The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label museum di Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum di Malang. Tampilkan semua postingan

Museum Mpu Purwa Malang

Malang merupakan suatu wilayah yang telah ada sejak dulu kala. Sejarah mencatat, bahwa pada abad ke-8 Malang pernah menjadi pusat Kerajaan Kanjuruhan, yang merupakan kerajaan pertama di Jawa Timur. Abad selanjutnya Malang menjadi daerah bawahan dari Kerajaan Mataram Kuno yang telah pindah ke Jawa Timur.
Abad ke-13 Malang kembali tampil dalam kancah sejarah Jawa, yakni menjadi ibu kota Kerajaan Tumapel. Ibu kota Kerajaan Tumapel berada di Kutaraja, antara pemerintahan Ken Arok sampai awal pemerintahan Wisnuwardana. Letak Kutaraja ini berada di sebelah timur Gunung Kawi. Setelah Kertanegara dinobatkan menjadi raja, ibu kota kerajaan diganti namanya menjadi Singasari, dan sekaligus menjadi nama kerajaan. Kerajaan yang terakhir di wilayah Malang adalah Kerajaan Sengguruh. Kerajaan Sengguruh adalah Kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Kerajaan Sengguruh berada di kawasan selatan Kota Malang (sekarang di daerah Kepanjen).
Adanya kerajaan-kerajaan tersebut, menjadikan daerah Malang banyak diketemukan peninggalan purbakala berupa arca, prasasti maupun candi. Sejak tahun 1980-an, Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang berusaha mengupayakan tempat untuk menampung temuan benda-benda purbakala tersebut, dikurangi candi.


Karena beberapa hal, usulan untuk membuat tempat tersebut tidak terpenuhi. Akhirnya, untuk penyelamatan dan keamanannya, benda-benda temuan tersebut dititipkan di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang berada di Jalan Halmahera. Terus kemudian dititipkan lagi di Taman Rekreasi Senaputera, dan pada tahun 1997 dititipkan di Rumah Makan Cahyaningrat.
Kondisi ini menyebabkan Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang berencana untuk membangun sebuah balai penyelamatan benda purbakala dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Namun lagi-lagi, rencana itu pun tidak bisa terealisasi. Lalu, pada tahun 2000 Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Pendidikan berinisiatif untuk mengumpulkan semua benda purbakala yang ada di Kota Malang dalam suatu tempat khusus, baik kelompok maupun yang masih tercecer di masing-masing tempat. Pada waktu itu, pilihan tempatnya diarahkan ke Perpustakaan Umum untuk dipakai sebagian ruangannya. Tapi karena sesuatu hal dan berbagai pertimbangan, maka pada tahun 2001 ditetapkanlah gedung bekas SDN Mojolangu 2 Malang sebagai tempat menampung benda-benda purbakala yang penuh sejarah tersebut.
Setelah ditetapkan, bangunan sekolah tersebut lalu dipugar untuk menyesuaikan dari ruang kelas menjadi tempat yang layak sebagai tempat penampungan benda-benda purbakala tersebut. Peresmiannya dilakukan oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto, pada 2 Mei 2004 dengan memberikan nama gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa. Namun karena untuk papan penunjuk arah ke gedung ini pada umumnya dengan sebutan Museum Mpu Purwa, maka masyarakat akhirnya lebih akrab menyebut bangunan gedung tersebut sebagai Museum Mpu Purwa ketimbang Balai Penyelamatan Benda Purbakala.


Atas dasar inilah, tulisan yang saya buat pun menggunakan judul Museum Mpu Purwa. Museum ini terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 210 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di lingkungan Perumahan Griya Shanta Blok B, yang ancer-ancernya berada di depan SD Insan Amanah, sebelah barat RS Brawijaya, atau sebelah timur Institut Pertanian Malang.
Pada waktu saya berkunjung ke museum ini, gedungnya memang sedang direnovasi secara menyeluruh untuk menjadi museum. Renovasi tersebut sudah mulai dilakukan pada tahun 2014 dan Mei 2016 ini sudah selesai dengan menelan biaya sebesar RP 2,5 miliar. Akan tetapi, pengunjung belum bisa menikmati koleksi-koleksi yang dimiliki oleh museum ini, karena baru penataan ulang terhadap benda-benda bersejarah tersebut. Sehingga, saya disarankan untuk melihat koleksi-koleksinya yang terdapat di gudang saja, yang letaknya ditaruh di halaman depan sebelah timur.
Menurut petugas museum, koleksi benda purbakala yang disimpan di Museum Mpu Purwa berasal dari masa pra sejarah hingga masa sejarah, yaitu masa Hindu-Buddha. Benda purbakala ini ditemukan dari berbagai daerah di Malang, ada juga beberapa peninggalan yang berasal dari Kediri. Peninggalan yang berasal dari masa pra sejarah berupa batu pelor, batu gores dan batu lumpang. Batu gores ditemukan di bibir Sungai Metro yang berada di wilayah Tlogomas. Di wilayah ini memang banyak ditemukan benda purbakala yang kesemuanya disimpan di cungkup punden Watu Gong. Dilihat dari banyaknya peninggalan yang ditemukan, diperkirakan wilayah ini dahulunya merupakan pusat peradaban purba.


Peninggalan lainnya yang ada di Museum Mpu Purwa adalah peninggalan yang berasal dari zaman Hindu-Budda. Peninggalan yang dari zaman Hindu-Buddha berasal dari Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit.
Peninggalan dari masa Hindu-Buddha berupa prasasti, arca, makara, antefix, kemuncak candi, lingga dan yoni. Koleksi prasasti meliputi prasasti Muncang, prasasti Dinoyo dan Prasasti Kanuruhan. Prasasti Dinoyo ini berasal dari Kerajaan Kanjuruhan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Timur yang berdiri sekitar abad ke-8. Sedangkan, prasasti Kanuruhan adalah prasasti yang terpahat pada sandaran arca Ganesha, yang berangka tahun 856 Saka dan dikeluarkan oleh Rakarayan Kanuruhan Dyah Mungpang.
Peninggalan lainnya adalah arca Ganesha Tikus yang berasal dari Kerajaan Kediri. Arca Ganesha Tikus menjadi peninggalan teristimewa di museum ini dari benda-benda lainnya karena konon arca Ganesha ini hanya terdapat di Museum Mpu Purwa. Ada arca Siwa, Brahma, Durga, dan Bodhisatwa. Selain itu, ada juga kembaran patung Joko Dolog yang ditaruh di halaman depan museum. Saya pikir patung tersebut memang patung Joko Dolog tapi ternyata patung Buddha Aksobya, yang ditemukan di salah satu percandian Singasari. Tak jauh dari patung Buddha Aksobya juga ada sebuah makara dengan motif ikan dan gajah. Makara ini ditemukan di Dukuh Njoyo, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru.
Museum Mpu Purwa ini belumlah banyak diketahui keberadaannya oleh khalayak di Kota Malang. Hal ini lantaran lokasi museum ini agak masuk ke dalam, dan berada di kompleks Perumahan Griya Shanta bagian pojok serta kurangnya papan penunjuk yang berada di jalan-jalan raya di Kota Malang. Sayang, bila koleksi-koleksi museum yang bernilai sejarah tinggi ini tidak dikenal oleh warganya. Jadinya, tak sepadan dengan nama yang disandang oleh museum tersebut, yaitu Mpu Purwa. Mpu Purwa, lengkapnya adalah Mpu Purwanatha, adalah seorang pendeta Budda utama (Sthapaka) yang hidup sekitar abad ke-12 di Desa Panawijen, sebelah timur lereng Gunung Kawi (sekarang Kelurahan Polowijen, Kota Malang). Mpu Purwanatha memiliki dua anak, yaitu Mpu Purwa dan Ken Dedes. Kelak Mpu Purwa merupakan cikal bakal keturunan Pasek Tatar di Bali, sedangkan adiknya, Ken Dedes, melahirkan raja-raja besar di Jawa. *** [180516]

Share:

Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Sepulang dari menghadiri undangan paparan SMART Health di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (17/02), saya sempat mengunjungi Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat di daerah Lawang. Namun, pada waktu itu museumnya sudah tutup karena kesorean. Kemudian berencana hari Sabtunya mau berkunjung lagi tapi ternyata kalau hari Sabtu dan Minggu atau tanggal merah, museum ini juga tutup.
Kesempatan pun tersebut tertunda. Saya menganggapnya belum rezeki. Selang beberapa bulan, tiba-tiba saya mendapat undangan lagi untuk ke Malang. Akhirnya, moment ini yang saya jadikan waktu untuk mengunjungi museum ini lagi. Karena acara pertemuan pada siang hari, paginya saya berusaha meluncur ke sana, dan kesampaianlah berkunjung ke Museum Kesehatan Jiwa ini. Museum ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 1 Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di lingkungan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, atau tepat berada di samping Playgorup atau TK Dharma Wanita Persatuan RSJ Dr. Radjiman.


Sesuai namanya, keberadaan museum ini terkait dengan perjalanan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat yang berdiri pada 23 Juni 1902. Karena yang menggagas dan mendirikan museum ini adalah RSJ tersebut. Idenya berawal pada waktu RSJ memasuki usia satu abad, ketika RSJ mengadakan pameran perjalanan RSJ dengan berbagai koleksi yang dimilikinya di Pendopo RSJ. Dari situlah, jajaran direksi mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah museum yang bisa menampung koleksi yang dimiliki RSJ. Karena selama koleksi-koleksi RSJ hanya ditempatkan di sebuah gudang saja, tanpa diketahui masyarakat umum dan menjadi kumuh.
Dengan menempati bangunan kuno yang berada di lingkungan RSJ ini, Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat diresmikan bertepatan dengan HUT RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat yang ke-107 (23 Juni 2009) oleh Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, Dr. Farid Husein, MPH.
Pengumpulan benda-benda kuno ini sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama keluarga besar RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat dalam upaya mewujudkan cita-cita luhur merangkaikan kembali sejarah melalui media benda-benda kuno dan dokumen pendukung sebagai bukti perjalanan sejarah perkembangan kesehatan jiwa di Indonesia.
Tujuan dari pendirian museum ini adalah sebagai wahana bagi semua yang peduli untuk merangkaikan kembali berbagai kepingan kisah yang terserak, untuk merekatkan kembali berbagai serpihan artefak yang terkoyak, dan untuk tanpa henti memahami serta mensyukuri keberadaan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai bagian penting sejarah kesehatan jiwa di Indonesia yang panjang, unik, dan dinamis.

Koleksi Museum
Seperti pada umumnya, museum ini juga mempunyai ruangan untuk memajang atau memamerkan beberapa koleksi yang dimiliki oleh museum tersebut. Namun, nama-nama ruang pamer tersebut memiliki nama yang tidak lazim pada sebuah museum, seperti Ruang Tamu, Ruang Direktur, Ruang Preventif/Promotif, Ruang Kuratif, Ruang Penunjang, Ruang Pepustakaan, dan Ruang Rehabilitasi.
Penamaan ruang pamer tersebut mencerminkan tahapan-tahapan dalam aktivitas pada RSJ tersebut.

Ruang Tamu
Di dalam ruangan ini berisi documentary story board terpampang di dinding sebagai salah satu keping penting mozaik sejarah kesehatan mental di Indonesia, biografi Dr. Radjiman Wdiodiningrat, denah alur pengunjung museum, prasasti peresmian, dan banner berupa jam kunjung museum.
Selain itu, juga ada story line yang berceritera dari pengalaman RSJ tersebut, berbunyi: “ ... Ketidaktahuan akan gangguan jiwa di masa silam meninggalkan jejak kelam bagi penyandang dan keluarganya.”

Ruang Direktur
Ruang ini menampilkan seperangkat ruang kerja Direktur RSJ tersebut. Ada meja terbuat dari kayu jati pilihan yang dulu pernah digunakan oleh direktur RSJ, lengkap dengan kursinya. Di atasnya terdapat mesin ketik dan telepon zaman dulu, serta lonceng kecil yang digunakan untuk memanggil bawahannya.
Di ruangan ini juga terdapat beberapa Staatblad dan buku-buku lawas perihal kesehatan jiwa yang disusun rapi di dalam rak di samping meja sang direktur. Selain itu, juga terpampang 18 foto direktur yang pernah menjabat di RSJ ini, mulai dari orang Belanda sampai ke orang pribumi.


Ruang Preventif/Promotif
Pada ruangan ini terdapat koleksi tua nan unik berupa proyektor film yang berbahan plat besi dengan ukuran tinggi 160 cm, dan lebar 120 cm. Tahun pembuatan proyektor film ini adalah tahun 1950.
Proyektor adalah sebuah alat optik yang digunakan untuk menampilkan gambar di sebuah media layar atau permukaan yang serupa. Proyektor film ini berfungsi sebagai sarana rehabilitasi pasien, sekaligus sebagai sarana hiburan dan sosialisasi bagi pegawai dan masyarakat sekitar. Proyektor ini digunakan sejak mulai tahun 1950 hingga tahun 1970.
Selain itu, di dalam ruangan ini juga terdapat gamelan yang konon dimainkan di pendopo untuk fungsi rehabilitatif bagi pasiennya.

Ruang Kuratif
Di ruang kuratif ini ditampilkan sejumlah koleksi museum yang berhubungan dengan penanganan pasien sakit jiwa. Di situ terdapat replika pasung yang disertai story line yang menyentuh kalbu. Acapkali ketidaktahuan dan ketakutan, masyarakat kehabisan akal untuk menangani saudara-saudara kita, yang kebetulan menyandang gangguan jiwa.
Mereka harus merelakan kebebasannya dibatasi oleh balok kayu yang berat atau rantai besi yang kokoh, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dasar atau sekadar menikmati matahari sebagai manusia yang bebas. Cobalah psangkan pasung ini di kaki Anda barang 10 menit, dan rasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita tersebut. “Jiwa Terasing, Raga Terpasung.”
Selain itu, di ruangan ini juga terdapat janin yang diawetkan, alat merendam pasien, straight jacket, dan beberapa story line tokoh-tokoh psikiatri dunia. Sejarah mencatat penanganan pasien jiwa sebelum mengenal pengobatan modern, sudah ada cara-cara terapi yang dianggap bisa menenteramkan, misalnya dengan perendaman (permanete baden) dan dibungkus (straight jacket).


Ruang Penunjang
Ruangan ini memajang sejumlah peralatan yang pernah digunakan di RSJ Dr. RadjimanWediodiningrat ini yang pada umumnya peninggalan kolonial Belanda, seperti wastafel, seterika arang, mikroskop, timbangan badan, alat laksatif, alat sentirfugal, dan lain-lain.
Dari masing-masing alat perlengkapan yang ditampilkan, dilengkapi dengan story line. Sehingga, akan memudahkan pengunjung untuk mengetahuinya.

Ruang Perpustakaan
Sepintas, pembaca akan menebak apa yang dipajang dalam ruang perpustakaan ini. Pastilah berupa deretan buku, atau kepustakaan lainnya. Ternyata tidaklah seperti itu.
Di ruangan ini, terdapat pisau potong otak sebagai penanda aktivitas penelitian awal yang dilakukan di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada kurun waktu 1929-1940, pasien-pasien di RSJ ini, KOSD Sempu dan KOSD Suko ditangani oleh tujuh orang dokter dan satu orang profesor wanita yang khusus melakukan penelitian otak.
Di dalam ruangan ini, juga terdapat Human Skelatal yang berada di dalam almari kaca, berdampingan dengan lonceng besar yang dulu di pasang di menara sebagai penanda makan siang bagi pasien dengan dibunyikannya lonceng tersebut. Selain itu, ada juga teropong dan samurai yang ditempelkan di tembok.


Ruang Rahabilitasi
Ruangan ini menampilkan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan program rehabilitasi yang dilakukan oleh RSJ pada waktu itu. Semua orang memiliki bakat dan kemampuan, tak terkecuali penyandang gangguan jiwa. Membantu mereka agar mampu mempertahankan kemampuannya yang tersisa dan memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup, adalah kewajiban kita semua.
Di ruangan ini terdapat alat perajang tembakau, alat tenun kain, alat pembuat dan pembuka tutup botol, meja biliard, dan sejumlah lukisan. Petugas museum menunjukkan kepada saya, sebuah lukisan berukuran 1,85 x 1,25 meter yang berbahan minyak cat dan tripleks. Lukisan Gatutkaca dan Pergiwa Pergiwati ini dilukis oleh seorang rehabilitan dengan meniru salah satu karya maestro Indonesia, Basuki Abdullah, dan pernah dipinjam oleh Museum Basuki Abdullah untuk pameran.
Melukis dan berbagai kegiatan lainny, seperti mendengarkan musik, memainkan alat musik, menulis, menenun, memasak bahkan mandi, merupakan salah satu metode terapi yang sangat dianjurkan kepada penderita gangguan jiwa.
Selain itu, di ruangan ini juga terdapat instalasi komunikasi yang berbahan kayu, logam, plastik dan kabel. Peralatan komunikasi ini terdiri dari pesawat telepon, panel telepon dan almari saluran telepon yang digunakan oleh seorang operator saat itu, antara tahun 1950 hingga tahun 1980-an, untuk mengatur kegiatan komunikasi, baik secara internal (dalam RSJ) maupun interlokal (keluar RSJ). Meskipun terkesan rumit, karena belum tersentuh oleh teknologi canggih, namun perannya sungguh tak dapat dipungkiri. *** [180516]
Share:

Museum Sejarah Bentoel

Menyusuri daerah pemukiman Tionghoa (Pecinan Malang) yang terdapat di sebelah tenggara dari Alun-Alun Kota Malang atau di sekitar Pasar Besar memang mengasyikan. Lingkungan yang padat hunian dan ramai akan aktivitas ekonomi. Namun, di tengah lingkungan yang padat tersebut bukan berarti tidak ada sama sekali hunian yang berhalaman luas. Sebagai contohnya adalah bangunan bernuansa arsitektur lokal yang di depannya terdapat pohon pudak dan pinus, masih memiliki halaman yang cukup luas. Bangunan tersebut adalah Museum Sejarah Bentoel.
Museum ini terletak di Jalan Wiromargo No. 32 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah barat Pasar Besar Malang ± 100 meter.
Menurut informasi yang didapat dari museum, pendirian Museum Sejarah Bentoel tidak lepas dari keberadaan industri rokok yang berkembang di Kota Malang. Perkembangan rokok Bentoel disebabkan penduduk kota sebagai konsumen rokok dan faktor pendukung industri lainnya. Oleh karena itu, atas inisiatif pribadi dari keluarganya Ong Hok Liong, pendiri Rokok Tjap Bentoel, ingin mendirikan sebuah museum sebagai salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Bentoel yang berhubungan dengan bidang pendidikan. Bentoel percaya bahwa setiap perusahaan seharusnya berkomitmen untuk menjalankan usahanya secara bertanggung jawab terhadap para pemangku kepentingan, seperti mitra bisnis, pemerintah, dan lingkungan sekitarnya.


Bentoel mendirikan Museum Sejarah Bentoel dengan menempati bekas rumah milik Ong Hok Liong. Museum ini dibuka untuk umum sejak tahun 1994 dan dikelola sebagai media pembelajaran serta sebagai wujud penghargaan atas sejarah dan budaya. Sebelumnya, yaitu akhir tahun 1970, rumah bersejarah milik Ong Hok Liong ini pernah dibongkar oleh direksi PT. Perusahaan Tjap Bentoel untuk dijadikan bangunan kantor bertingkat, namun rencana tersebut dibatalkan dan rumah lama tersebut didirikan kembali untuk dijadikan museum seperti saat ini.
Museum ini memang pernah mengalami “mati suri” dalam beberapat tahun karena pengaruh internal dalam manajemen Bentoel, yang mengalami beberapa perubahan kepemilikan. Dari perusahaan yang dikelola oleh keluarga hingga lebur ke dalam PT. BAT Indonesia Tbk. Baru pada Kamis, 31 Oktober 2013, museum ini dibuka kembali untuk umum dengan gaya penampilan koleksi yang berubah juga.


Memasuki bangunan museum yang memiliki lebar 12 m dan panjang 16 m yang berdiri di atas lahan seluas 400 m² ini, pengunjung akan bisa menikmati berbagai ruang pamer yang terdapat dalam museum. Pintu utama ada di sebelah timur karena bangunan museum ini menghadap ke timur. Sebelum memasuki bangunan museum, terlebih dahulu pengunjung akan melewati teras. Di teras tersebut, pengunjung bisa membaca plakat yang tertempel di sisi kiri dan kanan dari pintu utama. Plakat yang berada di sebelah kiri dari sudut mata pengunjung, tertulis Selamat Datang dari Museum Sejarah Bentoel, dan plakat di sebelah kanannya bertuliskan panduan berkeliling museum ini dengan disertakan gambar denah dari bangunan museum ini.
Setelah teras, pengunjung bisa melintasi pintu utama untuk masuk ke dalam museum. Di sini, pengunjung dapat membaca perjalanan Bentoel dan melihat barang-barang milik Ong Hok Liong yang terekam dalam Galeri Sang Pendiri. Kemudian, pengunjung dapat melanjutkan ke ruang Galeri Foto yang berisi arsip iklan Bentoel yang diperankan oleh sejumlah bintang film. Ruang Galeri Tembakau dan Cengkeh menampilkan proses peracikan sigaret kretek maupun sigaret filter dari awal berdiri pabrik Bentoel hingga proses yang lebih modern. Usai menyaksikan di dua ruangan ini, pengunjung bisa istirahat dulu di ruang duduk yang berada di antara ruang Galeri Foto dan ruang Galeri Tembakau dan Cengkeh, sambil menyaksikan sepeda onthel milik Ong Hok Liong.
Ruang bagian belakang dari bangunan museum, terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang Brand Bentoel, Bentoel Kini, dan Tentang Bentoel Group. Pada ruang Brand Bentoel, pengunjung akan dapat melihat deretan kotak rokok yang pernah diproduksi oleh Bentoel, dan dilanjutkan dengan melihat-lihat di ruang Bentoel Kini. Sedangkan, pada ruang Tentang Bentoel Group, pengunjung bisa menyaksikan kiprah perusahaan Rokok Bentoel dalam perjalananannya selama ini.
Mengakhiri kunjungan di dalam museum ini, pengunjung bisa keluar dari pintu belakang yang langsung menghadap ke taman yang asri di belakang bangunan museum ini. *** [250415]


Share:

Museum Brawijaya

Usaha untuk pendirian Museum Brawijaya telah dilakukan sejak tahun 1962 oleh pemrakarsanya, yaitu Brigjen TNI (Purn) Soerachman (Mantan Pangdam VIII/Brawijaya tahun 1959 – 1962). Adapun maksud pendirian museum ini  adalah untuk membuktikan kepada masyarakat mengenal sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya rakyat Jawa Timur sejak 1945 yang secara terus menerus membuktikan dharma bhaktinya kepada ibu pertiwi.
Pembangunan gedung Museum Brawijaya ini mendapat partisipasi dari Martha, seorang pemilik hotel di Tretes, Pandaan, Pasuruan. Martha menyatakan kesanggupannya untuk menanggung biaya pembangunan  gedung museum, sedangkan pemerintah daerah Kotamadia Malang menyediakan lokasi tanah yang terletak di Taman Indrakila (sekarang Jl. Ijen 25A Malang) seluas ± 10.500 m² dengan luas gedung pameran, perpustakaan dan perkantoran ± 3.200 m².
Pelaksanaan pembangunan gedung Museum Brawijaya, arsitekturnya diserahkan sepenuhnya kepada Zidam VIII/Brawijaya dan dipercayakan kepada Kapten Czi. Ir. Soemadi yang akhirnya dilaksanakan pada tahun 1967 sampai dengan tahun 1968.


Sebelum gedung museum diresmikan, terlebih dahulu dilakukan pemberian nama yang berdasarkan Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya nomor Kep/75/IV/1968 tanggal 16 April 1968 tentang pemberian nama Museum Brawijaya dengan sesanti “Citra Uthapana Cakra”. Citra berarti sinar atau cahaya, uthapana artinya yang membangun atau membangkitkan, dan cakra memiliki makna kekuatan atau semangat. Jadi secara keseluruhan Citra Uthapana Cakra dapat diartikan sebagai “Sinar yang membangkitkan semangat/kekuatan”.
Pada tanggal 4 Mei 1968, gedung Museum Brawijaya diresmikan dengan suatu upacara resmi. Dalam upacara tersebut, Pangdam VIII/Brawijaya menunjuk Kolonel (Purn) DR. Soewondo (mantan Pangdam VIII/Brawijaya pada tahun 1952) mewakili pinisepuh keluarga besar Brawijaya untuk bertindak sebagai inspektur upacara dan dihadiri oleh Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen TNI M. Yasin beserta keluarga Brawijaya.
Setelah pelaksanaan reorganisasi Bintaldam VIII/Brawijaya dan likuidasi Jarahdam VIII/Brawijaya ke dalam fungsi Bintal pada tahun 1986, maka terbentuklah organisasi baru Bintaldam V/Brawijaya sehingga Museum Brawijaya berada di bawah komando Bintaldam V/Brawijaya.



Koleksi Museum Brawijaya

Halaman depan
Di halaman depan Museum Brawijaya terdapat taman senjata yang diberi nama “Agne Yastra Loka”, di mana agne berarti api, yastra artinya senjata, dan loka mempunyai arti tempat atau taman. Sehingga dapat diartikan secara bebas sebagai “tempat/taman senjata yang diperoleh dari api revolusi 1945.
Di taman tersebut dipamerkan sejumlah benda, seperti:

Tank
Tank ini adalah buatan Jepang dengan bobot 14 ton hasil rampasan arek-arek Surabaya pada bulan Oktober 1945, selanjutnya oleh rakyat Surabaya dipakai untuk melawan sekutu dalam perang “10 November 1945” yang kemudian dikenal sebagai “Hari Pahlawan”. Oleh karena pada waktu itu pengetahuan teknis mengenai tank belum dikuasai, maka akhirnya tank ini ditinggalkan setelah dirusak peralatan tempurnya. Pada tahun 1949 tank ini dikuasai oleh TNI kemudian tahun 1967 diserahkan ke Museum Brawijaya.

Penangkis Serangan Udara
Dua pucuk senjata berat Penangkis Serangan Udara (PSU) buatan Jepang dengan model Double Loop Luchdoel yang dikenal dengan Pompom Double Loop ini berhasil direbut oleh pemuda BKR dari tentara Jepang dalam suatu pertempuran pada bulan September 1945 yang kemudian dipergunakan oleh BKR dalam rangka mempertahankan kemerdekaan baik dari serangan tentara sekutu maupun tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dalam pertempuran di barat Bangkalan senjata tersebut berhasil menembak jatuh dua buah pesawat tempur Belanda.

Meriam 3,7 inch (Si Buang)
Dalam menghadapi serangan Jepang pada bulan Maret 1941 pihak Belanda menempatkan meriam 3,7 inch buatan pabrik Viekers Amstrong Australia model MK-ii AP 3,7 inch dengan panjang 5 meter dan bernomor L/3557 di pantai Desa Betering, Kabupaten Gresik sebagai salah satu pertahanan Belanda, akan tetapi pada akhirnya berhasil dirampas oleh tentara Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, meriam tersebut dikuasai oleh tentara Belanda yang waktu itu membonceng pasukan Sekutu.
Pada tanggal 10 Desember 1945 pasukan TKR bersama-sama dengan lascar pejuang yang lain mengadakan serangan terhadap kedudukan tentara Belanda di pos pantai desa Betering. Dalam pertempuran sengit yang berlangsung hampir 6 jam tersebut, TKR berhasil mendesak kedudukan tentara Belanda dan merampas meriam 3,7 inch dari tentara Belanda. Selanjutnya TKR bergerak menuju Lamongan dengan membawa meriam  hasil rampasannya. Dalam perjalanan terjadi pertempuran yang mengakibatkan gugurnya seorang prajurit TKR bernama Kopral Buang. Untuk mengenang jasa-jasa prajurit tersebut kemudian meriam ini diberi nama “Si Buang”.
Pada masa perang kemerdekaan I, meriam tersebut dibawa berpindah-pindah tempat yaitu ke Mojokerto ke desa Wringin Anom Krian akhirnya ke desa Cukir. Jombang dalam rangka mengadakan perlawanan terhadap tentara Belanda. Pada saat tentara Belanda berhasil menguasai Jombang, meriam tersebut ditinggalkan oleh TKR setelah dirusak terlebih dahulu.

Tank Amphibi AM Track
Kendaraan tempur amphibi AM Track ini pernah dipergunakan oleh tentara Belanda yang menduduki Kota Malang pada masa perang kemerdekaan I. Akan tetapi usaha tentara Belanda ini mendapat perlawanan dari pasukan TRIP sehingga terjadilah pertempuran yang sengit di Jalan Salak dan sekitar lapangan pacuan kuda antara tentara Belanda yang mempunyai persenjataan lengkap dengan pasukan TRIP yang senjatanya sangat minim dan terbatas sehingga mengakibatkan 35 orang anggota pasukan TRIP gugur. Jenasahnya dimakamkan dalam kuburan missal sebelah utara ujung timur Jalan Salak dan tempat ini sekarang dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan TRIP Malang.

Patung Jenderal Sudirman
Pembuatan patung Jenderal Sudirman dimaksudkan untuk mengabadikan dan mengenang jasa-jasa Panglima Besar Jenderal Sudirman. Pada waktu itu walaupun dalam keadaan sakit beliau tetap berada di tengah-tengah pasukannya untuk memimpin gerilya, berpindah-pindah tempat dalam rangka melawan tentara Belanda. Hal ini merupakan suatu penampilan sifat pejuang, pemimpin dan pahlawan yang mengabadikan diri sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara sehingga beliau disebut sebagai Bapak TNI.

Ruang lobby
Ruangan ini terletak di antara ruang koleksi I dan ruang koleksi II. Di ruang ini terdapat 2 buah relief (lukisan timbul di dinding) dan dua perangkat lambang-lambang Kodam (badge) di Indonesia.

Relief sebelah selatan melukiskan wilayah kekuasaan Majapahit juga dipahatkan perahu Hongi yang menggambarkan bahwa Majapahit memiliki armada laut yang kuat sehingga berhasil mempersatukan Nusantara serta pahatan Raden Wijaya dalam bentuk Harihara.

Releif sebelah utara menunjukkan daerah-daerah tugas yang pernah dijalani oleh pasukan-pasukan Brawijaya dalam rangka menegakkan kemerdekaan, menumpas gerakan separatis dan gerombolan pengacau keamanaan serta tugas internasional sebagai pasukan perdamaian dan keamanan PBB di luar negeri (Mesir, Kongo, Timur Tengah, Vietnam dan lain-lain).

Badge Kodam/Kotama TNI AD di Indonesia:
Sebelah utara ditampilkan badge Kodam/Kotama TNI AD dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1985 sejumlah 17 Kodam, yaitu:
  • Kodam I/Iskandar Muda                 : Aceh
  • Kodam II/Bukit Barisan                  : Sumatera Utara
  • Kodam III/17 Agustus                    : Sumatera Barat
  • Kodam IV/Sriwijaya                       : Sumatera Selatan
  • Kodam V/Jaya                                : Jakarta
  • Kodam VI/Siliwangi                        : Jawa Barat
  • Kodam VII/Diponegoro                  : Jawa Tengah
  • Kodam VIII/Brawijaya                   : Jawa Timur
  • Kodam IX/Mulawarman                 : Kalimantan
  • Kodam X/Lambung Mangkurat      : Kalimantan Timur
  • Kodam XI/Lambung Bungai           : Kalimantan Tengah
  • Kodam XII/Tanjung Pura               : Kalimantan Barat
  • Kodam XIII/Merdeka                   : Sulawesi Utara
  • Kodam XIV/Hasanuddin               : Sulawesi Selatan
  • Kodam XV/Pattimura                    : Ambon
  • Kodam XVI/Udayana                    : Bali
  • Kodam XVII/Cendrawasih            : Irian Jaya

Sebelah selatan dipamerkan badge Kodam setelah reorganisasi TNI AD yang berlaku mulai 1 April 1985 berjumlah 10 Kodam, meliputi:
  • Kodam I/Bukit Barisan                   : Sumatera Utara
  • Kodam II/Sriwijaya                        : Sumatera Selatan
  • Kodam III/Siliwangi                        : Jawa Barat
  • Kodam IV/Diponegoro                   : Jawa Tengah
  • Kodam V/Brawijaya                       : Jawa Timur
  • Kodam VI/Tanjung Pura                 : Kalimantan
  • Kodam VII/Wirabuana                   : Sulawesi
  • Kodam VIII/Trikora                       : Irian Jaya/Papua
  • Kodam IX/Udayana                       : Bali dan Nusa Tenggara
  • Kodam Jaya                                   : Jakarta

Pada tahun 2002 diaktifkan kembali Kodam/Kotama:
  • Kodam Iskandar Muda                  : Aceh
  • Kodam Pattimura                           : Ambon

Halaman tengah

Gerbong Maut
Pada masa perang kemerdekaan I tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda mendarat di Pasir Putih dan menyerang beberapa kota termasuk Bondowoso. Dalam pertempuran tersebut tentara Belanda menahan sejumlah pejuang di penjara Bondowoso.
Gerbong barang nomor GR 10152 adalah salah satu dari 3 gerbong yang pada tanggal 23 September 1947 pukul 02.00 menjelang pagi para tawanan yang berada di penjara Bondowoso (berjumlah 100 orang) diangkut dengan menggunakan 3 buah gerbong barang untuk dipindahkan ke Surabaya. Karena berseak-desakan dalam gerbong yang sempit dan pintu serta jendelanya tertutup rapat selama dalam perjalanan, sehingga udara dalam gerbong sangat panas dan mengakibatkan banyak pejuang yang meninggal, sedangkan yang masih hidup menggedor-gedor minta air dan minta dibukakan pintu agar udara dapat masuk, tetapi tentara Belanda yang mengawal menjawab “Air tidak ada, yang ada hanyalah peluru”. Ketika sampai di Stasiun Wonokromo, Surabaya, sebagian besar pejuang 46 orang meninggal dunia, 42 orang dalam keadaan sakit/lemas dan 12 orang sehat. Kemudian 12 orang pejuang yang masih sehat dimasukkan dalam penjara Kali Sosok, Surabaya.

Perahu Segigir
Pada bulan November 1947 Belanda berhasil menduduki Pasongsongan, Sumenep. Pasukan Joko Tole (Sabililah) di tempat tersebut terpaksa mengundurkan diri ke Desa Prenduan pesisir antara Sumenep dan Pamekasan.
Markas baru di desa tersebut diketahui oleh pihak Belanda, kemudian Belanda merencanakan penyerbuan ke Desa Prenduan, rencana Belanda untuk mengadakan penyerbuan ke Desa Prenduan diketahui oleh mata-mata pihak pejuang kemudian dilaporkan kepada Letkol Chandra Hasan, Komandan Resimen Joko Tole.
Menjelang malam secara diam-diam Letkol Chandra Hasan memindahkan pasukannya ke Paiton, Kabupaten Probolinggo, sedangkan pemerintahan sipil dipindahkan ke Tuban. Perahu inilah yang digunakan Letkol Chandra Hasan untuk memimpin pasukannya melawan Belanda, namun beberapa perahu yang lain ditembak oleh pesawat udara Belanda.

Ruang I
Memamerkan benda-benda koleksi dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1949. Adapun koleksi yang dipamerkan adalah:
  • Foto-foto Panglima Kodam di Jawa Timur sejak tahun 1945 hingga sekarang.
  • Lukisan pakaian seragam PETA, HEIHO dan pejuang. Hitam pakaian tentara Gerilya. Coklat pakaian tentara Heiho. Baju jas hijau dan sepatu lars pakaian tentara PETA, dan hijau krah putih pakaian BKR/TKR.
  • Lukisan Pamen, Pama, Bintara dan Tamtama prajurit PETA.
  • Burung merpati pos yang pernah digunakan sebagai kurir di daerah Komando Ronggolawe Lamongan/Bojonegoro dengan front Surabaya pada tahun 1946.
  • Termos terbuat dari tempurung kelapa yang pernah digunakan oleh tentara PETA pada masa penjajahan Jepang.
  • Pedang Samurai sebagai kelengkapan Perwira Jepang yang berhasil direbut oleh TKR dari tentara Jepang di perkebunan Ngrakah, Sepanon, Kabupaten Kediri.
  • Meja kursi yang digunakan untuk perundingan penghentian tembak menembak (gencatan senjata) antara TKR/pejuang dengan Sekutu di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1945. Pihak Indonesia diwakili oleh Bung karno dan Bung Hatta, sedangkan pihak Sekutu diwakili oleh Mayjen Havtorn dan Brigjen Mallaby.
  • Senjata buatan pabrik senjata Mrican, Kediri tahun 1945 sampai dengan tahun 1946.
  • Alat perhubungan atau radio yang pernah digunakan oleh Den Hub Brawijaya pada tahun 1945 – 1946.
  • Lukisan pertempuran Surabaya sekitar 10 November 1945 yang melatarbelakangi hari Pahlawan, dengan semboyan “MERDEKA ATAU MATI”, lebih mati berkalang tanah daripada hidup di bawah telapak kaki penjajah.
  • Senjata-senjata hasil rampasan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kemudian dilanjutkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan baik melawan tentara Jepang maupun Belanda dengan sekutunya. Sebagai bekal untuk mempertahankan kemerdekaan, para pejuang berusaha merebut senjata dan peralatan perang yang lain dari tentara Jepang. Dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya berhasil merebut senjata dan peralatan perang lainnya dari tangan tentara Jepang.Perang untuk mempertahankan kemerdekaan kemudian dilanjutkan dengan menghadapi tentara Sekutu dan Belanda selama perang kemerdekaan para pejuang berhasil merampas senjata-senjata baik dalam pertempuran maupun melalui penyergapan-penyergapan.
  • Peta pendudukan musuh dan kantong-kantong gerilya serta garis pertahanan TKR.
  • Peta perang kemerdekaan I (21 Juli 1947) menggambarkan gerakan serangan tentara Belanda serta pertahanan TKR dan pejuang RI di daerah-daerah perbatasan.
  • Peta perang kemerdekaan II (19 Desember 1948) yang menggambarkan gerakan serangan tentara Belanda terhadap daerah dan kedudukan pasukan TKR dan pejuang RI di seluruh Jawa Timur dan juga menggambarkan kedudukan pertahanan pasukan kita yang kemudian dilanjutkan gerakan penyusupan ke dalam daerah pendudukan Belanda dengan taktik perang gerilya.
  • Peralatan yang pernah dipakai Jenderal Sudirman (peralatan makan, meja, kursi, bambu runcing, dipan, tempat air wudhu) saat memimpin gerilya di desa Loceret, Bajulan, Nganjuk.
  • Peta rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman yang dimulai dari Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 10 Juli 1949 menuju Jawa Timur dan kembali lagi ke Yogyakarta melalui rute yang berbeda menempuh perjalanan 1009 Km.
  • Alat-alat kesehatan yang pernah digunakan dr. Hadiyono yang gugur menghadapi Belanda dalam pertempuran di Krian, Mojokerto pada tahun 1948.
  • Pakaian dan matel Letkol dr. Soebandi, dokter Brigade III/Damarwulan merangkap sebagai Resimen Militer Jember yang gugur bersama Letkol Moch. Srudji, Komandan Brigade III/Damarwulan dalam suatu pertempuran yang sengit melawan Belanda di Karang Kedawung sebelah selatan Jember pada tanggal 8 Februari 1949.
  • Peralatan yang pernah digunakan oleh Kapten Soemitro dalam perang kemerdekaan menghadapi Belanda di daerah Nongkojajar, Pasuruan pada tahun 1948.
  • Lukisan yang menceritakan pada saat Jenderal Sudirman mengadakan inspeksi pasukan di Malang dalam rangka persiapan pemulangan tawanan perang Jepang.
  • Lukisan pertempuran tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby di depan gedung Internatio Jembatan Merah, Surabaya, pada tanggal 30 Oktober 1945.
  • Lukisan pertempuran di depan gedung Kempetai (Markas tentara Jepang) untuk merampas persenjataan Jepang. Tempat ini sekarang didirikan Tugu Pahlawan.
  • Lukisan yang mengisahkan pemberangkatan tawanan Jepang di Stasiun Kereta Api Malang Selatan (Stasiun Kota Lama) pada tahun 1945.
  • Lukisan pemberangkatan tawanan Jepang ke Pelabuhan Probolinggo menuju Pulau Galang pada tahun 1945.
  • Lukisan serah terima Samurai dari Brigjen Wabe Sigewa kepada Jenderal Sudirman pada tanggal 28 April 1946 di Malang.
  • Mata uang yang pernah berlaku di Indonesia pada masa revolusi.
  • Senjata peninggalan TRIP yang pernah dipakai dalam pertempuran di Gunungsari tanggal 28 November 1945.
  • Mobil sedan keluaran Pabrik Desoto USA tahun 1941 yang pernah digunakan Kolonel Sungkono, Panglima Divisi I/Jawa Timur 1948.
  • Panji-panji/lambang-lambang Satuan yang pernah digunakan oleh kesatuan-kesatuan Kodam VIII/Brawijaya pada tahun 1945.

Ruang II
Memamerkan benda-benda koleksi dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1976. Koleksi yang dipamerkan adalah:
  • Peta Kota Malang dan perkembangannya mulai dari zaman pemerintahan Belanda hingga beralih kepada Republik Indonesia dari tahun 1919 hingga sekarang.
  • Foto-foto Walikota Malang dari zaman pemerintahan Belanda sampai sekarang.
  • Meriam dan bejana besi hasil rampasan operasi Seroja Timor-Timur oleh pasukan Kodam Brawijaya tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Senjata rampasan dari PRRI/Permesta. Pada tahun 1958 terjadi pemberontakan oleh PRRI di Sumatera Barat serta Permesta di Sulawesi Tengah dan Utara. Untuk menumpas pemberontakan tersebut dibentuk satuan tugas operasi militer yang diberi nama “Operasi 17 Agustus”. Dalam operasi tersebut, pasukan Brawijaya berhasil menangkap dan menawan tokoh-tokoh pemberontak serta merampas bermacam-macam senjata berat maupun ringan (STTB dan SMB).
  • Mesin hitung (kalkulator) dan alat cetak kartu, computer pertama yang digunakan oleh Jawatan Keuangan Kodam VIII/Brawijaya.
  • Maket Patung Raden Wijaya sebagai Prabu Brawijaya.
  • Teks Sapta Marga dan Sumpah Prajurit terbuat dari marmer yang pernah dipasang di ruang hening Makodam V/Brawijaya.
  • Peta penugasan pasukan Brawijaya yang merupakan petunjuk daerah-daerah penugasan pasukan-pasukan Brawijaya di seluruh wilayah Indonesia dalam rangka menumpas pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia.
  • Alat musik yang pernah digunakan oleh Detasemen Musik Kodam V/Brawijaya ini merupakan hasil rampasan dari tentara Belanda pada tahun 1952.
  • Peralatan perang yang digunakan pasukan Brawijaya untuk merebut Irian Barat pada operasi Trikora tanggal 19 Desember 1961 terdiri dari pakaian tutul, paying terjun, dan senjata.
  • Peralatan tradisional rakyat Irian Jaya yang diperoleh pada waktu pasukan Brawijaya melaksanakan Operasi Trikora.
  • Lukisan timbul Mayjen Soeharto untuk mengenang saat menjabat sebagai Panglima Mandala dalam rangka merebut kembali Irian Barat dari kekuasaan Belanda pada tahun 1961.
  • Atribut dr. Arjoko. Kapten dr. Arjoko dari Jawatan Kesehatan Kodam VIII/Brawijaya yang gugur di Irian Jaya pada bulan Maret 1964 akibat pesawat udara yang ditumpanginya jatuh di Ganyem, Irian Jaya.
  • Bendera Katanga yang merupakan hasil rampasan dari pemberontakan di Kongo saat pasukan Brawijaya bersama-sama pasukan lain bertugas di Kongo pada tahun 1962 sampai dengan tahun 1963 (Kontingen Garuda II).
  • Pakaian seragam tentara Papua buatan Belanda yang berhasil dirampas oleh pasukan Brawijaya.
  • Meja dan lilin yang pernah digunakan sesepuh Brawijaya untuk azas pembinaan keluarga besar Brawijaya pada tahun 1966 di Candi Penataran.
  • Peralatan Topografi yang pernah digunakan oleh Brigade Topografi Angkatan Darat pada tahun 1945.
  • Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Trisula dalam rangka penumpasan sisa-sisa komunis di Blitar Selatan tahun 1968.
  • Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Seroja di Timor Timur oleh Pasukan Brawijaya tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Album nama-nama prajurit Brigif 2 Dharma Yudha yang gugur dalam Operasi Seroja Timor Timur pada tahun 1975 sampai dengan tahun 1976.
  • Bendera Portugal hasil rampasan Brigif Linud 18 pada Operasi Seroja 1975.
  • Mata uang Jepang yang beredar di Indonesia.
  • Patung burung elang merupakan lambang satuan Brigif 10 yang dilikuidasi pada tahun 1975.
  • Piala dan tanda penghargaan dari satuan Kodam Brawijaya yang dilikuidasi.
Perpustakaan Museum
Perpustakaan Museum Brawijaya merupakan tempat untuk mengoleksi buku-buku dan dokumen-dokumen (Audio Visual) sejarah perjuangan TNI, karya-karya umum dan referensi yang terkait dengan pendabdian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. *** [280112]

Sumber :
  • __________ , 2008. Sekilas Mengenal Museum Brawijaya, Malang: Bintaldam V Brawijaya
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami