The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Homestead Diponegoro in Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homestead Diponegoro in Magelang. Tampilkan semua postingan

Wisma Diponegoro 2 Magelang

Magelang merupakan salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota garnizun pada masa Hindia Belanda selain Malang dan Cimahi. Sebagai kota garnizun, Magelang memiliki banyak bangunan yang berhubungan dengan keberadaan militer pada waktu itu. Tidak hanya berupa barak saja namun juga fasilitas pendukung lainnya. Salah satunya adalah Wisma Diponegoro 2.
Wisma Diponegoro 2 terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6 Kampung Poncol, Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi wisma ini berada tidak jauh dari kompleks RINDAM IV Diponegoro.


Dulu, Wisma Diponegoro 2 ini merupakan rumah dinas yang diperuntukkan bagi pejabat militer Hindia Belanda di Magelang, yang dibangun pada tahun 1920. Dalam sejumlah literatur lawas, menyebutkan bahwa Dr. Johan Woutar Bijleveld bersama keluarga pernah tinggal di rumah pejabat ini (het huis van de familie J.W. Bijleveld). J.W. Bijleveld adalah seorang kolonel yang bertugas di bagian pelayanan medis militer, dan pernah bertugas di Militair Hospitaal Magelang (kini bernama Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono). Istrinya bernama Reina Hendrika Wilhelmina Helena Visser, dan berprofesi sebagai dokter gigi.


Rumah dinas ini memiliki luas bangunan 450 m² di atas lahan seluas 1.200 m². Dengan gaya arsitektur Indische Empire ini, bangunan ini terlihat kokoh dan mempesona. Arsitektur Indische Empire adalah gaya arsitektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) yang diadopsi dari gaya Empire di Perancis yang kemudian disesuaikan dengan iklim dan gaya hidup di Hindia Belanda. Kekhasan gaya arsitektur ini bisa dilihat dari denahnya yang berbentuk simetri penuh. Di tengah terdapat apa yang disebut sebagai “Central Room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central Room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij). Teras tersebut biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi. Kamar mandi, gudang dan daerah layanan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang. Kadang-kadang di samping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Kalau rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada sebidang tanah yang luas dengan kebun di depan, samping dan belakang. Gaya arsitektur Indische Empire, atau yang dikenal juga dengan The Dutch Colonial ini mulai menghilang pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.
Seiring perjalanan sang waktu, rumah dinas masa Hindia Belanda ini pernah menjadi guest house. Kemudian dilakukan pemugaran, dan  difungsikan menjadi Wisma Diponegoro 2 yang diresmikan pada hari Sabtu, 4 April 1998 oleh Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Mayor Jenderal Mardiyanto. Sehingga, sekarang ini tidak hanya untuk menginap bagi tamu-tamu militer tapi juga bisa digunakan untuk wedding party bagi masyarakat umum dengan menawarkan nuansa kolonial yang memorable. *** [201215]

Kepustakaan:
Handinoto, 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19, dalam Journal DIMENSI Vol. 36 No. 1 Juli 2008
http://media-kitlv.nl/image/7efbbc1a-793b-4ba7-b230-e47da3177af9
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami