The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Maluku Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Maluku Utara. Tampilkan semua postingan

Kedaton Kesultanan Ternate

Berkeliling Kota Ternate memang mengasyikkan. Selain menikmati kekayaan dan keindahan alamnya, juga bisa menyaksikan warisan budaya yang tak kalah menariknya. Salah satu warisan tersebut adalah Kedaton Kesultanan Ternate.
Kedaton Kesultanan Ternate terletak di Jalan Sultan Khairun No. 1 Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi kedaton ini berada di samping Kantor RRI Kota Ternate.
Kedaton (istilah yang dipakai bukan kraton atau istana) Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Menurut naskah kuno, Kesultanan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Sekitar abad ke-13 hingga abad ke-17, Kesultanan Ternate memiliki peranan penting di wilayah timur Nusantara, sebagai salah satu titik penting perdagangan internasional pada masa itu.


Limau Gapi, sebutan Kesultanan Ternate dalam bahasa lokal, merupakan salah satu dari empat kerajaan di wilayah Maluku Utara yang saling bersaudara bersama dengan Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo.
Pada masa kekuasaan Raja Zainal Abidin (1486-1500) untuk pertama kalinya istilah raja (kolano) diganti dengan sebutan sultan. Bahkan Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan dengan memberlakukan syariat Islam serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam. Sejak masa itu, Kesultanan Ternate berkembang dengan nuansa syariat dan budaya Islam.
Cengkih (Eugenia aromatica) dan pala (myristica fragrans) merupakan komoditi perdagangan Kesultanan Ternate yang mampu membuat salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara ini termashyur namanya hingga ke belahan dunia Eropa sana. Datangnya bangsa Eropa ke wilayah Ternate turut mengangkat kemajuan perdagangan cengkih dan pala di wilayah kerajaan ini.
Seperti yang diketahui, kerajaan-kerajaan Maluku mengandalkan sumber penghasilannya dan sektor produksi dan perdagangan rempah-rempah (cengkih dan pala). Ternate berhasil meraih hegemoni politik hingga penghujung abad ke-16 dan beberapa dekade pada abad sesudahnya, karena menguasai sebagian besar – bahkan menjadi sentra perdagangan – rempah-rempah di Maluku.
Berkat kemajuannya dalam perdagangan ini, Kesultanan Ternate mampu memperluas wilayah kekuasaannya hingga meliputi Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi bagian timur dan tengah, wilayah selatan Filipina, bahkan hingga Kepulauan Marshall di Pasifik.


Namun pada waktu Portugis mulai menemukan Maluku dengan kedatangan Fransisco Serrao di Ternate pada tahun 1512, merupakan awal sejarah perdagangan rempah-rempah yang panjang dan penuh konflik antara sesama kerajaan Maluku ataupun antara kerajaan-kerajaan di Maluku dengan orang-orang Eropa serta antara sesama orang Eropa. Konflik-konflik ini terutama dilatari kehendak untuk memperebutkan rempah-rempah dan perniagaannya atau untuk mendapatkan hak monopoli atasnya. Konflik-konflik yang berkepanjangan dan rumit, yang terjadi pada masa-masa selanjutnya, tidak hanya merambat ke dalam kehidupan sosio-kultural dan keagamaan, tetapi juga menggembosi dan meludeskan kedaulatan serta kemerdekaan kerajaan-kerajaan Maluku, termasuk di antaranya Kedaton Kesultanan Ternate.
Situasi dan kondisi seperti itu pada kenyataannya turut mempengengaruhi pasang surut mengenai Kedaton Kesultanan Ternate hingga pada akhirnya dibangunlah kedaton seperti saat ini. Kedaton Kesultanan Ternate ini berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektar di bukit Limau. Bangunan ini berdiri sejak 24 November 1813 pada masa pemerintahan Sultan Ternate ke-40, Muhammad Ali.
Bangunan istana yang memiliki arsitektur khas ini, bentuknya menyerupai seekor singa yang sedang duduk dengan dua kaki depan menopang kepalanya, dan menghadap ke arah laut. Sedangkan, pemandangan di belakang dari kedaton ini tampak menjulang tinggi Gunung Gamalama. Tepat di depan kedaton terdapat alun-alun.
Kesultanan Ternate ini masih eksis hingga kini, di mana Kedaton Kesultanan Ternate masih berdiri kokoh di tengah Kota Ternate, dan kawasan kedaton ini menjadi situs penting yang mengandung nilai heritage. Bagi yang meminati sejarah, kawasan kedaton ini layak menjadi tujuan kunjungan Anda di Ternate. *** [161014]

Kepustakaan:
M. Adnan Amal, 2006. Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, __
Fadhal AR Bafadal & Rosehan Anwar (Editor), 2005. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia, Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Departemen Agama RI
Sriwijaya In-flight Magazine Volume 20/Tahun II/Oktober 2012
Share:

Rumah Adat Sasadu Golo

Suku Sahu, pada mulanya bernama Ji’o Japung Malamo kemudian berganti nama menjadi Sahu. Perubahan nama ini, konon berhubungan dengan Sultan Ternate. Pada waktu itu, salah seorang sangaji (kepala pemerintahan wilayah) dipanggil menghadap Sultan Ternate. Ketika bertemu dengan sultan, Sultan Ternate sedang makan sahur, dan beliau pun dengan menggunakan bahasa Ternate “Hara kane si jou sahur, jadi kane suku ngana si golo ngana jiko sahu.” (Karena kau sangaji datang pada waktu sultan sedang makan sahur maka kemudian hari ini kau akan mendirikan daerahmu dan namailah sahu). Sejak saat itulah, daerah yang didiami berubah menjadi Sahu, dan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut dikenal dengan Suku Sahu.
Pada masa kesultanan Ternate sesudah Baab Mansyur Malamo, suku Sahu terdiri atas dua kelompok masyarakat adat, yaitu Tala’i dan Padasua (Ji’o Tala’i re Padasua). Tala’i, bermula ketika Sultan Ternate menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut, mereka menyambut dan berdatangan ke hadapan sultan. Tala’i, artinya berhadapan (dengan sultan). Sedangkan, mereka yang tidak terpengaruh dan tetap mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya dikenal dengan Padasua. Padasua, artinya dipanggil tapi tidak menyahut.


Meskipun mereka berbeda sebutan, mereka tetap patuh terhadap sultan, dan kedua kelompok masyarakat ini memiliki kesamaan budaya dalam wujud benda-benda hasil karya manusia. Salah satunya adalah arsitektur khas masyarakat setempat yang dinamakan sasadu (rumah adat) Golo.
Rumah Adat Sasadu Golo ini terletak di Desa Golo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Sama halnya dengan Rumah Adat Sasadu di Kampung Idam Gammalamo, rumah adat ini juga sudah dibangun ratusan tahun lalu secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Sahu. Fungsi Rumah Adat Sasadu Golo ini pun tidak berbeda, yaitu sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, juga tempat dilaksanakannya upacara dan ritual adat.
Bentuk konstruksi Rumah Adat Sasadu Golo ini hampir sama dengan konstruksi Rumah Adat Sasadu Idam Gammalamo, hanya saja rumah adat ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan sebagian atapnya telah menggunakan semen. Tiang-tiang kayu Gufasa di Rumah Adat Sasadu Golo ini telah diwarnai merah dan kuning serta pada salah satu tiang melintang penyangga atapnya terdapat hiasan ukiran naga dan bunga.
Kini, Rumah Adat Sasadu Golo telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. ***
Share:

Masjid Kesultanan Bacan

Pulau Bacan merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan kepulauan di Maluku Utara, yaitu di sebelah barat daya Pulau Halmahera. Pulau ini memiliki banyak daya tarik bagi pelancong untuk mengunjunginya. Pantai dengan pasir putih dengan lambaian pohon nyiur yang berjajar, terumbu karang berikut aneka macam ikan yang berenang di dalamnya, dan eksotisnya batu Bacan yang begitu tersohor merupakan beberapa spot yang menjadi alasan untuk mengunjunginya. Namun sebenarnya, Pulau Bacan juga mempunyai peninggalan sejarah yang tak kalah menariknya. Selain, benteng Barnaveld, Istana Sultan Bacan, terdapat juga Masjid Kesultanan Bacan.


Masjid Kesultanan Bacan merupakan bagian dari Kedaton Kesultanan Bacan yang digunakan sebagai pusat ibadah dan pusat kebudayaan Islam di Pulau Bacan. Masjid ini terletak di Kelurahan Amasing Kota RT.03 RW.07, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Masjid ini berada di tengah-tengah pemukiman yang terdapat di Kota Labuha. Kurang lebih 100 m ke arah barat dari Kedaton Sultan Bacan.
Ada beberapa pendapat penanggalan Masehi pendirian Masjid Kesultanan Bacan. Ada yang mengatakan bahwa masjid ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Usman Syah pada akhir abad 18 setelah sultan berguru kepada Syekh Sulaiman As Samadani, seorang ulama asal Jawa yang diasingkan ke Ambon. Sedangkan, pada Direktori Masjid Bersejarah (2008) disebutkan bahwa masjid ini dibangun sekitar tahun 1901 yang diarsiteki oleh Cronik van Hendrik, seorang arsitek dari Jerman, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek.


Terlepas dari perbedaan itu, masyarakat Labuha meyakini bahwa masjid tersebut telah berumur ratusan tahun. Masjid berdenah persegi ini memiliki atap limasan bersusun dua yang berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang memiliki diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan.
Masjid Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi dekat masjid dari tiga arah jalan masuk ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut. *** [161014]
Share:

Kedaton Kesultanan Bacan

Menyusuri Pelabuhan Labuha di Pulau Bacan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tidak sekadar menyaksikan kegiatan bongkar muat kapal yang membawa ikan tapi juga bisa merasakan segarnya tiupan angin yang berasal dari Selat Bacan maupun Selat Herberg. Tidak jauh dari pelabuhan tersebut menuju ke arah barat, Anda akan bisa melihat sebuah bangunan beratap hijau yang khas kolonial. Bangunan tersebut merupakan kedaton atau kraton dari Kesultanan yang menjadi bangunan terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Bangunan kraton yang sekarang ini sekilas menyerupai rumah tinggal biasa. Akan tetapi, bila diperhatikan lebih seksama lagi, gaya arsitekturnya masih menunjukkan ciri-ciri arsitektur gaya kolonial kuno pada bagian atap dan jendela-jendela yang ada.
Kedaton atau Kraton Sultan Bacan ini terletak di Jalan Oesman Syah RT.03 RW.07 Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan. Lokasi kedaton ini berada sekitar 100 meter dari Masjid Kesultanan Bacan.


Menurut Hikayat Bacan, yang dipublikasikan pada 1923 oleh W. Ph. Coolhaas dalam Tijdschrift van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap (jilid LXIII, penerbitan kedua), disebutkan bahwa pada zaman dahulu kala pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menyatu dalam satu semenanjung, yang dinamakan Tanah Gapi. Kemudian datanglah seorang saudagar sekaligus pendakwah dari Jazirah Arab yang bernama Jafar Sadek ke Tanah Gapi. Jafar Sadek mempunyai empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Ketika anak-anaknya telah menginjak dewasa, Jafar Sadek berdoa kepada Allah SWT agar anak-anaknya kelak dijadikan raja di tempat yang berlainan, dan setelah itu terdengar guntur, kilat, hujan dan angin ribut di malam yang gelap gulita. Akibatnya, Tanah Gapi terpecah menjadi pulau-pulau. Anak lelaki pertama, Buka, kemudian bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal Kerajaan Bacan. Anak lelaki kedua, Darajat, bertolak ke Moti dan menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Anak lelaki ketiga, Sahajat, pergi ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore. Anak lelaki keempat, Mashur Malamo, berlayar ke Ternate dan menjadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedangkan keempat anak perempuannya pergi ke Banggai dan bermukim di sana. Kesultanan Bacan merupakan salah satu dari empat Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang ada di Maluku Utara.
Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta lantaran ancaman gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang Makian yang ikut dalam evakuasi bersama rajanya. Diperkirakan, Kerajaan Bacan didirikan pada tahun 1322. Tidak jelas bagaimana proses pembentukannya tetapi bisa ditaksir sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku, yakni bermula dari pemukiman yang kemudian membesar dan tumbuh menjadi kerajaan.


Raja pertama Bacan, menurut hikayat tersebut adalah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di Gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertahta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik. Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertahta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar Pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.
Hikayat Bacan juga menyebutkan bahwa Sida Hasan naik tahta menggantikan ayahnya Muhammad Hasan. Pada masa Sida Hasan inilah terjadi evakuasi ke Bacan. Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau dan Imbu-imbu. Raja yang berkuasa setelah itu adalah Zainal Abidin. Sayangnya, hikayat ini tidak menjelaskan kapan Sida Hasan maupun Zainal Abidin berkuasa. Kemungkinan besar keberadaan raja atau raja-raja tertentu sebagai mata rantai yang hilang antara masa Sida Hasan dan Zainal Abidin, karena Sida Hasan dikabarkan bertahta pada 1343, sementara Zainal Abidin pada 1522.
Bacan, dalam bahasa setempat memiliki arti harfiah membaca. Membaca di sini dimaknai dengan memasukkan sesuatu, atau usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan. Makna tersebut tidak bisa dilepaskan juga dengan tugas dan fungsi Sultan Bacan kala itu.
Kesultanan Bacan dalam Kesultanan Moloku Kie Raha memiliki peranan penting sebagai pemasok bahan-bahan pangan untuk seluruh wilayah Maluku Utara. Pada masa kejayaannya dulu, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan tergolong cukup luas, yaitu dari sebagian daerah di Sulawesi bagian utara, Filipina bagian selatan hingga ke wilayah Papua sebelah barat. Tidak hanya itu, Pulau Bacan yang menjadi pusat Kesultanan Bacan memiliki kekayaan hasil alam yang diminati dunia internasional pada waktu itu berupa rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. Tak heran kalau bangsa Portugis sebelum mengunjungi kawasan Maluku dengan Kepulauan Rempah-Rempah (as Ilhas de Crafo).
Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali dengan kedatangan bangsa Portugis untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasar Eropa kala itu. Bermula dari inilah akhirnya Pulau Bacan secara silih berganti menjadi koloni sejumlah negara dari Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda. Perebutan monopoli akan rempah-rempah tersebut, pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem ke pemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda. *** [141014]

Kepustakaan:
https://www.academia.edu/4487710/Sejarah_Kepulauan_Rempah_Rempah
http://id.wikipedia.org/wiki/Hikayat_Bacan
Share:

Benteng Barnaveld

Pulau Bacan merupakan salah satu di antara gugusan Kepulauan Maluku yang terdapat di sebelah barat daya Pulau Halmahera. Bacan, selain terkenal dengan rempah-rempah, hasil laut, dan dikenal sebagai daerah penghasil batu bacan yang kesohor ke seantero Indonesia ini, juga kaya akan nilai sejarah dan warisan budaya. Salah satu bentuk peninggalan sejarah dan warisan budaya yang terdapat di Pulau Bacan adalah benteng Barnaveld atau Fort Oldebarneveld te Batjan op de Molukken, biasanya disingkat menjadi Fort Barnaveld saja.
Benteng Barnaveld terletak di Jalan Benteng Barnaveld RT.04 RW.08 Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di samping kanan perguruan milik Yayasan Al Khairaat.


Ketika bangsa Portugis tiba di Maluku, Bacan merupakan salah satu dari empat kerajaan besar yang ada di Maluku, atau yang dikenal dengan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku).
Bangsa Portugis sebelum mengunjungi kawasan ini menyebutnya dengan Kepulauan Rempah-Rempah (spice island). Penyebutan ini, dalam abad pertengahan, diberikan sebelum orang Barat mengetahui secara pasti lokasi negeri asal rempah-rempah yang mereka konsumsi.
Thome Pires dalam bukunya, Suma Oriental: an Account of the East, from the Red Sea to Japan, -yang ditulis di Malaka dan diselesaikan di India antara 1512-1515 - dalam M. Adnan Amal (2006) diceriterakan bahwa tanah asal tanaman cengkih (eugenia aromatica) adalah lima pulau kecil di Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan. Sementara tanah asal pala (myristica fragrans) adalah Banda, tetapi di Bacan juga tumbuh pohon tersebut, yang mungkin disebarkan ke sana oleh burung atau manusia.
Pada abad pertengahan, rempah-rempah masih merupakan barang mewah di Eropa yang bernilai sangat mahal. Karena harga jualnya yang sangat tinggi di pasaran Eropa, tidaklah mengherankan jika para pedagang berusaha mati-matian membawanya ke sana, sekalipun dengan resiko tinggi yang mesti dihadapi sepanjang jalur perniagaan.
Di kalangan bangsa Eropa ketika itu, Spanyol dan Portugis merupakan pesaing keras dalam upaya menemukan daerah-daerah penghasil rempah-rempah tersebut, baru disusul oleh Belanda.


Pada tahun 1558 bangsa Portugis datang dan bermukim di Labuha, mereka mendirikan sebuah benteng kecil. Tidak lama benteng ini dibangun, bangsa Spanyol datang berdagang di benteng ini, alih-alih berdagang benteng ini justru direbut oleh Spanyol dari Portugis. Tahun 1609 Laksamana Muda Simon Hoen bersama dengan Sultan Ternate menuntut kepada bangsa Spanyol agar benteng ini diserahkan kepada mereka.
Tuntutan mereka ini tidak menunggu waktu untuk dipenuhi, benteng tersebut kemudian direnovasi dan diperkuat atas gagasan Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon. Empat bastion kemudian dibangun dan menamai benteng ini dengan nama Barnaveld.
Ketika dikuasai Belanda pada tahun 1609, benteng ini dipugar dengan kapur dan batu. Di tengah-tengah benteng dibangun sebuah rumah yang kokoh dengan atap dari rumput kering dan ruangan bawah tanah dengan dinding setebal satu kaki. Di sekitar benteng ditemukan batu prasasti besar dengan tulisan Latin dan di bagian kanan batu prasasti tersebut terdapat tanda keluarga Pieter Both, Gubernur Jenderal pertama VOC.
Benteng berbentuk segi empat dilengkapi dengan tembok pertahanan yang rendah. Pada tembok pertahanan ini ditempatkan masing-masing sebuah bastion lengkap dengan meriam (sekarang tinggal empat buah meriam saja). Pintu gerbang utama dibangun berbentuk melengkung, menghadap ke arah Sungai Amasing yang konon menjadi pintu masuk ke Teluk Labuha yang menghadap ke Selat Bacan.
Benteng pernah diperluas dan dilengkapi dengan sebuah sumur dan sebuah tangga dari batu. Kemudian di dalamnya terdapat bangunan-bangunan kolonial lain sebagai pendukung aktivitas dalam benteng tersebut.
Pada waktu ditinggalkan oleh Belanda, benteng ini tidak terurus dan sempat diselimuti oleh semak belukar serta beberapa pohon beringin besar. Namun, ketika penulis berkunjung ke benteng tersebut merasa lega karena pada saat itu sedang dilakukan pemugaran benteng Barnaveld oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate dengan nomor kontrak 258/BPCB.TTE/2014 Tanggal 19 Mei 2014 dengan jangka waktu 120 hari kalender. Nilai kontraknya sebesar Rp 558.100.000,- yang bersumber dari APBN, dan kontraktor pelaksananya adalah CV. Iyan’s Pratama. *** [141014]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami