The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Madiun Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madiun Heritage. Tampilkan semua postingan

Gedung Bakorwil Madiun

Berkesempatan berkeliling Kota Madiun memberi warna tersendiri bagi saya yang memiliki kegemaran melihat-lihat bangunan kuno di suatu daerah. Tak terbayangkan sebelumnya jika ternyata Kota Madiun menyimpan bangunan heritage yang lumayan banyak juga. Salah satu di antaranya yang berhasil saya kunjungi adalah Gedung Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Madiun. Gedung ini terletak di Jalan Pahlawan No. 31 Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di depan Taman Makam Pahlawan Madiun, atau sebelah utara Balai Kota Madiun ± 350 meter.
Awalnya, Gedung Bakorwil ini merupakan rumah dinas untuk kediaman Residen Madiun. Dibangun pada 1831 semasa kepemimpinan Residen pertama Madiun, yaitu Loudewijk Launij, yang menjabat dari tahun 1830 sampai dengan tahun 1838.



Rumah dinas sang residen kala itu merupakan bangunan yang paling megah dan luas di Madiun. Sehingga, jalan besar yang berada di depan rumah residen itu dikenal dengan Residentlaan. Kata residentlaan merupakan gabungan dua kata yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu resident dan laan. Resident artinya residen, dan laan berarti jalan. Jadi, residentlaan berarti Jalan Residen (sekarang menjadi Jalan Pahlawan).
Residen sendiri mempunyai pengertian sebagai pegawai pamongpraja (ambtenaar) yang mengepalai daerah (bagian dari provinsi yang meliputi beberapa kabupaten). Sedangkan, daerah yang dikepalai oleh residen dikenal dengan karesidenan. Ketika masa Hindia Belanda, sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa kabupaten (afdeeling). Tidak semua provinsi di Hindia Belanda memiliki karesidenan. Hanya di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, bali Lombok, dan Sulawesi. Di atas residen adalah gubernur jenderal yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.



Karesidenan Madiun merupakan salah satu karesidenan yang ada di Jawa Timur, yang membawahi 5 kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, dan Kota Madiun. Model pembagian adminstratif semacam ini mulai diperkenalkan untuk pertama kalinya pada masa pemerintahaan Letnan Gubernur Hindia Belanda Sir Stamford Bingley Raflles (1811-1816).
Pada masa pendudukan Jepang, rumah ini tetap dipertahankan menjadi kediaman Residen Madiun. Hanya saja istilahnya diganti dengan bahasa Jepang, yaitu Syuco. Syu artinya karesidenan, sedangkan syuco berarti orang yang memimpin syu (residen). Dalam menjalankan pemerintahan, syuco dibantu oleh Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Cokan) yang terdiri dari tiga bu (bagian), yaitu Naisebu (bagian pemerintahan umum), Keizabu (bagian ekonomi), dan Keisatsubu (bagian kepolisian).



Setelah Indonesia merdeka, model pemerintahan karesidenan masih tetap berjalan. Karesidenan dihapus setelah keluar Peraturan Presiden No. 22 tahun 1963 tentang Penghapusan Karesidenan dan Kawedanan. Semenjak itu, hapuslah Karesidenan dalam jenjang birokrasi pemerintahan di Indonesia. Setelah dihapus, posisi Karesidenan di beberapa tempat diisi oleh pejabat yang disebut Pembantu Gubernur. Wilayah kerja meliputi wilayah eks karesidenan.
Kemudian dalam perjalanan selanjutnya, istilah Pembatu Gubernur berubah menjadi Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) sampai sekarang. Oleh karena itu, rumah dinas yang semula merupakan kediaman residen, kini otomatis berubah menjadi rumah dinas Bakorwil. Saking besarnya rumah dinas itu, maka dikenal dengan Gedung Bakorwil.
Bakorwil merupakan badan yang membantu gubernur dalam menyelenggarakan fungsi koordinasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah di wilayah kerjanya yang dipimpin oleh Kepala Bakorwil yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi. Tugas yang diembannya dalah membantu gubernur dalam melakukan koordinasi, pembinaan, pengawasan, supervisi, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan tugas pembantuan serta optimalisasi pengembangan potensi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Bangunan rumah dinas atau Gedung Bakorwil ini memiliki langgam Indische Empire Style. Indische Empire Style adalah sebuah gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke-18 dan ke-19. Gaya arsitektur ini muncul akibat dari suatu kebudayaan yang disebut sebagai ‘Indische Culture’, yang berkembang di Hindia Belanda sampai akhir abad ke-19. Ciri langgam yang nampak jelas pada gedung ini, antara lain kesan bangunan yang monumental, serambi muka dan belakang terbuka dengan dilengkapi pilar bergaya Yunani, penggunaan atap perisai, dan terdapat koridor tengah yang menghubungkan antar serambi dan antar ruang lainnya.
Indische Empire Style sendiri sebenarnya merupakan perpaduan antara gaya Empire Style yang berasal dari Perancis dengan gaya rumah tradisional pribumi yang cocok dengan iklim tropis. Masuknya gaya Empire Style ini di bawa oleh Herman Willem Daendels ketika menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda atas nama Perancis. Perpaduan gaya Empire Style dengan keadaan setempat ini menghasilkan langgam Indische Empire Style. Langgam ini hampir mewarnai bangunan-bangunan yang digunakan sebagai rumah residen atau asisten residen yang ada di Hindia Belanda. Bangunan-bangunan itu kebanyakan dirancang oleh insinyur zeni.
Di alam kemerdekaan, Gedung Bakorwil mengalami sejumlah penambahan namun penambahan tersebut tidak mengubah bentuk asli bangunannya. Perubahan yang terjadi, yaitu adanya penambahan ruang pada sisi utara dan selatan bangunan, sehingga mengakibatkan denah bangunan menjadi tidak simetris seperti bentuk aslinya. Penambahan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang karena fungsi gedung ini selain sebagai rumah dinas namun juga untuk menerima tamu pejabat-pejabat penting yang singgah di Kota Madiun. *** [300617]

Fotografer: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
Sukarno, P.G., Antariksa, & Suryasari, N. (2014). Pelestarian bangunan Kolonial Belanda Rumah Dinas Bakorwil Kota Madiun. Arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014
http://www.bakorwilmadiun.jatimprov.go.id/tentang.php
https://www.kaskus.co.id/thread/54fe7157529a45766f8b456b/bangunan-bersejarah-keelokan-loji-indis-di-nusantara-pict/
http://www.markijar.com/2015/06/pendudukan-jepang.html
Share:

Pasar Sepur Madiun

Pasar Sepur merupakan salah satu pasar tradisional yang berada di Kota Madiun, dan termasuk pasar yang cukup tua. Situasi di dalam pasar pada waktu saya berkunjung ke sana (04/02-2014) masih terdiri dari bangsal-bangsal yang berisi pedagang sayur, pedagang pakaian, pedagang sembako, dan beberapa penjual makanan. Kira-kira ada sekitar 20 - 30 pedagang  yang masih berjualan di pasar tersebut, baik dalam bentuk los di dalam pasar maupun yang bentuk kios di deretan pintu masuk ke pasar.
Pasar tersebut menarik perhatian saya ketika melintas di depannya lantaran namanya yang cukup unik, dan juga bangunan pasar tersebut masih lawas. Selintas dalam benak, pasar tersebut untuk jualan kereta api atau sepur tapi ternyata tidak. Tapi yang jelas, pasar tersebut merupakan pasar tradisional lama yang ada di Kota Madiun.



Pasar Sepur ini terletak di Jalan Pahlawan, Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Mangu Harjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pasar ini berada di sebelah utara Kantor Pos Besar Madiun, atau sebelah barat Stasiun Madiun ± 290 meter. Tepatnya berada di pertemuan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Kompol Sunaryo.
Menurut Olivier Johannes Raap dalam bukunya Kota di Djawa Tempo Doeloe (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015 hal. 89) dikisahkan bahwa, setelah Perang Diponegero berakhir (1830) di Madiun didirikan sebuah benteng yang berada di tepi Sungai Madiun. Nama bentengnya adalah Fort te Madioen, dan sekaligus digunakan sebagai penanda batas utara Kota Madiun pada waktu itu.
Di sebelah utara benteng pada 1884 dibangun jalur kereta api, perlintasan, dan stasiun. Akibat aktivitas baru di daerah ini, dan karena pasar lain di Madiun cukup jauh, di antara benteng dan tempat sepur lahirlah sebuah pasar kebutuhan pokok warga, yaitu Pasar Sepur (de Spoorpassar te Madioen). Di depan kompleks pasar yang terdiri atas beberapa los, di bawah bayangan pepohonan yang rindang, terdapat kios jualan es balok.



Sejak akhir abad ke-19 di Madiun terdapat sebuah pabrik es Olie & Co. milik seorang pengusaha Belanda bernama Lucas Herman Olie (1847-1933). Lokasi sekarang berada di samping BCA Jalan Sudirman. Es balok hasil produksi pabrik tersebut kemudian didistribusikan secara eceran ke beberapa depot es yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk kios yang ada di samping Pasar Sepur.
Dalam perjalanannya, pasar tersebut juga tak luput dari perbaikan maupun renovasi. Pada 1992 pernah mengalami pemugaran, akan tetapi kesan tradisional masih melekat dalam pasar tersebut, yaitu dengan mempertahankan bangunan los di dalam pasar. Kemudian pada 2016, pasar ini mengalami renovasi total dengan menghabiskan dana sekitar Rp 1.596.680,- dan diresmikan pada 20 Januari 2017. Hanya disayangkan, bentuk bangunan yang baru itu seolah meninggalkan estetika layaknya pasar tradisional yang umumnya ada di Pulau Jawa ini. Bangunan yang baru lebih menekankan kepada kepragmatisan semata dengan bentuk kios-kios dengan halaman yang luas dan lebih bersih, padahal pasar tradisonal itu tidak bisa dilepaskan dari los-los yang ada. Di sinilah letak keunggulan pasar tradisonal yang mampu berdenyut, tidak hanya dalam tataran ekonomi akan tetapi juga interaksi.
Meski namanya sekarang dikembalikan ke dalam nuansa kolonial dengan sebutan Pasar Spoor, tetapi dari bentuk bangunannya yang ada malah seolah-olah meniadakan rohnya sebagai pasar tradisonal bersejarah di Kota Madiun. *** [040214]
Share:

Stasiun Kereta Api Caruban

Stasiun Kereta Api Caruban (CRB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Caruban, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 74 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Caruban, Desa Krajan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara SMK PGRI Wonoasri ± 250 m.
Bangunan stasiun Caruban ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta apinya. Jalur kereta api yang melintas di stasiun Saradan ini merupakan jaringan rel kereta api yang menghubungkan Kertosono–Nganjuk–Madiun yang dikerjakan oleh Perusahaan Kereta Api milik Pemerintah, Staatsspoorwegen, sepanjang 69 kilometer, dari tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan 1 jalur sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Babadan, dan ke arah timur menuju Stasiun Saradan. Jalur 2 dan 3 digunakan sebagai tempat memarkir kereta api manakala terjadi persusulan atau persilangan antarkereta api di stasiun tersebut.
Dulu, di depan jalur 1 yang lokasinya berada di sebelah timur bangunan stasiun, terdapat jalur badug atau jalur buntu yang kala itu itu untuk tempat menaikkan barang-barang komoditas dari atau ke stasiun ini. Sedangkan, sebelah selatan jalur 3 dulunya juga terdapat jalur 5 namun sekarang sudah tidak ada lagi karena relnya sudah dicabutin.
Stasiun Caruban merupakan stasiun kelas II, yang saat ini masih menunjukkan aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan kereta api yang ada sitasiun ini meliputi kereta api kelas eksekutif, kelas campuran, kelas ekonomi AC plus, dan kelas enonomi AC. Stasiun ini merupakan stasiun yang ramai di Kabupaten Madiun, sehingga dari peninggalan bangunan masa Hindia Belanda ini pun ditambahi sejumlah ruangan, seperti ruang tunggu, toilet dan mushola di sekitar bangunan tersebut. *** [230717]
Share:

Stasiun Kereta Api Saradan

Stasiun Kereta Api Saradan (SRD) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Saradan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 107 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kereta api yang berada di daerah paling timur Kabupaten Madiun.
Stasiun Saradan terletak di Jalan Stasiun RT.01 Rw.01 Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di belakang Pasar Saradan.


Bangunan stasiun Saradan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta apinya. Jalur kereta api yang melintas di stasiun Saradan ini merupakan jaringan rel kereta api yang menghubungkan Kertosono – Nganjuk – Madiun yang dikerjakan oleh Perusahaan Kereta Api milik Pemerintah, Staatsspoorwegen, dari tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882.
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan 2 jalur sebagai sepur lurus. Stasiun ini masih tergolong beruntung jika dibandingkan dengan stasiun kereta api yang memiliki tipe yang sama. Karena, stasiun ini tidak hanya berfungsi sebagai stasiun simpangan belaka, akan tetapi masih ada kereta api kelas ekonomi yang mau menyinggahinya dengan menurunkan maupun menaikkan penumpang, seperti KA Sri Tanjung, KA Logawa maupun KA Pasundan.


Mengenai bentuk bangunan stasiun ini dikatakan hampir sama dengan bentuk bangunan stasiun yang memiliki tipe yang sama. Bangunan stasiun Saradan tidaklah begitu besar, hanya berukuran 154 m², dan telah ditetapkan sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 001/7.63155/SRD/BD.
Stasiun ini memiliki peran yang strategis karena letaknya yang terdapat di perbatasan antara Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk sehingga stasiun ini bisa menjadi hub bagi kedua kabupaten tersebut. *** [040715]

Share:

Prasasti Mŗwak

Prasasti Mŗwak bertarik 1108 Çaka atau 1186 M, dengan menggunakan aksara dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti ini terbuat dari batuan andesit (upala praśasti) dan berbentuk blok dengan variasi berpuncak setengah lingkaran dengan tinggi 84 cm, lebar 60 cm (atas) dan 45 cm (bawah), bagian bawahnya berbentuk bunga padma.
Prasasti Mŗwak merupakan prasasti in situ, yang keberadaannya masih berada di tempat di mana prasasti tersebut ditemukan, terletak di bagian belakang kuburan dengan diberi cungkup. Prasasti ini dtemukan di Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Secara toponimi, keletakan Desa Mruwak di mana prasasti Mŗwak ini sesuai dengan isi dari prasasti Mŗwak yang menyebutkan bahwa terdapat sungai besar di sebelah barat laut dan terdapat gunung di sebelah Desa Mruwak di mana pada saat prasasti Mŗwak ini ditulis, Desa Mruwak dipindahkan ke tempat yang mendekati gunung. Sungai tersebut sampai sekarang masih ada, di mana penduduk setempat menyebutnya dengan “Kali Catur” dan gunung yang dimaksud dalam prasasti Mŗwak adalah Gunung Wilis yang letaknya tidak jauh dari Desa Mruwak.
Menurut Machi Suhadi dan Richadiana (1996), penelitian terhadap prasasti Mŗwak ini dimulai pada tahun 1980 yang merupakan rangkaian penelitian epigrafi di wilayah Provinsi Jawa Timur yang berlangsung secara bertahap pada tahun 1989 (Tahap I) dan tahun 1985 (Tahap II). Penelitian epigrafi Jawa Timur 1980 sebenarnya merupakan kelanjutan dari penelitian epigrafi Jawa Tengah yang dilaksanakan pada tahun 1980.
Dalam pembacaan sepintas, prasasti ini menyebutkan nama prasasti, unsur penanggalan, dan selanjutnya adalah penyebutan nama raja yang mengeluarkan prasasti, yaitu Śrī Jayaprabhu yang kemudian dilanjutkan dengan nama-nama pejabat yang menerima perintah dari raja di antaranya adalah Rakai Rama Kadi, Rakryan Dmuŋ, ri Pajahajjasya, Raka Wamaudra, prabhu ha ……, Rakryan Juru Jarah, dan ri … Sapata.
Lalu bagian selanjutnya adalah keterangan hasil pajak sebelumnya serta sebab-sebab dikeluarkan prasasti. Penyebutan tugas dan kewajiban penduduk yang menerima sīma tidak bisa dijelaskan karena pada bagian in aksaranya sudah sangat aus sehingga tidak terbaca lagi. Kemudian juga disebutkan kutukan bagi siapa saja yang melanggar ketentuan yang ditetapkan dalam prasasti.

Alih aksara:
Bagian Depan
…………………………………………………..
….. _ (śri) …………………………………………
____ (sa) ńajña haji raja pŗśasti ma
tańḍa rakryan ikha ń asīma rama
mŗwak swasti ṣaka warṣatīta ri śaka
1108 phālguna dasa klapakṣa mawulu ma saw a
tu (?) nairita sidhi śiŋha _ _  sasi _ uma rika di
waśa rasa yajya śrī jaya prabhu dhwaja thunda _ _
………. puṣaka rakai rama kadi rakryan dmuŋ
ṣri paja hajjaśya raka wamaṣudra prabhu ha _
rakryan jur jaraḥ ṣri __ ṣapata _ ka _ _
wuṣanya ṣasańa _ ….. saruran saka dhū
ma ńkā(na) ……. ṣa …… ……………..

Bagian Belakang
ka juru pḁńalas (?) ……………………………… ņa
_ ņra ma na ………………………………………..
bahta rakṣa naruńu sa _ (b) da mapaŋ ……
_ _ _ bāyabya mańaran matta hayu mata _ _ _
_ kasĕḥ śira bathara ṣri jaya mantra saka pama
saḥ ńwara nusa śarwwenayāpa mŗwan śamara sa
makana mańan ṣri kanuruḥ ńasa rakṣa tanda duka ni
ra ṣwamartya mayākar ma ranabhūmi juru talaŋ
madhawa kraḥ matta thūnah ruru dṣa _ _ haḍa rat
lumalih. muńgah ńara maḥ khadahāka tyaṣawikra
ma juru manutan smanta sakara kańa sīma mŗ
wak hanananugrahan śrī maharajasa dŗ
way yajñā sīma ma ṣāruńaņ kati śarabha
kakatan kaka ruṣa wanarapaya bhuwa nala ra
tā kamala ………………………. wakā …..
ṣadī māṣa °ka --- raja _ _ _

Bagian Kiri
ņ ṣa ……..
bhutāla
kadapa nusa
kań miṣdani(?)
_ rasa saśa
sīta dhamū
manawa ka
way kapu
nyayan kala
wa tā la(ra)
hańa _
masalas
ta …….

Bagian Kanan
taparasi
ma(?)nalas wama
na sāńāmi ha
ji wipra ņata
ra ki ra(/) sira
mata nyapan
ņikań
sīma kań
karusak
ńajar haji
praśasti
sira mawas
….. kama
saprahara
ṣrī jaya pra
bhu ------ ka

Alih bahasa:
Bagian Depan
………………………………………………………….
……. śrī ……………………………………………..
sańajña haji raja praśasti
sebagai tańḍa rakryan. Itulah sīma rama
mŗwak. Selamat! Tahun saka telah berlangsung selama śaka
1108 phālguna dasa(mi) suklapaksa mawulu ma sa wa
tu (gunung) nairitistha sidhi śiŋha _ _ sasi _ uma itulah
ditetapkannya perintah raja Śrī Jayaprabhu bendera (panji-panji) thunda _ _
….. puṣaka rakai rama kadi rakryan dmuŋ
ṣri paja hajjaśya raka wamaśudra prabhu ha
rakryan juru jarah ṣri __ bersumpah ………..
akhirnya perintah --- hancur (porak poranda) dari penuh asap
di sana ……………………………………………………...

Bagian Belakang
ka juru pańalasan ………………………….
……………………………………………………….
bahita rakṣa terdengar bunyi tiba-tiba (tidak dinantikan) …..
….. barat laut yang dinamakan matta hayu mata _ _ _
Diberikan dia tuan yang mulia Ṣri Jaya mantra dari pama
saḥ ńwara nusa śarwwenayāpala mŗwak samara
demikian meraung (meratap) ṣri kanuruhan binasa melindungi taņda duka nya
bumi memperdayakan medan pertempuran Juru talaŋ
madhawa dalam jumlah besar marah bertumpuk gugur di desa _ _ (mŗwak?) berdirilah dunia (daratan)
dipindahkan ke arah atas sana kadāhaka tyaṣ dengan keberanian (keteguhan hati)
juru manutan seluruh berubah dengan mudah lalu sīma mŗwak
mengenai pemberian (penganugrahan) śrī maharajasa
dŗwya yajña sīma mā kain sarung kati śarabha
kakataŋ gagak rusa kera paya langit (udara) api dataran
teratai ………………………….. wakā ………
1 māṣa … --- raja _ _ _

Bagian Kiri
………………………………….
muka bumi (tanah)
kadapa pulau
yang miṣdani
_ rasa (sari buah) saśa
dingin air pencuci
jika syair (kawya)
kepanasan
penjelmaan
dewa Kāla (maut)
berada _
hutan (?)
ta ……

Bagian Kanan
pertapa
ke hutan wama
na bernama ha
ji wiprana ta
ra ki ra(?) dia
lihatlah!
itulah
sīma yang
hancur
memberitahukan haji
praśasti
dia menjaga
……….. kama (cinta)
sejenak
ṣrī jaya pra
bhu ------ ka

Kepustakaan:
Churmatin Nasoichah, 2007, Prasasti Mŗwak 1108 Śaka (1186 Masehi), dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
Share:

Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Madiun

Dalam perjalanan dari pusat Kota Madiun menuju ke arah Terminal Purabaya atau sebaliknya, Anda akan menyaksikan bangunan kuno dengan menara yang khas tanpa atap di samping pintu utama. Tepat di gevel pintu utama yang lumayan besar terdapat tulisan Griya Winaya Janma Miwarga Laksa Dharmmesti. Tulisan tersebut berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri atas 6 kata, yaitu griya artinya rumah atau tempat, winaya bermakna pendidikan atau bimbingan, janma artinya manusia atau orang, miwarga maknanya salah jalan atau sesat, laksa artinya tujuan, dan dhammesti bermakna berbuat baik. Bila enam kata tersebut dirangkaikan mempunyai makna: rumah untuk pendidikan manusia yang salah agar patuh pada hukum dan berbuat baik. Bangunan itu adalah Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas 1 Madiun.
Secara administratif LAPAS Kelas 1 Madiun terletak di Jalan Yos Sudarso No. 100 Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dengan PG Rejo Agung Baru maupun PT. INKA. Batas bangunan tersebut sebelah utara dengan kompleks perumahan POLRI, sebelah timur dengan Jalan Yos Sudarso, sebelah selatan dengan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Nambangan Lor Madiun) dan barat berbatasan dengan tanah sawah LAPAS dan perumahan perkampungan penduduk.


LAPAS Kelas 1 Madiun didirikan pada tahun 1919 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan mulai digunakan pada tahun 1926. LAPAS ini sebelumnya adalah LAPAS yang digunakan untuk memenjarakan masyarakat pribumi (inlander).
LAPAS ini dulunya merupakan LAPAS Kelas II A yang khusus untuk menampung narapidana yang berkaitan dengan kasus narkotika maupun psikotropika. Dengan keluarnyaKeputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.16.PR.03 Tahun 2003 tentang Peningkatan Kelas 1 Lembaga Pemasyarakatan dari Kelas II A menjadi Kelas 1 dan LAPAS dari Kelas II B menjadi Kelas II A, secara otomatis LAPAS Madiun berubah dari Kelas II A menjadi Kelas 1.
LAPAS Madiun dalam perkembangannya telah  mengalami renovasi sebanyak enam kali, yaitu pada tahun 1975/1976, 1978/1979, 1982/1983, 1984/1985, 1992/1993, dan yang terakhir pada tahun 1993/1994.
Bangunan LAPAS ini memiliki luas tanah 29.790 m² dan luas bangunan 7.948 m². Pada luas tersebut terdapat bangunan kantor dan blok untuk para narapidana maupun tahanan. Luas total blok hunian adalah 4.806,71 m², yang terbagi menjadi 15 blok di mana masing-masing blok memiliki luas 320,48 m². Blok A dikhususkan untuk narapidana dan tahanan wanita. Blok B, C, D merupakan blok yang dipergunakan untuk narapidana dan tahanan. Blok E, F selatan 1, F utara 2, Asingan (F selatan dan F utara), G, H dan I juga digunakan untuk narapidana dan tahanan. Blok J adalah rumah sakit, sedangan blok Penaling untuk narapidana dan tahanan yang baru datang atau masuk ke LAPAS tersebut.


LAPAS Kelas 1 Madiun ini dalam perjalanannya mengalami berbagai kisah pembinaan di dalam proses pemasyarakatan. LAPAS ini pernah menjadi penjara untuk menjebloskan para pemberontak pada peristiwa PKI Madiun 1948. Kemudian juga pernah untuk menampung para tahanan yang terkena kasus narkoba di seluruh Provinsi Jawa Timur. Namun kini, seluruh narapidana dari berbagai kasus yang bersifat bisa menghuni LAPAS ini.
Sebelum menjadi lembaga pemasyarakatan, bangunan ini dikenal dengan Penjara Kletak. Ketika itu, sistem kepenjaraan bercirikan balas dendam dan penjeraan. Munculnya institusi rumah penjara akhrinya sudah tidak sesuai lagi dengan alam kemerdekaan yang berlandaskan Pancasila, dan akhirnya diperkenalkan istilah LAPAS sesuai dengan semboyna dalam bahasa Sansekerta yang menenempel pada gevel tersebut. Sehingga diharapkan menjadi rumah pertobatan yang mendidik manusia supaya berperilaku baik, mengubah kebiasaan buruknya dan diharapkan setelah keluar dari LAPAS, mereka berperilaku baik dan menyesali perbuatannya. Hal itu didasari pada fitrah kemanusiaan bahwa tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, meskipun ia telah tersesat, tidak boleh selalu ditunjukkan pada narapidana bahwa ia itu penjahat. Sebaliknya,ia harus merasa bahwa ia dipandang dan diperlakukan sebagai manusia. *** [030214]

Share:

Stasiun Kereta Api Madiun

Secara administratif, Stasiun Kereta Api Madiun terletak di Jalan Kompol Sunarnyo No. 6A Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah selatan PT. INKA.
Stasiun yang berketinggian +63 meter di atas permukaan laut ini menjadi pusat Daerah Operasi (DAOP) 7 dan merupakan stasiun besar yang melayani perjalanan kereta api ke sejumlah tujuan, baik jalur utara maupun jalur selatan.
Sejak di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram, Madiun merupakan tempat yang ramai karena lokasinya yang strategis. Pada tahun 1832, Kota Madiun dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. Semenjak itu, Kota Madiun menjadi wilayah berstatus karesidenan, dan menjadi tempat tinggal orang-orang Belanda maupun Eropa lainnya, terutama yang bekerja di bidang perkebunan dan perindustrian. Karena Madiun dijadikan sebagai lokasi pengembangan berbagai perkebunan dan pabrik di sekitar kota ini, utamanya adalah perkebunan tebu dengan pabrik gula, perkebunan the, kopi, tembakau dan lain-lain.


Berkembangnya perkebunan dan pabrik pengolahan hasil perkebunan membawa akibat pada kebutuhan sarana pengangkutan, dalam hal ini kereta api menjadi pilihan yang paling efisien. Jaringan rel kereta api mulai dibangun di Kota Madiun oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) sekitar 1885, dan mulai beroperasi pada tahun 1897. Pada awalnya, jalur kereta api yang dibangun ini merupakan jalur kereta api tebu. Lalu,  jalur tersebut dintegrasikan dengan jalur kereta api Madiun-Ponorogo-Slahung (45 kilometer) yang sejak 1983 relnya dinonaktifkan, dan terdapat juga percabangan rel menuju Stasiun Cepu yang melewati hutan di daerah Bojonegoro. Sedangkan jalur barat menuju ke Solo.
Selang setahun kemudian juga dibangun sebuah Balai Yasa Lokomotif Uap yang terletak di sebelah utara stasiun ini. Pada Oktober 1898, stasiun ini mulai dioperasikan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Setelah jalur kereta api dirasa padat dan ramai, maka sekitar 1930 dilakukan renovasi stasiun agar lebih representatif sesuai ukuran zaman ketika itu. Bangunan Stasiun Madiun merupakan hasil rancangan Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek kelahiran Tulungagung, 8 September 1882. Sebelumnya, Ghijsels selama tiga tahun (1926-1929) juga menangani renovasi Stasiun Beos Jakarta Kota dengan rancangan Art Deco-nya.
Stasiun Besar Madiun berupa stasiun satu sisi dengan bangunan utama terletak sejajar dengan rel dan emplasemen. Sebagian besar bangunan stasiun, baik bangunan utama maupun emplasemen telah mengalami renovasi sehingga penampilan keseluruhan stasiun ini bersuasana cukup modern.
Pada ruang peron terlihat sedikit sisa elemen bangunan lama yang berupa pintu besar berbentuk persegi. Dinding bagian bawah dilapis dengan marmer agar tidak mudah kotor dan lebih mudah dibersihkan, mengingat fungsinya sebagai ruang publik.
Lobby utama stasiun ini terkesan luas karena langit-langit dibuat tinggi. Ruang loket penjualan ticket menampilkan suasana yang sama dengan lobby, tetapi terlihat lebih akrab dengan ketinggian langit-langit yang lebih rendah.


Bangunan emplasemen berupa struktur atap pelana bentang lebar dengan kuda-kuda baja dan penutup atap seng gelombang menaungi dua jalur lintasan rel dan peron. Puncak atap sedikit diangkat sehingga menciptakan lubang yang berfungsi sebagai ventilasi agar ruang di bawahnya terasa sejuk. Bentuk kuda-kuda yang sederhana dan efisien menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan bangunan yang relative masih baru.
Meskipun demikian, konstruksi kolom penyangga bangunan emplasemen yang terbuat dari besi menunjukkan adanya sisa dari bangunan lama yang menjadi ciri konstruksi yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada awal abad 20. Ciri itu terlihat dari bentuk kolom besi berprofil segi delapan yang diameternya semakin ke atas semakin kecil, serta bentuk konsol besi dengan ornamen lingkaran yang sesungguhnya merupakan bagian dari penguat konsol tersebut.
Pada tahun 1979, hampir semua lokomotif uap sudah tidak dioperasikan lagi setelah adanya lokomotif diesel hidrolik. Lokasi Balai Yasa Lokomotif Uap akhirnya dialihfungsikan pada tahun 1981 dengan didirikannya PT. INKA. PT. INKA merupakan perusahaan pembuat gerbong dan kereta api penumpang yang kemampuan teknologinya sudah baik dan memiliki fasilitas yang modern. Sekarang perusahaan ini menjadi perusahaan skala besar dan satu-satunya di Asia Tenggara yang bergerak di bidang perkeretaapian sehingga produknya sudah dikenal di mancanegara. *** [030214]
Share:

Pabrik Gula Rejo Agung Baru

Setiap bis non-Patas, baik dari arah Solo yang akan ke Surabaya maupun sebaliknya, dari Surabaya yang hendak melanjutkan perjalanan ke Solo, senantiasa masuk ke Terminal Purbaya, Madiun. Sebelum maupun sesudah menaikkan ataupun menurunkan penumpang di terminal, bis tersebut selalu melintasi sebuah bangunan besar dengan lahan yang sangat luas di mana di sudut lahan yang mengarah ke lampu merah terdapat pajangan kereta (sepur) bekas pengangkut tebu pada zaman dahulu, yang biasa disebut dengan lori.
Sepur hitam legam tersebut merupakan penanda bagi siapa saja yang melintas perempatan ke arah jalan lingkar untuk menunjukkan bahwa di situ terdapat pabrik gula yang masih aktif berproduksi. Pabrik gula (PG) itu dikenal dengan nama PG Rejo Agung Baru.
PG Rejo Agung Baru ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 23 Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sebelah barat Terminal Purbaya, Madiun.


PG Rejo Agung Baru ini dibangun pada tahun 1894 oleh NV Handel MT. Kian Gwan, sebuah perusahaan yang didirikan oleh Oei Tjie Sien (1835-1900). Oei Tjien Sien merupakan salah satu imigran yang berasal dari Tong-an, Distrik Ch’uanchou, Provinsi Fukien, Tiongkok. Tidak seperti kebanyakan orang Tionghoa yang datang ke Nusantara pada abad 19, Tjie Sien lebih berpendidikan. Ia sempat mengenyam pendidikan dasar China di masa remajanya. Alasan inilah, ia kerap terlibat dalam pemberontakan di sana, sehingga ia harus melarikan diri dari Tiongkok. Sekitar 1858, dia datang ke Semarang, dan memulai jualan kecil-kecilan. Semarang merupakan tempat yang cocok bagi orang Tionghoa yang ingin berdagang, karena ketika Tjie Sien tiba, Semarang merupakan kota perdagangan yang besar di seluruh Pulau Jawa.
Akhirnya, usaha kecil-kecilan yang telah dirintis oleh Tjie Sien menjadi besar, dan ia menjadi pengusaha yang sukses. Kesuksesan ini menular ke anak keduanya, Oei Tiong Ham, karena bagaimana pun juga Kian Gwan turut membentuk dasar untuk karier bisnisnya di kemudian hari. Pada pertengahan 1890-an, ketika Oei Tiong Ham masih berada di pertengahan dua puluh, yang beberapa tahun sebelum ayahnya meninggal, ia mulai membeli pabrik gula. Kian Giam sendiri, akhirnya berubah menjadi Oei Tiong Ham Concern setelah diambil alih kepemimpinannya. Oei Tiong Ham Concern menjadi induk perusahaan dengan status kepemilikan 100 persen swasta, dan sekaligus menjadi kerajaan bisnis Oei Tiong Ham yang berpusat di Semarang. Tetapi bidang usahanya merambah kemana-mana terutama di Surabaya, Madiun, Surakarta hingga Batavia.
Dialah, seperti orang Belanda bilang, sebagai satu-satunya De Groote Suiker Baronnen atau Raja Gula Kenamaan. Oei Tiong Ham mempunyai 8 orang istri, dan anaknya berjumlah 26 orang.
Setelah Indonesia merdeka, terjadi perubahan yang mendasar di pelbagai segi kehidupan. Tak terkecuali bidang ekonomi. Pada tahun 1961, seluruh perusahaan Oei Tiong Ham Concern dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI) berdasarkan keputusan Pengadilan Ekonomi Semarang Nomor 32 Tahun 1961 tertanggal 10 Juli 1961, dan untuk selanjutnya operasional perusahaan tetap berjalan di bawah pengawasan Menteri atau Jaksa Agung.
Pada 20 Juli 1963, pengelolaan seluruh aset perusahaan eks Oei Tiong Ham Concern diserahterimakan dari Menteri/Jaksa Agung RI kepada Menteri Urusan Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan (P3) yang sekarang dinamakan Kementerian Keuangan.


Pada tahun 1964, Departemen Keuangan membentuk perusahaan dengan nama PT. Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan tugas melanjutkan aktivitas usaha eks Oei Tiong Ham Concern. Sehubungan hal tersebut, badan hokum PG Rejo Agung Baru berubah menjadi NV PG Rejo Agung Baru, dan pada tahun 1974, PT. PPEN Rajawali Nusantara Indonesia disesuaikan badan hukumnya menjadi perusahaan perseroan dengan nama PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) serta ditetapkan bahwa seluruh saham PG Rejo Agung Baru menjadi milik PT. RNI, sedangkan nama PG Rejo Agung Baru berubah menjadi PT. PG Rejo Agung Baru.
Pada tahun 1996, seiring dengan perkembangan globalisasi dari AFTA yang akan masuk dalan industri gula maka untuk mengantisipasi tersebut pihak manajemen PT. RNI mengadakan serangkaian perubahan kebijakan, seperti nama berubah menjadi PT. PG Rajawali I-Unit PG Rejo Agung Baru.
Semenjak 1998 sampai sekarang, kapasitas pabrik ditingkan menjadi 4.500 TCD (tahun 2008) dan sistem pemurnian dirubah menjadi sistem sulfitasi, dan saat ini PG Rejo Agung Baru memiliki kapasitas giling sebesar 6.000 TCD.
PG Rejo Agung Baru sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Kota Madiun yang bergerak di bidang industri pertanian. Pabrik ini, selain berdiri di atas lahan yang lebih dari satu hektar ini, juga memiliki lahan pertanian tebu di berbagai kecamatan se-Kabupaten Madiun.
Berdasarkan perjalanan sejarahnya, PG Rejo Agung Baru ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya (BCB) yang terdapat di Kota Madiun yang harus dilindungi. *** [030214]

Kepustakaan:
Share:

Gedung Bioskop Arjuna Madiun

Seputaran alun-alun Madiun memang menyimpan kenangan lama. Di sudut pertemuan antara Jalan Alun-Alun Utara dan Jalan Pandan, masih berdiri bangunan bioskop Arjuna atau Arjuna Theater. Gedung pertunjukan gambar idoep tersebut seolah-olah menjadi saksi akan kenangan lama tersebut.
Sebelum menjadi Arjuna Theater, dulunya bangunan ini merupakan gedung bioskop Apollo atau Apollo Theater yang didirikan oleh seorang Belanda bernama L. Knuverlder (1930-1936). Namun, akhirnya berpindah tangan kepemilikannya kepada seorang Tionghoa. Pada waktu itu, perbioskopan memang belum menjanjikan keuntungan yang memadai tetapi banyak di kalangan orang Tionghoa menganggap bahwa usaha ini merupakan investasi jangka panjang. Setidak-tidaknya investasi di bidang tanah dan bangunan yang tak pernah mengalami penurunan harga.


Jadi, bangunan bioskop Arjuna itu sedari awal memang dirancang sebagai gedung pertunjukan gambar sorot. Bangunan peninggalan Belanda ini, bentuknya memanjang seperti hanggar yang beratapkan seng.
Sekitar tahun 1980-an, Arjuna Theater mengalami masa keemasan dengan menampilkan tayangan film Indonesia yang radahot”, seronok, dan vulgar di kala itu. Akan tetapi sejak 1999, bioskop Arjuna mulai meredup pengunjungnya dan akhirnya sekarat. Pada 2002, Arjuna Theater resmi ditutup.


Gedung ini sekarang digunakan sebagai penyimpanan gerobak-gerobak pedagang kaki lima (PKL) yang kerap mangkal di sekitar alun-alun. Bangunan bioskop Arjuna hingga kini masih bisa disaksikan di Jalan Alun-Alun Utara, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah timur Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun. Hanya saja bangunannya menjadi terbengkelai dan mangkrak. Kondisi bangunan ini sangat memprihatinkan dan bisa terancam kelestariannya karena di teras bangunan ini terdapat poster “dijual”. Akankah nasib bioskop Arjuna sama dengan saudaranya bioskop Lawu yang sudah dihancurkan dan kini menjadi Pusat Perbelanjaan (Mall) Sri Ratu? Sejarah yang akan menjawabnya.
Meskipun demikian alangkah baiknya bila kita sejenak menyimak ujaran yang pernah dikatakan oleh GH von Faber (1937), “Wie het heden wil begrijpen, moet het verleden kennen. Kennen is liefhebben. Kennen kan echter ook beteekenen: elkaar liefhebben, elkander waarderen” (Untuk memahami masa kini, perlu mengenal masa lampau. Mengenal berarti mengasihi. Mengenal juga berarti: mengasihi sesama, menghargai sesama). *** [030214]
Share:

Klenteng Hwie Ing Kiong

Tempo doeloe Jalan HOS Cokroaminoto Madiun sudah menjadi kawasan yang ramai. Wilayah ini merupakan jantung ekonomi masyarakat baik dulu maupun sekarang. Sisa-sisa bangunan kuno yang menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan Pecinan masih dapat ditemui meski yang bisa ditemui hanya beberapa saja. Salah satunya adalah tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang bernama Klenteng Hwie Ing Kiong.
Klenteng ini terletak di Jalan HOS Cokroaminoto No. 63 Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, atau tepat berada di depan SMPN 6 Madiun.


Pada zaman dulu, ada seorang tokoh Tionghoa yang ingin membangun sebuah tempat ibadah. Mereka adalah Tan Bik Swat bersama kawan-kawan lainnya. Karena belum mendapatkan lokasi yang tepat, awalnya klenteng pemujaan yang sangat sederhana didirikan di sebelah barat Sungai Madiun, terletak di samping jembatan sebelah barat. Mereka membawa patung Ma Zu Thien Shang Shen Mu setinggi 97 sentimeter langsung dari Tiongkok guna disembahyangi di klenteng tersebut.
Lalu, mereka berusaha lagi untuk mencari sebidang tanah guna mendirikan tempat ibadah yang lebih luas dan representatif. Kisah ini bermula, pada tahun 1887 didapati seorang istri Residen Belanda yang ditunjuk sebagai penguasa tertinggi wilayah Madiun saat itu, sedang menderita suatu penyakit yang cukup serius. Semua dokter Belanda yang bertugas di Jawa menyarankan agar istri Residen Belanda dibawa pulang ke Negeri Belanda guna mendapatkan perawatan yang intensif di sana. Saran tersebut membuat Residen pusing tujuh keliling lantaran jaraknya yang begitu jauh dengan kondisi transportasi yang ada ketika itu tentunya memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana.


Di saat galau tersebut, datanglah seorang teman Sang Residen, Kapiten Liem Koen Tie. Dia adalah pemimpin masyarakat Tionghoa yang ada di Madiun. Kapiten Liem Koen Tie menawarkan untuk mencoba menyembuhkan penyakit istri Residen Belanda dengan ramuan obat tradisional yang didapat dari kumpulan resep obat Ma Zu Thien Shang Shen Mu melalui metode Djiam Sie dan Pak Pwee, semacam metode penyembuhan melalui spiritual dengan bantuan sepasang bandul serta bilah bambu. Alhasil, istri Residen Belanda bisa sembuh.
Oleh karenanya sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih Sang Residen Belanda, kemudian beliau bersedia memberi kemudahan kepada perhimpunan masyarakat Tionghoa saat itu untuk mendapatkan tanah di tengah kota seluas kurang lebih satu hektar guna pembangunan klenteng yang lebih layak.
Setelah tanah berhasil dibeli, lantas dimulailah pembangunan klenteng tersebut pada tahun 1887. Dana yang dipakai untuk membangun klenteng ini berasal dari sumbangan masyarakat Tionghoa yang bermukim di Madiun kala itu. Seperti halnya dengan klenteng megah lainnya yang ada di Jawa, pengerjaan dilakukan oleh para arsitek yang didatangkan secara khusus dari Tiongkok, dan memakan waktu sekitar 10 tahun untuk menghasilkan bangunan klenteng yang megah, anggun, dan indah. Setelah selesai, klenteng ini diberi nama Hwie Ing Kiong yang secara harafiah memiliki makna “Istana Kesejahteraan.”


Pada peresmian Klenteng Hwie Ing Kiong pada tahun 1897, Sang Residen berkenan mendanai pembuatan tiang-tiang penyangga utama klenteng serta menghibahkan pula sejumlah keramik asli dari Negeri Belanda yang ditempatkan di altar Ma Zu Thien Shang Shen Mu, altar Dewa Gay Chiang Shen Ong, dan altar Dewa Guan Ze Zun Wang.
Seiring perkembangan zaman, klenteng ini terus diperluas dan dimajukan bangunannya hingga berbentuk seperti sekarang ini. Di bagian depan dibangun 4 pilar dengan ukiran naga, dan di belakang didirikan pagoda berlantai empat. Sebelum di bangun pagoda, di belakang klenteng ini menjadi tempat magersari bagi masyarakat Tionghoa di sana, sehingga tampak kumuh.
Lalu, di samping kiri dan kanan bangunan utama klenteng ini dibangun gedung untuk kantor dan sebagai balai pertemuan yang cukup luas. Balai pertemuan tersebut memberikan pemasukan bagi yayasan pengelola tempat ibadah ini. *** [030214]
Share:

Rumah Kapiten China

Berkeliling di alun-alun Kota Madiun memang mengasyikkan. Banyak bangunan kuno bertebaran di seputar alun-alun tersebut. Salah satu bangunan kuno yang dapat dijumpai adalah rumah yang berada di pojok barat daya alun-alun. Rumah kuno tersebut masih tampak berdiri megah. Meski secara fisik masih terbilang bagus, namun rumah bergaya Eropa tersebut terkesan kurang terawat. Banyak semak belukar tumbuh subur di halaman depan tersebut.
Dulu, rumah ini adalah rumah milik orang Belanda yang bermukim di Madiun. Lalu ketika Hidia Belanda mengalami kesulitan keuangan akibat perang di sejumlah daerah yang berkepanjangan, banyak aset negara maupun peorangan dijual atau disewakan. Proses penjualan aset ini yang kelak disebut dengan pacht, dijual pada orang-orang Tionghoa yang relatif memiliki ekonomi yang lumayan mapan ketimbang orang pribumi sendiri. Terutama kepada para Opsir China (biasa orang Belanda menyebutnya). Termasuk salah satunya adalah rumah yang kini terletak di Jalan Kolonel Marhadi, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur.


Setelah dibeli oleh Opsir China, rumah tersebut dikenal sebagai rumah Kapiten China karena kebetulan yang tinggal lama di rumah itu adalah seorang Kapiten China. Kapiten bukanlah pangkat dalam kemiliteran, akan tetapi jabatan yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu untuk mengawasi semua kegiatan apapun yang ada di Pecinan yang merupakan wilayah kekuasaannya.
Kala itu, di kota-kota di Hindia Belanda, VOC sudah lazim mengangkat orang-orang Tionghoa yang berpengaruh dan memiliki leadership yang kuat serta kaya sebagai pemimpin golongannya. Orang-orang Tionghoa papan atas diberi pangkat Mayor, Kapiten, Letnan, tetapi mereka sama sekali bukan tentara. Itu hanya semacam pangkat atau gelar kehormatan saja. Di mata orang Belanda, mereka disebut juga sebagai Opsir China.
Tugas utama para Opsir China itu jelas sebagai coordinator golongannya. Sedangkan di sisi lain, sebagai penguasa negeri ini. Kompeni sangat membatasi gerak-gerik orang-orang Tionghoa. Mereka dipaksa tinggal di kampung-kampung China. Dari sinilah kemudian munculnya cikal bakal Pecinan, yang artinya tempat tinggal orang-orang Tionghoa.


Diperkirakan rumah Kapiten China tersebut dibangun pada abad 19 dengan gaya bangunan kolonial yang berkembang saat itu. Dulu, jalan di depan rumah Kapiten China tersebut bernama Abattoir Laan atau Magetan Straat, dan terdapat jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo yang berujung pada stasiun Madiun lama dan saat memasuki pusat kota bercabang hingga berhenti di depan rumah Kapiten China tersebut. Akan tetapi, sejak era 80-an jalur kereta tersebut sudah tidak aktif lagi dan malah akhirnya terkena proyek pelebaran jalan.
Berdasarkan catatan sejarah, Kapiten China terakhir bernama Njoo Swie Lian. Njoo Swie Lian diangkat menjadi Kapiten China di Madiun pada tanggal 22 Juni 1912 dan menjabat sampai akhir hayatnya pada 17 Februari 1930. Ayah Njoo wie Lian bernama Njoo Kie Sing, dan ibunya bernama Siok Tjiauw Nio Tan. Njoo Swie Lian menikah dengan Ong Swan Nio.
Sejak meninggalnya Kapiten Njoo Swie Lian, rumah tersebut ditempati oleh istri bersama anak-anaknya hingga Ong Swan Nio, sang istri Kapiten, meninggal dunia pada 14 November 1935 di Aloon-Aloon Zuid 8 Madioen, alamat rumah yang terdaftar kala itu.
Sebenarnya bangunan rumah tersebut masih bagus, akan tetapi sepertinya sudah tidak ditinggali lagi oleh pemiliknya. Menurut warga setempat, pemilik tersebut berada di luar Madiun, dan konon kabarnya rumah tersebut sudah dibeli oleh investor dan rencananya akan dihancurkan untuk didirikan sebuah hotel.
Seandainya kabar tersebut benar adanya, sungguh amat sangat disesalkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun seharusnya berupaya keras agar bangunan tersebut tetap lestari. Karena selain bangunan tersebut mempunyai nilai sejarah, juga menjadi potensi wisata yang sangat menarik. Bisa jadi malah yang dimaksud oleh WH van Helsdingen, mantan Walikota Soerabaja, yang berkata “Een volk dat zijn geschiedenis niet eert, is geen geschiedenis waard. Het blijft op het peil van de primitieve mens, die slechts in het heden left. Het kenmerk van een cultuurvolk daarentegen is, dat het welbewust naar een teokomst streeft, harmonisch opgebouwd op het heden en het verleden. Hoe zou dit mogelijk zijn zonder die pere kennis, zonder lifderijk doordringen in zeden en gebruiken vat het verleden?” (Bangsa yang tidak menghormati sejarahnya, tidak layak memiliki sejarah. Ia tak ubahnya manusia primitif, tetapi hidup di zaman kini. Adapun ciri khas bangsa yang berbudaya adalah, bahwa mereka dengan sadar berikhtiar untuk menuju ke masa depan yang dibangun berdasarkan sejarah masa kini dan masa lalu. Tetapi bagaimana mungkin hal ini bisa terwujud bila tidak disertai pengertian yang mendalam, tidak disertai pemahaman tentang adat istiadat dari sejarah masa lampau?).  *** [030214]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami