The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Gresik Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gresik Heritage. Tampilkan semua postingan

Kantor Pos Gresik Pelabuhan

Goresan masa lalu Kota Gresik masih bisa dijumpai dari sejumlah bangunan lawas yang ada, di antaranya adalah Kantor Pos Gresik Pelabuhan. Kantor pos ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 23 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kantor pos ini berada di depan Kantor Kepolisian Resor (Polres) Gresik.
Sebelum menjadi kantor pos, bangunan ini dulunya merupakan gudang yang dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur. VOC adalah sebuah persekutuan dagang yang dibentuk oleh pengusaha Belanda yang tergabung dalam Heeren XVII pada 1602. Tujuannya menjalankan kegiatan monopoli perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur (Nusantara) seperti pala, lada, cengkeh, kayu manis dan lainnya yang memiliki harga tinggi di pasar Eropa kala itu.


VOC mulai mendirikan loji dan gudang di Gresik pada tahun 1603 untuk mendukung dan memperlancar aktivitas perdagangannya yang berada di Pulau Jawa. Loji dan gudang itu bertebaran di dekat pelabuhan hingga ke Jalan Basuki Rahmat.
Pada waktu Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Perancis, Napoleon Bonaparte mengangkat Louis sebagai penguasa di negeri Belanda pada 1806. Kemudian Louis Napoleon mengirimkan Herman Willem Daendels ke Hindia Belanda guna mengamankan daerah itu dari serangan Inggris. Daendels dipercaya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) karena memiliki gagasan pembaruan yang diperlukan untuk memperbaiki pemerintahan di Hindia Belanda yang telah terpuruk bersamaan dengan bangkrutnya VOC.


Setibanya di pelabuhan kecil dekat Banten pada 1 Januari 1808, Dandels kemudian memutuskan menuju Batavia dan kemudian Buitenzorg (Bogor). Selama masa jabatannya, Dandels melakukan banyak pembangunan di Hindia Belanda, seperti memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan atau biasa disebut dengan Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Pembangunan jalan ini bertujuan untuk mendukung mobilitas militer guna menjaga pos-pos pertahanan penting di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
Keberadaan Jalan Raya Pos ini dalam perkembangannya, ternyata tidak hanya memberikan keuntungan di bidang pertahanan militer saja, melainkan juga perkembangan ekonomi yang berada di kawasan tersebut. Hal ini karena terjadi mobilitas ekonomi dari produk hasil bumi yang berada di pedalaman menuju pelabuhan yang terdapat pantai utara Pulau Jawa, di antaranya adalah apa yang dialami oleh Gresik.


Grissee, begitu Pemerintah Hindia Belanda dulu menyebut daerah ini, turut tumbuh menjadi tempat yang begitu penting di era Dandels. Tak hanya aktivitas pelabuhannya yang ramai, namun Dandels juga memanfaatkan Gresik sebagai basis industri senapan. Selain itu, gudang-gudang bekas milik  VOC yang berada di daerah Bedilan (sekarang Jalan Basuki Rahmat) pun juga tak luput dari kebijakan Dandels. Ia mengubah salah satu gudang yang ada, untuk digunakan menjadi kantor pos (postkantoor) yang sekarang dikenal dengan Kantor Pos Gresik Pelabuhan.
Kini, Kantor Pos Gresik Pelabuhan yang pada masa Hindia Belanda bernama Post- en telegraafkantoor te Grissee, masih menyisakan arsitektur kolonial bergaya Indische Empire. Gaya Indische Empire ini memang merupakan rintisan dari Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Selama menjadi Gubernur Jenderal, Daendels memperkenalkan gaya bangunan Indische Empire, suatu gaya arsitektur Empire Style yang telah disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. *** [240414]
Share:

Gedung DPRD Kab. Gresik

Sewaktu mengunjungi rumah teman di Gresik, saya berkesempatan berkeliling di Kota Gresik. Di sana mudah ditemukan bangunan-bangunan lawas. Hal ini mengingat Gresik merupakan daerah yang berada di pesisir Pulau Jawa yang memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang sebagai pelabuhan yang ramai pada masa itu.
Salah satu bangunan lawas yang sempat dijumpai adalah Gedung DPRD Kabupaten Gresik. Gedung ini terletak di Jalan Wachid Hasyim No. 5 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara alun-alun atau sebelah barat Telkom Gresik.


yang diceriterakan dalam sejarah, keberadaan gedung DPRD Kabupaten Gresik ini tidak terlepas dari adanya kebijakan-kebijakan yang dterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, yaitu Herman Willem Daendels, yang menjabat dari 5 Januari 1808 hingga 15 Mei 1811. Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Perancis Napoleon Bonaparte, karena pada waktu itu Nusantara menjadi daerah koloni Belanda-Perancis setelah bangkrutnya VOC.


Daendels diserahi tugas oleh Napoleon Bonaparte terutama untuk melindungi Pulau Jawa dari serangan armada Inggris, mengingat Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. “Pertahankan Jawa, berapa pun harganya!” Itu perintah Napoleon Bonaparte kepada Menteri Kelautan dan Wilayah Jajahan Perancis Admiral Decres, Oktober 1810, untuk membantu Dandels. Pada awal abad ke-19 itu, di Samudera Hindia, Perancis hanya punya kekuasaan di Mauritius, Bourbon, dan Jawa. Bahkan, pada masa antara 1808 dan 1811, tinggal Pulau Jawa daerah koloni Perancis yang tersisa di Asia.


Selama tiga tahun berkuasa, Daendels melaksanakan tugasnya dengan segera, dan memerintah dengan tangan besi. Ia mulai membangun rumah sakit militer dan tangsi-tangsi militer baru untuk persiapan melawan Inggris. Yang monumental adalah pembangunan jalan raya pos (De Grote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 kilometer. Tujuannya agar memudahkan mobilitas pasukannya sewaktu-waktu ada serangan dari Inggris.
Selain itu, Daendels juga memerintahkan membangun sejumlah pabrik senjata. Gresik tak ubahnya Semarang yang berperan sebagai pabrik dan sekaligus gudang meriam. Sementara Daendels memanfaatkan Gresik sebagai pabrik senjata berjenis senapan.
Pada waktu Hindia Belanda jatuh ke tangan tentara Jepang, bangunan pabrik senjata ini direbut dan dijadikan sebagai gudang persenjataan tentara Jepang. Di bangunan inilah, tentara Jepang menghimpun amunisi untuk melawan pasukan sekutu dalam Perang Dunia II.
Kini, bangunan pabrik dan gudang senjata itu masih bisa disaksikan sampai sekarang, namun sudah berubah peruntukkannya, Bangunan kuno bergaya Indische Empire tinggalan Daendels tersebut sekarang menjadi kantor DPRD Kabupaten Gresik. *** [250414]

Kepustakaan:
Indrawan, Angga. (2017). Napak Tilas Jalan Daendels. Jakarta: Buku Republika
Rocher, Jean. (2011). Perang Napoleon Di Jawa 1811: Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Gresik

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Gresik:

Gedung DPRD Kab. Gresik
Gedung ini terletak di Jalan Wachid Hasyim No. 5 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Kantor Pos Gresik Pelabuhan
Kantor pos ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 23 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Klenteng Kim Hin Kiong
Klenteng Kim Hin Kiong terletak di Jalan Dr. Setia Budi Gang Klenteng No. 56 Kelurahan Pulo Pancikan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Museum Sunan Giri terletak di Jl. Pahlawan No. 24 Kelurahan Tlogo Bendung, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
Share:

Klenteng Kim Hin Kiong

Pesona kawasan kota tua di Gresik memang mengasyikan. Deretan bangunan kuno dengan nuansa dan arsitektur Arab, Tionghoa dan era kolonial Belanda membuat keingintahuan kita timbul. Salah satunya adalah Klenteng Kim Hin Kiong.
Klenteng Kim Hin Kiong terletak di Jalan Dr. Setia Budi Gang Klenteng No. 56 Kelurahan Pulo Pancikan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini cukup tersembunyi di sebuah gang di tengah kawasan perkampungan pecinan, yang sekarang mulai berbaur dengan perkampungan Arab, dan tidak begitu jauh dengan alun-alun Kota Gresik.
Klenteng ini merupakan klenteng tertua di Jawa Timur, yang sudah ada pada zaman Majapahit. Usianya diperkirakan mencapai 374 tahun. Konon, klenteng ini dibangun oleh orang-orang Tiongkok yang merantau, dan kemudian menetap  di Gresik. Para perantau yang akhirnya menetap untuk berdagang itu mendatangkan tukang insinyur langsung dari Guandong, Tiongkok. Kala itu, Kota Gresik merupakan kota pelabuhan tempat merapat bagi kapal-kapal besar seluruh penjuru dunia untuk memperdagangkan barang dari negaranya, seperti kain sutra, karpet, komoditas pertanian dan lain-lain.


Klenteng Kim Hin Kiong tidaklah begitu besar, akan tetapi arsitekturnya yang khas didominasi oleh warna merah dan kuning. Di bagian depan terdapat gerbang yang kecil dan tidak begitu tinggi yang bertuliskan Tempat Ibadat Tri Dharma Gresik Kim Hin Kiong, serta di sebelah kiri dan kanannya terdapat pagoda. Selain itu, juga ada dua patung singa (cok say).
Di ruang utama, terdapat altar untuk memuja Thian San Seng Boo yang berwujud arca yang di sekelilingnya diberi ornamen dan perlengkapan sembahyang dengan aroma asap dupa. Aneka lampion turut serta menghiasi bagian atas. Sedangkan, di bagian depan sisi tengahnya ada hiolo yang lumayan besar berwarna keemasan. Di samping kiri kanan hiolo terdapat ornamen kepala naga yang ditopang oleh empat kaki hiolo.
Di bagian kanan dari pintu gerbang, sebelum memasuki ruang utama, juga terdapat altar pemujaan. Sedangkan di sebelah kiri dari bangunan utama klenteng, terdapat halaman yang diperuntukkan parkir yang dilengkapi dengan sarana untuk menampilkan wayang po te hi.
Meski klenteng ini telah berusia tua, namun bila dibandingkan dengan bangunan cagar budaya lainnya yang ada di Kota Gresik, klenteng ini masih cukup terawat, Hanya saja, selama penulis berkunjung ke klenteng ini tampak sepi dari penganut Tri Dharma yang melakukan sembahyang di klenteng ini. *** [250414]
Share:

Museum Sunan Giri

Museum Sunan Giri terletak di Jl. Pahlawan No. 24 Kelurahan Tlogo Bendung, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, atau tepat berada di depan Taman Makam Pahlawan Kabupaten Gresik.
Meski terletak di lokasi yang strategis, namun bagi orang luar Gresik akan kesulitan untuk menemukan museum ini. Hal ini dikarenakan bangunan museum yang berukuran kecil dan berada di sudut pelataran parkir kawasan wisata religi Maulana Malik Ibrahim.


Museum ini dinamakan Museum Sunan Giri, tidak lain adalah untuk mengenang seorang tokoh ulama kharismatik modernis untuk ukuran saat ini, yang mampu membawa Gresik sebagai kerajaan Islam, kota bandar dagang, pusat budaya pesisir dan pusat pendidikan Islam melalui pesantren. Sunan Giri mengandung pengertian yang tersembunyi. Sunan berasal dari kata “Susuhunan” artinya yang dijunjung tinggi, atau “Suhun” artinya dijunjung di atas kepala. Sedangkan Giri merupakan tempat dimana beliau menjadikannya sebagai pusat kegiatan baik agama, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Giri sebagai pusat pemerintahan di Gresik pada saat itu, ternyata disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, bahkan internasional sepanjang masa kewalian (1487-1605 M), yaitu dari Jaka Samudara atau Raden Paku atau Sunan Giri atau Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin sampai Sunan Prapen.


Museum Sunan Giri Kabupaten Gresik diresmikan pada 17 Maret 2003 bersamaan dengan Hari Jadi Kota Gresik oleh Bupati Gresik Drs. K.H. Robbach Ma’sum, MM. Museum ini didirikan dengan dilatarbelakangi oleh besarnya tinggalan arkeologi dan sejarah yang ada di Kabupaten Gresik yang berada di alam maupun masyarakat, karena kala itu tidak ada pusat informasi dan edukasi tentang sejarah purbakala Kabupaten Gresik yang dapat memberikan informasi dan melindungi data sejarah purbakala yang dimiliki Kabupaten Gresik.
Hingga saat ini Museum Sunan Giri terus berbenah dan memperkaya koleksi yang baru berjumlah 50-an dari periode Klasik, perkembangan awal Agama Islam dan kolonial.
Beberapa koleksi Museum Sunan Giri yang dipamerkan di 2 ruang pameran tetap yang dimilikinya, meliputi:

Kaligrafi
Kaligrafi ini terbuat dari bahan kayu jati dengan ukuran panjang 57 cm, lebar 31 cm dan tebal 3 cm. Kaligrafi ini diberi nomor inventaris 04.030.
Kaligrafi berhuruf Arab Jawi dan berbahasa Jawa ini merupakan koleksi Museum Sunan Giri yang diperoleh dari Kompleks Makam Sunan Giri. Kaligrafi adalah salah satu seni dalam Islam yang banyak dikembangkan sejak zaman dahulu. Fungsinya bukan sekadar sebagai ornamen atau hiasan belaka, tapi juga sebagai sarana berdzikir kepada Allah SWT. Tentunya juga semakin memantapkan hati untuk berislam karena kaligrafi tidak ditemukan pada budaya lain.
Kaligrafi di Indonesia selalu berkonotasi dengan Arab atau lebih sempit lagi Islam, namun kaligrafi koleksi Museum Sunan Giri ini berisi peringatan meninggalnya seorang tokoh pembesar di Gresik bernama Panji Arun Kusumawardhana yang meninggal pada tahun 1875 M. Siapa sebenarnya tokoh tersebut, belum diketahui secara pasti. Tampaknya beliau adalah salah seorang tokoh yang sangat terpandang di Gresik pada pertengahan kedua abad 19.

Keris Kyai Kalamunyeng (Replika)
Keris ini terbuat dari bahan besi tempa dan tembaga. Keris ini memiliki ukuran panjang mata keris 36 cm, panjang gagang 11 cm, dan panjang sarung 38,5 cm serta luk 13. Keris ini diberi nomor inventaris 04.038.
Menurut sumber sejarah tradisional, baik tradisi lisan maupun tradisi tulis, keris ini merupakan peninggalan dari Sunan Giri sekaligus merupakan senjata pusaka milik beliau. Keris tersebut diyakini bukan terbuat dari besi tempa, baja, dan bahan pendukung lainnya, tetapi merupakan keris mistik atau penjelmaan dari kalam penuding yang biasa digunakan untuk mengaji Al-Qur’an milik Sunan Giri.
Bagaimana keris itu bila ditinjau dari segi berita tradisional sangat sulit untuk dinalar dan diuraikan, sebagaimana asal usul berbagai pusaka yang dimiliki oleh para pembesar yang dianggap sakti mandraguna pada umumnya. Keris Kyai Kalamunyeng sebagai benda pusaka memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Islam di Gresik maupun Nusantara, bahkan Belanda sejak berkuasa di Gresik sangat takut dan terbebani atas keberadaan keris itu.
Berdasarkan sumber-sumber Belanda yang ada, disebutkan bahwa keris yang sejak meninggalnya Sunan Giri tersimpan di makam beliau merupakan sumber inspirasi bagi para peziarah untuk melakukan resistensi (perlawanan) terhadap kaum kafir Belanda.

Umpak
Umpak ini tebuat dari kayu jati dengan ukuran lebar saf 1 58 cm, lebar saf 2 48 cm, lebar saf 3 38 cm, dan tebal 18 cm. Umpak ini diberi nomor inventaris 04.008.
Umpak ini dulu digunakan di Kompleks Makam Sunan Giri. Terdiri dari delapan sudut, bagian tengah terdapat lubang persegi empat tempat menancapkan tiang bangunan.
Umpak ini dihiasi motif karang, merupakan salah satu cirri peninggalan Islam. Hal ini mungkin bisa dihubungkan dengan masuknya kebudayaan Islam di Indonesia melalui perdagangan laut. Selai itu, Gresik merupakan kota pantai di mana banyak ditemukan karang, yang akhirnya menginspirasi seniman untuk menuangkan ide itu dalam karyanya.

Bedug
Bedug ini terbuat dari sepotong bata kayu besar, ditutup dengan kulit lembu yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bedug ini memiliki ukuran panjang 100 cm serta memiliki diameter 67 cm. Bedug ini diberi nomor inventaris 04.009.
Bila dipukul, bedug ini menimbulkan suara berat, bernada rendah, tetapi terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Sampai sekarang, bedug masih berfungsi seperti semula di masjid-masjid, sedangkan di mushala, fungsi bedug biasanya digantikan dengan kentongan. Kegunaan bedug sama dengan lonceng gereja.
Bedug ini diperoleh dari Masjid Desa Pasucinan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Pasucinan adalah desa di mana Maulana Malik Ibrahim pertama kali berdakwah di tanah Gresik. Bedug ini diyakini sebagai peninggalan Maulana Malik Ibrahim yang hidup di Gresik pada akhir abad 14 sampai awal abad 15 M. Beliau meninggal pada tahun 1419 M dan dimakamkan di Desa Gapuro Gresik.

Guci
Guci ini berbahan dari kaolin, memiliki warna coklat keabuan, dan mulutnya kecil. Dari pertengahan badan ke atas berhiasan garis-garis yang melingkari bagian tubuhnya dan garis vertikal sampai batas mulut.
Guci sejenis ini biasanya digunakan di kapal sebagai wadah air atau garam . Guci ini diperkirakan berasal dari abad ke 17 M, dan menjadi koleksi museum ini dengan diberi nomor inventaris 04.016.

Pelana Kuda
Pelana kuda koleksi Museum Sunan Giri merupakan peninggalan para santri Sunan Giri yang terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 52 cm, lebar 36 cm, dan tebal 1,5 cm.
Pelana ini disimpan dan diberi nomor inventaris 04.027.

Piring Keramik
Piring ini terbuat dari porselin dengan ukuran diameter atas 21,5 cm, diameter bawah 12 cm, dan tebal 0,4 cm.
Piring ini diperkirakan berasal dari Eropa abad ke 19 M, berwarna biru dan bergambar pemandangan. Piring ini disimpan dengan nomor inventaris 04.028.
Sedangkan piring keramik oval, terbuat dari kaolin dengan motif dibawah glasir. Piring ini berwarna biru dan bergambar pemandangan. Piring ini diperkirakan berasal dari Eropa abad ke-18 M, dan digunakan sebagai alat makan untuk kalangan tertentu.

Kitab Khotbah Jumat
Naskah ini terdiri dari 11 jilid berdasarkan jumlah bulan hijriyah dalam satu tahun, kecuali bulan Dzulhijah. Naskah kitab berasal dari bahan kertas jenis Lion in medallion.
Berdasarkan watermark dalam kertas dapat diketahui adanya medallion bermahkota di tengah-tengah, singa berdiri menghadap ke samping, tengah melangkah, membawa pedang dan seberkas anak panah. Di sekeliling medallion terdapat tulisan: Een Dragt Maakt Magt. Kertas ini biasa dipakai pada abad ke 17 dan 18 M.
Naskah ini ditulis tangan dengan huruf Arab, dan tanpa keterangan nama penulisnya. Dalam tulisannya, menggunakan tinta Cina berwarna hitam dan merah. Paginasi tidak dicantumkan pada setiap halamannya. Setiap halaman rata-rata memuat 11 baris tulisan yang lengkap dengan tanda baca, kecuali keterangan bahwa kitab khotbah tersebut untuk Jumat tertentu pada setiap bulannya yang tidak menggunakan tanda baca.
Setiap kitab terdiri dari lima teks khotbah untuk setiap Jumat. Setiap teks khotbah diawali dengan tulisan “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,” dilanjutkan dengan pembukaan, batang tubuh, doa penutup untuk khotbah pertama. Tidak satupun naskah khotbah itu terdapat teks untuk khotbah kedua dalam satu rangkaian khotbah Jumat.
Kitab ini memiliki ukuran panjang 20 cm, lebar 16,5 cm, dan tebal 0,5 cm serta disimpan dengan nomor inventaris 04.004.

Al Qur’an Tulisan Tangan
Al Qur’an tulisan tangan ini tertulis secara lengkap terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 ayat. Al Qur’an ini merupakan barang titipan dari Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri.
Al Qur’an ini berusia ratusan tahun. Kertas dan tinta yang dipakai biasa digunakan pada abad ke 17 hingga 19 M. Adanya Al Qur’an tulisan tangan ini, menandakan kesungguhan dakwah Islam oleh ulama tempo dulu.
Al Qur’an tulisan tangan ini memiliki ukuran panjang 33,5 cm, lebar 21 cm, dan tebal 6 cm. Disimpan di museum ini dengan nomor inventaris 04.013.

Lumpang Batu
Lumpang adalah perkakas dari batu yang berlekuk di bagian tengah. Benda ini dibuat dari batu monolit, kemungkinan berasal dari Giri Kedaton sekitar abad ke 15 M.
Lumpang selalu dilengkapi dengan alu yang digunakan untuk menumbuk padi atau biji-bijian. Lumpang ini disimpan dengan nomor inventaris 04.052.

Lampu Gantung
Lampu gantung biasa digunakan oleh masyarakat kelas atas atau bangsawan pada zaman kolonial Belanda. Lampu jenis ini menggunakan bahan bakar gas. Lampu gas ini tidak memiliki sumbu, karena gas mengalir melalui katub kecil kemudian terbakar setelah bercampur dengan udara.
Lampu ini juga bisa dinyalakan dengan menggunakan bahan bakar dari ampas kelapa. Sebagian masyarakat meyakini bahwa ampas kelapa bekas pembakaran pada lampu jenis ini bisa digunakan sebagai obat luka dan sakit kulit.
Lampu gantung ini berasal dari Kompleks Makam Sunan Giri. Lampu ini pada zaman dahulu biasa digunakan sebagai alat penerangan di Kompleks Sunan Giri, dan kini disimpan dengan nomor inventaris 04.019.
Selain itu, masih ada juga peninggalan bersejarah dengan aneka foto klasik Kota Gresik dan sekitarnya. *** [150613]

Share:

Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri

Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri terletak di Jl. Sunan Giri XVIII No. 2 Kelurahan Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, atau ± 20 Km dari Kota Surabaya.
Pada awalnya, masjid ini berdiri dengan ukuran 150 m² namun kini  luas bangunannya 1.750 m² di atas lahas seluas 3.000 m². Di dalam kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang berbentuk paduraksa.
Kehadiran masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Ainul Yaqin alias Raden Paku, salah seorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Ia mendapat gelar Sunan Giri karena menempatkan lokasi masjid dan pesantrennya di sebuah daerah perbukitan yang cukup tinggi yang dalam bahasa Jawa disebut Giri yang berarti gunung.


Untuk mencapai lokasi masjid itu kita harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter.  Cukup melelahkan.  Tetapi, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek.
Memasuki lokasi masjid, kita dihadang oleh sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid. Sedangkan, makam utama tempat Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Kalau mau dihitung barangkali ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak digunakan pula untuk membuat candi atau arca di zaman kejayaan Hindu dan Budha.
Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri yang kita saksikan hari ini memang bukan masjid asli yang dibangun oleh Sunan Giri. Masjid yang dibangun aslinya terbuat dari kayu. Sedangkan, kita saksikan hari ini sudah terbuat dari tembok beton permanen. Tetapi, bentuk arsitekturnya mendekati bentuk masjid lama (aslinya) yang didirikan oleh Sunan Giri pada tahun 1544 Masehi. Karena perkembangan zaman dan kondisi masjid yang semakin lapuk maka pada tahun 1857, ketika masjid ini berusia sekitar 313 tahun, dilakukan renovasi atau perbaikan yang pertama. Untuk selanjutnya tidak tercatat sudah berapa kali dilakukan renovasi. Yang paling akhir adalah renovasi yang dilakukan pada tahun 1982. Peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982.

Monumen Sejarah
Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun memiliki bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan. Bentuk kubah seperti ini mengingatkan kita pada kubah Masjid Demak sebagai masjid pertama yang dibangun oleh para wali di Tanah Jawa. Tidak heran, karena memang ada hubungan antara Demak dan Sunan Giri.
Sebagai peninggalan sejarah, masjid ini oleh pemerintah Hindia Belanda didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada tahun 1931. Sekarang berada di bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Meskipun peninggalan sejarah, tetapi sebagai rumah ibadah, masjid ini tetap ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima waktu) maupun shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, dan Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.
Pada saat ini, pesantren yang pernah dibangun Sunan Giri memang sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya diselenggarakan kegiatan-kegiatan pengajian dalam wadah majelis taklim, seperti majelis taklim kaum ibu/bapak, termasuk pengajian untuk anak-anak dan remaja. *** [150613]

Referensi:
  • Abdul Baqir Zein, 1999, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press
  • _____________, 2008, Direktori Masjid Bersejarah, Jakarta: Departemen Agama RI
Share:

Prasasti Waharu IV

Prasasti Waharu IV berangka tahun 853 Çaka atau 931 M yang terdiri dari enam lempeng tembaga berukuran 36 cm x 10 cm. Setiap lempeng memuat 7 baris tulisan yang ditulis pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama.
Prasasti yang ditemukan di daerah Gresik, Jawa Timur, merupakan prasasti dari Raja Pu Sindok yang disalin kembali pada masa Majapahit. Kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan nomor E 20 a-f. Prasasti ini telah dialihaksarakan oleh A.B. Cohen Stuart (1875) dalam KO, prasasti nomor 7; serta Boechari dan A.S. Wibowo (1985/1986) dalam Prasasti Koleksi Museum Nasional.
Prasasti ini menyebutkan “sambandha. gati wargga /II.a.1/ haji an nityasa suṣṭu bhakti mamrihakên ri ri mahārāja riŋ samarakāyya makacihna saňjata wargga haji /2/ sarā dhirotsahā saňukasuranya maka rahineng wňi saha doja. tabêtabêhan umiring bala pāduka ri mahā /3/ rāja aňrarah umilaňakên sakahananing atru kaňkên andhakārāwaarira”, yang artinya penduduk Desa Waharu telah mendapat anugerah raja, karena penduduk Desa Waharu di bawah pimpinan Buyut Manggali senantiasa berbakti kepada raja, ikut berusaha agar raja menang dalam peperangan dan mengerahkan senjata, tanpa ingat siang ataupun malam dalam mengikuti bala tentara raja sambil membawa panji-panji dan segala macam bunyi-bunyian, pada waktu raja hendak membinasakan musuh-musuhnya yang dianggap sebagai perwujudan kegelapan.
Wanua I waharu atau Desa Waharu diperkirakan adalah Lowok Waru yang terletak di wilayah Kecamatan Lowok Waru, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Secara toponimi, perubahan nama dari waharu atau waru menjadi Lowok Waru kiranya merupakan suatu gejala yang sudah lazim.
Selain itu, prasasti Waharu IV juga memuat hukuman berupa kutukan. Kutukan, menurut prasasti ini adalah “yan apara paran umaliwat ing tgal sahutên dening ulâ mandhi, ring alas dmakên dening wyâghra … ring wwai sahutên dening wuhaya …” (jika pergi melewati tegalan agar dipatuk oleh ular berbisa, jika pergi ke hutan supaya ditubruk macan … jika pergi ke sungai supaya dimakan buaya …). Malahan ditambahkan “yan hudan sâmbêrên dening glap yan angher ing umah katibana bjrâgni glap tanpa hudan liputên gêsêngana de sang hyang agni …” (jika sedang turun hujan supaya disambar petir, jika sedang di rumah supaya kejatuhan halilintar dan petir tanpa hujan supaya terbakar oleh api). ***

Kepustakaan:
Marwati Doened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008, Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno, Jakarta: Balai Pustaka
Timbul Haryono, 1999, Sang Hyang Watu Têas dan Sang Hyang Kulumpang: Perlengkapan Ritual Upacara Penetapan Sîma pada Masa Kerajaan Mataram Kuna, dalam Humaniora No. 12 September-Desember 1999
Titi Surti Nastiti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami