Selasa, 29 Mei 2012

Prasasti Waharu IV

Prasasti Waharu IV berangka tahun 853 Çaka atau 931 M yang terdiri dari enam lempeng tembaga berukuran 36 cm x 10 cm. Setiap lempeng memuat 7 baris tulisan yang ditulis pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama.
Prasasti yang ditemukan di daerah Gresik, Jawa Timur, merupakan prasasti dari Raja Pu Sindok yang disalin kembali pada masa Majapahit. Kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan nomor E 20 a-f. Prasasti ini telah dialihaksarakan oleh A.B. Cohen Stuart (1875) dalam KO, prasasti nomor 7; serta Boechari dan A.S. Wibowo (1985/1986) dalam Prasasti Koleksi Museum Nasional.
Prasasti ini menyebutkan “sambandha. gati wargga /II.a.1/ haji an nityasa suṣṭu bhakti mamrihakên ri ri mahārāja riŋ samarakāyya makacihna saňjata wargga haji /2/ sarā dhirotsahā saňukasuranya maka rahineng wňi saha doja. tabêtabêhan umiring bala pāduka ri mahā /3/ rāja aňrarah umilaňakên sakahananing atru kaňkên andhakārāwaarira”, yang artinya penduduk Desa Waharu telah mendapat anugerah raja, karena penduduk Desa Waharu di bawah pimpinan Buyut Manggali senantiasa berbakti kepada raja, ikut berusaha agar raja menang dalam peperangan dan mengerahkan senjata, tanpa ingat siang ataupun malam dalam mengikuti bala tentara raja sambil membawa panji-panji dan segala macam bunyi-bunyian, pada waktu raja hendak membinasakan musuh-musuhnya yang dianggap sebagai perwujudan kegelapan.
Wanua I waharu atau Desa Waharu diperkirakan adalah Lowok Waru yang terletak di wilayah Kecamatan Lowok Waru, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Secara toponimi, perubahan nama dari waharu atau waru menjadi Lowok Waru kiranya merupakan suatu gejala yang sudah lazim.
Selain itu, prasasti Waharu IV juga memuat hukuman berupa kutukan. Kutukan, menurut prasasti ini adalah “yan apara paran umaliwat ing tgal sahutên dening ulâ mandhi, ring alas dmakên dening wyâghra … ring wwai sahutên dening wuhaya …” (jika pergi melewati tegalan agar dipatuk oleh ular berbisa, jika pergi ke hutan supaya ditubruk macan … jika pergi ke sungai supaya dimakan buaya …). Malahan ditambahkan “yan hudan sâmbêrên dening glap yan angher ing umah katibana bjrâgni glap tanpa hudan liputên gêsêngana de sang hyang agni …” (jika sedang turun hujan supaya disambar petir, jika sedang di rumah supaya kejatuhan halilintar dan petir tanpa hujan supaya terbakar oleh api). ***

Kepustakaan:
Marwati Doened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008, Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno, Jakarta: Balai Pustaka
Timbul Haryono, 1999, Sang Hyang Watu Têas dan Sang Hyang Kulumpang: Perlengkapan Ritual Upacara Penetapan Sîma pada Masa Kerajaan Mataram Kuna, dalam Humaniora No. 12 September-Desember 1999
Titi Surti Nastiti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya

0 komentar:

Posting Komentar