The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Majapahit Site. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majapahit Site. Tampilkan semua postingan

Situs Pemukiman BPA

Situs Pemukiman BPA berada di halaman sebelah selatan Museum Majapahit, yang secara administratif termasuk Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini memperlihatkan sisa bangunan pemukiman yang sangat menarik. Denah bangunan segi empat, berukuran panjang 5,2 m dan lebar 2,15 m. Kapasaitas ruang ini relative sempit bila dijadikan tempat tinggal, paling banyak ditempati 2-3 orang seperti masih dapat disaksikan di Bali sekarang ini. Tangga terdiri dari 3 undakan, menempel di sisi utara batur. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan menghadap ke utara dengan deviasi sekitar 100 ke arah timur laut. Ukuran undakan panjang 90 cm, lebar 50 cm dan tinggi 25 cm. Lantai bangunan tidak ditutup dengan bata, kemungkinan sudah hilang, hanya dijumpai perkerasan tanah padat yang bercampur pecahan kecil tembikar dan bata. Batur bangunan terbuat dari pasangan bata yang masing-masing bata berukuran lebih kurang panjang 28 cm, lebar 18 cm dan tinggi 5 cm. Batur paling tinggi terdiri dari 10 lapis bata. Perekat antara bata berupa tanah setebal ± 0,5-1 cm. Keberadaan perekat tanah ini memberikan petunjuk bahwa bangunan ini dilindungi oleh atap agar terhindar dari erosi hujan yang menyebabkan lepasnya ikatan antar bata.
Sekeliling bangunan dijumpai selokan selebar 7-8 cm yang terbuat dari bata. Dinding selokan dibatasi oleh bata dalam posisi berdiri pada kedua sisinya dan bata rebah/horisontal di bagian dasarnya. Posisi selokan bagian barat lebih rendah dari bagian timur, sehingga dapat diperkirakan pada waktu dihuni air mengalir dari timur ke barat. Tidak ditemukan umpak di situs ini kemungkinan tiang langsung berdiri di atas lantai. Dinding juga tidak ditemukan, kemungkinan bangunan ini merupakan bangunan terbuka tanpa dinding atau menggunakan dinding dari bahan yang mudah lapuk seperti kayu atau anyaman bambu. Atap bangunan terbuat dari genteng terakota, yang pecahannya banyak dijumpai di sekitar bangunan. Genteng dibuat sangat tipis dan halus berukuran panjang 24 cm, lebar 14 cm dan tebal 1 cm.
Bangunan ini mempunyai halaman di sisi utara dan timur. Halaman-halaman ini posisinya lebih rendah 50 cm dari batur bangunan. Halaman utara diperkeras dengan susunan batu kerakal (batu andesit kecil bulat) yang dalam keluasan tertentu dibingkai segi empat dengan bata-bata yang diletakkan secara horisontal. Susunan gabungan kerakal dan bata ini menunjukkan suatu pola perkerasan yang khas. Pola halaman semacam ini dijumpai pula pada penggalian di Situs Trowulan lainnya. Luas halaman utara yang terungkap berukuran panjang 6 m, lebar 4 m, namun demikian halaman ini dapat lebih luas lagi karena halaman utara belum digali lebih luas. Perkerasan semacam ini menjadikan kenyamanan bagi penghuni rumah, karena halaman tidak becek di musim hujan dan tidak berdebu pada musim kemarau. Untuk menghindari genangan air, halaman sisi utara dilengkapi dua jalur selokan terbuka yang mengarah ke timur-barat dan selatan-utara. Keduanya berpotongan dengan selokan yang mengelilingi bangunan. Lebar selokan 16 cm, dalamnya 8 cm, dinding dan bagian dasarnya dibatasi oleh bata. Berdasar perbedaan ketinggian permukaan dasar selokan dapat disimpulkan bahwa pada masa lalu aliran air bergerak dari selatan ke utara. Pada kotak galian lain di halaman selatan Museum Trowulan, ditemukan pipa air terbuat dari tanah liat tertanam in situ di dekat lantai bangunan.
Halaman timur bangunan rumah ditemukan pula sisa-sisa perkerasan yang menggunakan kerakal berbingkai bata seperti halnya halaman utara. Luas halaman yang berhasil diekskavasi panjang 10 m, lebar 5 m. Di halaman ini terdapat sisa bangunan yang tidak diketahui bentuknya secara keseluruhan, tersusun dari pasangan bata yang kokoh. Selain itu di tengah halaman ditemukan sebuah jambangan tembikar in situ berdiameter 66 cm pada bagian perut dan tinggi 40 cm. Jambangan besar yang dapat dikatakan hampir utuh ini diperkuat dengan struktur bata yang kokoh di sekililingnya. Struktur ini berdenah segi empat, berukuran panjang 80 cm, lebar 76 cm, tinggi 25 cm. Keberadaan jambangan di tengah halaman ini menimbulkan dugaan bahwa benda ini digunakan untuk menyimpan air yang setiap saat diperlukan orang ketika berada di halaman itu. Di sisi barat dan timur halaman ini ditanamkan sebuah wadah tembikar. Selokan terbuka dijumpai pula di halaman timur. Lebar selokan antara 10-16 cm dan kedalaman 8-10 cm. Dua jalur selokan melintang dari utara ke selatan, sedang sebuah selokan yang lain melintang dari lokasi jambangan menuju kea rah timur. Berdasar ketinggian dasar selokan aliran air pada waktu itu mengalir dari selatan ke utara. ***

Share:

Situs Klinterejo

Situs Klinterejo terletak di tengah persawahan. Secara administratif situs ini termasuk wilayah Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di dalam situs terdapat peninggalan-peninggalan berupa: yoni, sandaran arca, lumping batu, jaladwara, balok batu dan umpak. Peninggalan yang paling menarik adalah yoni dalam ukuran besar, berbentuk balok, berukuran panjang 191 cm, lebar 184 cm dan tinggi 121 cm. Salah satu sisi yoni terdapat cerat yang disangga oleh naga. Badan yoni tersusun dari beberapa pelipit berhias pola geometris, sulur dan daun-daun lotus. Pada pelipit atas salah satu sisinya terdapat bingkai kecil berisi pahatan angka Jawa Kuno 1294 Ç (1372 M). Yoni berdiri di atas batur berdenah segi empat berukuran panjang 6,5 m, lebar 6,3 m dan tinggi 1,13 m. Sandaran arca telah rusak, namun sisi depan masih memperlihatkan bentuk lotus yang merupakan cirri khas kesenian Majapahit, sementara sisi belakang terdapat hiasan semacam payung.
Sekitar 200 m di sebelah barat situs ini pernah digali pada tahun 1982, 1987 dan 1988. Hasil penggalian berupa struktur bata sebanyak 22 lapis dan di bawahnya terdapat struktur lain yang arahnya sejajar. Di samping kedua struktur tersebut masih terdapat lainnya yang mempunyai arah lain. Diperkirakan struktur tersebut merupakan bagian dari bangunan yang berdenah segi enam. Di sini terlihat tanda-tanda bahwa tidak semua struktur berasal dari periode yang sama. Temuan lain berupa fragmen gerabah, genteng dan perunggu yang jumlahnya lebih sedikit disbanding situs-situs yang ditemukan di Kecamatan Trowulan, sehingga diperkirakan situs ini merupakan situs keagamaan bukan situs pemukiman. Di sebelah barat kotak gali pada lading tebu masih dijumpai 32 buah umpak batu, sebagian masih tertata berjajar dua-dua dalam empat baris.
Lokasi Situs Klinterejo berdekatan dengan Desa Panggih. Nama desa ini dalam Kitab Pararaton disebutkan sebagai tempat pendharmaan Tribhuwana Tunggadewi, ibu Hayam Wuruk yang bergelar Bhre Kahuripan, sehingga situs ini hampir selalu dikaitkan dengan Bhre Kahuripan. ***
Share:

Situs Pendopo Agung

Situs Pendopo Agung termasuk wilayah Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Nama Pendopo Agung diberikan pada situs ini karena pada saat ini telah berdiri pendopo yang didirikan pada 15 Desember 1966 atas prakarsa Kolonel Sampurna. Pendirian bangunan ini dengan berdasar pada umpak-umpak yang ditemukan di situs, yang menurut anggapan mereka pada masa dahulu pasti berdiri pendopo yang sangat besar yang layak menjadi pendopo keratin. Di depan pendopo selanjutnya didirikan patung Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dan di belakangnya terdapat relief Gajah Mada sedang melakukan sumpah Amukti Palapa.
Sebelum berdiri pendopo, umpak-umpak batu berdenah segi enam berjajar membujur arah barat-timur sebanyak 26 buah. Enam belas di antaranya digunakan sebagai umpak pendopo, satu umpak digunakan sebagai candra sangkala berdirinya Pendopo Agung, sedang sisanya diletakkan di halaman sebelah barat pendopo. Tiga di antara enam belas umpak tersebut posisinya masih in situ difungsikan sebagai umpak saka guru. Di halaman barat dan selatan pendopo terdapat semacam tiang batu yang oleh masyarakat disebut batu cancangan gajah. Di halaman belakang Pendopo Agung terdapat makam yang disebut Kubur Panggung. Penelitian terdahulu menyebutkan di bwah bangunan makam ini terdapat struktur bata yang saling bersilangan, sebagai bagian dari peninggalan Majapahit. ***
Share:

Situs Sentonorejo

Situs Sentonorejo merupakan peninggalan Majapahit yang berupa hamparan ubin (lantai) dan sisa dinding bangunan. Letak situs di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lantai bangunan kuno tersebut berada ± 1,80 m di bawah permukaan tanah sekitarnya dan berorientasi ke barat-timur dengan azimuth 80.
Hal menarik dari tinggalan lantai kuno ini ubinnya berpenampang segi enam, lebar tiap sisi 6 cm dan tebal rata-rata 4 cm, bahannya terbuat dari tanah liat bakar. Temuan lantai serupa berjarak ± 500 m dari tempat ini. Jumlah ubin yang masih tersisa 104 buah, sebagian tersimpan di Museum Trowulan. Adapun pengikat antara bata satu dengan lainnya digunakan perekat tanah liat. Dinding bangunan merupakan susunan bata berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm dan tebal 5 cm. Diperkirakan sisa lantai dan dinding di Sentonorejo ini merupakan pemukiman kuno yang bersifat profan yaitu berupa rumah tinggal pada masa Majapahit. Situs Pemukiman Sentonorejo dipugar pada Tahun Anggaran 1990/1991. ***
Share:

Situs Trowulan

Situs Trowulan merupakan satu-satunya situs perkotaan masa klasik di Indonesia. Situs yang luasnya 11 km x 9 km, cakupannya meliputi wilayah Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno di Kabupaten Jombang. Situs bekas kota Kerajaan Majapahit ini dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung yaitu Gunung Penanggungan, Welirang dan Anjasmara, sedangkan kondisi geografis daerah Trowulan mempunyai kesesuaian lahan sebagai daerah pemukiman. Hal ini didukung oleh antara lain topografi yang landai dan air tanah yang relatif dangkal. Sebagai bekas kota, di Situs Trowulan dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan arkeologis baik berada di bawah maupun di permukaan tanah yang berupa: artefak, ekofak serta fitur.
Situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang sangat menarik ini diperoleh melalui penelitian yang panjang. Penelitian terhadap Situs Trowulan pertama kali dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815. Ia mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardenaar tersebut dicantumkan oleh Raffles dalam bukunya “History of Java” (1817) yang menyebutkan bahwa berbagai obyek arkeologi yang berada di Trowulan sebagai peninggalan dari Kerajaan Majapahit.
Peneliti berikutnya adalah W.R. Van Hovell (1849), J.V.G. Brumund dan Jonathan Rigg. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam “Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia”. J. Hageman menulis tentang Trowulan dengan judul “Toelichting over den Ouden Pilaar van Majapahit” (1958).
R.D.M. Verbeek mengadakan kunjungan ke Trowulan dan menerbitkan laporannya dalam artikel Oudheden van Majapahit in 1815 en 1887, yang termuat dalam TBG XXXIII tahun 1889. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro, seorang Bupati Mojokerto (1849 – 1916) yang sangat menaruh perhatian terhadap peninggalan arkeologi di Trowulan. Ia menggali Candi Tikus dan juga merintis pembangunan Museum Mojokerto yang berisi benda koleksi arkeologis peninggalan Majapahit. J. Knebel, seorang anggota Comissie voor Oudheidkundig Orderzoek op Java en Madura pada tahun 1907 melakukan inventarisasi peninggalan arkeologi di Trowulan. Selanjutnya, N.J. Krom mengulas peninggalan Majapahit di Trowulan dalam karyanya Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst (1923). Penelitian terhadap Situs Trowulan lebih intensif dilakukan setelah didirikan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) tahun 1924 oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro bekerjasama dengan seorang Belanda yang bernama Ir. Henry Maclaine Pont dan kemudian berkantor di Trowulan. Selanjutnya kantor tersebut dijadikan museum yang memamerkan benda-benda peninggalan Majapahit.
Antara tahun 1921 – 1924 Maclaine Pont mengadakan penggalian-penggalian di Trowulan dengan maksud mencocokkannya dengan uraian dalam Kitab Negarakertagama. Hasil penelitiannya tersebut kemudian menghasilkan Sketsa Rekonstruksi Kota Majapahit di Trowulan.
Stutterheim yang melakukan penelitian tentang bentuk Ibukota Kerajaan Majapahit berpegang pada Kitab Negarakertagama pupuh VIII – XII dan menyimpulkan bahwa tata kota Kraton Majapahit dapat dianalogikan dengan Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Lebih jauh disebutkan bahwa bangunan yang terdapat di dalam kompleks kraton mirip dengan bangunan yang terdapat di dalam kompleks puri di Bali (Stutterheim, 1948). Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 70-an hingga 1993. Puslit Arkenas mencoba mencari bukti-bukti tentang kota melalui penggalian arkeologis yang ditentukan atas dasar nama tempat yang disebut dalam Negarakertagama atau atas dasar penemuan baru yang ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk. Strategi yang dikembangkan waktu itu adalah penelitian sporadis.
Hasil penggalian di Situs Trowulan menunjukkan bahwa sebagai tempat terakumulasinya aneka jenis benda yang biasa disebut kota ini, tidak hanya berupa situs tempat tinggal saja, tetapi terdapat situs-situs lain seperti situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industry, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal dan situs waduk. Situs-situs itu membagi suatu kota dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil yang diikat oleh jaringan jalan. Namun sejauh ini penelitian belum memberikan gambaran utuh mengenai keseluruhan kota Majapahit seperti diuraikan Prapanca dalam puja sastranya, Negarakertagama.
Pemahaman bentuk Situs Trowulan secara lebih luas baru diperoleh setelah dilakukan foto udara oleh tim geografi Universitas Gadjah Mada yang berhasil menunjukkan Situs Trowulan sebagai kota berparit.
Pelestarian yang dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala waktu itu telah menghasilkan rencana induk pelestarian yang dimaksudkan untuk melindungi situs penting di Trowulan. Tahun demi tahun situs bangunan digali, dipugar dan dipelihara serta dimanfaatkan, seperti: Candi Tikus, Gapura Bajangratu, Candi Brahu, Candi Gentong, Gapura Wringin Lawang dan Candi Kedaton. Berdasarkan kegiatan arkeologis yang dilakukan, menunjukkan bahwa Situs Trowulan merupakan situs penting dalam dunia arkeologi Indonesia. ***

Sumber:
  • I Made Kusumajaya, ____ , Mengenal Kepurbakalaan Majapahit Di Daerah Trowulan, Mojokerto: BP3 Jatim
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami