The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Solo Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo Heritage. Tampilkan semua postingan

National Cash Register Model 442X: Saksi Bisu Kejujuran dan Perdagangan dari Awal Abad ke-20

Sabtu (13/06) siang, suasana Pasar Nostalgia Balekambang terasa hidup. Deretan stan yang dipenuhi benda-benda lawas seolah mengajak setiap pengunjung menelusuri lorong waktu. 

Bersama anak wedok ragil, saya menyusuri satu per satu stan di sisi timur pasar. Di antara koleksi radio tua, lampu antik, dan peralatan rumah tangga klasik, pandangan saya berhenti pada sebuah benda yang memancarkan pesona berbeda, yaitu sebuah mesin kasir mekanik berwarna keemasan dengan ukiran yang anggun.

Benda itu bukan sekadar mesin kasir tua. Di bagian depannya tertera identitas yang membuat para kolektor barang antik berbinar, National Cash Register Model 442X Numbered 819887.

Sekilas, mesin itu tampak seperti karya seni dari logam. Ornamen khas berpadu dengan bodi kuningan berlapis nikel menghadirkan kesan mewah sekaligus kokoh. Namun, di balik tampilannya yang memesona, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya sistem perdagangan modern dan upaya manusia menjaga kejujuran dalam berbisnis.

Mesin kasir lawas National Cash Register Model 442X Numbered 819887 

Pada zamannya, mesin kasir mekanik bukan hanya alat penghitung uang. Perangkat ini digunakan untuk menjumlahkan nilai pembelian, mencatat transaksi penjualan, sekaligus menyimpan uang tunai dalam laci kasir. 

Di era ketika komputer, kamera pengawas, bahkan listrik belum menjadi bagian dari aktivitas perdagangan sehari-hari, mesin seperti inilah yang menjadi penjaga kepercayaan antara pemilik usaha dan pegawainya.

Model yang saya jumpai ternyata bukan tipe biasa. Penandaan 442X menunjukkan bahwa mesin tersebut merupakan varian khusus yang diproduksi sekitar tahun 1910–1915 oleh National Cash Register Company (NCR). Huruf "X" bukan sekadar pelengkap nomor model, melainkan penanda bahwa mesin ini dirancang untuk menggunakan mata uang tertentu di luar Amerika Serikat.

Menariknya, varian yang dipajang di Pasar Nostalgia Balekambang dibuat khusus untuk menangani mata uang Jerman, yaitu Mark, yang terbagi dalam100 Pfennig. Karena diproduksi berdasarkan pesanan khusus sesuai kebutuhan negara tujuan, varian bertanda "X" tergolong langka dan kini menjadi incaran para kolektor di berbagai belahan dunia.

Seri mesn kasir untuk mata uang Jerman

Melihatnya dari dekat seakan membawa imajinasi pada sebuah toko di Eropa lebih dari seabad silam. Setiap kali tuas ditarik, roda-roda mekanik berputar, angka-angka muncul pada jendela kecil, lalu bunyi khas "cling" terdengar ketika laci kas terbuka. Tidak ada layar digital, tidak ada pemindai kode batang, hanya presisi mekanik yang dirancang dengan kecermatan luar biasa.

Sejarah NCR sendiri berawal dari penemuan mesin kasir mekanik pertama oleh James Ritty pada tahun 1879. Penemuan tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi berdirinya National Cash Register Company. Babak baru dimulai ketika John Henry Patterson bersama adiknya, Frank Jefferson Patterson, membeli perusahaan itu pada tahun 1884.

Di tangan dua bersaudara tersebut, NCR berkembang pesat. Berbagai inovasi pemasaran, strategi penjualan, serta ekspansi ke pasar internasional menjadikan perusahaan yang bermula dari Dayton, Ohio, tumbuh menjadi salah satu perusahaan dengan laju pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat.

Namun, kisah sukses itu ternyata lahir dari persoalan yang sangat sederhana, yakni kejujuran. Keluarga Patterson memiliki sebuah toko kecil. Mereka menyadari bahwa sebagian uang hasil penjualan menghilang setiap hari karena dicuri pegawai.

Mesin kasir jadul dilihat dari sisi samping

Pada masa itu belum ada kamera pengawas, belum ada perangkat lunak pencatatan transaksi, dan mustahil mengawasi seluruh aktivitas toko setiap saat. Mereka membutuhkan sebuah alat yang mampu mencatat setiap transaksi secara objektif sehingga setiap dollar, atau setiap sen pada masa itu, dapat dipertanggungjawabkan.

Dari kebutuhan sederhana itulah mesin kasir berkembang menjadi simbol akuntabilitas dalam dunia perdagangan. Teknologi yang lahir bukan semata untuk menghitung uang, tetapi juga membangun kepercayaan.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, National Cash Register Model 442X Numbered 819887 berdiri tenang di sebuah stan Pasar Nostalgia Balekambang. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya benda antik yang indah dipandang. Namun bagi mereka yang memahami sejarahnya, mesin ini adalah saksi perjalanan panjang peradaban niaga, dari masa ketika setiap transaksi dicatat oleh roda-roda mekanik hingga era digital yang serba otomatis.

Di tengah hiruk-pikuk pasar nostalgia, saya menyadari bahwa benda-benda tua tidak pernah benar-benar kehilangan fungsinya. Jika dahulu mesin kasir ini menjaga kejujuran dalam perdagangan, hari ini ia menjaga ingatan kita bahwa setiap kemajuan teknologi selalu berawal dari kebutuhan manusia untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya, mesin kasir tua tersebut tetap memikat perhatian. Ia bukan hanya menyimpan uang pada zamannya, tetapi juga menyimpan cerita yang nilainya jauh lebih berharga daripada isi laci kasnya. *** [290626]



Share:

Rumah Sakit Kadipolo Solo

Bekas Rumah Sakit Kadipolo (RS Kadipolo) mencuat menjadi pemberitaan lagi setelah terjadi sengketa lahan pada tahun 2018. Kasus ini bermula dari penjualan aset keluarga Cendana (Sigit Harjoyudanto) berupa bekas  RS Kadipolo seluas 22.550 meter persegi kepada PT Sekar Wijaya (SW).
Karena RS Kadipolo telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) di Surakarta, atau dikenal dengan Kota Solo, akibatnya PT Sekar Wijaya tidak bisa melanjutkan pengurusan perizinan berupa IPR (Izn Penggunaan Ruang) dan IMB. Impiannya untuk mendirikan apartemen megah di Kota Solo kandas sudah. Lalu, PT Sekar Wijaya membatalkan jual beli tanah itu dan meminta kepada Sigit Hajoyudanto alias Sigit Soeharto mengembalikan uang muka pembelian tanah senilai Rp 21,5 miliar lantaran pihak Sigit dinilai tidak jujur. Namun, sampai sekarang uang belum dikembalikan Sigit Soeharto hingga melakukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Solo.
Kabar terakhir, lahan bekas RS Kadipolo itu sudah diblokir oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Solo selagi sengketa itu belum usai, atas permintaan kuasa hukum PT Sekar Wijaya. Hal ini dimaksudkan agar tanah sengketa ini tidak berpindah tangan ke orang lain.

Foto Lawas Rumah Sakid Kadipolo (Sumber: http://bedah.fk.uns.ac.id/)

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengomentari perihal sengketa tanahnya tapi lebih kepada kisah historis dari RS Kadipolo tersebut, yang terletak di Jalan Rajiman, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah sakit ini berada di sebelah timur Kantor Kelurahan Panularan, dan tak jauh dari perempatan Baron.
Dalam buku, DR. KRT. Rajiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1998) diterangkan dengan gamblang bagaimana rumah sakit itu didirikan. Awalnya dokter Rajiman Wedyodiningrat adalah seorang dokter pribumi yang diangkat menjadi dokter Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1899, bulan Januari, ia menjadi pegawai Gubernemen Belanda dan bertugas di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Pelayanan Kesehatan Rakyat Pusat) Betawi (RSUP Dr. Cipto Mangkunkusumo) sebagai dokter pada bagian bedah mayat. Tahun 1899, bulan Mei, ia pindah ke Banyumas, dengan tugas memberantas penyakit cacar di Kalirejo-Purworejo. Tahun 1900, ia ditugaskan di Semarang, memegang bagian chirurgie dan bedah mayat. Tahun 1901 sampai 23 Desember 1902, ia ditugaskan di Rumah Sakit Umum Madiun (Jawa Timur).
Kemudian pada tahun 1903-1904, ia ditugaskan kembali ke Betawi menjadi Assistent Leraar di STOVIA ( d sini, dokter Rajiman sambil studi di STOVIA lagi). Tahun 1904-1905, ia ditugaskan di Sragen sebagai dokter umum. Tahun 1905-1906, ia ditugaskan di Lawang (Jawa Timur) di Rumah Sakit Jiwa. Tahun 1906, ia mengajukan permohonan berhenti dari Gubernemen, dan kemudian dari tahun 1906 hingga tahun 1934 dokter Rajiman Wedyodiningrat bekerja sebagai dokter Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X atau Sri Susuhunan Pakubuwono X. Sri Susuhunan Pakubuwono X (PB X) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1893 hingga tahun 1939. PB X diyakini sebagai Raja Besar Terakhir Trah Mataram Surakarta.

Bekas Bangsal RS Kadipolo. Dipotret pada 30 Juli 2014 dari sebelah barat

Selama mengabdi sebagai dokter kraton, dokter Rajiman memelopori pembangunan di bidang kesehatan khususnya pelayanan kesehatan untuk para abdi dalem dalam kraton.
Pada tahun 1915-1917 atas usahanya Kraton Surakarta membuka apotek sendiri dengan mendatangkan seorang apoteker dari negeri Belanda. Apotek itu kemudian diberi nama Panti Hoesodo. Inilah pertama kali ada suatu kraton memiliki apotek, sehingga sudah barang tentu akan memperlancar pelayanan kesehatan, khususnya penyediaan obat-obatan yang cukup memadai. Pendirian apotek ini dianggap amat penting karena di samping akan menunjang profesinya juga ilmu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena tanpa penyediaan obat-obatan yang cukup memadai, keahliannya kurang cukup untuk menolong penderita. Jadi, pendirian sebuah apotek ini merupakan suatu keberanian pada saat itu, mengingat tenaga ahli untuk itu memang belum ada. Tetapi keahliannya dalam dunia kedokteran menuntut adanya sarana tersebut.
Keberanian dokter Rajiman dalam melaksanakan gagasannya tidak berhenti di situ. Tahun berikutnya, dia mengusulkan kepada pihak kraton untuk dapat didirikan sebuah rumah sakit yang dapat melayani para abdi dalem kraton. Mendengar gagasan tersebut, PB X amat menyetujui. Langkah ini penting sekali bagi dokter Rajiman, sebab dengan berdirinya rumah sakit akan sangat membantu pengembangan dan peningkatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Dokter Rajiman menyadari, betapapun keahlian yang beliau miliki dalam dunia kedokteran, semuanya mustahil dapat dinikmati oleh masyarakat luas bila tanpa adanya suatu rumah sakit.
Beliau tidak puas kalau ilmunya hanya dapat dinikmati oleh lingkungan keluarga raja. Rumah Sakit ini kemudian diberi nama Panti Rogo yang teletak di daerah Kadipolo, atau yang dalam sumber litetatur Belanda dikenal dengan Ziekenhuis”Pantirogo” te Soerakarta. Sebagai seorang pendiri rumah sakit tanggung jawabnya memang berat dan hal tersebut menuntut kecermatan, ketekunan, kepemimpinan dan keahlian, baik dalam bidangnya sendiri maupun manajemen. Pengelolaan rumah sakit memang membutuhkan keahlian khusus. Di sinilah tampak bakat kepemimpinan dokter Rajiman.

Kondisi depan RS Kadipolo. Dipotret pada 30 Juli 2014 dari utara

Dalam kegiatannya yang memuncak tersebut, ternyata menjelang usia 55 tahun dokter Rajiman menderita penyakit “encok” dan untuk pencegahannya, beliau mengajukan permohonan pensiun kepada PB X serta setelah mempertimbangkan segala alasannya akhirnya Raja Kasunanan tersebut mengabulkannya.
Sebagai penggantinya, sesuai yang tercatat dalam Regeering Almanak Voor Nederlandsch-Indië 1941 adalah Kanjeng Raden Tumenggung Dr. Mangoendiningrat, yang dalam tugasnya dibantu oleh petugas kesehatan Raden Ngabehi Prodjohoesodo dan Raden Pandji Prawirohoesodo. Setiap yang menjabat sebagai direktur rumah sakit tersebut, oleh Kraton Surakarta diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) seperti halnya dengan Dokter Kanjeng Raden Tumenggung Rajiman Wedyodiningrat.
Setelah Indonesia merdeka, Kraton Surakarta menyatakan diri menjadi bagian dari negara Republik Indonesia (RI). Hal ini sekaligus mengakhiri kraton sebagai Pangreh Praja (Inlandsch Bestuur). Sejak itu, kraton tak lagi mempunyai biaya untuk fasilitas publik yang dulu telah didirikan. Pada tahun 1948, pengelolaan RS Panti Rogo diserahkan kepada pemerintah Jawa Tengah dalam kondisi bahwa keluarga kerajaan dan pegawai yang dirawat di rumah sakit menerima bantuan berupa keringanan pembiayaan rumah sakit.
Awal tahun 1960, pihak Kraton menyerahkan sepenuhnya RS Panti Rogo, baik bangunan dan seluruh tenaga kesehatannya kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Surakarta, dan semenjak itu nama rumah sakit berubah menjadi RS Kadipolo.
Kemudian untuk menghemat biaya uang negara usai mengalami perang, pada 1 Maret 1960 direncanakan untuk mengintegrasikan tiga rumah sakit menjadi satu unit organisasi di bawah direktur dengan nama Rumah Sakit Surakarta, dan akhirnya terwujud pada 1 Juli 1960.
Rumah Sakit Surakarta terdiri dari tiga rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Mangkubumen, Rumah Sakit Kadipolo dan Rumah Sakit Jebres. Untuk mengintegrasikan dan meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, kemudian dilakukan spsesialisasi di masing-masing fungsional di rumah sakit tersebut. RS Kadipolo disebut Rumah Sakit Kompleks A spesialis untuk layanan penyakit internal. RS Mangkubumen disebut Rumah Sakit Kompleks B dengan spesialis untuk radiologi, kelamin dan kulit, gigi, mata, THT, neurologi maupun korban kecelakaan. Sementara itu, RS Jebres disebut Rumah Sakit Kompleks C dengan spesialis untuk perencanaan obstretic dan ginekologi, anak dan keluarga.
Dalam perkembangannya, RS Kadipolo (Kompleks A) menunjukkan kurang efisien dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai rumah sakit, sehingga rumah sakit ini dengan semua peralatan medis dan perelngkapan kemudian dipindahkan ke RS Mangkubumen pertengahan Januari 1977. Sejak itu rumah sakit ini tidak lagi berfungsi sebagai institusi pelayanan kesehatan.
Lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo ini kemudian ditempati oleh Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) besamaan dengan berdirinya sekolah tersebut pada 24 April 1977. Kampus SPK ini hanya mampu bertahan selama 5 tahun karena pada Februari 1982 Departemen Kesehatan (Depkes) Pusat memerintahkan untuk pindah ke kampus baru yang berada di kawasan Mojosongo.
Selang tiga tahun, lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo berubah menjadi mess dan markas klub sepak bola Arseto. Arseto adalah klub besar kompetisi Galatama. Arseto pernah menjadi juara Galatama pada musim 1990-1992. Kejayaan Arseto terus menggelora hingga luar negeri. Arseto pernah menjuarai Kejuaraan Antarklub ASEAN pada tahun 1993, dan melaju ke babak 7 besar Liga Champion Asia di tahun yang sama.
Pada masa menjadi mess Arseto, lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo menjadi terawat dengan baik. Tanah lapang yang berada di belakang, disulap menjadi lapangan sepak bola dengan rumput yang berkualitas. Mess pemain bujang dan berkeluarga dipisah. Ada juga mess untuk pemain diklat. Belum lagi fasilitas fitness yang membuat Arseto  tak perlu kesulitas untuk berlatih. Konon, mess dan markas Arseto di Kadipolo itu menjadi salah satu basecamp klub termegah di Indonesia.
Namun ceritera tentang masa kejayaan Arseto serta kompleks Lapangan Kadipolo mulai memudar setelah Arseto dibubarkan pada tahun 1998. Lahan dan bangunan menjadi tak terawat, lapangan “mahalnya” berubah menjadi semak belukar yang banyak ditumbuhi ilalang.
Bagi orang awam, kepergian Arseto dari lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo itu mereka pikir masyarakat kemudian bisa menggunakan lapangan tersebut untuk bermain dan berlatih sepak bola, ternyata tidak. Karena ternyata lahan dan bangunan hibah dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Pemda Surakarta tidak amanah (baca: Wali Kota pada waktu itu). Bekas RS Kadipolo itu ternyata sudah dimiliki oleh klub Arseto milik putra mendiang Presiden Soeharto sejak dijadikan basecamp Arseto, dan sekarang dalam masa sengketa jual beli lahan dan bangunan yang telah menjadi cagar budaya, baik tingkat Surakarta maupun Jawa Tengah. *** [080520]

Kepustakaan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Dr. KRT. Rajiman Wedyodiningrat: hasil karya dan pengabdiannya. Ed. III. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Regeerings almanak voor Nederlandsch - Indie 1941. (1941). Batavia : Landsdrukkerij.
http://bedah.fk.uns.ac.id/?page_id=2&lang=id_ID
https://bolaskor.com/post/read/cerita-mistis-mes-peninggalan-klub-keluarga-cendana-bernama-arseto-solo
Share:

Hotel Juliana Solo

Perkembangan wilayah Vorstenlanden atau wilayah otoritas kerajaan yang merupakan pewaris dari Dinasti Mataram Islam (Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakulaman), tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebijakan politik pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu.
Pada tahun 1870 muncul yang disebut Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria), yang mendorong melonjaknya perekonomian khususnya di wilayah Vorstenlanden termasuk Surakarta. Kebijakan ini menyebabkan perkembangan yang positif bagi usaha perkebunan swasta di Hindia Belanda, khususnya wilayah Surakarta.
Perkembangan Kota Surakarta atau Solo lambat laun berkembang pesat seiring dengan makin banyaknya kalangan swasta asing yang mendirikan perusahaan perkebunan dan bermukim di kota tersebut. Fasilitas kota yang modern banyak mulai dibangun, seperti sarana pengairan pengendali banjir, jaringan listrik, jaringan jalan, jalan kereta api, pusat perekonomian, pemukiman dan fasilitas hiburan, seperti bioskop, societeit, dan hotel.

Hotel Juliana Solo pada masa Hindia Belanda (Sumber: http://antoniuspurbayan.com/)

Sama dengan Hotel Dohne, Hotel Slier maupun Hotel Rusche, Hotel Juliana hadir di Solo kala itu sebagai fasilitas modern untuk mengakomodasi keberadaan para pengusaha asal Eropa yang kian marak. Hotel itu berada di daerah Kebalen atau berada di sebelah utara Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan.
Tak banyak informasi mengenai siapa yang mendirikan Hotel Juliana ini. Dalam buku telepon wilayah Solo (Gouvernements Bedrijf Der Telefonie Gids Voor Solo) terbitan September 1930 tercetak bahwa Hotel Juliana beralamatkan di Poerbajan, dan nomor teleponnya atas nama P. van der Helder. Diperkirakan bangunan hotel tersebut didirikan antara tahun 1900-1920an.
Pada waktu berdiri, Hotel Juliana tak mau kalah bersaing dengan Hotel Slier. Kalau Hotel Slier menawarkan kepada tamu hotelnya untuk penjemputan tamu dari Stasiun Balapan menuju hotel dengan kereta kuda, pengelola Hotel Juliana siap membantu tamunya yang ingin berkunjung ke Kraton Kasunanan Surakarta.
Pada waktu itu, lokasi hotel ini berada di kawasan yang menjadi bagian dari Oude Stad van Solo yang senantiasa ramai dan diperuntukkan untuk kalangan atas. Beberapa landhuurder (penyewa tanah) yang sekaligus ondernemer (pengusaha perkebunan) suka menginap di Hotel Juliana. Tepat di depannya terdapat Solosche Schouwburg  atau Gedung Kesenian Solo (sempat menjadi gedung bioskop Fajar Theater).

Kantor Denpom IV/4 Surakarta (Foto tahun 2014)

Selain itu, menu masakan dari Hotel Juliana ini terkadang mendapat pesanan dari Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan ketika sedang ada perayaan-perayaan yang dilakukan oleh gereja yang berada di sebelah selatan hotel tersebut. Pada tahun 1935 saat Romo C. Ruijgrok, SJ mengalami kambuh sakit asmanya, untuk santapannya juga dipesankan dari Hotel Juliana.
Pada waktu Jepang menduduki Kota Solo, Hotel Juliana dijadikan sebagai kamp bantuan oleh pasukan Jepang untuk mengurusi para interniran yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak, dari Maret 1942 hingga Agustus 1942. Setelah Agustus, para interniran banyak yang dipindahkan ke Sekolan Van Deventer (sekarang SMPN 10) dan Kamp Bumi di Laweyan.
Pada akhir pendudukan Jepang, pada tahun 1945, hotel ini berubah fungsi menjadi markas pemuda dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian pada tahun 1946-1949 bangunan Hotel Juliana dipinjam untuk markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta.
Pada masa Agresi Militer II atau yang dikenal dengan Operatie Kraai (Operasi Gagak), pasukan Belanda yang membonceng Sekutu berhasrat ingin menduduki Kota Surakarta seperti dulu lagi sebelum kedatangan Jepang. Akan tetapi hasrat tersebut akhirnya harus berhadapan dengan perlawanan dari pasukan TNI dan Pasukan TP.
Sebelum memasuki Kota Solo pada 21 Desember 1948, pimpinan TNI yang membawahi Solo menggunakan taktik bumi hangus guna untuk memperlambat gerak dari pasukan Belanda memasuki Kota Solo. Mereka menilai bangunan bikinan Belanda masih dianggap kuat mengandung aroma kolonialisme sehingga harus diratakan dengan tanah ketimbang dikuasai kembali oleh Belanda. Kantor Gupernemen (sekarang Balai Kota Surakarta), Hotel Slier, Kantor Pos maupun Hotel Rusche tak luput dari bumi hangus tersebut. Sedangkan Hotel Juliana yang lokasinya tak jauh dari keempat bangunan tersebut selamat dari bumi hangus. Hal ini disebabkan karena pada waktu melancarkan bumi hangus, posisi bangunan Hotel Juliana sudah tidak dipergunakan lagi sebagai hotel melainkan sebagai markas PMI Kota Surakarta.
Paska Agresi Militer II ini kemudian bangunan hotel ini difungsikan menjadi Markas Polisi Militer Daerah Militer IV Diponegoro Detaseman IV/4 Surakarta (Markas CPM Surakarta). Saat peristiwa G30S, pada Oktober 1965 hingga Mei 1968, Markas CPM ini menjadi Kantor Teperca (Tim Pemeriksa Cabang) Surakarta dan sekaligus menjadi tempat interogasi para tapol asal Surakarta dan Klaten.
Kini, bangunan bekas Hotel Juliana itu kembali menjadi Kantor Denpom IV/4 Surakarta, yang di kalangan masyarakat Solo akrab juga dengan gedung CPM (Corps Polisi Militer) atau gedung PM (Polisi Militer) saja. Kendati menjadi Kantor Denpom IV/4 Surakarta yang notabene milik TNI, secara umum bangunan berlantai dua tersebut masih terjaga dan terawat, baik detail kusen, hiasan kaca patri, jendela, pintu, atap kayu, serta bekas lorong kamar-kamar hotel yang kini dipergunakan sebagai ruang kerja. Di bagian belakang pada bangunan yang terletak di Jalan Arifin, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Paar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah ini, masih ditemui bekas tungku cerobong dari bata yang dulu mungkin dipakai sebagai dapur masak hotel. *** [250420]

Kepustakaan:
Putranto, A., & Pradnyawan, D. (2018). MODEL PENILAIAN KUANTITATIF BANGUNAN CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA (QUANTITATIVE VALUING MODEL OF HERITAGE BUILDINGS IN SURAKARTA CITY). Naditira Widya, 12(2), 159-172. https://doi.org/10.24832/nw.v12i2.313
http://antoniuspurbayan.com/2019/12/11/sejarah-paroki-st-antonius-purbayan/
https://eprints.sinus.ac.id/147/4/001C2016STI_11.5.10008_BAB_IV.pdf
https://indischekamparchieven.nl/en/search?mivast=963&mizig=276&miadt=968&miaet=14&micode=kampen&minr=1397390&milang=en&misort=plaats%7Casc&mif1=Central%20Java&mif2=315905&miview=ika2
http://sejarahsosial.org/kamp_solo/htm/10.htm
https://www.facebook.com/notes/gereja-katolik/sejarah-gereja-paroki-santo-antonius-purbayan-surakarta/77235852439/
Share:

Loge L’Union Frederic Royal Solo

Loge L’Union Frederic Royal adalah sebuah loge yang pernah berdiri di kampung Batangan. Kampung itu sekarang secara administratif berada di Kelurahan Kedunglumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini berada di sebelah selatan Benteng Vastenburg, atau sebelah timur laut Alun-alun Lor.
Loge, dalam bahasa Belanda memiliki arti perhimpunan mason (freemasonry). Di dalam bangunan loge ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya anggota Freemasonry untuk melakukan pemujaan kepada ‘Yang Maha Terang’, yang dalam ritualnya acapkali dengan melantunkan nyanyian kerohanian dan upacara pemanggilan arwah orang mati. Loge atau loji dalam bahasa pribumi sering disebut sebagai “Rumah Setan atau Gedong Setan” sedangkan dalam bahasa Jawa disebut “Omah Pewangsitan”. Upacara ritual yang dilakukan oleh anggota Gerakan Kemasonan ini yang menyebabkan masyarakat di sekitar menyebutnya dengan omah setan (rumah setan).
Loge L’Union Frederic Royal ini didirikan oleh hampir tiga puluh orang mason bebas di Surakarta. Permintaan pendirian diajukan pada tanggal 25 September 1871, dan pada tanggal 28 Oktober 1872 dilakukan peresmian. Surakarta juga merupakan salah satu dari Vorstenlanden, dan sama seperrti Yogyakarta menikmati status semi-otonom dalam hubungannya dengan pemerintahan di Batavia. Surakarta kemudian dijadikan salah satu daerah tempat untuk mendirikan loge oleh kelompok Gerakan Kemasonan itu.

Loge L’Union Frederic Royal Soerakarta (Sumber: https://www.picuki.com/)

Tokoh yang berperan penting dalam pendirian loge ini diantaranya adalah Jonkheer Willibald Dagobert van Nispen, atau biasa disingkat menjadi Jhr. W.D. van Nispen. Ia lahir di ‘s Heerenberg pada 24 Maret 1836 dari pasangan Lodewijk Carel Jacob Christiaan Frans van Nispen dan Eulalie Louise Bender.
Nispen menikah di Sragen pada 30 September 1905 dengan seorang wanita Jawa yang ia beri nama Brunhilde, dan dari pernikahannya ini, ia dikaruniai seorang putra bernama Dagobert Anton Leonhard Karel van Nispen yang lahir di Kebonromo, Sragen, pada 14 Oktober 1907.
Jhr. W.D. van Nispen dikenal dikenal sebagai seorang yang mempunyai pengaruh dalam hal persewaan tanah di wilayah Surakarta. Kelak ia akan memimpin atau menjadi ketua dari “Solosche Landhuurders Vereeniging” (Perkumpulan Penyewa Tanah Solo), di samping ia mengepalai loge tersebut.
Freemasonry sendiri merupakan perkumpulan persaudaraan internasional ‘rahasia’ yang mempunyai kedekatan dengan jaringan Yahudi.. Dalam bahasa Belanda, freemasonry dikenal dengan Vrijmetselarij. Dr. Th. Stevens, seorang peneliti tentang perkumpulan ini, mengalihbahasakan Vrijmetselarij dalam bahasa Indonesia menjadi Tarekat Mason Bebas.
Para anggota mula-mula berkumpul di sebuah hotel, dan kemudian di sebuah rumah tinggal yang disediakan untuk maksud tersebut. Setelah bangunan loge selesai dibangun, mereka kemudian berpindah ke gedungnya sendiri, dan mendirikan Maconnieke Societeit L’Union Frederic Royal.
Gedung loge yang megah itu memiliki gaya arsitektur Indische Empire. Indische Empire Style adalah suatu gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke 18 dan 19, sebelum terjadinya “westernisasi” pada kota-kota di Hindia Belanda di awal abad ke 20. Gaya ini merupakan hasil percampuran antara teknologi, bahan bangunan dan iklim yang ada di Hindia Belanda dengan gaya Empire Style yang sedang berkembang di Perancis. Gaya arsitektur ini dipopulerkan oleh Herman Willem Daendels, mantan serdadu Napoleon Bonaparte yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36, yang memerintah antara tahun 1808-1811.
K. Hylkema pernah mengadakan penelitian dalam buku-buku keanggotaan loge-loge di Hindia Belanda (Onderzoek in de ledenboekjes der Indische loges). Di Surakarta, loge L’Union Frederic Royal memiliki anggota loge (Stevens, 2004) sebagai berikut:


1874 72 1897 62 1920 53
1875 72 1898 73 1921 48
1876 72 1899 75 1922 54
1877 72 1900 79 1923 55
1878 72 1901 77 1924 56
1879 71 1902 74 1925 56
1880 53 1903 71 1926 61
1881 53 1904 46 1927 50
1882 47 1905 45 1928 48
1883 47 1906 44 1929 45
1884 49 1907 38 1930 47
1885 25 1908 38 1931 48
1886 44 1909 42 1932 43
1887 43 1910 45 1933 40
1888 34 1911 43 1934 31
1889 34 1912 36 1935 26
1890 - 1913 42 1936 29
1891 43 1914 40 1937 26
1892 48 1915 41 1938 24
1893 45 1916 40 1939 25
1894 41 1917 40 1940 24
1895 41 1918 49 - -
1896 48 1919 50 - -

Pada waktu Jepang menduduki Surakarta, loge ini dibekukan. Kemudian bangunan gedungnya difungsikan untuk kepentingan militer Jepang yang ada di sini. Diperkirakan bangunan loge ini sudah tidak ada lagi ketika terjadi bumi hangus dari pejuang-pejuang Indonesia dalam menghadapi Agresi Militer yang dilancarkan oleh Belanda yang ingin menguasai Indonesia lagi. *** [230420]

Kepustakaan:
Stevens, Dr. Th. (2004). Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
http://www.berghapedia.nl/index.php/Nispen,_Willibald_Dagobert_van
Share:

Hotel Slier Solo

Hotel Slier merupakan salah satu hotel besar yang pernah ada di Surakarta, atau Kota Solo pada masa Hindia Belanda. Dalam buku telepon wilayah Solo (Gouvernement Bedrij Der Telefonie Gids Voor Solo) terbitan September 1930 tercetak bahwa Hotel Slier beralamatkan di Residentielaan, yang sekarang berubah menjadi Jalan Jenderal Sudirman. Lokasi bekas Hotel Slier ini kini menjadi Kantor Pos dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo (gedung yang baru).
Hotel ini didirkan oleh Geertruida Adriana Borger, janda mendiang Willem Jacobus Coers (1831-1888), pada tahun 1897. Sebelumnya, hotel ini masih merupakan sebuah losmen yang dirintis oleh Willem Jacobus Coers, seorang kapten kapal (scheepskapitein).
Losmen yang sudah dirintis oleh Coers dilanjutkan oleh istrinya sepeninggal suaminya pada tahun 1888. Kemudian losmen itu dibangun oleh istrinya menjadi hotel yang megah di zamannya, dan diberi nama Hotel Slier (Hotel Slier te Soerakarta). Ia sekaligus menjadi direkturnya hingga tahun 1910. Lalu digantikan oleh J. van Nouhuys sampai tahun 1926.

Hotel Slier Solo (Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Bangunan Hotel Slier terdiri atas dua lantai, dan memiliki gaya arsitektur Indische Empire dengan delapan kolom Doric sebagai penopang selasar bawah. Indische Empire adalah gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda antara pertengahan abad ke-18 dan akhir abad ke-19. Gaya ini merupakan replika dari Empire Style Neoklasik yang popular di Perancis abad ke-19, yang telah disesuaikan dengan iklim dan material yang ada di Hindia Belanda.
Pengaruh kolonial terlihat mendominasi bangunan Hotel Slier. Pada atapnya terdapat dormer, yaitu jendela atau bukaan lain yang terletak pada atap yang melereng dan memiliki atap tersendiri. Bingkai dormer biasanya diletakkan vertikal di atas gording pada atap utama.
Dalam foto lama, Hotel Slier kelihatan asri dengan rerimbunan pepohonan yang berada di depan hotel tersebut. Sebagai hotel terkemuka di Kota Solo pada zamannya, Hotel Slier sering menjadi tempat menginap para pejabat kolonial, pengusaha China maupun orang penting lainnya selama bertugas atau mengunjungi Kota Solo. Terkadang juga menjadi tempat untuk pertemuan sejumlah orang penting, seperti Dr. Radjiman dengan Mr. Copper Mountain.

Tuan Hartgers di kantornya yang berada di Hotel Slier, 1921 (Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/)

Suatu terobosan bagus ditempuh pengelola Hotel Slier, yakni penjemputan tamu dari Stasiun Balapan menuju hotel dengan kereta kuda. Penyediaan pelayanan penjemputan yang memadai ini tentu menguatkan minat pengunjung memilih menginap di hotel tersebut.
Selain itu, Hotel Slier juga pernah menjadi kantor dari sejumlah perusahaan yang hadir dan membangun di Kota Solo. Ketika sedang membangun gedung untuk Solosche Electricitiets Maatschappij (SEM), perusahaan ini juga berkantor sementara di Hotel Slier. Setelah selesai, barulah SEM pindah ke gedung barunya yang berada di Purwosari pada 1 Januari 1906. Perusahaan lampu Best Light & Co juga pernah membuka kantor perwakilan sementara di Hotel Slier ketika mempromosikan produknya (Kuntowijoyo, 2000: 143).
Ketika Jepang menduduki Kota Solo, Hotel Slier di bawah kepemimpinan direktur J.F.L. Schrijvers van Zenden dianeksasi oleh pasukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan hotel tersebut diambil alih oleh Indonesia. Namun, pada saat meletus Agresi Militer Belanda II (Clash II), bangunan Hotel Slier pernah menjadi sasaran aksi pembakaran (bumi hangus) oleh pejuang Indonesia dalam rangka mempersempit ruang gerak Belanda di Solo.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan situasi mulai stabil kembali, bangunan hotel yang tersisa dirombak menjadi Hotel Merdeka. Kemudian di bagian selatan didirikan Kantor Pos.
Setelah bangunan hotel Merdeka sempat mangkrak puluhan tahun, terakhir lahannya dibeli oleh Kantor Perwakilan BI Solo dan dibangun gedung ekstensi BI untuk mengganti gedung BI yang lama. Gedung BI lama yang berada di sebelah utaranya akan dijadikan sebagai museum BI di Kota Solo. *** [210420]

Kepustakaan:
Kuntowijoyo. (2000). Making An Old City A Pleasant Place To Stay For Meneer And Mevrouw: Solo, 1900-1915. Humaniora Volume XII No. 2, hal. 143.
https://www.colonialbusinessindonesia.nl/nl/database-en/catalog/item/hotel-slier-2
https://www.genealogieonline.nl/stamboom-coers/I49.php
Share:

Hotel Rusche Solo

Pada masa Hindia Belanda dulu, Solo menjadi salah satu kota yang menyenangkan untuk tinggal bagi orang-orang Belanda. Hal ini dikarenakan banyaknya fasilitas modern di zamannya dijumpai di Solo, seperti stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, perbankan, societeit, dan hotel. Di antara hotel yang ada di Solo adalah Hotel Rusche (Hotel Rusche te Soerakarta).
Dalam Gouvernements Bedrijf Der Telefonie Gids Voor Solo Uitgave Septermber 1930 No. 70 (hal. 5) disebutkan bahwa, Hotel Rusche berada di Lodjiwoeroeng. Lodjiwoeroeng merupakan sebutan nama daerah yang pernah akrab di kalangan masyarakat Solo. Daerahnya dari Gladag ke utara sampai Jembatan Arifin, terus ke barat sampai Pring Gading lalu ke selatan hingga pertigaan Jalan Imam Bonjol – Jalan Slamet Riyadi, dan kemudian ke timur sampai ke Gladag lagi.
Menurut catatan sejarah, Hotel Rusche didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Albert Rusche, seorang pengusaha Belanda yang memiliki banyak usaha di Solo. Usahanya diawali dari percetakan dan penerbitan (drukkerij) Albert Rusche & Co., kemudian merambah ke perhotelan, properti (onroerend goed), dan perdagangan ekspor impor.

Hotel Rusche Solo (Sumber: https://ruschefamily.com/)

Albert Rusche lahir di Amsterdam pada 28 Juli 1851 dari pasangan Roelof Rusche dan Alberta Wilhelmina Rusche. Ia menikah dengan Diena Jansen pada tahun 1884 di Bogor. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai 11 anak: Bertha de Wilde, Willem, Jootje, Annie, Albert, Alex, Theo, Dina, Albert Alwin Rusche, Adolph Heinrich Christian Rusche, dan Joopie.
Seperti halnya dengan Hotel Slier, Hotel Rusche merupakan salah satu hotel ternama di Kota Solo. Raja Chulalongkorn dari Siam (kini Thailand) pernah menginap di hotel ini ketika mengunjungi Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran. Berita tentang menginapnya Raja Siam dimuat dalam surat kabar De Locomotief: Samarangsch handles-en advertentieblad, 27 Juni 1901.
Hotel Rusche memiliki dua lantai, dan di atas teras depan (voor galerij) terlihat balkon untuk melihat pemandangan yang ada di depan hotel. Gaya arsitektur bangunan hotel ini pada situasi perkembangan arsitektur pada akhir abad ke 19 di Hindia Belanda, yaitu gaya arsitektur transisi. Pada umumnya arsitektur transisi ini mempunyai bentuk denah yang hampir mirip dengan arsitektur Indische Empire. Hal yang membuat arsitektur peralihan terlihat berbeda dengan Indische Empire adalah tidak adanya pilar bergaya Yunani atau Romawi sebagai ciri khasnya.
Seperti hotel-hotel terkenal di kota-kota besar di Hindia Belanda, Hotel Rusche juga mengiklankan jasa perhotelan yang dimilikinya dengan berbagai fasilitas seperti fasilitas 52 kamar lengkap dengan penerangan listrik, servis makanan, serta garasi yang bisa memuat empat buah mobil.
Bangunan Hotel Rusche yang pernah berdiri di Kota Solo itu sekarang sudah tidak ada lagi. Tinggal menjadi kenangan saja. Bekas bangunan Hotel Rusche kemudian pernah dibangun Bank Harapan Santosa (BHS) Gladag, yang pada awalnya merupakan bangunan tertinggi di Kota Solo dengan sepuluh lantai, tapi karena mengalami pailit bangunan BHS tersebut kemudian dibeli oleh pemilik Group Sun Motor, Imelda Sundoro.
Oleh Imelda Sundoro, bangunan bekas BHS itu ‘disulap’ menjadi bangunan The Royal Surakarta Heritage, sebuah hotel bintang lima di pusat Koa Solo yang memiliki 150 kamar dengan lima tipe kamar yakni superior, deluxe, executive, junior suite, dan executive suite. *** [160420]

Kepustakaan:
Aprianto, Muhammad. (2015). Dinamika Ekonomi Di Surakarta Tahun 1870-1936. Skripsi di Program Stdui Ilmu Sejarah, FIB, UNS
Riyanto, Bedjo. (2019). Siasat Mengemas Nikmat: Ambiguitas Gaya Hidup Dalam Iklan Rokok Di Masa Hindia Belanda Sampai Pasca Orde Baru 1925-2000. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino
https://ruschefamily.com/?page_id=147   

Share:

Kantor Pos Besar Solo

Koridor Sudirman merupakan salah satu koridor spesifik yang ada di Surakarta, atau dikenal juga sebutan Kota Solo. Karena sejak awal keberadaan Surakarta, koridor Jalan Sudirman sudah memiliki peran yang sangat signifikan. Jalur ini mempunyai nilai strategis. Secara morfologis kawasan Jalan Jenderal Sudirman Surakarta  tumbuh dan berkembang memiliki keberagaman bentuk arsitektural yang dipengaruhi keberagaman budaya, sebagai bagian dari suatu proses sejarah dan perkembangannya.
Di sepanjang koridor tersebut mudah ditemui bangunan-bangunan penting peninggalan kolonial Belanda. Salah satunya adalah gedung Kantor Pos Besar Solo (Postkantoor te Soerakarta). Gedung ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 8 Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi kantor pos ini berada di sebelah selatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, atau sebelah barat Benteng Vastenburg.

Kantor Pos Besar Solo (Foto: dokumentasi tahun 2015)

Gedung Kantor Pos Solo dulunya tidaklah seperti ini. Semula hanya berbentuk sederhana semacam loket yang berada di sekitar Benteng Vastenburg. Mengenai berdirinya bangunan itu tidak diketahui secara pasti, namun sekitar tahun 1812 telah ada perhubungan pos di Surakarta kendati Kota Solo tidak dilalui Jalan Pos (Postweg) yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut Surakarta masih merupakan sebuah kerajaan yang besar. Pada masa itu, pengangkutan pos masihlah menggunakan kuda.
Kemudian dengan semakin ramainya orang-orang Belanda bermukim di Surakarta, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan fasilitas publik di Surakarta. Kantor residen, perbankan, gereja, tempat hiburan, dan Kantor Pos, Telegraf dan Telepon.
Pada 1910 Kantor Pos, Telegraf dan Telepon (Post-, Telegraaf- en Telefoonkantoor te Soerakarta) dibangun dengan megah. Gedungnya berlantai dua. Pintu utamanya diapit oleh dua menara sejajar atap yang berada di atas pintu masuk utamanya. Bangunan itu berada di sebelah utara benteng (sekarang Kantor Telkom Solo), dan berhadapan dengan De Javasche Bank Agentschap Soerakarta.

Kantor Pos, Telegraf dan Telepon Tahun 1910 (Sumber: KITLV)

Namun bangunan itu kemudian mengalami nahas pada saat terjadi agresi militer Belanda II (1948). Kantor Pos, Telegraf dan Telepon (PTT) itu dibumihanguskan oleh pejuang Indonesia sebagai taktik perlawanan rakyat saat mempertahankan Kota Solo dari serangan Belanda.
Kemudian setelah kondusif dari situasi perang mempertahankan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mulai memikirkan untuk mendirikan kantor pos yang baru. Lokasi pembangunannya tidak menempati lokasi yang lama, melainkan berpindah ke sebelah barat residentieweg (lokasi yang sekarang di Jalan Jenderal Sudirman No. 8). Lahan yang digunakan adalah merupakan bekas tempat tinggal orang Belanda yang juga tidak luput dari bumi hangus tersebut.
Ketikan lahan sudah ditemukan, selanjutnya Pemerintah Indonesia mempercayakan rancangan gedungnya kepada seorang arsitek Belanda kelahiran Amsterdam, 20 April 1909 yang bernama Albertus Wilhelm Gmelig Meyling, dan pembangunan kontruksinya dilakukan pada tahun 1956.
Bangunan kantor pos ini memiliki bentuk yang sederhana dengan massa bangunan berbentuk persegi dan dimensi yang cukup besar dan masif serta memiliki irama dari barisan kolom-kolom yang berurutan rapi.
Skala bangunannya memberi kesan bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan yang formil tetapi akrab dan berkesan menerima. Ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan fasilitas yang melayani masyarakat luas. *** [250320]

Kepustakaan:
Amrita, Divya. (2011). Analisis Pembagian Kerja Dalam Rangka Meningkatkan Efektivitas Kerja Karyawan Bagian Sumber Daya Manusia Pada PT. Pos Indonesia Surakarta Tahun 2010/2011. Skripsi, Universitas Sebelas Maret. Diunduh dari https://eprints.uns.ac.id/6972/1/191731411201103101.pdf
Puspitasari, A.Y. (2007). Pengaruh Aktivitas PKL Terhadap Linkage Antara Kraton Kasunanan-Pasar Gede Surakarta. Thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Diunduh dari https://core.ac.uk/reader/11715210
Ratnatami, Ariko. (2005) Aspek Bentuk Arsitektur Bangunan Pada Makna Fungsi Bangunan Dan Ekspresi Arsitektur Kawasan Koridor (Studi Kasus: Koridor Jl. Jend. Sudirman Surakarta). Thesis. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/12825/1/2005MTA3896.pdf
http://colonialarchitecture.eu/obj?sq=id%3Abt%3A208   
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami