SMA
Negeri 3 Magelang, atau yang biasa disingkat menjadi SMAN 3 magelang merupakan
salah satu sekolah menengah atas negeri yang berada di Kota Magelang. SMA ini
biasa disebut juga sebagai SMANAGA atau Medang
High School.
SMA
ini terletak di Jalan Medang No. 17 Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan
Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi SMA ini berada di
daerah central business Kota Magelang
dan tidak terlalu jauh dengan Gedung Bundar.
Dilihat
dari kesejarahannya, SMAN 3 Magelang masih tergolong belum tua bila
dibandingkan dengan “induknya”, yaitu SMAN 1 Magelang. Pada waktu itu, Drs.
Wahono, Kepala SMAN 1 Magelang, pada 15 Juli 1985 mendapat tugas untuk membuka
SMAN 3 Magelang, dan menempati gedung yang dulunya pernah digunakan oleh Sekolah
Pendidikan Guru Negeri (SPGN) dengan membayar uang sewa kepada pihak KODIM yang
ketika itu status gedung SMAN 3 Magelang masih dianggap milik KODIM. Baru pada
tahun 1990, status tersebut dilimpahkan, dan menjadi milik SMAN 3 Magelang.
Pada waktu penerimaan siswa baru di awal tahun ajaran 1985/1986, jumlah siswa yang diterima adalah 131 siswa yang terbagi menjadi 3 kelas dengan jumlah tenaga guru yang masih terbatas, yaitu sebanyak 7 orang guru yang kesemuanya masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) seperti Drs. Umar Yunoto, Drs. Rustam Bambang, Drs. Sugiyanto, Drs. Sulistyo Pribadi, Dra. B. Rimbawati, Drs. V. Naryoso, dan Pudyastuti serta dibantu 5 guru dari SMAN 1 Magelang ditambah dengan Achmad Soetrisno selaku Wakil Kepala SMAN 3 Magelang.
SMA
yang memiliki lahan seluas 1.400 meter persegi ini, memiliki sisi menarik
dilihat rancang bangun dari gedung bagian depannya atau aula SMAN 3 Magelang.
Gedung tersebut, awalnya merupakan sekolah khusus orang Tionghoa yang dikenal
dengan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) atau
Rumah Perkumpulan Tionghoa. Sekolah THHK ini didirikan, karena pada masa
pemerintahan Belanda, golongan yang bisa bersekolah hanyalah golongan elit dan
ningrat saja. Sehingga, karena kondisi tersebut, sejumlah warga Tionghoa
memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus orang Tionghoa tersebut.
Dengan
didirikannya sekolah THHK tersebut, menimbulkan kekhawatiran Pemerintah
Kolonial Belanda terhadap gerakan Tionghoa di Hindia Belanda. Tak ingin merebak
lebih besar, Belanda akhirnya mendirikan sekolah untuk anak-anak Tionghoa
dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, Hollandsche Chineseche School (HCS) pada tahun 1913 di Magelang.
Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) adalah sekolah pertama yang diperuntukkan untuk mengedukasi anak-anak Tionghoa, dan sekaligus sebagai lembaga transfer kultur dan pemikiran Tionghoa. Akan tetapi, sekolah THHK pada masa kemerdekaan dan paska kemerdekaan tidak lagi dipertahankan (sekitar tahun 1965).
Lalu,
gedung tersebut berubah menjadi gedung bioskop yang bernama Mutiara Theater
hingga tahun 1980-an. Setelah Mutiara Theater tutup, gedung tersebut digunakan
untuk SPGN untuk beberapa tahun.
Setelah
ditinggalkan SPGN karena SPGN menempati gedung baru di Jalan Senopati,
Magelang, gedung tersebut kemudian dipakai untuk STM 45 hingga STM tersebut
menempati gedung baru di Jalan Pahlawan. Kemudian kekosongan gedung ini,
akhirnya dipinjam untuk digunakan sebagai Kantor Kelurahan Rejowonangun Utara
dari KODIM. Setelah itu, sejak tahun 1985, gedung tersebut dipergunakan oleh
SMAN 3 Magelang sampai sekarang.
Menyimak
perjalanan penggunaan aula SMAN 3 Magelang yang terletak di bagian depan,
mempelihatkan bahwa gedung tersebut layak mendapat predikat sebagai cagar
budaya. Tidak semua warisan budaya ketika ditemukan sudah berfungsi dalam
kehidupan masyarakat pendukungnya (living
society). Terbukti cukup banyak yang digunakan di dalam peran baru atau
tetap seperti semula. SMAN 3 Magelang meski merupakan pengguna terakhir
bangunan heritage tersebut,
sesungguhnya bangunan ini permulaannya juga memang digunakan untuk lokasi
proses belajar mengajar juga. *** [191214]











