The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Jakarta. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Tanjung Priok

Stasiun Kereta Api Tanjung Priok (TPK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tanjung Priok, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 1,5 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun tua yang ada di Jakarta. Stasiun Tanjung Priok terletak di Jalan Taman Stasiun No. 1 RT. 05 RW. 08 Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pelabuhan Tanjung Priok, atau bersebelahan dengan Terminal Bus Tanjung Priok.
Bangunan Stasiun Tanjung Priok ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Jakarta-Tanjung Priok sepanjang 9 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1885.


Semula, bangunan Stasiun Tanjung Priok berada di sebelah utara bangunan yang ada sekarang. Pada awalnya pembangunan Stasiun Tanjung Priok ini sebagai penunjang transportasi orang dan barang dari dan ke wilayah pelabuhan. Sehingga, peranannya memang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok pada masa lalu. Karena aktivitas dan tingkat keramaian di Pelabuhan Tanjung Priok semakin meningkat dan melonjak, maka menyebabkan stasiun yang pertama tidak memadai lagi untuk menampung jumlah penumpang dan barang-barang kiriman yang terus meningkat dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan Pemerintah Hindia Belanda kala itu untuk memindahkan stasiun tersebut agar lebih representatif. Akhirnya, dibangunlah stasiun baru yang lebih besar di lokasi yang sekarang ini. Proses pembangunannya dimulai pada tahun 1914 dengan luas lahan mencapai 46.930 m² dan luas bangunan sebesar 3.768 m². Arsitek yang dipercaya untuk mendesain stasiun ini adalah C.W. Koch, yang merupakan insinyur utama dari Staatsspoorwegen (SS) yang berdiri sejak 6 April 1875.
Untuk menyelesaikan stasiun yang dibangun semasa pemerintahan Gubernur Jenderal A.F.W. Indeenburg ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa. Setelah selesai pengerjaannya, stasiun ini pertama kali dibuka untuk umum pada 6 April 1925 bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Staatsspoorwegen yang bersamaan dengan pengoperasian trem (kereta api listrik) jurusan Tanjung Priok-Meester Cornelis, dengan menggunakan lokomotif listrik seri ESS 3200 buatan Werkspoor Belanda, dan merupakan lokomotif listrik pertama yang dioperasikan di Hindia Belanda.


Meskipun Stasiun Tanjung Priok bukan merupakan stasiun pusat, namun stasiun ini tergolong megah dan mewah, yang memiliki delapan peron sehingga besarnya nyaris menyamai Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini dulunya memang untuk mengakomodir perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia karena pada waktu itu wilayah Tanjung Priok yang terletak di bagian utara Jakarta, sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan kota melalui Stasiun Jakarta Kota.
Fungsinya pada masa itu pun sebenarnya tidak hanya untuk stasiun saja melainkan juga menyediakan penginapan bagi penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar penginapan tersebut berada di sayap kiri bangunan yang khusus disediakan untuk penumpang Belanda dan orang Eropa, serta dilengkapi dengan ruang di bawah tanah yang diperkirakan berfungsi sebagai gudang logistik.
Seperti halnya Stasiun Jakarta Kota, stasiun ini juga merupakan stasiun ujung (kop station) di mana rel berakhir pada bangunan stasiun dan kedudukan sepur tegak lurus dengan peron. Stasiun ini memiliki 8 jalur ganda, 6 jalur di dalam peron dan 2 jalur berada di luar peron. Atap peron berupa struktur baja bentang lebar dengan bentuk kuda-kuda melengkung yang menaungi ke delapan peron sekaligus.
Bangunan stasiun ini sempat mangkrak beberapa tahun lamanya. Stasiun menjadi terbengkelai, kurang terurus dan kumuh dipenuhi oleh para gelandangan. Kemudian pada tahun 2008 dilakukan renovasi besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun ini. Juga tak luput, dilakukan rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik pada awal tahun 2009. Pada 28 Maret 2009, Stasiun Tanjung Priok sudah dapat kembali difungsikan.
Pada awal penggunan kembali stasiun tersebut, stasiun ini sempat melayani kereta ekonomi jarak jauh dan lokal serta KRL Ekonomi AC atau Commuter Line rute Tanjung Priok-Bekasi. Akan tetapi, sejak 1 November 2014 semua kereta api yang tadinya berangkat dari Stasiun Tanjung Priok dipindahkan ke Stasiun Pasar Pasar Senen. Hal ini lantaran stasiun ini direncanakan akan dijadikan stasiun barang.
Sejak 21 Desember 2015, stasiun ini kembali melayani Commuter Line jurusan Tanjung Priok-Jakarta Kota yang sempat beberapa tahun tidak aktif. Sehingga, denyut aktivitas stasiun mulai terlihat kembali.
Renovasi bangunan Stasiun Tanjung Priok yang berlanggam Art Deco ini memang bukan semata hanya untuk keperluan transportasi namun juga bertujuan untuk melestarikan bangunan stasiun ini sebagai cagar budaya dan sekaligus dapat menjadi pusat studi serta tujuan wisata sejarah. Penetapannya sebagai cagar budaya berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor PM.13/PW.007/MKP/2005 tertanggal 25 April 2005. *** [290416]

Kepustakaan:
Jurnal Ilmiah Desan & Konstruksi Nomor 2 Vol. 11 Desember 2012
https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=alamat+stasiun+priuk
https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Tanjung_Priok
Share:

Stasiun Kereta Api Jatinegara

Stasiun Kereta Api Pasar Jatinegara (JNG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jatinegara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian +16 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang cukup besar.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bekasi Barat No. 1 RT. 13 RW. 16 Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini terletak di depan Pasar Batu Mulia Jakarta, atau yang dikenal dengan Jakarta Gems Center.
Keberadaan Stasiun Jatinegara tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Jakarta Kota-Bekasi lewat Pasar Senen sepanjang 27 kilometer oleh Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) pada tahun 1887, dan kemudian dilanjutkan ke Kedunggedeh yang selesai pada 1891 serta diteruskan lagi hingga ke Karawang.
Pada saat membangun jalur Kedunggedeh-Karawang, Maskapai BOS mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak mampu meneruskan jalur tersebut, dan tidak bisa merawat jalur yang sudah ada. Akhirnya, jalur bekas milik Maskapai BOS ini dibeli oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1898, dan pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda). Kemudian Staatsspoorwegen (SS) melanjutkan pembangunan jalur Kedunggedeh-Karawang sepanjang 6 kilometer pada 1898. Dari Kerawang, SS meneruskan pembangunan jalur rel ke Cikampek hingga Purwakarta sepanjang 41 kilometer pada 1902. Tak hanya itu, SS juga membangun jalur rel Cikampek-Cirebon sepanjang 137 kilometer pada 1912, yang pada akhirnya terkoneksi dengan jalur kereta api dari Jawa Tengah.


Awalnya, bangunan Stasiun Jatinegara ini masihlah sederhana pada saat dibangun oleh Maskapai BOS. Wilayah Jatinegara dulunya masih bernama Meester Cornelis. Nama Meester Cornelis mengacu kepada seorang bernama Cornelis Senen, seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621. Di Batavia, Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, membuka sekolah dan memimpin ibadat agama Kristen serta menyampaikan khotbah dalam bahasa Melayu dan Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat ia mendapat sebutan “Meester” atau “Tuan Guru.”
Pada waktu itu, Cornelis Senen berkeinginan sekali menjadi pendeta, niat itu ditolak oleh Belanda karena tidak memenuhi syarat. Meski demikian, Belanda tetap mengizinkan Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, dan sekaligus diberi wilayah berupa hutan di tepi Ciliwung untuk ditempati dan sekalgus digarapnya. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis.
Seiring perjalanan waktu, daerah Meester Cornelis semakin berkembang dan kian menjadi ramai sekitar tahun 1905. Banyak orang Tionghoa yang juga berdatangan ke daerah itu untuk mengadu nasib, dan orang Belanda yang bermukim di situ. Seiring itu pula, banyak bangunan fasilitas publik dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode tersebut. Termasuk SS akhirnya juga berencana melakukan rancang bangun stasiun lama yang sudah dibuat oleh Maskapai BOS menjadi stasiun yang lebih besar untuk mengantisipasi perkembangan pesat di wilayah Meester Cornelis. Pembangunan stasiun tersebut kemudian dikerjakan pada tahun 1910, dan desain arsitekturnya dirancang oleh Ir. S. Snuyf dari Departement van Burgelijke Openbare Werken (BOW). Stasiun ini dirancang sebagai stasiun penghubung yang penting sebagai rangkaian yang baru ke stasiun Weltevreden dan jalur yang ada ke Tanjung Priok melalui Stasiun Pasar Senen.
Dalam perjalanannya stasiun ini pernah beberapa kali berganti nama. Pada waktu jalur ini masih dikelola oleh Maskapai BOS, stasiun ini dikenal dengan Stasiun BOS. Kemudian setelah diambil alih oleh SS, nama stasiun ini berubah menjadi Stasiun Staatsspoorwegen. Lalu, setelah dibangun kembali dan diperluas, stasiun ini menjadi Stasiun Meester Cornelis. Dan, setelah Jepang menduduki Jakarta, stasiun ini diganti oleh Jepang menjadi Stasiun Jatinegara sampai saat ini. Hal ini mengikuti perubahan nama dari Meester Cornelis menjadi Jatinegara yang dilakukan oleh Jepang, karena Jepang tidak suka dengan nama-nama yang masih berbau Belanda.
Dilihat dari fasade bangunan stasiun ini, tampak seperti gaya peralihan antara Indische Empire dengan gaya kolonial modern. Tampak depan tidak simetris, namun terlihat adanya penekanan bagian tengah sebagai focal point melalui ukuran ruang dan ketinggian bangunan yang lebih menonjol. Di bagian atas puncak atapnya terdapat kubah kecil (louvre), sedangkan di bagian muka atap terdapat semacam domer tapi membentuk gevel kecil.
Memasuki bangunan stasiun dari pintu utama, akan menjumpai hall yang tinggi langit-langitnya. Sehingga memungkinan adanya jendela atap (clerestory), yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Di hall tersebut ada beberapa loket untuk penjualan karcis. Dulu, sewaktu stasiun ini masih digunakan untuk pemberangkatan kereta api ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur, pemandangan di loket selalu berjubel. Tapi semenjak digunakan untuk stasiun commuter line, sudah tidak berjubel lagi namun masih menunjukkan keramaian juga.
Stasiun ini juga memiliki beberapa jalur aktif sebanyak 5 jalur. Hal ini dikarenakan Stasiun Jatinegara merupakan jalur penghubung antara Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Senen, dan Stasiun Bekasi. Bagian peronnya telah ditinggikan dengan atap tambahan berbentuk sayap.
Stasiun Jatinegara ini telah ditetapkan sebagai daftar tinggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011/M/1999 tanggal 12 Januari 1999. *** [240416]

Share:

Stasiun Kereta Api Pasar Senen

Stasiun Kereta Api Pasar Senen (PSE) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pasar Senen, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian +4,7 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang cukup besar juga.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Senen, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini terletak di Kawasan Pasar Senin, atau tepatnya berada di depan Terminal Bus Kota Pasar Senin.
Cikal bakal keberadaan stasiun ini tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Jakarta Kota-Bekasi sepanjang 27 kilometer oleh Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) pada tahun 1887. Dalam peta lawas jalur kereta api yang ada di Pulau Jawa (Oegema, 1982: 20) tidak mencatat Pasar Senen sebagai sebuah stasiun kereta api, karena stasiun ini awalnya berupa halte kecil miliki BOS untuk menunjang transportasi di Pasar Senen. Pasar ini dibuka oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai fasilitas perdagangan di pinggiran kota Weltevreden yang sekarang disebut Gambir.


Pasar Senen sendiri dibangun oleh seorang tuan tanah yang juga seorang arsitek bernama Yustinus Vinck. Awalnya pasar ini hanya dibuka pada hari Senin. Itu sebabnya disebut dengan Pasar Senen. Selang dua tahun kemudian, tepatnya pada 30 Agustus 1735, tanah yang di atasnya terdapat Pasar Senen tersebut dijual oleh Vinck kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Setelah Mossel meninggal, Pasar Senen diambil oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra. Van der Parra diangkat Dewan Hindia Belanda menjadi gubernur jenderal menggantikan Jacob Mossel pada 15 Mei 1761. Di tangan Van der Parra, Pasar Senen semakin berkembang dan menjadi ramai.
Pada 1898 jalur milik BOS diambil alih Pemerintah Hindia Belanda, dan pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda). Semula jalur kereta buatan BOS hanya sampai di Kedunggedeh, daerah Karawang. Namun semenjak di tangan Staatsspoorwegen (SS), jalur kereta api diperpanjang dari Kedunggedeh ke Karawang, dan kemudian tersambung dengan Cirebon maupun Bandung.
Seiring perkembangan waktu, Pasar Senen menjadi kian besar. Aktivitas pasar tidak hanya pada hari Senin saja, tetapi menjadi setiap hari. Perkembangan Pasar Senen beserta kawasannya akhirnya direspon oleh pihak SS untuk membangun sebuah stasiun yang lebih permanen untuk menggantikan halte kecil buaan BOS sebelumnya. Desain stasiun diserahkan kepada Ir. J. van Gendt, yang kala itu memangku jabatan sebagai Kepala Biro Pembangunan SS dan sebagai pejabat BOW (Burgerlijke Openbare Werken).
Pembangunan stasiun ini memakan waktu selama 9 tahun, yang pengerjaannya dimulai pada 1916 dan diresmikan pada 19 Maret 1925. Pada peresmian stasiun ini dilakukan dengan meriah. Hal ini menandakan bahwa stasiun yang diresmikan tersebut memang besar dan megah. Bangunan utama Stasiun Pasar Senen berbentuk persegi panjang dan simetris. Pintu utamanya berbentuk melengkung yang jumlahnya ada sembilan dan setiap pintu dipasangi tralis seperti di penjara. Pada setiap pintu masuk tersebut, masing-masing di atasnya terdapat 3 jendela kaca atas, yang disertai rooster di atas jendela tersebut. Di atas atapnya terdapat dua menara kecil khas bangunan Eropa yang berada di setiap sudut. Dilihat dari fasade bangunannya, stasiun ini memiliki gaya arsitektur Neo-Indische, dan kini di bagian depan bangunan utama stasiun didirikan bangunan kaca untuk ruang tunggu penumpang sebelum ke ruang tunggu boarding. Bangunan kaca tersebut konon mencontoh bangunan kaca yang ada di salah satu stasiun di Perancis.
Stasiun ini memiliki terowongan untuk menghubungkan emplasemen barat dan timur. Masing-masing emplasemen dipisahkan oleh jalur sepur satu, dua, dan tiga yang merupakan jalur untuk tujuan luar kota. Sementara itu, hall stasiun ini cukup tinggi sehingga sirkulasi udara di situ menjadikan sejuk ruangan. Bentuk peronnya panjang dan luas yang berada di tengah-tengah.
Stasiun Pasar Senen memiliki 6 jalur rel, yang dibagi menjadi tiga jalur di barat dan tiga jalur di timur yang dipisahkan oleh bangunan emplasemen panjang dan terbuka beratap pelana dengan struktur baja. Jalur 1 sampai 3 merupakan jalur peron barat, dan jalur 4 sampai 6 merupakan jalur peron timur.
Tak hanya jalur peron yang banyak, tetapi stasiun ini juga memiliki fasilitas yang lengkap dibandingkan stasiun kereta api lainnya. Fasilitas tersebut meliputi hall, ATM Center, ruang tunggu, ruang kepala stasiun, mini market, ruang pengawas peron, ruang customer service, kantor, musholla, toilet, area parkir luas, selasar penghubung, dan lain-lain.
Stasiun Pasar Senen merupakan stasiun yang tergolong sibuk karena frekuensi lalu lalang kereta api yang melintas cukup tinggi. Tak hanya melayani kereta api commuter line saja, namun stasiun ini juga menjadi tempat pemberangkatan kereta api kelas bisnis dan ekonomi jarak jauh yang tujuannya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. *** [050416]

Share:

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (JAKK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jakarta Kota, merupakan stasiun ujung (kop station) yang memiliki jumlah jalur terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 12 jalur. Sehingga, Stasiun Jakarta Kota mempunyai tipe terminus. Artinya, stasiun ini menjadi tempat perjalanan awal maupun akhir dari perjalanan sebuah kereta api karena sudah tidak memiliki jalur lanjutan lagi.
Stasiun Jakarta Kota adalah stasiun kereta api terbesar di Indonesia, yang berada pada ketinggian ± 4 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kota No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di depan Museum Bank Mandiri, atau di sebelah selatan BNI Jakarta Kota.
Keberadaan stasiun ini tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor), tempat kedudukan Pemerintah Hindia Belanda dan daerah penghasil teh dan kopi. Jalur ini dikerjakan oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), perusahaan kereta api swasta yang ada di Hindia Belanda, sepanjang 56 km. Pembangunan fisik jalur kereta api ini memakan waktu selama dua tahun, yaitu dimulai dari tahun 1871 dan selesai pada tahun 1873. Kemudian dibangunlah stasiun dengan bangunan yang  masih sederhana sebagai stasiun terminus, dan diberi nama Stasiun Batavia. Stasiun inilah yang kemudian dikenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara) dan letaknya dulu berada di sebelah timur Museum Seni dan Keramik.


Selain jalur Batavia-Buitenzorg, perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) juga membuka jalur baru yang mengantarkan penduduk dari Batavia ke Bekassie, Caravam (Karawang), bahkan hingga ke Bandung. Stasiun milik BOSM itu kemudian diperkirakan menjadi alasan mengapa nama Beos muncul. Meski ada alasan lain yang mungkin lebih tepat yaitu bahwa jalur ini disebut sebagai jalur yang melayani Batavia en Omstreken – Beos (Batavia dan sekitarnya). Stasiun ini dikenal juga dengan nama Batavia Zuid (Batavia Selatan).
Pada tahun 1898 jalur milik BOSM dijual kepada Pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian disusul jalur Batavia-Buitenzorg juga dijual kepada perusahaan kereta api negara tersebut pada tahun 1913.
Setelah semuanya diambil alih Staatsspoorwegen, terbersit gagasan untuk mengganti Batavia Noord dan Batavia Zuid menjadi stasiun yang besar dan megah. Kemudian dilakukan persiapan untuk mematangkan proyek tersebut, dan dipilihlah Batavia Zuid untuk dilakukan perluasan stasiun menjadi stasiun baru yang lebih luas. Station Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian pada tahun 1923, aktivitas stasiun ini dihentikan operasinya untuk persiapan dilakukan pembangunannya.



Desain bangunan stasiun ditangani oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, yang lahir pada tahun 1882 di Tulungagung. Bersama-sama dengan temannya, yaitu Ir. Hein von Essen dan Ir. F. Stolts, alumnus pendidikan arsitektur di Delft itu mendirikan biro arsitektur AIA (Algemeen Ingenieur en Architectenbureau).
Pada tahun 1926 dimulailah pembangunan stasiun tersebut, dan selesai pada 19 Agustus 1929. Kemudian stasiun ini diresmikan pada 8 Oktober 1929 sebagai stasiun utama dengan nama Stasiun Batavia Benedenstad. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jenderal Jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931. Seiring itu pula, Station Batavia Noord berhenti beroperasi dan kemudian bangunannya dibongkar. Setelah Indonesia merdeka, stasiun ini menjadi Stasiun Jakarta Kota.
Stasiun Jakarta Kota ini memiliki bangunan seluas 8.744 m², dan tercatat sebagai aset PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 022/01.11110/JAK/BD. Stasiun karya Ghijsels ini, dulu pernah dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentukbentuk tradisional setempat. Dengan balutan Art Deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi.
Stasiun Jakarta Kota ini akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993. Tak hanya itu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.13/PW.007/MKP/05, stasiun ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya pada 25 April 2005. *** [250216]


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami