ternate
Tidak ada komentar
Berkeliling
Kota Ternate memang mengasyikkan. Selain menikmati kekayaan dan keindahan
alamnya, juga bisa menyaksikan warisan budaya yang tak kalah menariknya. Salah
satu warisan tersebut adalah Kedaton Kesultanan Ternate.
Kedaton
Kesultanan Ternate terletak di Jalan Sultan Khairun No. 1 Kelurahan Salero,
Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi kedaton
ini berada di samping Kantor RRI Kota Ternate.
Kedaton
(istilah yang dipakai bukan kraton atau istana) Kesultanan Ternate merupakan
salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Menurut naskah kuno, Kesultanan
Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Sekitar abad ke-13
hingga abad ke-17, Kesultanan Ternate memiliki peranan penting di wilayah timur
Nusantara, sebagai salah satu titik penting perdagangan internasional pada masa
itu.
Limau Gapi, sebutan Kesultanan Ternate dalam bahasa lokal, merupakan salah satu dari empat kerajaan di wilayah Maluku Utara yang saling bersaudara bersama dengan Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo.
Pada
masa kekuasaan Raja Zainal Abidin (1486-1500) untuk pertama kalinya istilah
raja (kolano) diganti dengan sebutan
sultan. Bahkan Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan dengan memberlakukan
syariat Islam serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam. Sejak masa
itu, Kesultanan Ternate berkembang dengan nuansa syariat dan budaya Islam.
Cengkih
(Eugenia aromatica) dan pala (myristica fragrans) merupakan komoditi
perdagangan Kesultanan Ternate yang mampu membuat salah satu kerajaan Islam
tertua di Nusantara ini termashyur namanya hingga ke belahan dunia Eropa sana.
Datangnya bangsa Eropa ke wilayah Ternate turut mengangkat kemajuan perdagangan
cengkih dan pala di wilayah kerajaan ini.
Seperti
yang diketahui, kerajaan-kerajaan Maluku mengandalkan sumber penghasilannya dan
sektor produksi dan perdagangan rempah-rempah (cengkih dan pala). Ternate
berhasil meraih hegemoni politik hingga penghujung abad ke-16 dan beberapa dekade
pada abad sesudahnya, karena menguasai sebagian besar – bahkan menjadi sentra
perdagangan – rempah-rempah di Maluku.
Berkat
kemajuannya dalam perdagangan ini, Kesultanan Ternate mampu memperluas wilayah
kekuasaannya hingga meliputi Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi bagian timur dan
tengah, wilayah selatan Filipina, bahkan hingga Kepulauan Marshall di Pasifik.
Namun pada waktu Portugis mulai menemukan Maluku dengan kedatangan Fransisco Serrao di Ternate pada tahun 1512, merupakan awal sejarah perdagangan rempah-rempah yang panjang dan penuh konflik antara sesama kerajaan Maluku ataupun antara kerajaan-kerajaan di Maluku dengan orang-orang Eropa serta antara sesama orang Eropa. Konflik-konflik ini terutama dilatari kehendak untuk memperebutkan rempah-rempah dan perniagaannya atau untuk mendapatkan hak monopoli atasnya. Konflik-konflik yang berkepanjangan dan rumit, yang terjadi pada masa-masa selanjutnya, tidak hanya merambat ke dalam kehidupan sosio-kultural dan keagamaan, tetapi juga menggembosi dan meludeskan kedaulatan serta kemerdekaan kerajaan-kerajaan Maluku, termasuk di antaranya Kedaton Kesultanan Ternate.
Situasi
dan kondisi seperti itu pada kenyataannya turut mempengengaruhi pasang surut
mengenai Kedaton Kesultanan Ternate hingga pada akhirnya dibangunlah kedaton
seperti saat ini. Kedaton Kesultanan Ternate ini berdiri di atas lahan seluas
4,5 hektar di bukit Limau. Bangunan ini berdiri sejak 24 November 1813 pada
masa pemerintahan Sultan Ternate ke-40, Muhammad Ali.
Bangunan
istana yang memiliki arsitektur khas ini, bentuknya menyerupai seekor singa
yang sedang duduk dengan dua kaki depan menopang kepalanya, dan menghadap ke
arah laut. Sedangkan, pemandangan di belakang dari kedaton ini tampak menjulang
tinggi Gunung Gamalama. Tepat di depan kedaton terdapat alun-alun.
Kesultanan
Ternate ini masih eksis hingga kini, di mana Kedaton Kesultanan Ternate masih
berdiri kokoh di tengah Kota Ternate, dan kawasan kedaton ini menjadi situs
penting yang mengandung nilai heritage.
Bagi yang meminati sejarah, kawasan kedaton ini layak menjadi tujuan kunjungan
Anda di Ternate. *** [161014]
Kepustakaan:
M. Adnan Amal, 2006. Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950,
__
Fadhal AR Bafadal & Rosehan Anwar (Editor), 2005. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia,
Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Departemen Agama RI
Sriwijaya In-flight Magazine Volume 20/Tahun II/Oktober
2012
Rumah Adat Sasadu Golo
Budiarto Eko KusumoSelasa, November 18, 2014Golo Custom House, Halmahera Heritage, kekunaan, Rumah adat di Maluku Utara, Rumah Adat Sasadu Golo, Tujuan Wisata di Maluku Utara
Tidak ada komentar
Suku
Sahu, pada mulanya bernama Ji’o Japung Malamo kemudian berganti nama menjadi
Sahu. Perubahan nama ini, konon berhubungan dengan Sultan Ternate. Pada waktu
itu, salah seorang sangaji (kepala pemerintahan wilayah) dipanggil menghadap
Sultan Ternate. Ketika bertemu dengan sultan, Sultan Ternate sedang makan
sahur, dan beliau pun dengan menggunakan bahasa Ternate “Hara kane si jou sahur, jadi kane suku ngana si golo ngana jiko sahu.” (Karena
kau sangaji datang pada waktu sultan sedang makan sahur maka kemudian hari ini
kau akan mendirikan daerahmu dan namailah sahu). Sejak saat itulah, daerah yang
didiami berubah menjadi Sahu, dan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut
dikenal dengan Suku Sahu.
Pada
masa kesultanan Ternate sesudah Baab Mansyur Malamo, suku Sahu terdiri atas dua
kelompok masyarakat adat, yaitu Tala’i dan Padasua (Ji’o Tala’i re Padasua). Tala’i,
bermula ketika Sultan Ternate menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut,
mereka menyambut dan berdatangan ke hadapan sultan. Tala’i, artinya berhadapan
(dengan sultan). Sedangkan, mereka yang tidak terpengaruh dan tetap
mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya dikenal dengan Padasua. Padasua, artinya
dipanggil tapi tidak menyahut.
Meskipun mereka berbeda sebutan, mereka tetap patuh terhadap sultan, dan kedua kelompok masyarakat ini memiliki kesamaan budaya dalam wujud benda-benda hasil karya manusia. Salah satunya adalah arsitektur khas masyarakat setempat yang dinamakan sasadu (rumah adat) Golo.
Rumah
Adat Sasadu Golo ini terletak di Desa Golo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten
Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Sama halnya dengan Rumah Adat Sasadu di
Kampung Idam Gammalamo, rumah adat ini juga sudah dibangun ratusan tahun lalu
secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Sahu. Fungsi Rumah Adat
Sasadu Golo ini pun tidak berbeda, yaitu sebagai tempat berkumpul dan
bermusyawarah, juga tempat dilaksanakannya upacara dan ritual adat.
Bentuk
konstruksi Rumah Adat Sasadu Golo ini hampir sama dengan konstruksi Rumah Adat
Sasadu Idam Gammalamo, hanya saja rumah adat ini memiliki ukuran yang lebih
kecil dan sebagian atapnya telah menggunakan semen. Tiang-tiang kayu Gufasa di
Rumah Adat Sasadu Golo ini telah diwarnai merah dan kuning serta pada salah
satu tiang melintang penyangga atapnya terdapat hiasan ukiran naga dan bunga.
Kini,
Rumah Adat Sasadu Golo telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi
oleh UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. ***
Masjid Kesultanan Bacan
Budiarto Eko KusumoKamis, November 13, 2014Bacan Heritage, kekunaan, Masjid di Bacan, Masjid Kesultanan Bacan, Mosque of Sultanate, Tujuan Wisata di Maluku Utara
Tidak ada komentar
Pulau
Bacan merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan kepulauan di Maluku
Utara, yaitu di sebelah barat daya Pulau Halmahera. Pulau ini memiliki banyak
daya tarik bagi pelancong untuk mengunjunginya. Pantai dengan pasir putih
dengan lambaian pohon nyiur yang berjajar, terumbu karang berikut aneka macam
ikan yang berenang di dalamnya, dan eksotisnya batu Bacan yang begitu tersohor
merupakan beberapa spot yang menjadi
alasan untuk mengunjunginya. Namun sebenarnya, Pulau Bacan juga mempunyai
peninggalan sejarah yang tak kalah menariknya. Selain, benteng Barnaveld,
Istana Sultan Bacan, terdapat juga Masjid Kesultanan Bacan.
Masjid Kesultanan Bacan merupakan bagian dari Kedaton Kesultanan Bacan yang digunakan sebagai pusat ibadah dan pusat kebudayaan Islam di Pulau Bacan. Masjid ini terletak di Kelurahan Amasing Kota RT.03 RW.07, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Masjid ini berada di tengah-tengah pemukiman yang terdapat di Kota Labuha. Kurang lebih 100 m ke arah barat dari Kedaton Sultan Bacan.
Ada
beberapa pendapat penanggalan Masehi pendirian Masjid Kesultanan Bacan. Ada
yang mengatakan bahwa masjid ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Usman
Syah pada akhir abad 18 setelah sultan berguru kepada Syekh Sulaiman As
Samadani, seorang ulama asal Jawa yang diasingkan ke Ambon. Sedangkan, pada
Direktori Masjid Bersejarah (2008) disebutkan bahwa masjid ini dibangun sekitar
tahun 1901 yang diarsiteki oleh Cronik van Hendrik, seorang arsitek dari
Jerman, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek.
Terlepas dari perbedaan itu, masyarakat Labuha meyakini bahwa masjid tersebut telah berumur ratusan tahun. Masjid berdenah persegi ini memiliki atap limasan bersusun dua yang berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang memiliki diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan.
Masjid
Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi dekat masjid dari
tiga arah jalan masuk ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura
beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut. *** [161014]
Kedaton Kesultanan Bacan
Budiarto Eko KusumoRabu, November 12, 2014Bacan Heritage, Istana di Maluku Utara, Istana Sultan Bacan, Kedaton Kesultanan Bacan, kekunaan, The Imperial Palace of Bacan, Tujuan Wisata di Maluku Utara
1 komentar
Menyusuri
Pelabuhan Labuha di Pulau Bacan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tidak
sekadar menyaksikan kegiatan bongkar muat kapal yang membawa ikan tapi juga
bisa merasakan segarnya tiupan angin yang berasal dari Selat Bacan maupun Selat
Herberg. Tidak jauh dari pelabuhan tersebut menuju ke arah barat, Anda akan
bisa melihat sebuah bangunan beratap hijau yang khas kolonial. Bangunan
tersebut merupakan kedaton atau kraton dari Kesultanan yang menjadi bangunan
terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Bangunan kraton yang sekarang ini
sekilas menyerupai rumah tinggal biasa. Akan tetapi, bila diperhatikan lebih
seksama lagi, gaya arsitekturnya masih menunjukkan ciri-ciri arsitektur gaya
kolonial kuno pada bagian atap dan jendela-jendela yang ada.
Kedaton
atau Kraton Sultan Bacan ini terletak di Jalan Oesman Syah RT.03 RW.07
Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan. Lokasi
kedaton ini berada sekitar 100 meter dari Masjid Kesultanan Bacan.
Menurut Hikayat Bacan, yang dipublikasikan pada 1923 oleh W. Ph. Coolhaas dalam Tijdschrift van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap (jilid LXIII, penerbitan kedua), disebutkan bahwa pada zaman dahulu kala pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menyatu dalam satu semenanjung, yang dinamakan Tanah Gapi. Kemudian datanglah seorang saudagar sekaligus pendakwah dari Jazirah Arab yang bernama Jafar Sadek ke Tanah Gapi. Jafar Sadek mempunyai empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Ketika anak-anaknya telah menginjak dewasa, Jafar Sadek berdoa kepada Allah SWT agar anak-anaknya kelak dijadikan raja di tempat yang berlainan, dan setelah itu terdengar guntur, kilat, hujan dan angin ribut di malam yang gelap gulita. Akibatnya, Tanah Gapi terpecah menjadi pulau-pulau. Anak lelaki pertama, Buka, kemudian bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal Kerajaan Bacan. Anak lelaki kedua, Darajat, bertolak ke Moti dan menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Anak lelaki ketiga, Sahajat, pergi ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore. Anak lelaki keempat, Mashur Malamo, berlayar ke Ternate dan menjadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedangkan keempat anak perempuannya pergi ke Banggai dan bermukim di sana. Kesultanan Bacan merupakan salah satu dari empat Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang ada di Maluku Utara.
Kedudukan
awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta
lantaran ancaman gunung berapi Kie Besi.
Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang Makian yang ikut dalam evakuasi bersama
rajanya. Diperkirakan, Kerajaan Bacan didirikan pada tahun 1322. Tidak jelas
bagaimana proses pembentukannya tetapi bisa ditaksir sama dengan
kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku, yakni bermula dari pemukiman yang kemudian
membesar dan tumbuh menjadi kerajaan.
Raja pertama Bacan, menurut hikayat tersebut adalah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di Gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertahta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik. Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertahta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar Pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.
Hikayat
Bacan juga menyebutkan bahwa Sida Hasan naik tahta menggantikan ayahnya
Muhammad Hasan. Pada masa Sida Hasan inilah terjadi evakuasi ke Bacan.
Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau
dan Imbu-imbu. Raja yang berkuasa setelah itu adalah Zainal Abidin. Sayangnya,
hikayat ini tidak menjelaskan kapan Sida Hasan maupun Zainal Abidin berkuasa.
Kemungkinan besar keberadaan raja atau raja-raja tertentu sebagai mata rantai
yang hilang antara masa Sida Hasan dan Zainal Abidin, karena Sida Hasan
dikabarkan bertahta pada 1343, sementara Zainal Abidin pada 1522.
Bacan,
dalam bahasa setempat memiliki arti harfiah membaca. Membaca di sini dimaknai
dengan memasukkan sesuatu, atau usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk
memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan. Makna tersebut
tidak bisa dilepaskan juga dengan tugas dan fungsi Sultan Bacan kala itu.
Kesultanan
Bacan dalam Kesultanan Moloku Kie Raha
memiliki peranan penting sebagai pemasok bahan-bahan pangan untuk seluruh
wilayah Maluku Utara. Pada masa kejayaannya dulu, wilayah kekuasaan Kesultanan
Bacan tergolong cukup luas, yaitu dari sebagian daerah di Sulawesi bagian
utara, Filipina bagian selatan hingga ke wilayah Papua sebelah barat. Tidak
hanya itu, Pulau Bacan yang menjadi pusat Kesultanan Bacan memiliki kekayaan
hasil alam yang diminati dunia internasional pada waktu itu berupa
rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. Tak heran kalau bangsa Portugis
sebelum mengunjungi kawasan Maluku dengan Kepulauan Rempah-Rempah (as Ilhas de Crafo).
Pengaruh
bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali dengan kedatangan bangsa Portugis
untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomis
yang tinggi di pasar Eropa kala itu. Bermula dari inilah akhirnya Pulau Bacan
secara silih berganti menjadi koloni sejumlah negara dari Eropa, seperti
Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda. Perebutan monopoli akan rempah-rempah
tersebut, pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem
ke pemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda. *** [141014]
Kepustakaan:
https://www.academia.edu/4487710/Sejarah_Kepulauan_Rempah_Rempah
http://id.wikipedia.org/wiki/Hikayat_Bacan
Benteng Barnaveld
Budiarto Eko KusumoSelasa, November 11, 2014Benteng Barnaveld, Benteng di Maluku Utara, Fort Barnaveld, kekunaan, Tujuan Wisata di Maluku Utara
Tidak ada komentar
Pulau
Bacan merupakan salah satu di antara gugusan Kepulauan Maluku yang terdapat di
sebelah barat daya Pulau Halmahera. Bacan, selain terkenal dengan rempah-rempah,
hasil laut, dan dikenal sebagai daerah penghasil batu bacan yang kesohor ke
seantero Indonesia ini, juga kaya akan nilai sejarah dan warisan budaya. Salah
satu bentuk peninggalan sejarah dan warisan budaya yang terdapat di Pulau Bacan
adalah benteng Barnaveld atau Fort
Oldebarneveld te Batjan op de Molukken, biasanya disingkat menjadi Fort Barnaveld saja.
Benteng
Barnaveld terletak di Jalan Benteng Barnaveld RT.04 RW.08 Kelurahan Amasing
Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.
Lokasi benteng ini berada di samping kanan perguruan milik Yayasan Al Khairaat.
Ketika bangsa Portugis tiba di Maluku, Bacan merupakan salah satu dari empat kerajaan besar yang ada di Maluku, atau yang dikenal dengan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku).
Bangsa
Portugis sebelum mengunjungi kawasan ini menyebutnya dengan Kepulauan
Rempah-Rempah (spice island).
Penyebutan ini, dalam abad pertengahan, diberikan sebelum orang Barat
mengetahui secara pasti lokasi negeri asal rempah-rempah yang mereka konsumsi.
Thome
Pires dalam bukunya, Suma Oriental: an
Account of the East, from the Red Sea to Japan, -yang ditulis di Malaka dan
diselesaikan di India antara 1512-1515 - dalam M. Adnan Amal (2006)
diceriterakan bahwa tanah asal tanaman cengkih (eugenia aromatica) adalah lima pulau kecil di Maluku, yaitu
Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan. Sementara tanah asal pala (myristica fragrans) adalah Banda, tetapi
di Bacan juga tumbuh pohon tersebut, yang mungkin disebarkan ke sana oleh
burung atau manusia.
Pada
abad pertengahan, rempah-rempah masih merupakan barang mewah di Eropa yang
bernilai sangat mahal. Karena harga jualnya yang sangat tinggi di pasaran
Eropa, tidaklah mengherankan jika para pedagang berusaha mati-matian membawanya
ke sana, sekalipun dengan resiko tinggi yang mesti dihadapi sepanjang jalur
perniagaan.
Di
kalangan bangsa Eropa ketika itu, Spanyol dan Portugis merupakan pesaing keras
dalam upaya menemukan daerah-daerah penghasil rempah-rempah tersebut, baru
disusul oleh Belanda.
Pada tahun 1558 bangsa Portugis datang dan bermukim di Labuha, mereka mendirikan sebuah benteng kecil. Tidak lama benteng ini dibangun, bangsa Spanyol datang berdagang di benteng ini, alih-alih berdagang benteng ini justru direbut oleh Spanyol dari Portugis. Tahun 1609 Laksamana Muda Simon Hoen bersama dengan Sultan Ternate menuntut kepada bangsa Spanyol agar benteng ini diserahkan kepada mereka.
Tuntutan
mereka ini tidak menunggu waktu untuk dipenuhi, benteng tersebut kemudian
direnovasi dan diperkuat atas gagasan Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon.
Empat bastion kemudian dibangun dan menamai benteng ini dengan nama Barnaveld.
Ketika
dikuasai Belanda pada tahun 1609, benteng ini dipugar dengan kapur dan batu. Di
tengah-tengah benteng dibangun sebuah rumah yang kokoh dengan atap dari rumput
kering dan ruangan bawah tanah dengan dinding setebal satu kaki. Di sekitar
benteng ditemukan batu prasasti besar dengan tulisan Latin dan di bagian kanan
batu prasasti tersebut terdapat tanda keluarga Pieter Both, Gubernur Jenderal
pertama VOC.
Benteng
berbentuk segi empat dilengkapi dengan tembok pertahanan yang rendah. Pada
tembok pertahanan ini ditempatkan masing-masing sebuah bastion lengkap dengan
meriam (sekarang tinggal empat buah meriam saja). Pintu gerbang utama dibangun
berbentuk melengkung, menghadap ke arah Sungai Amasing yang konon menjadi pintu
masuk ke Teluk Labuha yang menghadap ke Selat Bacan.
Benteng
pernah diperluas dan dilengkapi dengan sebuah sumur dan sebuah tangga dari
batu. Kemudian di dalamnya terdapat bangunan-bangunan kolonial lain sebagai
pendukung aktivitas dalam benteng tersebut.
Pada
waktu ditinggalkan oleh Belanda, benteng ini tidak terurus dan sempat
diselimuti oleh semak belukar serta beberapa pohon beringin besar. Namun,
ketika penulis berkunjung ke benteng tersebut merasa lega karena pada saat itu
sedang dilakukan pemugaran benteng Barnaveld oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate dengan nomor kontrak
258/BPCB.TTE/2014 Tanggal 19 Mei 2014 dengan jangka waktu 120 hari kalender.
Nilai kontraknya sebesar Rp 558.100.000,- yang bersumber dari APBN, dan
kontraktor pelaksananya adalah CV. Iyan’s Pratama. *** [141014]







