The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Jakarta. Tampilkan semua postingan

Gedung Kimia Farma Jakarta

Menyusuri Jalan Budi Utomo memang seperti melakukan perjalanan tempo doeloe. Kawasan tersebut, dulunya dikenal dengan Weltevreden. Weltevreden didirikan, sebagai perluasan Batavia pada waktu. Sehingga, di kawasan Weltevreden ini juga meninggalkan jejak berupa bangunan kuno peninggalan Hindia Belanda yang berada di kawasan ini. Salah satunya adalah Gedung Kimia Farma.
Gedung ini terletak di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah kanan gedung Kementerian Keuangan, atau sebelah barat SMK 1 Jakarta.
Dulu, Jalan Budi Utomo dikenal dengan nama Jalan Freemasonry, atau yang dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselaarweg. Dinamakan Jalan Freemasonry, karena di sepanjang jalan tersebut ada Loji Freemasonry pertama di Asia yang dibangun di Batavia (kini Jakarta). Loji tersebut dinamakan Loji La Choisie atau Loji “Kaum yang Terpilih”.
Gedung ini dibangun pada tahun 1761 oleh Petrus Albertus van der Parra atas prakarsa Jacob Cornelis Matthieu (JCM) Radermacher yang pada waktu masih berusia 20 tahun. Orang ini sangat berperan penting dalam gerakan persaudaraan Freemasonry di Batavia dan juga Asia.


Setelah jadi, gedung tersebut digunakan sebagai pusat gerakan Freemansory, atau tempat perkumpulan kaum theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur. Makanya di sejumlah literatur berbahasa Belanda, gedung tersebut kerap ditulis dengan nama Logegebouw De Ster in het Oosten (Bangunan Loji Bintang Timur). Perkumpulan tersebut merupakan underbow zionisme sejak abad ke-18 di Hindia Belanda. Dahulu, di sebelah loji ini terdapat perumahan para perwira dan petinggi Hindia Belanda.
Di dalam bangunan loji tersebut, para anggotanya sering melakukan aktivitas ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita pikiran tertinggi manusia. Bahkan, beberapa aktivitasnya di dalam loji adalah memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Karena itu, gedung tersebut sering disebut oleh masyarakat Betawi sebagai rumah atau gedung setan, karena memang di tempat itu mereka dulu menyembah roh-roh dan setan.
Gedung tersebut kemudian dirombak pada tahun 1848 menjadi megah seperti sekarang ini. Teras depan dengan deretan kolom gaya Doric menjadikan gedung tersebut memiliki ciri khas arsitektur gaya Indische Empire. Gaya arsitektur seperti ini berkembang di Hindia Belanda, pada awalnya mencoba meniru arsitektur Eropa pada pertengahan abad ke-18  dengan datangnya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daendels adalah bekas perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis. Pada waktu itu, di Perancis timbul aliran arsitektur Neoklasik.
Dandels mengubah beberapa bangunan yang sudah berdiri maupun yang akan dibangun di Hindia Belanda pada waktu itu, dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.
Seiring dengan perjalanan sejarah, gedung tempat Loji La Choisie ini pada tahun 1917 dipakai sebagai kantor N.V. Chemicalien Handle Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, di tahun 1958 pemerintah RI melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma. Selanjutnya pada 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah jadi Perseroan Terbatas menjadi PT. Kimia Farma (Persero). Perubahan inilah yang menyebabkan gedung loji tersebut menjadi Gedung Kimia Farma seperti sekarang ini. *** [071212]

Kepustakaan:
Handinoto, 1994. “Indische Empire Style”: Gaya Arsitektur “Tempo Doeloe” yang Sekarang Sudah Mulai Punah, dalam DIMENSI 20/Ars Desember 1994
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/batavia-loji-mason-pertama-di-asia.htm
http://m.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/04/26/m32p4w-jaringan-zionis-di-rumah-setan
Share:

Gedung Pertamina Perwira

Sehabis shalat Dhuhur di Masjid Istiqal, penulis mencoba menyusuri Jalan Perwira menuju Jalan Medan Merdeka Timur. Di situ terlihat bangunan lawas bermenara dengan dominasi warna putih. Bangunan lawas tersebut jelas mudah dikenali karena di atas menaranya terpasang logo dan tulisan Pertamina. Bangunan tersebut adalah Gedung Pertamina.
Gedung ini terletak di Jalan Perwira No. 2-4 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di barat daya Masjid Istiqlal.
Menurut catatan sejarah yang ada, pada tahun 1907 Shell dan KoninklijkeNederlandsche Petroleum Maatschappij membentuk perusahaan patungan yang diberi nama N.V. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) atau Perusahaan Perminyakan Batavia, setelah kedua perusahaan minyak tersebut terlibat persaingat sengit dalam mendapatkan konsensi ladang minyak di Hindia Belanda.


BPM merupakan perusahaan pengolahan perminyakan yang memiliki modal 80 juta gulden termasuk kilang dan pabrik penyulingan. Kemudian BPM berhasil menguasai seluruh produksi dan ekspor perminyakan di Hindia Belanda yang mengukuhkan monopolinya pada tahun 1911 dengan mengambil alih Dordtsche Petroleum. BPM adalah satu-satunya perusahaan perminyakan yang beroperasi di Hindia Belanda yang memiliki 44 konsensi, yaitu 19 di Sumatera, 18 di Jawa, dan 7 di Kalimantan. Keseluruhan produksinya pada tahun 1911 adalah 1.700.000 metrik ton yang terdiri atas 22% produksi Sumatera Utara, 10% dari Jawa Timur, dan 34% asal Kalimantan dan Pulau Tarakan sebesar 4%. Pada masa itu jumlah tersebut adalah 3,7% dari produksi perminyakan dunia. Shell-Koninklijke menjadi penghasil perminyakan tunggal di Hindia Belanda di masa-masa sebelum Perang Dunia I.
Kondisi yang baik ini mendorong BPM untuk mendirikan kantor pusatnya di Hindia Belanda yang berlokasi di Batavia pada tahun 1938. Kantor pusat BPM atau Hoofdgebouw van de Bataafsche Petroleum Maatschappij di Batavia dibangun megah dengan menaranya yang khas berbentuk kubus. Di puncak menaranya terdapat tulisan BPM di empat bidang pada kubus tersebut.
Pada tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan BPM-Shell Indonesia oleh PN Permina (Perusahaan Tambang Minyak Negara) dengan nilai US$110 juta. Lalu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1968 tertanggal 20 Agustus 1968 PN Pertamina dan PN Pertamin dimerger menjadi satu perusahaan bernama PN Pertamina. Sejak 17 September 2003, namanya berubah menjadi PT. Pertamina (Persero) sampai sekarang, dan secara otomatis gedung yang digunakan oleh BPM di Batavia tersebut berubah menjadi milik Pertamina. Puncak kubus dari gedung tersebut pun, logo BPM sekarang menjadi logo Pertamina. *** [071212]

Kepustakaan:
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008. Sejarah Nasional Indonesia V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Jakarta: Balai Pustaka
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Perminyakan_di_Indonesia
Share:

Gedung Galangan Kapal VOC

Bangunan ini terlihat saat penulis sedang menikmati pemandangan Sunda Kelapa dari loteng Menara Syahbandar Sunda Kelapa. Sambil menoleh setiap arah mata angin, terlintas bangunan dengan logo VOC yang cukup besar sehingga terlihat dari menara tersebut, dan bangunan tersebut mengundang keingintahuan penulis untuk mendekatinya dan sekaligus mengetahui kisahnya. Bangunan tersebut ternyata adalah Gedung Galangan Kapal VOC.
Gedung ini terletak di Jalan Kakap No. 1-3 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di barat daya Menara Syahbandar Sunda Kelapa atau selatan Museum Bahari.


Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam bukunya, Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2000 menulis, bangunan galangan kapal tersebut dibangun pada tahun 1628 sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan dagang Hindia Belanda, yang dikenal dengan sebutan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Bangunan lawas ini, dulunya dijadikan gudang barang keperluan galangan kapal di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Lama-lama, gudang ini dijadikan tempat menyimpan dan memperbaiki kapal-kapal besar yang akan berlayar ke perairan terbuka selama berbulan-bulan. Selain kapal besar, galangan kapal ini terdapat pula kapal-kapal kecil yang dibuat di sini.
Pada tahun 1721, galangan kapal ini pernah mengalami kebakaran. Sebelum terbakar, lantai dua dari bangunan ini bentuknya rata tanpa selasar. Namun, setelah dibangun kembali bangunan yang memanjang ditambahi selasar di lantai duanya serta jendela-jendela segitiga di atapnya. Sehingga, bila dirunut dari tahun dibangun galangan kapal ini, usia galangan kapal yang dibangun di atas tanakh urukan ini lebih tua dari bangunan Museum Bahari. Lokasi Museum Bahari dulu masih berupa rawa-rawa atau empang.


Tidak seperti di Surabaya, bangunan galangan kapal Marina yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939 bisa dinasionalisasi dan menjadi cikal bakal PT. PAL, tapi untuk galangan kapal VOC di Jakarta entah kenapa bangunan bersejarah ini pada akhirnya bisa di tangan perseorangan dalam kepemilikannya. Pernah dipegang pemiliknya yang bermarga Panggabean dan bangunan tersebut dijadikan gudang untuk menyimpan drum-drum bahan kimia. Lalu, sekarang beralih ke Susilowati Then (KOMPAS, 11 Februari 2015) dan dijadikan Cafe Resto Galangan VOC.
Usaha bisnis yang dilakukan Susilowati ini masih lumayan jika dibandingkan dengan bisnis sebelumnya menyangkut masalah heritage, karena masih mempertahankan bentuk aslinya dan mau merawat bangunan tersebut. Bagaimanapun juga, lokasi galangan kapal VOC ini tidak bisa dipisahkan dengan sejumlah bangunan serta lokasi heritage yang ada di sekitarnya, seperti Menara Syahbandar, Pasar Ikan Heksagon, Museum Bahari maupun Pelabuhan Sunda Kelapa. *** [210612]

Share:

Gedung 1927

Gedung megah yang bercat putih di tepi Kali Besar sebelah barat terlihat unik di samping dominan di antara gedung yang lainnya. Bangunan tersebut menghadap ke timur, dan di atasnya tertulis angka 1927. Sehingga, gedung tersebut kerap kali dinamakan Gedung 1927 oleh masyarakat setempat.
Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 22 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara Toko Merah, atau bersebelahan dengan Law Firm H. Djohan Djauhary.


Huib Akihary dalam bukunya, Architectuur & Stedebouw in Indonesie 1870/1970 (De Walburg Pers, Zutphen, 1990) menyebutkan, gedung 1927 ini pada masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Het gebouw van het dagblad Nieuws van den Dag. Gedung ini didesain ulang oleh biro konstruksi Associate Selle & de Bruyn Reyerse & de Vries dan dikerjakan dari tahun 1925 dan selesai pada tahun 1927. Oleh karena itu, pada fasad depan bagian atas tertulis angka 1927. Hal ini sebagai penanda bahwa bangunan tersebut berdiri pada tahun tersebut.
Gedung yang memiliki langgam Art Deco ini, mempunyai fasad yang melebar dengan jendela-jendela vertikal pada lantai satunya. Lantai duanya cenderung diperbanyak rooster untuk sirkulasi angin yang banyak pada tepi bawah dan tepi atas pada lantai tersebut, sedangkan bagian tengahnya relatif tertutup. Hal ini untuk meredam masuknya sinar matahari secara sporadis karena gedung tersebut menghadap ke timur atau arah matahari terbit.
Sekarang bangunan gedung ini sudah tidak digunakan untuk aktivitas “Berita Harian” tapi sempat dipakai untuk Athena Executive Club atau Athena Discotheque. Ketika penulis melihat bangunan ini, gedung ini digunakan untuk Old City Karaoke. *** [210612]
Share:

Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah

Deretan bangunan kuno yang berada di sebelah utara Taman Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, mengundang pesona bagi mata yang memandangnya. Banyak wisatawan, baik dari mancanegara maupun nusantara, yang berkeliling ke bangunan tersebut untuk sekadar melihat kemegahan gedung-gedung yang ada maupun untuk menelisik kisah dibalik berdirinya bangunan kuno tersebut. Salah satu bangunan kuno yang menarik perhatian adalah Gedung Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah.
Gedung kantor pos ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 3 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini berada di timur laut Taman Fatahillah, atau berada di sebelah barat laut Museum Seni Rupa dan Keramik.


Bangunan kantor pos ini dirancang oleh Ir. R. Baumgartner, seorang arsitek pada Bouwkundig Bureau yang ada di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum), dan pembangunannya dikerjakan oleh biro konstruksi N.V. Nederlandsche Aanneming Maatschappij (Nedam) pada tahun 1928.
Dari awal didirikan, bangunan ini memang digunakan sebagai kantor pos (post en telegraafkantoor). Layanan pos pada masa Hindia Belanda memang masih memegang peran yang penting dalam hal informasi maupun komunikasi. Oleh karena, gedung kantor pos ini dibangun di depan gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda (Stadhuis) di Batavia agar supaya arus informasi bisa diterima dengan cepat.
Gedung berlanggam Art Deco ini memiliki sirkulasi udara alamiah karena banyak jendela vertikal yang terdapat di gedung tersebut. Selain itu, juga untuk memaksimalkan pencahayaan dari sinar matahari yang menembus ruangan dalam gedung tersebut.
Kantor pos ini mempunyai dua lantai. Lantai 1 masih untuk melayani jasa pos, sedangkan lantai 2 sempat dipakai oleh Dinas Lalu Lintas dan Jalan Raya, tetapi sekarang telah digunakan sebagai ruang seni kontemporer (contemporary art space) bernama Galeria Fatahillah. *** [210612]
Share:

Cafe Batavia

Kawasan kota tua di Jakarta menjadi salah satu tempat wisata favorit di Provinsi DKI Jakarta. Banyak deretan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menghiasi kawasan tersebut, terutama yang mengitari Taman Fatahillah (Stadhuisplein). Di kawasan kota tua ini terdapat Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Kantor Pos Taman Fatahillah, dan Cafe Batavia.
Cafe ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 14 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi cafe ini di sisi utara Museum Wayang atau di sudut barat laut Taman Fatahillah.
Windoro Adi dalam bukunya Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010) menjelaskan bahwa, Cafe Batavia ini merupakan bangunan tua yang dulunya pernah digunakan sebagai salah satu kantor Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1837, tujuh tahun setelah gedung Balai Kota Pemerintahan Hindia Belanda (sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta) di seberangnya didirikan.


Dalam perjalanannya, bangunan Cafe Batavia ini pernah berganti-ganti kepemilikan. Gedung ini pernah dibeli oleh saudagar Arab. Lalu, tahun 1990 Paul Hassan, orang berkebangsaan Perancis yang menjadi teman dekat mantan Menteri Pendidikan Fuad Hassan, membelinya. Paul menjadikan bangunan tersebut sebagai galeri lukisan.
Pada Februari 1991 bangunan ini dibeli oleh Eka Chandra, dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sebuah kafe. Bangunan ini lalu direnovasi seperti bentuk aslinya agar supaya nuansa klasik masih melekat dalam kafe tersebut. Kafe tersebut akhirnya diberi nama Cafe Batavia dan dibuka untuk umum pertama kalinya pada tahun 1993.
Menapaki anak tangga ke lantai dua Cafe Batavia, kita serasa dibawa ke awal abad ke-19. Di kafe itu, mata kita dihadang puluhan foto hasil jepretan masa lalu. Foto-foto itu dipajang di depan tembok berwarna putih pucat. Sebagian cahaya lampu kristal lama yang tak begitu terang jatuh ke permukaan kaca bingkai foto.
Perabotan, vas, bar beserta perangkatnya, lampu-lampu tembok dan plafon yang digantungi kain terawangan warna putih, semuanya seperti ingin membangun kenangan masa kolonial Belanda di Batavia.
Memang ada beberapa set sofa pendek dan lebar yang desainnya sudah lebih modern di beberapa sudut ruang, tetapi tak mengganggu kesan umum karena tenggelam oleh banyak foto masa silam.
Menu yang tersaji dalam kafe ini juga bervariatif, baik Indonesian, Chineese maupun European Food, dengan berbagai istilahnya.
Cafe Batavia ini memang dirancang oleh pemiliknya dengan konsep tempo doeloe yang seakan membawa kita ke zaman Jakarta saat masih bernama Batavia. Menikmati hidangan dengan nuansa klasik, sangat digemari oleh wisatawan asing yang berkunjung ke kota lama Jakarta ini. *** [210612]

Share:

Gedung KNKT Kementerian Perhubungan

Pada waktu menghadiri pemberian anugerah bagi fotografer terbaik bidang heritage yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional di Galeri Nasional, pulangnya menggunakan bus Trans Jakarta dari Halte Gambir. Ketika sedang menanti bus yang menuju ke arah Kalideres, penulis duduk di halte tersebut. Ternyata di di depan halte tersebut berdiri sebuah bangunan lawas yang terlihat kokoh dan megah.
Sesuai dengan papan nama yang terpasang di gedung tersebut, tertulis KNKT dengan huruf yang lumayan besar. KNKT singkatan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi, sebuah komite keselamatan di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Jadi, bangunan berlantai 3 dengan dominasi warna putih tersebut adalah Gedung KNKT Kementerian Perhubungan.
Gedung KNKT ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 5 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada sebelah timur laut Stasiun Gambir, atau selatan Gedung Pertamina Pusat.
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor) dalam bukunya, Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (PT. Gramedia, Jakarta, 2009) menulis, pada tahun 1916, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek dari firma AIA (Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau) merancang gedung kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Batavia dan mengembangkan arsitektur modern yang diprakarsai P.A.J. Moojen.


Berlokasi di pusat kota Batavia, ciri khas gedung KPM menjadi pusat perhatian pada masa itu. Pengaturan volume, bagian depan yang simetris dan rincian yang halus, hiasan Art Deco dan motif-motif yang digabungkan memberi ciri khas dan gambaran kualitas yang luar biasa. Kemungkinan rancangan arsitekturnya berasal dari Amerika Selatan, meski arsitektur kolonial Inggris di Malaysia juga menghasilkan gaya arsitektur yang sama.
Meski Art Deco dibawa ke Malaysia sekitar satu dasawarsa lebih lambat dari Indonesia, kemiripan antara gedung KPM dan gedung Anglo-Oriental di Kuala Lumpur sangat mencolok. Bagaimanapun, gedung Anglo-Oriental baru dibangun pada tahun 1936.
N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) atau yang dalam bahasa Inggrisnya, Royal Packet Navigation Company, merupakan sebuah perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan hukum di Amsterdam, namun kantor pusat operasinya berada di Batavia semenjak zaman Hindia Belanda. Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antar pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih populer dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, perusahaan ini masih tetap beroperasi hingga dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960 tentang Nasionalisasi Perusahaan N.V. K.P.M. di Indonesia. Dengan pengundangan Peraturan Pemerintah ini, Panitia Penguasa N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij yang dibentuk dengan Surat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 12/PM/KB/19588 tertanggal 4 Maret 1958 dinyatakan bubar dan segala sesuatunya yang bertalian dengan pekerjaan Panitia tersebut dan pelaksanaan peraturan ini ke arah likwidasi perusahaan termaksud diserahkan kepada Menteri Perhubungan Laut.
Kemudian sesuai dengan dinamika dalam Kementerian Perhubungan, gedung tersebut pernah mengalami beberapa pemakaian di bawah kendali Kementerian Perhubungan terutama yang di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Namun, sekarang ini gedung berlantai 3 tersebut digunakan oleh organisasi di bawah Kementerian Perhubungan, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Akan tetapi, karena papan nama yang terpampang lebih dominan KNKT maka bangunan tersebut akhirnya dikenal sebagai Gedung KNKT Kementerian Perhubungan. *** [071212]

Kepustakaan:
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor), 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, Jakarta: Gramedia
https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960
Share:

Gedung Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan

Berkeliling Monas tidak hanya menikmati ruang hijau Kota Jakarta saja, akan tetapi juga bisa menyaksikan sejumlah bangunan lawas yang masih berdiri di sekeliling Monas, di antaranya adalah Gedung Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas).
Gedung ini terletak di Jalan Merdeka Selatan No. 11 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di selatan Lapangan Monas, atau di sebelah barat Gedung Balai Kota DKI Jakarta (Indische Woonhuis).


Gedung Perpusnas ini dibangun pada tahun 1942 dari hasil rancangan J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan Charles van de Linde, dengan gaya arsitektur Indische Empire yang merupakan turunan dari aliran arsitektur Neoklasik. Langgam Indische Empire bisa dilihat dari denahnya yang simetris. Temboknya agak tebal, langit-langitnya tinggi, lantainya dari marmer, di tengah ruangan terdapat “central room” yang besar yang berhubungan langsung dengan beranda depan maupun beranda belakang. Beranda depan dan belakang tersebut terbuka tanpa tembok, yang biasanya sangat luas. Di ujung dari beranda terebut terdapat barisan kolom Yunani (Doric, Ionic, Tuscan, dan sebagainya), berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang ke atas.
Di samping kiri dan kanan “central room” terdapat kamar-kamar tidur. Kadang-kadang central room tersebut berhubungan dengan gallery samping, dapur, kamar mandi, dan fasilitas pendukung lainnya, seperti gudang dan sebagainya merupakan bagian tersendiri di belakang, yang dihubungkan dengan gallery. Di sebelah bangunan utama biasanya juga terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Keseluruhan bangunan biasanya terletak pada sebidang tanah yang cukup luas dengan kebun di depan, samping dan belakang rumah. Di bagian depan biasanya terdapat jalan yang melingkar untuk kendaraan yang di sampingnya di tanami dengan pohon-pohon palm.


Dulu, bangunan gedung yang berdiri di atas lahan seluas 16.000 m² ini dikenal sebagai perpustakaan sejarah politik dan sosial yang didirikan pada tanggal 7 Juni 1952 oleh Stichting voor Culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda, atas prakarsa Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia.
Lalu, terbit instruksi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang pada waktu itu dijabat oleh Daoed Joesoef, pada 17 Mei 1980 bahwa perpustakaan sejarah politik dan sosial digabung (merger) dengan perpustakaan museum nasional, perpustakaan wilayah DKI Jakarta, dan bidang bibliografi dan deposit Pusat Pembinaan Perpustakaan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian perpustakaan ini berada di bawah naungan Sekretaris Nasional RI sejak 6 Maret 1989 yang kelak menjadi cikal bagi bagi berdirinya Perpustakaan Nasional di Indonesia.
Sejak difungsikan menjadi Perpusnas, bangunan central room mengalami perubahan dengan menghilangkan sekat tembok kamar menjadi ruangan yang luas agar bisa digunakan sebagai ruang untuk meletakkan rak-rak buku dan sekaligus ruang bacanya, sehingga terkesan longgar. *** [101212]

Kepustakaan:
databudaya.net/index.php/databudaya/databudayaatribut/cabud/id/1397
https://www.academia.edu/6545554/Sejarah_Perpustakaan_di_Indonesia
Share:

Stasiun Kereta Api Manggarai

Sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki banyak stasiun kereta api. Hal ini lantaran jaringan rel kereta api yang melintas di Kota Jakarta terhubung dengan jaringan yang ada di Pulau Jawa. Salah satu stasiun yang ada di Jakarta adalah Stasiun Kereta Api Manggarai, atau yang biasa disebut dengan Stasiun Manggarai saja.
Stasiun Manggarai terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Terminal Bis Manggarai, dan tidak begitu jauh dengan Pintu Air Manggarai. Letaknya merupakan batas antara Jakarta Pusat dengan Jakarta Selatan dan dengan Jakarta Timur.


Stasiun Manggarai merupakan stasiun besar yang berada di ketinggian +13 m yang pengoperasiannya di bawah wewenang Daerah Operasi (Daop) I Jakarta dengan menggunakan kode stasiun MRI. Stasiun ini memiliki jalur hampir sebanyak Stasiun Jakarta Kota atau yang biasa dikenal dengan nama Stasiun BEOS. Aset yang dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) ini dilabeli dengan nomor register 043/01.12850/MRI/BD.


Menurut sejarahnya, jalur kereta api yang di Kampung Manggarai dibangun oleh perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dari tahun 1870 hingga 1873 untuk menghubungkan antar daerah di Jakarta maupun ke Bogor, dan di jalur tersebut juga didirikan stasiun yang masih sangat sederhana. Akan tetapi, baru pada tahun 1912 di jalur ini dibangun sebuah stasiun yang memakan waktu selama enam tahun, dan diresmikan pada 1 Mei 1918 untuk menggantikan peran Stasiun Meester Cornelis (kini namanya Stasiun Jatinegara) yang semakin padat serta Stasiun Bukit Duri yang terlalu kecil. Pembangunan Stasiun Manggarai yang permanen dalam bentuknya seperti sekarang ini dilakukan oleh perusahaan kereta api negeri, Staats Spoorwegen dengan hasil rancangan dari seorang arsitek Belanda bernama Ir. J. van Gendt. Selain stasiun, van Gendt juga membangun sekolah pendidikan perkeretaapian dan rumah-rumah dinas untuk para pegawai Staats Spoorwegen di sekitar stasiun tersebut.
Stasiun ini pernah digunakan untuk mendukung perjalanan rombongan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta saat hijrah dan memindahkan ibukota negara sementara ke Yogyakarta dengan kereta khusus pada tanggal 3 Januari 1946.
Menilik aspek historisnya, maka bangunan Stasiun Manggarai ini telah ditetapkan sebagai bangunan benda cagar budaya (BCB) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011/M/1999/12 Januari 1999. Oleh karena itu, Stasiun Manggarai harus dijaga, dirawat dan tetap dilestarikan keaslian bentuknya. *** [280514]
Share:

Kunstkring Jadikan Menteng Lebih Bermakna

Berusia 100  tahun tidak membuat Tugu Kunstkring Paleis renta dan kumal. Tua-tua keladi, gedung tua di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat, kini justru teramat cantik dan anggun. Di sini, segala sesuatunya bukan hanya seni, melainkan juga antik, bernilai historis, ekslusif, dan menawan luar biasa.
Selasa (15/4), tiba kesempatan untuk menikmati Kunstkring. Sore itu, hujan baru saja lewat. Segelas besar wedang jahe disajikan dengan gula merah cair. Pilihan tepat untuk mengawali perjalanan wisata sejarah dan lidah.
Kunstkring dibuka pertama kali pada 17 April 1914 dan menjadi pusat ekshibisi seni dan restoran mewah. Berada di sana menjalin tren baru bagi masyarakat kelas atas kala itu.
Tahun 1914 hingga awal 1939, banyak pergelaran untuk menunjukkan penghargaan tertinggi pada seni di Kunstkring, yang dalam bahasa Indonesia berarti lingkaran seni.
Lukisan karya Pablo Picasso dan Vincent van Gogh termasuk yang pernah dipamerkan di gedung dua lantai ini.
Gedung yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu kini disewa dan dikelola Grup Hotel Tugu dan Restoran. Dengan semangat yang sama, grup ini mengembalikan Kunstkring seperti fungsinya dulu.

Menoleh ke belakang
Anhar Setjadibrata, pendiri Grup Hotel Tugu dan Restoran, mengajak berkeliling di gedung yang sempat dijadikan kantor imigrasi. Gedung ini pada 4-5 tahun lalu pernah dijadikan bar kontrovesi. Pernah juga dibiarkan terbengkalai.
Perlahan, setiap pengunjung ditarik merambati waktu menuju masa silam negeri ini. Di tangan Anhar, keaslian gedung tua ini dijaga ketat. Namun, interior di dalam gedung mendadak raya dan bernilai seni tinggi setelah pria ini mengerahkan koleksi warisan keluarga besar Raja Gula Oei Tiong Ham sebagai penghias Kunstkring.
Ruang Pangeran Diponegoro yang menjadi ruang utama restoran mungkin menjadi satu-satunya tempat trah dua kerajaan di Surakarta, Jawa Tengah, yaitu Mangkunegaran dan Pakubuwono, bisa berlama-lama bersama dalam satu ruangan. Saat melangkah masuk, pengunjung akan melewati pintu keemasan dengan lambing MN alias Mangkunegara. Di dinding dalam ada sederet peninggalan PB atau Pakubuwono. Di ruangan yang luas ini, ada lukisan “The Fall of Java” karya Anhar. Lukisan sepanjang 9 meter ini mengisahkan Pangeran Diponegoro dan penangkapannya akibat kelicikan penjajah.
“Ini semua pemberian langsung dari yang bersangkutan kepada keluarga Oei Tiong Ham. Kami punya peninggalan Soekarno yang khusus kami sajikan di Ruang Soekarno. Untuk menghormati Multatuli dan belajar darinya, ada juga ruang khusus dengan namanya,” kata Anhar.
Bagi Anhar, menjadikan Kunstkring seperti dulu butuh perjuangan ekstra. Ia punya pandangan bahwa siapa pun, terlebih masyarakat sebuah bangsa, butuh menengok ke belakang, ke masa lalunya. Banyak hal bisa dipelajari dari setiap benda bernilai seni dan sejarah.
Di Kunstkring, benda seni dijamin memiliki nilai tambah. “Bukan sekadar cantik, tetapi ia pernah dimiliki atau minimal dipegang oleh orang penting. Apa yang ada di sini termasuk benda yang jarang ditemukan di tempat lain,” tambah Anhar.
Namun, demi kemajuan seni budaya di Jakarta, Kunstkring yang berada tepat di jantung kawasan cagar budaya Menteng membuka diri bagi siapa saja yang ingin memamerkan karya seninya. Sebuah aula besar di lantai dua jadi ruang khusus ekshibisi. Anhar berharap, romantisme masa silam saat karya seni dihargai setinggi-tingginya di kota ini akan terulang.

Relaksasi semua indera
Salah satu pintu di lantai dua mengantar tamu masuk ke ruang kecil berisi meja bundar dengan empat kursi. Rasa takjub tiba-tiba menjalar melihat ruang itu tepat di bawah kubah tinggi dengan susunan bata dan balok kayu yang masih kokoh.
Dari ruang berkubah, suasana yang begitu berbeda dirasakan saat berada di The Balcony of Menteng. Sebuah balkon dengan ubin asli berusia satu abad.
Biarkan mata, kulit, telinga, hingga hidung mendapatkan kemewahan. Udara segar dan bersih menyapa dari hamparan rumput hijau tebal. Tajuk pohon-pohon tinggi menjadi tirai alami yang membatasi diri dari keriuhan jalan aspal di seberang sana.
Saat hendak bersantap, kejutan sepertinya enggan berakhir. Ruangan hening dan temaram, lagu “Jali-jali” tiba-tiba mengentak mengiringi 12 pramusaji menari mengelilingi tamu. Mereka membawa serta aneka hidangan. Seusai beratraksi, satu per satu minuman, panganan, hingga makanan inti disajikan. Inilah rasanya menjadi tuan dan nyonya yang dilayani sepenuh hati.
“Ini adalah Tugu Grand Rijsttafel Betawi. Ada pilihan 12, 16, dan 24 menu. Sajian ini khas Kunstkring,” kata Annette Anhar, putri bungsu Anhar.
Duh, jadi susah berhenti mengudap panganan enak dalam potongan kecil seperti kue tok dan onde-onde. Kuah dan isi es selendang mayang nendang sekali di mulut. Belum lagi nasi uduk yang dibungkus daun pisang, semur lidah, dan sate lembut berupa olahan daging sapi cincang yang direkatkan pada bilah-bilah tebu. Alamak lezatnya. [NELI TRIANA]

Sumber: Kompas Edisi Sabtu, 19 April 2014
Share:

Dulu Gudang Tembakau, Kini Sentra Mesin Jahit dan Mesin Obras

Di mana tepatnya bangunan tiga toko berarsitektur China nan megah dan legendaries yang kini menjadi nama jalan, yaitu Jalan Toko Tiga, di Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat? Lalu, di mana toko tembakau merangkap rumah milik Letnan Oey Thay, ayah Oey Tambahsia? Tambahsia dikenal sebagai Casanova China di Batavia di awal abad ke-19.
Lokasi ketiga toko itu tepatnya di Jalan Toko Tiga nomor 28-30, dan 32. Namun, kini jejak kemegahan ketiga bangunan itu sudah sirna. Aroma wangi tembakau pun tak tercium lagi seperti pada tahun 1830-an.
Kala itu, di tepian jalan ini berderet toko dan gudang tembakau terbaik dari seluruh Nusantara, terutama tembakau asal Temanggung, Jawa Tengah. Namun, menurut Anton Wisnu Sudewo (64), pemilik salah satu toko mesin jahit dan mesin obras terbesar di Jalan Toko Tiga, sejak awal 1970-an, kawasan ini berubah menjadi deretan toko mesin jahit dan mesin obras yang memanjang sampai di Jalan Perniagaan Raya (dulu bernama Jalan Pa Tek Kwan).

Lebih dua juta gulden
Tentang Oey Thay, awalnya dia adalah pedagang tembakau asal Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, berdagang tembakau sangat menguntungkan sebab hampir seluruh penduduk Nusantara, termasuk para penghuni Batavia, menyirih dengan tembakau.
Satu dari empat anaknya kemudian menikah dengan putri seorang bupati Pekalongan. Posisi Oey Thay sebagai pengusaha tembakau pun kian kuat. Apalagi, setealah ia ditunjuk pemerintah Hindia Belanda sebagai letnan bagi orang-orang Tionghoa. Kala itu, posisi letnan merupakan pembantu kapitan yang memimpin setiap kampung etnis.
Ketika Oey Thay meninggal, ia mewariskan harta senilai lebih dari dua juta gulden. Harta sebanyak itu disebut-sebut bisa menghidupi sampai keturunannya yang ketujuh. Tapi, belum lagi sampai ke keturunannya yang kedua, salah seorang putranya, Oey Tambahsia, nyaris menghabiskannya.
Sejak remaja, seperti ditulis dalam buku Batavia 1740 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010), Tambahsia yang berparas tampan itu sudah dekat dengan kehidupan malam, pesta, perempuan, candu, dan kereta-kereta kuda. Hidupnya berakhir di tiang gantungan setelah dinyatakan terlibat pembunuhan terhadap seorang perempuan.

Era Butterfly
Meredupnya usaha konglomerat Oey di Toko Tiga membuat banyak deretan toko dan gudang tembakau tutup. Di tengah kelesuan bisnis, mulai bermunculan usaha jasa menjahit yang diiringi tumbuhnya toko-toko mesin jahit.
Ketika itulah, pada 1978 Anton yang kala itu berusia 23 tahun membuka toko mesin jahit setelah beberapa tahun bekerja di usaha impor mesin jahit keluarga besarnya.
Awalnya, setiap bulan ia hanya mampu menjual 20 mesin jahit “kaki” merek Butterfly buatan Shanghai, Tiongkok, dengan harga setiap mesin Rp 12.500. Tapi, saat booming tahun 1995, tokonya mampu menjual 1.000 unit dengan harga setiap mesin, Rp 200.000.
“Kala itu, pesanan sampai dua kali lipat, tapi toko saya hanya mampu memenuhi permintaan separuh. Itu sudah maksimal karena toko saya baru tutup pukul 24.00,” ucap Anton.
Booming Butterfly itu menandai bangkitnya usaha konfeksi di Tanah Air, terutama Jakarta. Jasa menjahit yang awalnya hanya bermunculan di sekitar Toko Tiga berubah menjadi jasa konfeksi yang meluas sampai hampir ke seluruh Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, hingga kini.
Pada 1997 kembali terjadi booming industri garmen. Industri konfeksi terdesak, sementara industri garmen meluas dari Jakarta sampai Tangerang.
“Kami pun menjadi importer mesin jahit dan mesin obras berkomputer untuk melayani industri garmen yang tiga tahun terakhir ini sudah pindah ke Jawa Tengah,” ungkap Anton.
Usaha tokonya menyuplai mesin jahit dan mesin obras ke lingkungan usaha konfeksi, antara lain di kawasan Kecamatan Tambora, ia hentikan.
Toko-toko mesin jahit dan mesin obras di kawasan Toko Tiga pun tumbuh menjamur mengambil alih pelanggan Obor dengan melayani kebutuhan para pemilik usaha konfeksi.
Menurut pantaun pada Rabu (19/3), belasan toko mesin jahit, mesin obras, toko penjual suku cadang, dan bengkel tampak sibuk melayani puluhan pelanggan.
Salah seorang pengusaha garmen di Kecamatan Tambora, Yupiter, yang dihubungi terpisah mengamini kisah Anton. Kini, sejumlah pengusaha di Tambora sudah beralih ke industri garmen, sementara sebagian lain masih di area usaha konfeksi.
Yupiter menambahkan, toko mesin jahit, mesin obras, suku cadang, dan bengkel yang ada di Toko Tiga kini lebih banyak melayani pelanggan di luar lingkungan Tambora.
“Dulu memang iya, tapi sekarang usaha konfeksi dan industri garmen Tambora, toko, dan bengkel juga menjamur lebih banyak di Jalan Jembatan Lima, Jembatan Besi, Jalan Kerendang, dan Jalan Persima. Lokasinya memang tidak populer karena lebih banyak melayani pelanggan Tambora,” ujar Yupiter. (WINDORO ADI)

Sumber: KOMPAS Edisi 20 Maret 2014 hal. 27
Share:

Galeri Nasional Indonesia

Gedung Galeri Nasional Indonesia terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat, atau tepatnya berada di jembatan penyeberangan antara Galeri Nasional dan Stasiun Gambir. Dulu, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 ini dikenal dengan nama Koningsplein Cost No. 14.
Menurut sejarahnya, gedung ini dibangun pada tahun 1902 oleh Yayasan Kristen Carpentier Alting Stiching (CAS) yang bernaung di bawah Ordo van Vrijmetselaren, atas prakarsa Pendeta Albertus Samuel Carpentier.
Awalnya, gedung ini dipergunakan untuk sekolah menengah pertama khusus bagi wanita, yang merupakan usaha pendidikan yang pertama di Hindia Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi, penguasaan dan pengelolaan bangunan bergaya arsitektur Belanda ini terus berubah. Bangunan induk yang terletak di tengah bangunan lainnya dan dikenal dengan sebutan gedung CAS (sekarang disebut Gedung A), pernah difungsikan sebagai asrama HBS wanita. Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia melarang semua kegiatan yang bernuasa pemerintah dan masyarakat Belanda.


Berdasarkan Surat Keputusan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 126/F/1982, tanggal 28 Februari 1982, pengelolaannya diserahkan kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan. Bangunan induk (Gedung A) tersebut kemudian hari difungsikan sebagai Gedung Pameran Seni Rupa. (kini Gedung Pameran Temporer Galeri Nasional Indonesia).
Semenjak 8 Mei 1999 Galeri Nasional hadir sebagai sebuah lembaga museum (Art Museum) dan pusat kegiatan seni rupa. Institusi ini mengemban peran penting dalam meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap karya-karya seni rupa melalui agenda perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan karya-karya seni rupa di Indonesia.
Keberadaan Galeri Nasional Indonesia memberikan peluang bagi masyarakat umum, pelajar dan pecinta seni untuk memanfaatkan sarana yang bermuatan edukatif, kultural dan rekreatif. Galeri Nasional Indonesia semakin penting kehadirannya sebagai salah satu museum seni rupa di Indonesia yang memiliki sekitar 1750 koleksi karya-karya seni rupa.
 ***

Share:

Museum Taman Prasasti

Museum Taman Prasasti terletak di Jalan Tanah Abang I Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat atau tepatnya berada di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat.
Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak 28 September 1795, dan pada waktu itu daerah ini dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Kober berarti kuburan, dinamakan demikian karena lokasi pemakaman ini terletak di kawasan Kebon Jahe.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, lahan seluas 5,5 hektar ini (luas awal, sekarang tinggal 1,3 hektar saja) merupakan hibah dari Tuan Tanah Gubernur Jenderal ke-29 Batavia, WV Halventius, putra Gubernur Jenderal Jeremias Van Rimsdijk (1775–1777). Dahulu pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia (Kerkhof Loan), namun seiring dengan waktu, juga dipergunakan oleh umum terutama mereka yang beragama Nasrani. Diperkirakan makam orang Belanda yang ada di lahan ini dulunya sekitar 4.600 nisan kini hanya tersisa 1.242 nisan. Jenazah sudah banyak yang dipindahkan. Ada yang dibawa ke Belanda dan ada sebagian yang dimakamkan di makam umum Tanah Kusir. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar untuk kemudian diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus 2003, Museum Taman Prasasti bergabung dengan Museum Sejarah Jakarta dalam satu manajemen.


Museum Taman Prasasti sebagai bukti sisa taman pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17, sangat berharga sebagai tempat yang memberi kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia, informasi tentang panjang pendeknya usia termasuk kematian banyak anak, dan beragam bahasa yang digunakan di kota ini.
Rupanya tidak hanya tokoh-tokoh Belanda saja yang dimakamkan di sini. Selain, antara lain: kuburan A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada Perang Buleleng), Dr. H.F. Roll (pendiri STOVIA, Sekolah Kedoteran di zaman Hindia Belanda), J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada Perang Aceh), DR. JLA Brandes (ahli sastra Jawa dan arkeologi) dan Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura), juga terdapat nisan Miss Riboet (tokoh opera pada tahun 1930-an) dan Soe Hok Gie (aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an).


Museum Taman Prasasti kaya akan berbagai gaya arsitektur klasisme, neo-gotik, dan Hindu-Jawa. Seni pembuatan nisan makam dari abad ke-17 sampai ke-20. Bangunan utamanya yang dibangun pada tahun 1844 juga menjadi unsur penting dalam lintasan sejarah. Bangunan di depan kompleks pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum melalui upacara penguburan. Terdapat dua sayap di kiri dan kanan, masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.
Melihat latar belakang kekunaan sejarah yang dimiliki Museum Taman Prasasti, museum ini telah dtetapkan sebagai bangunan bersejarah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Melestarikan cagar budaya merupakan salah satu sekian banyak usaha untuk mengingatkan kepada kita semua, bahwasannya sebelum kita lebih dulu orang lain sudah mengukir sejarah. Terlepas dari sisi buruk dan baiknya mereka semua.
Keberadaan Museum Taman Prasasti di ruang terbuka memberikan peluang penataan koleksi prasasti dan taman menyatu dalam suatu taman museum yang indah. Untuk itu, perlu penataan ulang taman dan koleksi prasasti (lama dan baru), pembentukan zona, hirarki ruang, visual, pemilihan jenis tanaman, dan penambahan elemen taman lainnya.
Pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah Kota Jakarta. Untuk lebih mengenalkan keberadaan Museum Taman Prasasti kepada masyarakat umum, belakangan ini di Museum Taman Prasasti sering digunakan sebagai lokasi syuting video clip dan foto-foto kenangan maupun kegiatan-kegiatan lomba.
Sekarang ini, lokasi Museum Taman Prasasti ditumbuhi berbagai pohon yang rindang, sejuk dan damai. Memang, selain fungsi preservasi nilai historik dari museum ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam, di mana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya. *** [061212]
Share:

Museum Tekstil Jakarta

Museum Tekstil terletak di Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun No. 2 – 4 Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini, tepatnya berada di sebelah barat Kompleks Pertokoan Tanah Abang yang menuju arah Slipi.
Museum ini menempati bangunan tua bergaya kolonial. Gedung ini dibangun pada abad ke-19, yang awalnya adalah sebagai Landhuis (villa) milik orang Perancis yang tinggal di Batavia. Kemudian dibeli oleh Abdul Aziz Mussawi Alkatiri, Konsul Turki di Batavia. Lalu pada tahun 1942, bangunan ini dijual lagi kepada Dr. Karel Christian Crucg. Pada masa revolusi fisik tahun 1945, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Tahun 1947, kepemilikan gedung ini beralih ke Lie Sion Pin, dan olehnya dikontrakkan kepada Departemen Sosial RI untuk menampung orang-orang jompo, dan sejak tahun 1952, gedung ini dibeli oleh Departemen Sosial RI.


Tahun 1972 gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Undang-Undang Monumen (Monumenten Ordonantie) Stbl. 1931 No. 238, dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. CB 11/1/12/72 Tanggal 10 Januari 1972. Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1975, bangunan dengan arsitektur bergaya art craft ini diserahkan oleh Departemen Sosial RI kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk bangunan museum, yang kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan sebagai Gedung Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.
Keberadaan Museum Tekstil ini didasari pada keinginan untuk mengoleksi dan memperkenalkan aneka ragam tekstil tradisional Indonesia, yang merupakan salah satu negara terbesar penghasil tekstil tradisional. Museum ini secara khusus menangani pengumpulan, pengawetan dan pameran, serta mengembangkan konsep edukatif-rekreatif dengan ditunjang berbagai fasilitas publik seperti: Gedung Utama Pameran sebagai Ruang Display, Galeri Batik, Taman Pewarna Alam, Pendopo Kreativitas, Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi, Perpustakaan, Auditorium, Toko Cinderamata, mushola serta lahan parkir yang luas.

Ruang Pameran (Display Room)
Ruang Display digunakan untuk memamerkan tekstil Inondesia, baik koleksi museum, koleksi para desainer maupun masyarakat pecinta tekstil. 
Display disajikan dalam ruang terbuka, mengundang pengunjung untuk melihat, dan mengeksplorasi koleksi secara lebih dekat, menciptakan hubungan yang erat dengan tekstil Indonesia.
Koleksi Museum Tekstil berjumlah 1980 koleksi yang terdiri dari 786 koleksi kain batik, 709 koleksi kain tenun, 325 koleksi campuran, 60 koleksi peralatan, 100 koleksi busana dan tekstil kontemporer.

Galeri Batik (Batik Gallery)
Galeri yang menampilkan sejumlah batik kuno dan batik perkembangan dari masa ke masa ini merupakan embrio Museum Batik Nasional yang dikelola oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerja sama dengan Museum Tekstil.
Galeri ini diresmikan pada tanggal 2 Oktober 2010 dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Batik Indonesia sebagai salah satu World Heritage.

Taman Pewarna Alam (Vegetal Dyes Garden)
Taman dengan luas 2000 m² yang terletak dibelakang gedung utama berfungsi untuk melestarikan dan mengenalkan kepada pecinta tekstil tentang pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.
Koleksi pohon yang ada di dalam Taman Pewarna Alam meliputi: Nangka (Arto Carpu Integra M), Alpukat (Persea Gratisina), Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis L), Mengkudu (Morinda Cetrifolia L), Puring (Cadiacem Variacatum Bl), Ketapang Kebo (Cassia Alata Linn), Andong (Cordyline Futicosa Backer), Jati (Tectano Grandis L), Kelapa (Cocosnucifera), Mahoni (Swietenia Mahagoni Jaca), Lidah Mertua (Sansiviera), Pinang (Areca Catechul), Teh-tehan Merah (Acaly Pha Wikesiana), Trengguli (Cassia Fistula L), Lobi-lobi (Flacaurtia Inermie Roxb), Kibedali (Spotode Campanulata Beau), Ulin (Eusideroxylon Ziogerit), Kesumba (Bixa Orellana L), Jambu Biji (Psidium Guajava L), Tom/Nila (Indigofera Tinctoria), dan Randa (Ceiba Pentedra Gaerth).

Pendopo Kreativitas (Creativity Hall)
Pendopo Kreativitas berada di timur laut dari bangunan utama Museum Tekstil, dan berada di belakang dari kompleks museum ini.
Pendopo ini biasanya digunakan untuk menggelar berbagai kursus maupun pelatihan. Pelatihan batik adalah salah satu pelatihan yang paling diminati oleh sebagian masyarakat. Mereka yang telah mengikuti pelatihan batik di museum telah mampu mengembangkan karyanya dengan lebih professional selain sebagai hobi. Selain pelatihan batik, tersedia juga kursus pewarna alam, aplikasi payet, silk painting, T-Shirt painting, sulam pita dan kreasi mencipta motif kain di atas gerabah.

Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi (Storage and Collection Maintenance Room)
Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi berada di belakang bangunan utama museum ini atau tepatnya setelah Taman Pewarna Alami.
Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan dan merawat koleksi yang dimiliki oleh Museum Tekstil.

Perpustakaan (Library)
Ruang perpustakaan disediakan untuk pengunjung sebagai proses pembelajaran tekstil Indonesia, dengan koleksi buku-buku tekstil yang cukup lengkap.
Ruang perpustakaan menghadap ke Taman Pewarna Alam.

Toko Cinderamata (Museum Art Shop)
Toko Cinderamata merupakan sarana bagi pengunjung untuk memperoleh cinderamata yang dapat dijadikan busana dan aksesorinya sesuai kebutuhan.

Aktivitas Museum Tekstil ini tergolong “hidup” bila dibandingkan dengan keberadaan museum lainnya yang ada di Indonesia. Denyut nadi aktivitas museum ini ditandai dengan adanya agenda Museum Tekstil yang relatif tetap dan rutin. Calender Event Museum Tekstil biasanya akan dibuat dalam agenda setahun sekalian. *** [061212]
Share:

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat. Lokasi museum ini bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri atau berada di depan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Daerah ini termasuk kawasan Kota Tua Jakarta. Kota Tua adalah kawasan yang pertama kali dibangun oleh Belanda pada awal abad ke-16 dan menjadi pelabuhan penting tempat kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia berlabuh. Bergudang-gudang hasil bumi seperti rempah, kopi, dan teh, serta komoditas perdagangan lain seperti cita, disimpan dan diperdagangkan di sini.


Museum ini menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neoklasikal, dipadu dengan pengaruh lokal. Sebelum menjadi De Javasche Bank, bangunan Museum Bank Indonesia ini dulunya merupakan bekas rumah sakit bernama Binnenhospitaal. Setelah sekitar delapan puluh tahun, kapasitas gedung bekas Binnenhospitaal ini dirasa tak lagi memadai sebagai kantor bank besar. Oleh karena itu, De Javasche Bank memutuskan untuk melakukan pembangunan  gedung baru di atas lahan Binnenhospitaal , yang sudah ditempatinya sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.
Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.
Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat  atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.
Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang khasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap- tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.
Setelah pembangunan gedung yang baru selesai, bangunan lama bekas rumah sakit akhirnya sirna, digantikan sepenuhnya oleh bangunan megah yang kita lihat sekarang.
Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.
Selain berbagai koleksi yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia, juga terdapat fasilitas seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah. *** [110712]
Share:

Gedung Ex-Nederlandsche Handel Maatschappij

Bagi kalangan pengamat arsitektur, bangunan warisan kolonial Belanda yang terletak di kawasan BEOS tepatnya di depan stasiun kereta api Jakarta Kota, adalah sebuah karya masterpiece. Arsitekturnya cenderung sederhana namun memiliki nilai estetika tinggi, baik dari desain gedung yang indah dan proporsional maupun detail dan ragam hiasnya yang menawan.
Menurut data sejarah, bangunan yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475/1993, dirancang oleh tiga orang arsitek Belanda, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan C. van Linde. Tahun 1929 gedung ini mulai dibangun oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai gedung Factorij, Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia – sebulan lainnya Netherlands Trading Society (NTS).


Pada masa Perang Dunia II, tentara Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi Nusantara. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, gedung kantor Factorij NHM tutup sejak Maret 1942 dan beroperasional  kembali pada 14 Maret 1946. Setelah Factorij NHM dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) pada 5 Desember 1960, riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor Pusat BKTN Urusan Ekspor Impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965 dimulainya era  “Bank Tunggal”, gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II sampai dengan 31 Desember 1968 dan lahirlah Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Gedung ini digunakan sebagai Kantor Pusat Bank Exim hingga tahun 1995 atau setelah Bank Exim menempati gedung kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 (sekarang Plaza Mandiri).
Gedung yang dahulunya beralamat di Stationsplein 1-Binnen Nieuwpoortstraat ini dibangun di atas tanah seluas 10.039 m² (sebelumnya terdapat bangunan Schlieper yang terbakar tahun 1913) dalam satu taman yang luas menyatu dengan gedung Stasiun Kereta Api di seberangnya. Dengan foreground hijau terbuka dan luas, gedung Factorij NHM kala itu terlihat sangat megah dan monumental.
Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk ini, memang masih memiliki pesona yang kuat. Bangunannya terdiri dari empat lantai seluas 21.509 m² dengan arsitektur yag simetris, memiliki main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan.  Ketinggian permukaan lantai dasarnya lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan pada entrance-nya terasa anggun. Lantai lobby dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik, sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin biasa.
Salah satu bagian yang menarik dari gedung bersejarah yang berada di gerbang “Kota Toea Jakarta” ini, adalah ragam kaca patri yang menggambarkan adanya empat musim dan tokoh nakhoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman yang mendarat di Banten tahun 1596. Terdapat juga kaca hias yang disumbang oleh C.J. Karel van Aalst atas nama Ratu Kerajaan Belanda.
Keunikan lain gedung ini mempunyai koridor yang total panjangnya hampir 1,5 km, cocok untuk jogging sambil menikmati keindahan interior sekaligus koleksi museum Bank Mandiri. Ruang khazanah (kluis) yang terdapat di lantai dasar luasnya pun tidak tanggung-tanggung, 924 m².
Sekarang bangunan kuno yang masih menyisakan nilai-nilai arsitektur dan sejarah sebuah gedung perbankan ini, digunakan sebagai salah satu kegiatan sosial Bank Mandiri dalam rangka mempublikasikan sejarah perkembangan berdirinya. Upaya menjadikan gedung ini sebagai museum, merupakan langkah konkrit melestarikan peninggalan bersejarah.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan “Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta. ***

Share:

Museum Nasional

Awal berdirinya Museum Nasional diawali dengan berdirinya himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightment), di mana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri de Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (perkumpulan ilmiah Belanda) yang mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis yaitu Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).


Salah seorang pendiri BG adalah JCM Radermacher yang menyumbangkan rumahnya dan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna. Sumbangan Radermacher ini merupakan cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan. Dengan adanya koleksi yang semakin bertambah menyebabkan Pemerintah Belanda membangun museum di lokasi sekarang ini yang telah dibuka secara resmi sejak tahun 1868.


Museum Nasional yang terletak di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia dengan sebutan ‘Gedung Gajah’ atau ‘Museum Gajah’ karena di halaman depan museum terdapat patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang berkunjung ke museum tahun 1871.


Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional memiliki lebih dari 140.000 koleksi yang terdiri dari koleksi prasejarah, arkeologi, keramik asing, numismatic/heraldik, kolonial, etnografi dan geografi. Sebagian besar koleksi dikumpulkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda yang diperoleh melalui ekspedisi militer, ekspedisi ilmiah, hadiah, zending dan pembelian.


Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga.
Sebelum gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27, Jakarta Pusat  didirikan, koleksi Museum Gajah termasuk naskah-naskah manuskrip  kuno. Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.


Koleksi yang menarik adalah Patung Bhairawa patung yang tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi. Patung ini berupa laki-laki berdiri diatas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab ditangan kanannya, ditemukan di Padang Roco, Sumatera Barat. Diperkirakan patung ini berasal dari abad ke 13-14. Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam ruang perunggu dalam kotak kaca tersendiri, berbeda nasibnya dengan arca Buddha, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar 4M) terletak di ruang arca batu tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari candi Banon.


Ruang Pameran

Ruang pameran di Museum Nasional terdiri dari dua bagian yaitu ruang pameran di Gedung Gajah yang masih mempertahankan sistem penataan pada masa Kolonial, sementara di Gedung Arca yang merupakan gedung baru dengan sistem penataan yang tematik untuk memperlihatkan kehidupan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Ruang pameran di Gedung Arca terdiri dari empat lantai. Lantai 1 dipamerkan manusia dan lingkungan, lantai 2 dipamerkan ilmu pengetahuan dan ekonomi, lantai 3 dipamerkan organisasi sosial dan pola pemukiman, dan lantai 4 dipamerkan koleksi emas serta keramik asing. *** [040712]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami