The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Jombang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Jombang. Tampilkan semua postingan

Klenteng Boo Hway Bio

Mojoagung merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah administratif Kabupaten Jombang. Daerahnya terletak di perbatasan antara Jombang dan Mojokerto. Sebagai kota kecamatan, Mojoagung tergolong ramai dan memiliki kekuatan ekonomi yang lumayan. Mojoagung terkenal dengan perajin cor kuningan, sepatu kulit, dan lain-lain.
Di daerah Mojoagung ini, di kawasan pusat kotanya terdapat alun-alun kecil. Dulu, alun-alun ini adalah pasar tradisional Mojoagung, akan tetapi seiring perkembangan wilayah tersebut, pasar tadi direlokasi ke arah utara dan bekasnya dijadikan alun-alun.
Tepat berada di sebelah utara dari alun-alun ini, Anda bisa menyaksikan klenteng Boo Hwy Bio. Klenteng ini terletak di Jalan Raya Utara Alun-Alun 16 Mojoagung, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.


Menurut sejarahnya, Klenteng Boo Hwy Bio didirikan pada tanggal 6 Lak Gwee atau bertepatan dengan 6 Juni 1928 oleh orang-orang Tionghoa yang pergi merantau dan akhirnya berdomisili di Mojoagung.
Klenteng yang berukuran kecil ini menghadap ke selatan atau arah ke alun-alun. Klenteng ini sengaja dibangun berdekatan dengan pertigaan jalan atau persimpangan jalan, karena berdasarkan kepercayaan orang-orang Tionghoa bahwa lokasi tersebut berisi segala pengaruh negatif. Pengaruh buruk tersebut akan hilang atau sirna dengan dibangunnya klenteng ini.
Bangunan paling depan dari klenteng ini adalah men lou wu, pintu gerbang untuk masuk ke dalam bangunan utama, yang di sebelah kiri dan kanannya disambung dengan pagar. Pada men lou wu tersebut di bagian atasnya terdapat ornamen sepasang naga.
Sebelum memasuki bangunan utama, peziarah akan melintasi halaman dengan lantai con block. Di halaman depan klenteng ini tampak dua menara menyerupai botol untuk membakar kertas-kertas doa.
Melangkah lagi ke depan, peziarah akan sampai kepada bangunan utama dari klenteng ini. Tidak seperti klenteng lainnya yang ada di Indonesia, ruang utama klenteng ini juga diberi pagar yang terbuat dari besi (tosan aji) meninggi hingga atap. Pada pagar tersebut terdapat ornamen singa dan naga di sebelah kiri dan kanannya. Lalu, pada bagian depan pintu utama klenteng ini terdapat hiolo yang terbuat dari kuningan dengan ornamen sepasang naga, yang sebelah kiri dan kanannya terdapat cok say, sebuah patung singa yang ditempatkan di atas pondasi berbentuk bujur sangkar.
Di atas pintu utama terdapat kaligrafi horisontal dalam aksara Tionghoa, sedangkan di sebelah kiri dan kanannya terdapat kaligrafi huruf kanji dalam posisi vertikal.
Memasuki ruang utama dari klenteng ini, peziarah akan mendapati Kongco San Ci Kung yang merupakan Dewa Penolong, dan sekaligus dewa yang utama dalam klenteng tersebut. Di kalangan pemeluk Tri Dharma, Klenteng Boo Hwy Bio terkenal sebagai tempat keramat, yang dipercaya bisa mendatangkan berkah tersendiri bagi para penganut Khonghucu, Tao dan Buddha yang melakukan peribadatan di tempat ini. *** [260714]
Share:

Klenteng Hong San Kiong

Gudo merupakan salah satu nama kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Jaraknya sekitar 13 kilometer arah barat dari Jombang. Selain dikenal memiliki sentra industi kerajinan manik-manik bertaraf internasional berbahan limbah kaca, di daerah Gudo juga terdapat sebuah klenteng tua yang dikenal dengan nama Klenteng Hong San Kiong.
Klenteng Hong San Kiong terletak di Dusun Tukangan, Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di samping kanan Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Gudo, tepat di pertigaan jalan ke arah selatan menuju Kediri dan ke utara menuju Jombang.
Secara historis, keberadaan klenteng ini tidak bisa lepas dari kehidupan etnis Tionghoa yang berada di Gudo. Kedatangan orang-orang Tionghoa ke daerah Gudo telah berjalan ratusan tahun yang silam, mengingat lokasi Gudo di Jombang itu dekat dengan pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Bahkan, menurut keterangan yang beredar di masyarakat sekitarm penamaan Desa Gudo sendiri tidak terlepas dari keterlibatan etnis Tionghoa di daerah tersebut. Gudo berasal dari kata “Pagoda”, yaitu bangunan yang berbentuk menara yang atapnya terdapat pada tiap tingkat. Biasanya dibangun sebagai kuil atau tugu peringatan, seperti yang terdapat di India, Srilanka, Burma, Tiongkok dan Jepang. Bangunan itu konon ditemukan di mana Klenteng Hong San Kiong berdiri sekarang. Klenteng Hong San Kiong sendiri diperkirakan dibangun pada tahun 1700.


Keberadaan Klenteng Hong San Kiong bermula dari sebuah keluarga bermarga Tan yang melakukan pemujaan terhadap Kong Co Kong Tik Cun Ong. Sosok keluarga Tan memang memiliki peran cukup penting pada awal berdirinya Klenteng Hong San Kiong.
Di klenteng yang memiliki luas bangunan 3.500 m² di atas lahan seluas 16.200 m² ini, kelengkapan proses seni wayang potehi masih terjaga di Gudo. Proses produksi, pemain, dan pementasan seni wayang masih tetap terjaga hingga sekarang. Seni wayang potehi ini tidak bisa dilepaskan dari salah seorang imigran dari Tiongkok ratusan tahun silam yang bernama Tok Su Kwi. Ia merantau dari Tiongkok ke Laut Selatan hingga sampai di Pulau Jawa dengan membawa serta kesenian boneka dari wilayah Hokkian (Tiongkok Selatan) yang di daerah asalnya dikenal sebagai Pouw Tee Hie. Sesampainya di Pulau Jawa, Tok Su Kwi memilih menetap di Gudo, Jombang.
Seperti klenteng pada umumnya di Tanah Air, ketika memasuki klenteng tersebut, pengunjung akan menjumpai hiolo yang berisi abu hio. Kemudian masuk lagi ke dalam klenteng, pengunjung akan menemukan beberapa altar untuk pemujaan bagi dewa yang diyakini. Di tengah ruang ruang depan terdapat altar bagi Kong Co Kong Tik Cun Ong. Di sebelah kirinya terdapat, altar Kong Co Hong Tik Cun Sing atau Dewa Bumi. Sebelahnya Dewa Bumi, terdapat altar Kong Co Hyang Thian Sing Tee atau Dewa Langit. Sedangkan, di sisi kanan altar Kong Co Kong Tik Cun Ong terdapat altar Kwan Sing Tee Koen atau Dewa Kebenaran/Keadilan.
Klenteng Hong San Kiong ini merupakan tempat peribadatan bagi penganut Tri Dharma, yaitu agama Buddha, Konghucu dan Taois. Selain sebagai tempat bersembahyang bagi tiga penganut keyakinan tersebut, klenteng ini juga berfungsi sebagai balai pengobatan. Yang boleh berobat di balai pengobatan ini bukan hanya bagi pemeluk Tri Dharma saja, namun banyak warga sekitar klenteng yang pada umumnya muslim juga boleh berobat. Hal ini yang melahirkan interaksi antara penduduk sekitar dengan etnis keturunan Tionghoa. Interaksi yang demikian menjadikan klenteng itu tetap eksis sampai sekarang ini meski berada nun jauh dari suasana perkotaan besar pada umumnya. *** [260714]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami