The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Klaten Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klaten Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Srowot

Stasiun Kereta Api Srowot (SWT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Srowot, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 152 m di atas permukaan laut, dan merupanan stasiun kereta api kelas III. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Srowot, Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara Kantor Kepala Desa Gondangan, atau sebelah timur Masjid Al-Muhajirin.
Bangunan Stasiun Srowot ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Jalur sepanjang 58 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Solo di sebelah timur laut menuju ke Yogyakarta di sebelah barat daya.
Jalur Solobalapan-Yogyakarta ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929. Semula bangunan Stasiun Srowot bergaya arsitektur Indische Empire yang megah dan kokoh. Pintu-pintunya lumayan besar, dan pada bangunan sisi timur memiliki gevel yang diberi ornament kayu serta ada tiga jendela yang besar yang atasnya melengkung. Namun pada saat diambilalih SS, stasiun ini direnovasi dengan bentuk yang disamakan seperti pada stasiun kelas III pada umumnya yang dibuat oleh SS.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Brambanan ke arah selatan dan menuju ke Stasiun Klaten ke arah utara. Jalur 3 digunakan untuk berhenti kereta manakala terjadi perususulan antarkereta api, sedangkan satu jalur lagi pernah dihubungkan dengan jalur menuju PG Gondang Winangoen.
Di stasiun ini sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang lagi. Tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, keculai terjadi persusulan antarkereta api. *** [070717]
Share:

Candi di Klaten

Candi Merak terletak di Dukuh Candi Merak, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Candi Plaosan Lor terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Kompleks percandian Prambanan terletak persis di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah

Candi Sojiwan terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Stasiun Kereta Api Brambanan

Stasiun Kereta Api Brambanan (BBN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Brambanan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 146 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling barat di Kabupaten Klaten. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Brambanan, Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan perempatan lampu merah Stasiun Brambanan (Bangjo Stasiun Brambanan).


Bangunan Stasiun Brambanan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Jalur sepanjang 58 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Solo di sebelah timur laut menuju ke Yogyakarta di sebelah barat daya.
Jalur Solobalapan-Yogyakarta ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929.  Semula bangunan stasiunnya masih kecil dan sederhan, namun pada saat diambilalih Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini dilakukan renovasi menjadi seperti sekarang bentuk bangunannya.


Ketika Yogyakarta terjadi gempa bumi tektonik pada 27 Mei 2006, stasiun ini juga turut terkena guncangannya yang mengakibatkan terjadi kerusakan berat. Namun masih beruntung, bangunan stasiun tersebut masih direkonstruksi sesuai bangunan aslinya.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Kalasan ke arah barat dan menuju ke Stasiun Srowot ke arah timur laut. Jalur 3 digunakan sebagai persilangan kereta atau persusulan antarkereta, sedangkan jalur 4 difungsikan sebagai jalur parkir kereta barang.
Stasiun Brambanan merupakan stasiun kelas III atau kecil, dan saat ini melayani bongkar muat semen serta disinggahi KA Prameks semenjak 20 Juni 2016. Sehingga, masih beruntung masih terdapat aktivitas untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang dan barang. Akan tetapi bila dilihat dari lokasinya yang berada di kawasan pariwisata dunia, sangat disayangkan bila ada aktivitas bongkar muat semen yang dilakukan oleh KA Semen Tigaroda dan KA Semen Arjawinangun.
Alangkah baiknya, jika Stasiun Brambanan ini hanya dikhususkan untuk penumpang saja, dan lebih baik lagi juga dipikirkan untuk mengembangkan stasiun ini sebagai stasiun wisata juga, mengingat banyaknya lokasi candi yang berada di sekitarnya, seperti Candi Sojiwan, Kompleks Candi Perambanan, Candi Plaosan maupun Kraton Boko. *** [150417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo
Share:

Stasiun Kereta Api di Klaten

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Klaten. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah utara ke selatan:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Ngeseng, Dusun Ngeseng, Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Ketandan
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Yogya-Solo, Desa Ketandan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan K.H. Samanhudi No. 53, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Desa Taji, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan kompleks percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya pada abad ke-9. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti Siwagrha. Prasasti berangka tahun 856 M ini sebagai manifes politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan.
Reruntuhan tersebut akhirnya semakin lama semakin tertutupi semak belukar maupun tanaman besar yang akarnya menancap pada kompleks candi tersebut. Seiring itu pula, kemegahan dan keindahan candi kian lenyap dari ingatan masyarakat yang dulu pernah menyatu dalam kehidupannya. Setelah ratusan tahun lamanya tertelan alam, candi ini ditemukan kembali oleh Colin Mackenzie pada tahun 1811. Kala itu, Colin Mackenzie, seorang anak buah Sir Thomas Stamford Raffles sedang melewati hutan belantara di daerah Prambanan, dan tanpa sengaja menemukan reruntuhan candi-candi tersebut. Setelah itu, Colin Mackenzie diberi tugas untuk melakukan ekskavasi dan menggali informasi untuk merekonstruksi candi ini kembali.


Kompleks percandian Prambanan terletak persis di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Kurang lebih 17 kilometer ke arah timur dari Kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 kilometer sebelah barat daya Kota Solo. Lokasi perbatasan ini mencakup dua kabupaten dari dua provinsi yang berbeda tersebut, yaitu Kabupaten Sleman (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kabupaten Klaten (Provinsi Jawa Tengah). Kebetulan kedua kecamatan yang ada di dua kabupaten tersebut bernama Kecamatan Prambanan yang mengapit letak kompleks percandian tersebut. Kompleks percandian Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah, yakni kompleks bagian barat masuk wilayah Kabupaten Sleman, dan bagian timur masuk wilayah Kabupaten Klaten. Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur Sungai Opak yang berjarak kurang lebih 200 meter sebelah utara dari Jalan Raya Yogya-Solo.
Oleh karena itu, gugusan candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Kompleks percandian ini juga dinamakan “Loro Jonggrang”, karena candi ini dikenal luas dengan legenda yang melatarbelakangi pembangunan candinya. Legenda tersebut dikenal dengan Legenda Putri Loro Jonggrang, sebuah legenda yang menceriterakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko yang hendak dipersunting Bandung Bondowoso tapi sang gadis menolaknya. Kenapa? Ceritera ini dapat dibaca pada Legenda Putri Loro Jonggrang.
Usaha pemugaran yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Pada 20 Desember 1953, pemugaran candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Soekarno sebagai Presiden RI pertama.


Pada tahun 1977, candi Brahma mulai dipugar dan diresmikan pada 23 Maret 1987. Sedangkan, candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982, dan diresmikan oleh Soeharto sebagai Presiden RI kedua pada 27 April 1991.
Pada 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta dan merusak sebagian besar peninggalan budaya termasuk Prambanan sebagai Kawasan Warisan Dunia. Tindakan tanggap darurat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia meliputi dokumentasi kerusakan, pembersihan reruntuhan, pemulihan tahap awal, dan kegiatan penelitian.
Sebuah Misi Observasi Darurat telah dilaksanakan oleh Pusat Warisan Dunia UNESCO satu minggu setelah gempa untuk menentukan kerusakan dan mempersiapkan bantuan darurat internasional bagi kawasan tersebut.
Pada tahapan ini dilaksanakan beberapa kegiatan penelitian, upaya-upaya koordinasi untuk pembuatan strategi rehabilitasi dan pekerjaan pemulihan di kawasan tersebut. Pertemuan tingkat internasional yang melibatkan para ahli nasional dan internasional di Yogyakarta mempersiapkan suatu rencana aksi untuk rehabilitasi kawasan tersebut.
Pada lebaran 2015, penulis yang sedang menjadi sopir keluarga dari Jakarta, tepatnya sepupu orangtua penulis, Candi Prambanan menjadi salah satu destinasi atau tujuan wisata sebelum menuju Magelang dari arah Solo. Pada waktu mengunjungi tersebut, Candi Prambanan sudah selesai purna pugar pasca gempa bumi tersebut. Sehingga, pengunjung bisa menikmati keindahan candi tersebut.
Kompleks percandian Prambanan atau Loro Jonggrang ini sangat luas. Area terluar merupakan sebuah lapangan besar yang kemungkinan digunakan sebagai tempat suci para pendeta. Area tengah terdiri dari empat baris yang memiliki 224 kuil kecil. Keempat baris tersebut diyakini melambangkan keempat kasta dalam agama Hindu. Sedangkan, area intinya merupakan tempat yang paling suci dari keseluruhan kompleks yang dikelilingi oleh dinding batu dan memiliki gerbang dari batu pada keempat arah utamanya.
Sesuai dengan isi prasasti Siwagrha, peresmian bangunan suci untuk Dewa Siwa, yaitu Siwagrha dan Saiwalaya serta sekaligus memberikan uraian terperinci mengenai sebuah kompleks bangunan suci agama Siwa, yang menurut para ahli adalah kompleks Candi Prambanan yang diresmikan oleh Rakai Pikatan setelah dia menikahi Pramodhawardhani dan mengalahkan Balaputradewa.
Kompleks percandian Prambanan memiliki beberapa candi yang melingkunginya. Akan tetapi, dari semua candi tersebut ada 3 candi yang dianggap penting, yaitu Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Ketiga candi tersebut diyakini sebagai simbol Trimurti. Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman atau Sang Hyang Widhi, sebutan Tuhan dalam agama Hindu, dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.
Trimurti terdiri dari 3 dewa, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Menurut ajaran Tirmurti dalam Hindu, yang paling dihormati adalah Dewa Brahma sebagai pencipta alam, kemudian Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun Indonesia, Siwa adalah yang paling terkenal. Di Jawa, ia dianggap yang tertinggi karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa.

Candi Siwa
Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter adalah yang terbesar dan terpenting. Dinamakan Candi Siwa karena di dalamnya terdapat arca Siwa yang merupakan arca terbesar. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter, dan berdiri di atas landasan batu setinggi 1 meter.
Bangunan candi ini terbagi atas 3 bagian secara vertikal, yaitu kaki, tubuh dan kepala. Kaki candi menggambarkan dunia bawah, tempat di mana manusia masih diliputi hawa nafsu. Tubuh candi melambangkan dunia tengah, tempat di mana manusia telah meninggalkan keduniawian. Sedangkan, kepala candi atau bagian atap melukiskan dunia atas, tempat di mana para dewa bersemayam.
Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa-dewa dan makhluk-makhluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru atau Mount Everest di India, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Percandian Prambanan merupakan replika gunung itu. Hal ini terbukti dengan adanya arca-arca Dewa Lokapala yang terpahat pada kaki candi tersebut. Empat pintu masuk pada candi tersebut sesuai dengan keempat arah mata angin.
Dasar kaki candi dikelilingi selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan sebelah dalam terdapat relief yang berkisah Ramayana yang dapat diikuti dengan cara pradaksina (berjalan searah jaruh jam) mulai dari pintu utama.
Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar. Di kanan-kirinya berdiri 2 arca raksasa penjaga dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa. Di dalam candi terdapat 4 ruangan yang menghadap keempat arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah-tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing-masing berisi arca Siwa, Ganesha dan Durga.
Hiasan-hiasan pada dinding sebelah luar berupa kinari (makhluk bertubuh burung berkepala manusia), kalamakara (kepala raksasa yang lidahnya berwujud sepasang mitologi) dan makhluk surgawi lainnya.
Atap candi bertingkat-tingkat dengan susunan yang amat kompleks masing-masing dihiasi sejumlah ratna dan puncaknya terdapat ratna terbesar.

Candi Brahma
Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Di dalam ruangan terdapat satu-satunya arca yang berdiri tegak, yaitu arca Brahma berkepala 4 dan berlengan 4. Salah satu tangannya memegang tasbih yang satunya memegang kamandalu (tempat air). Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda yang masing-masing menghadap ke arah empat mata angin tersebut. Keempat lengannya juga menggambarkan keempat arah mata angin. Sebagai pencipta, Dewa Brahma selalu membawa air karena seluruh alam keluar dari alam. Sedangkan, tasbihnya menggambarkan waktu. Sebenarnya arca ini begitu indah tapi sayang arca ini sudah rusak.
Dasar kaki candi juga dikelilingi oleh selasar yang dibatasi pagar langkan di mana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan ceritera Ramayana dan relief serupa pada Candi Siwa hingga tamat.

Candi Wisnu
Candi Wisnu memiliki bentuk, ukuran relief dan hiasan dindingnya yang serupa dengan Candi Brahma. Cuma yang membedakan adalah arca yang ada di dalam ruangan candinya.
Dinamakan Candi Wisnu karena di dalamnya terdapat arca Wisnu yang bertangan 4 yang memegang gada, cakra, dan tiram.
Pada dinding langkam sebelah dalam, terpahat relief ceritera Kresna sebagai penjelmaan Wisnu beserta Baladewa (Balarama) kakaknya. *** [220715]

Share:

Legenda Putri Loro Jonggrang

Pada zaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri dua buah kerajaan Hindu, yaitu Kraton Pengging dan Kraton Boko. Kraton Pengging adalah kerajaan yang subur makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana yang bernama Prabu Damar Moyo yang mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Bandung Bondowoso.
Sedangkan, Kraton Boko merupakan kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kraton Pengging, diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka. Ia tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud seorang raksasa besar yang suka makan daging manusia. Raja tersebut bernama Prabu Boko, dan memiliki seorang putri yang berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan yang bernama Loro Jonggrang.
Selain itu, Prabu Boko juga mempunyai patih yang berwujud raksasa yang bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai Kraton Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.
Setelah persiapan sudah dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju ke Kraton Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kraton Pengging antara para prajurit Pengging dan prajurit Kraton Boko.
Banyak berjatuhan korban di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat yang kelaparan dan jatuh dalam kemiskinan.
Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya, Raden Bandung Bondowoso, maju perang melawan Prabu Boko, dan terjadilah perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Tapi karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko akhirnya dapat dibinasakan.
Melihat rajanya telah tewas maka Patih Gupolo melarikan diri, maka Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.
Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo segera melaporkan pada Putri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Loro Jonggrang, sedih ayahnya telah tewas di medan perang.
Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Loro Jonggrang yang cantik jelita. Seketika itu ia ingin mempersunting Loro Jonggrong sebagai istrinya.
Akan tetapi, Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso disebabkan ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Loro Jonggrang mempunyai siasat, yaitu Loro Jonggrang mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan Raden Bandung Bondowoso mau mengabulkan dua permintaan Loro Jonggrang yaitu pertama, Loro Jonggrang ingin dibuatkan 1.000 candi dalam satu malam.
Raden Bandung Bondowoso menyanggupi dua permintaan Loro Jonggrang, dan segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi, ia memanggil Loro Jonggrong untuk melihat sumur.
Kemudian Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, dan setelah Raden Bandung Bondowoso sampai di bawah, Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dengan batu. Akhirnya, Raden Bandung Bondowoso tertimbun batu di dalam sumur. Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso belum mati. Ia malah bersemedi untuk bisa keluar dari sumur. Raden Bandung Bondowoso pun bisa keluar dari sumur dengan selamat.
Raden Bandung Bondowoso menemui Loro Jonggrang dengan marah sekali yang telah menimbunnya di dalam sumur, tetapi karena kecantikan Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso bisa mereda.
Kemudian Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1.000 candi dalam satu malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi. Sementara itu di lain pihak, Loro Jonggrang berkeinginan menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso dalam membuat candi. Ia memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk perrtanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.
Mndengar ayam berkokok dan orang menumbu padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba.
Akan tetapi menurut firasat Raden Bandung Bondowoso, seharusnya fajar belumlah tiba. Maka dipanggilah Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahnya baru sebanyak 999 candi. Jadi, belum genap menjadi 1.000 candi, dan masih tinggal satu candi lagi.
Siasat Loro Jonggrang agar tidak bisa dipersunting oleh Raden Bandung Bondowoso, akhirnya karena merasa ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Loro Jonggrang. “Hai Loro Jonggrang, candi ini kurang satu dan sebagai genapnya agar menjadi 1.000 maka engkaulah orangnya,” kata Raden Bandung Bondowoso dalam kutukannya kepada Loro Jonggrang.
Lalu, tiba-tiba Loro Jonggrang berubah wujudnya menjadi arca batu, dan sampai sekarang arca Loro Jonggrang masih berada di dalam Candi Prambanan. Tidak hanya itu, Raden Bandung Bondowoso pun juga mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Loro Jonggrang dalam mewujudkan siasatnya tersebut. Sehingga, pada akhirnya berkembang semacam kepercayaan setempat bahwa berpacaran di Candi Prambanan akan berakhir dengan putus cinta. *** [220715]
Share:

Stasiun Kereta Api Delanggu

Stasiun Kereta Api Delanggu (DL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Delanggu, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 133 m di atas permukaan lain.
Stasiun Delanggu terletak di Jalan Stasiun, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Pasar Delanggu yang berjarak sekitar 400 m.
Keberadaan jalur kereta api dari Surakarta menuju Yogyakarta tidak terlepas dari jasa Kolonel JHR Van Der Wijk, seorang petinggi Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Menurut Kolonel JHR Van Der Wijk, kereta api merupakan salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah pengangkutan dan akan sangat menguntungkan dalam bidang pertahanan. Ide awal yang ia rencanakan adalah pembangunan jalur kereta api Batavia-Surabaya melalui Yogyakarta dan Surakarta. Pemerintah Hindia Belanda menerima ide itu, tetapi jalur yang dibangun malah menghubungkan Semarang dan Yogyakarta. Hal ini tak terlepas dari eksistensi Surakarta dan Yogyakarta sebagai Vorstenlanden.


Daerah Vorstenlanden secara harafiah berarti “wilayah-wilayah kerajaan”. Sebutan ini dalam konetks sejarah Nusantara dipakai untuk menyebut wilayah yang sekarang menjadi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta dan wilayah Surakarta. Kedua daerah ini merupakan wilayah kekuasaan empat kerajaan (catur sagatra) yang menjadi penerus dinasti Mataram. Dua kerajaan ada di Karesidenan Yogyakarta, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Sedangkan, dua kerajaan lainnya berada di Karesidenan Surakarta, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.
Pada waktu itu, daerah Vorstenlanden terkenal sebagai penghasil tebu (gula) dan tembakau cerutu. Delanggu sebagai salah satu daerah di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta kala itu, pada 1871 memiliki luas perkebunan tebu mencapai 404 bau dengan hasil produksinya 16.183 pikul. Selain Delanggu yang ditanami tanaman ekspor (tebu/gula), beberapa kecamatan lain di Klaten juga mendukung ekspor, misalnya saja Kecamatan Wedi, Kecamatan Gondangwinangun, dan Kecamatan Ceper. Kecamatan Wedi merupakan wilayah penghasil tembakau utama di Klaten pada masa Hindia Belanda. Pada 1858, tembakau dari Klaten diekspor ke pasar internasional untuk pertamakalinya oleh Pemerintah Hindia Belanda.


Melihat potensi Klaten pada saat itu, selesai dibangunnya jalur kereta api yang menghubungkan Surakarta dan Yogyakarta pada 10 Juni 1872 yang merupakan hasil perpanjangan jalur Kemijen-Tanggung (Semarang) yang selesai terlebih dahulu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun lima stasiun di Kabupaten Klaten, di antaranya Prambanan, Srowot, Klaten, Ceper, dan Delanggu.
Menurut catatan sejarah yang ada, Stasiun Delanggu dibangun NV. Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1884. Stasiun yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan Het Spoorweg Station van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij in Delanggoe ini, digunakan sebagai tempat pengangkutan hasil komoditas yang ada di daerah Delanggu, sehingga mempermudah arus distribusi barang hasil produksi maupun perkebunan dari ataupun ke Delanggu.
Seperti pada umumnya bangunan stasiun kereta api yang terdapat di Jawa, Stasiun Delanggu memiliki bagian-bagian yang membentuk fungsi stasiun, yaitu: halaman depan (front area), bangunan stasiun, peron dan emplasemen. Handinoto (1999: 51) menjelaskan, melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut tingkat besar kecilnya stasiun tersebut.
Kini, Stasiun Delanggu masih berfungsi sebagai stasiun pada umumnya, yaitu sebagai tempat kereta api berhenti untuk menurunkan penumpang (manusia dan barang), sebagai tempat kereta api berangkat untuk mengangkut penumpang (manusia dan barang), dan sebagai tempat kereta api bersilang (menyusul atau disusul) yang memiliki 4 jalur kereta api. Hanya saja kereta api yang mengangkut penumpang dari stasiun ini merupakan kereta api kelas ekonomi saja, seperti: Sri Tanjung.
Melihat latar belakang historisnya, bangunan Stasiun Delanggu ini layak untuk menjadi bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI (Persero) yang dilindungi oleh Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [010515]

Share:

Pabrik Gula Gondang Baru

Pabrik Gula (PG) Gondang Baru terletak di Jalan Jogja – Solo, Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, atau sekitar 5 km dari Kota Klaten menuju ke arah Yoyakarta.
PG Gondang Baru semula bernama PG Gondang Winangoen didirikan pada tahun 1860 oleh NV Klatensche Cultuur Maatschappij yang berkedudukan di Amsterdam, Netherland. Pabrik ini dikelola oleh NV Mirandolle Vaute dan Co yang berkedudukan di Semarag. PG Gondang Winangoen pada tahun 1930 – 1935 tidak beroperasi karena adanya krisis ekonomi dan kemudian pabrik ini kembali beroperasi 1935 – 1942 di bawah pimpinan Boerman dan MFH Breemers, warga negara Belanda.
Mula pertama pabrik ini menggunakan turbin air sebagai penggerak mesinnya. Setelah James Watt menemukan mesin uap, maka untuk memperbesar kapasitas giling digunakanlah mesin uap sebagai penggerak utama.
Mesin uap tertua di pabrik ini adalah B. Lahaye & Brissoneauf buatan Perancis tahun 1884 yang sampai saat ini masih bisa berfungsi dengan baik. Demikian juga mesin-mesin lain peninggalan abad 19 yang masih relatif baik dan menghasilkan gula bermutu tinggi sehingga merupakan daya tarik bagi wisatawan.
Pada tahun 1942 – 1945 Jepang menduduki Indonesia sehingga PG Gondang Winangoen ini juga dikuasai oleh pemerintah Jepang dengan pimpinan pabrik dipegang oleh Niskia dan Inogaki tetapi masih dibantu oleh MFN Breemers.
Pada tahun 1945 setelah revolusi kemerdekaan Indonesia, maka pabrik gula ini menjadi milik pemerintah Republik Indonesia (RI), dan untuk proses pengelolaannya diserahkan kepada Badan Penyelenggara Perusahaan Negara (BPPGN) yang dipegang oleh Bapak Doekoet (1945 – 1948).
Pada tahun 1948, ketika terjadi clash ke-2, pabrik tidak beroperasi. Baru pada tahun 1950 pabrik mulai beroperasi kembali. PG Gondang Winangoen pada bulan Desember 1957 diubah menjadi PG Gondang Baru dengan bentuk Badan Perusahaan Perseroan Terbatas (PT), yang dikuasai dan diawasi oleh PPN Unit Semarang dan pimpinan dipegang oleh R. Imam Sopeno. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 164 tanggal 1 Juli 1964, PT. PG Gondang Baru dimasukkan ke dalam PPN Jateng V di Solo, selanjutnya diubah namanya menjadi PG Gondang Baru.
Lalu, dengan adanya PP No. 14 tanggal 13 April 1968 maka PPN Jateng V dibubarkan dan dibentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XVI yang berkedudukan di Solo, di mana PG Gondang Baru termasuk ke dalam wilayah ini. Kemudian dengan adanya PP No. 11 tanggal 1 April 1981 PNP XVI dibubarkan dan digabungkan ke dalam PTP XV-XVI (Persero) yang berkedudukan di Solo.
Sejak 9 Mei 1994 PTP XV-XVI (Persero) dikelola oleh PTP XXI-XXII dan selaku direksi berkedudukan di Surabaya, dan pada tahun 1996 PG Gondang Baru masuk PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) hingga sekarang. ***
Share:

Candi Merak

Secara administratif terletak di Dukuh Candi Merak, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini didirikan sekitar abad 8 – 10 Masehi.
Menurut Anto, salah seorang petugas yang menunggu candi, candi ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1925. Dulu, lahan candi merupakan lahan yang ada pohon Joho. Saking besarnya pohon Joho ini, banyak buruk merak yang suka bertengger atau tidur di sini. Namun karena tuanya umur pohon Joho tersebut, suatu ketika pohon tersebut tumbang.


Tumbang pohon Joho ini menyebabkan akarnya tercerabut ke atas, dan ini menjadikan tanah di bawah terangkat ke atas. Pada saat inilah muncul banyak arca di bawah pohon yang tumbang tadi. Setelah dilakukan penggalian lebih dalam, ternyata ditemukan candi. Karena dulunya di daerah ini banyak buruk merak yang tidur di sini, maka candi tersebut akhirnya dinamai Candi Merak.
Candi Merak merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Hal ini dapat dilihat dari arca-arca yang terdapat di Candi Merak, seperti lingga yoni, arca Ganesa dan arca Durga. Selain itu terdapat arca-arca lain di sekitar halaman Candi Merak seperti Nandi dan dewa-dewa lain dalam agama Hindu.


Candi Merak memiliki ukuran bangunan panjang 8,86 m, lebar 13,5 m dan tinggi 12 m, dengan luas kompleks candi sekitar 2.000 m². Di kompleks candi ini, terdapat satu buah bangunan candi induk yang menghadap ke timur, dan tiga buah candi perwara yang ketiganya menghadap ke barat. Pemugaran Candi Merak dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dengan dana APBD Provinsi Jawa Tengah. Bagian kaki candid an bagian tubuh selesai dipugar pada tahun 2007 dan 2010. Sedangkan bagian atap candi selesai pada tahun 2011.
Ciri-ciri arsitektur bangunannya menunjukkan bahwa candi ini merupakan candi yang dibangun oleh Kerajaan Mataram Kuna seperti halnya Candi Sewu, Candi Prambanan, dan Candi Plaosan. Bahkan, ada yang memperkirakan candi ini seumuran dengan Candi Bima yang ada di Kompleks Candi Dieng. Hal ini terlihat dari kudhu dan kala makara yang terdapat di Candi Merak sama dengan yang ada di Candi Bima. *** [071012]
Share:

Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Lor yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, didirikan oleh Rakai Panangkaran, seorang raja dari Dinasti Syailendra yang juga mendirikan Candi Borobudur dan Candi Sewu. Candi tersebut terdiri dari candi induk dan mandapa yang dikelilingi 58 Candi Perwara dan 194 stupa. Pada beberapa perwara dijumpai tulisan-tulisan pendek yang memberikan indikasi bahwa bangunan tersebut merupakan sumbangan dari bawahan raja.


Perhatian terhadap Kompleks Candi Plaosan sudah dimulai dari masa pemerintahan Kolonial Belanda melalui penelitian dan pemugaran Candi Induk Selatan. Upaya pelestarian kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah RI melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.


Salah satu hasil penelitian yang menarik yaitu ditemukannya parit berukuran 440 m x 270 m yang mengelilingi kompleks candi beserta temuan lepas berupa ribuan fragmen gerabah dan beberapa keramik asing di dalamnya. Kemungkinan besar, parit tersebut dahulu dimanfaatkan untuk menurunkan air tanah di kompleks candi agar tanahnya menjadi padat.


Usaha pelestarian yang dilakukan pemerintah hingga saat ini meliputi pemugaran Candi Induk Utara, Stupa dan Candi Perwara, Candi Patok, Arca-arca Dwarapala, Gapura, serta Mandapa.



Arca Di Kompleks Candi


Di dalam Kompleks Candi Plaosan Lor terdapat banyak arca. Selain arca Dwarapala yang menjaga di pintu selatan, ada juga arca Dyani Bodhisattva Manjusri dan Sarvanivaranaviskambhin terdapat di dalam bilik selatan Candi Induk. Sedangkan arca Dyani Bodhisattva Samantabhadra dan Maitreya terdapat di dalam bilik utara Candi Induk, serta arca Dyani Bodhisattva Vajrapani dan Avalokitesvara terdapat di dalam bilik tengah Candi Induk. *** [090312]

Share:

Museum Gula Jawa Tengah

Museum Gula Jawa Tengah terletak kurang lebih 5 km dari Kota Klaten ke arah selatan (menuju Yogyakarta), tepatnya berada di Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Museum ini didirikan pada tanggal 11 September 1982 atas prakarsa H. Soepardjo Roestam selaku Gubernur Jawa Tengah dengan dukungan Ir. Waryatmo, Direktur Utama PTP XV – XVI (Persero). Peresmian museum ini bertepatan dengan diadakannya Konggres Internasional Society of Sugar Came Technologist (ISSCT) XIX yang anggotanya terdiri dari ahli gula sedunia di Pasuruan, Jawa Timur, yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Ismail.


Bangunan museum ini menempati salah satu bangunan tempat tinggal yang berada di Kompleks Pabrik Gula Gondang Baru yang didirikan pada tahun 1860 oleh NV Klatensche Cultuur Maatschapij yang berkedudukan di Amsterdam, Netherland. Bangunannya bergaya arsitektur Eropa. Areal tanah yang ditempati, tanahhnya seluas 1.261,20 m² dengan luas bangunan 240 m² yang terdiri dari: Ruang Pameran Tetap, Perpustakaan, Lavatory, Mushala, dan Ruang Auditorium seluas 753 m².

Koleksi Museum
Koleksi museum ini terdiri dari peralatan untuk menanam tebu sampai dengan mengolah tebu menjadi gula pasir, yaitu seperti:

  • ·         Peralatan tanam tebu tradisional
  • ·         Bibit-bibit tebu dan penyakit tebu
  • ·         Alat-alat masa perawatan tanaman tebu
  • ·         Alat-alat mekanisme/fabrikasi pabrik gula
  • ·         Miniatur pabrik gula
  • ·         Alat-alat administrasi pada pabrik gula
  • ·         Alat-alat administrasi pengangkut tebu; dan alat-alat lainnya

Share:

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi Sojiwan merupakan salah satu monument dari Dinasti Mataram Kuno abad VIII – X Masehi. Candi ini didirikan sebagai bentuk penghormatan dari Raja Balitung untuk neneknya nini haji rakryan sanjiwana yang beragama Budha.Relief yang terpahat di bagian kaki Candi Sojiwan memuat ajaran moral agama Budha dalam bentuk fabel (cerita binatang).



Penelitian Candi Sojiwan pertama kali dilakukan oleh J.R. van Blom dan dituliskan dalam disertasinya di Universitas Leiden.  J.R. van Blom  yang membahas tentang hiasan pada Candi Sojiwan. Pada tahun 1813 penelitian dilanjutkan oleh Mackenzie yang menemukan pagar keliling pada jarak kurang lebih 40 meter yang mengelilingi candi utama. Kemudian J.F.G.  Brumund mengadakan kunjungan dan penelitian pada bagian dalam candi dan menyebutnya sebagai Candi Kalongan. Pada tahun 1893 di bawah pimpinan Dorrepaal dilakukan penyusunan reruntuhan batu  Candi Sojiwan.


Salah satu upaya pelestarian Candi Sojiwan sudah sejak lama dilakukan. Pencarian batu dan anastilosis akhirnya dapat direkonstruksi kembali bentuk Candi Induk Sojiwan. Dari hasil rekonstruksi tersebut maka Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah tahun 1996 memulai kegiatan pemugaran terhadap Candi Induk Sojiwan.


Pemugaran yang telah dilakukan sejak tahun 1996 sampai tahun 2006 telah mencapai bagian tubuh candi. Namun karena terjadinya gempa 27 Mei 2006 mengalami keruntuhan. Tindakan penyelamatan setelah gempa 2006 dilakukan pembongkaran kembali bangunan candi dan dalam pemasangannya kembali tidak menggunakan kolom. Kemudian batu isian candi yang semula menggunakan batu putih, pada bagian tertentu menggunakan batu andesit yang diperkuat dengan angkur besi. Nat nat antar batu isian diisi dengan hidrolik mortar. Untuk bagian tertentu di mana terdapat gaya tarik, isian nat antar batu menggunakan bligon.
Selama kegiatan pemugaran Candi Sojiwan juga dilakukan penelitian arkeologi. Sampai saat ini, penelitian arkeologi telah menemukan struktur parit keliling (sebagian ditampakkan) struktur pagar halaman I sisi utara dan timur (telah direkonstruksi). Struktur pagar halaman II sisi utara (sebagian telah direkonstruksi) dan dua deret struktur candi perwara stupa pada halaman II sisi utara (salah satu candi perwara stupa telah direkonstruksi). ***[220212]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami