The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan

Charminar: Empat Menara yang Menyimpan Doa Kota Hyderabad

 "Ancient monuments are full of wisdom, for they have been filled with what they have seen and heard for hundreds of years!" - Mehmet Murat ildan

Rabu siang, 10/12, selepas makan siang hari kedua Third Annual Symposium di May Flower Hall, The Golkonda Resorts & Spa, rombongan peserta tak langsung kembali ke kamar. Panitia dari The George Institute for Global Health (TGI) India mengajak mereka menyusuri denyut Hyderabad lewat sebuah agenda bertajuk Hyderabad City Tour. Bus Sagar bergerak sekitar 20 kilometer dari resor Golkonda, dan di ujung perjalanan, berdirilah sebuah monumen yang seolah memanggil sejarah untuk bercerita: Charminar.

Antusiasme langsung terasa. Peserta dari Imperial College London (ICL), University College London (UCL) Energy Institute, TGI (India dan Australia), Sri Ramachandra Institute of Higher Education and Research (SRIHER), hingga Universitas Brawijaya (UB) larut dalam kekaguman. Charminar berdiri tegak di jantung Hyderabad, ibu kota Telangana, kota yang dulu menjadi pusat Kerajaan Hyderabad, India. Di titik inilah masa lalu dan masa kini saling bertegur sapa.

Bangunan Charminar yang megah di Hyderabad, Telangana, India

Secara arsitektural, Charminar memikat sejak pandangan pertama. Bangunan berbentuk persegi dengan sisi sepanjang 31,95 meter ini dibingkai lengkungan-lengkungan megah setinggi 11 meter. Empat menara - yang menjadi asal namanya, char (empat) dan minar (menara) - menjulang hingga 56 meter, masing-masing bertingkat tiga. Dipercaya bahwa keempat menara tersebut melambangkan empat Khalifah pertama Islam.

Di dalam menara, tangga spiral dengan 149 anak tangga dan 12 bordes mengantar pengunjung menuju puncak, tempat panorama kota terbentang luas. Dinding ganda lengkungan di atap, ornamen menara, dekorasi plesteran, pagar dan balkon yang tersusun rapi, serta motif bunga yang dieksekusi halus, menyatu dalam harmoni estetika Indo-Persia hingga sintesis Mughal dan Hindu.

Charminar didirikan pada tahun Hijriah 1000 (1591–1592 M) oleh Mohammed Quli Qutub Shahi, sultan kelima Dinasti Qutub Shahi sekaligus pendiri kota Hyderabad. Monumen ini bukan sekadar penanda kekuasaan, melainkan tugu syukur – batu doa yang dipanjatkan untuk merayakan berakhirnya wabah penyakit mematikan yang pernah melanda kota. Sebuah pengingat bahwa kota ini lahir dari harapan, dari ikhtiar manusia melampaui krisis.

Peserta Third Annual Symposium NIHR-GHRC NCD & EC mengantre tiket masuk ke Charminar pada Rabu (10/12)

Di balik kemegahan itu, termaktub sosok Mir Momin Astarabadi, arsitek Persia yang menjadi perancang utama Charminar. Ia bukan hanya arsitek, tetapi juga perencana kota, pencinta budaya, dan penyair. Bersama Sultan, Astarabadi membayangkan Hyderabad sebagai “Isfahan baru” di Deccan. Dalam tulisannya, ia menyebut Haidarabad sebagai Isfahan baru, sebuah kota taman, sebuah pusat peradaban yang dirancang dengan visi jauh ke depan.

Catatan para pengembara Eropa turut memperkaya kisah Charminar. Jean Baptiste Tavernier, penjelajah Prancis abad ke-17, menulis tentang Hyderabad yang ia saksikan dari Purana Pul (Jembatan Tua). 

Ia mencatat bahwa meski nama resminya Haidarabad, masyarakat menyebutnya Bagnagar atau Baagh Nagar, yang berarti kota taman. Pada pertengahan abad ke-18, Charminar bahkan pernah menjadi markas Komandan Prancis, Jenderal Charles Joseph Patissier Marquis de Bussy-Castelnau atau Jenderal Bussy. Sejarah berlapis-lapis itu seakan terpatri di setiap batu prasastinya.

Ornamen di dalam bangunan Charminar

Waktu terus bergerak, dan Charminar pun beradaptasi. Pada 1889, empat jam ditambahkan menghadap ke empat arah mata angin. Di bagian dasar, yang semula merupakan vazu - wadah air dengan air mancur kecil untuk wudhu sebelum salat - fungsi ruang pun berevolusi. Dari atap dan menaranya, mata dapat memandang Benteng Golkonda di barat, serta Laad Bazaar yang bersebelahan, pasar ramai yang masyhur dengan gelang pernis bertabur kaca dan batu berwarna.

Para sejarawan melihat Charminar lebih dari sekadar bangunan. Phillip Wagoner, misalnya, meyakini Charminar sebagai chaubara (alun-alun kota), mengacu pada struktur serupa di Bidar, Warangal, dan Udgir. Ibu kota Qutb Shahi menandai pusat kota dengan bentuk bulat, yang membuka jalan ke empat penjuru. Ketika ibu kota dipindahkan dari Golkonda ke Hyderabad, ruang di sekitar Charminar dirancang untuk menampung sekitar 14.000 toko, menghidupkan denyut ekonomi kota baru.

Maka Charminar adalah simbol yang berlapis makna, yakni ketahanan sebuah kota, doa untuk kemakmuran, penanda milenium Islam, dan pusat budaya yang memadukan gaya Indo-Islam. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku sejarah yang menyimpan gema langkah pedagang, doa para peziarah, dan bisik rencana para penguasa.

Pemandangan dari atas bangunan Charminar

Seperti kata Mehmet Murat İldan, seorang penulis, novelis, dan dramawan kontemporer Turki yang lahir pada 16 Mei 1965 di Elazığ, dikenal karena karya-karyanya yang mencakup novel, drama, dan esai, sering kali menggabungkan pemikiran filosofis dan sosial: 

“Monumen-monumen kuno penuh dengan kebijaksanaan, karena telah diisi dengan apa yang telah mereka lihat dan dengar selama ratusan tahun!” 

Charminar membenarkan kata-kata itu. Di bawah empat menaranya, Hyderabad terus bergerak, namun kebijaksanaan masa lalu tetap berdiam untuk menjaga jantung kota agar terus berdetak. *** [241225]


Kepustakaan:

Britannica Editors (2025, October 13). Charminar. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/topic/Charminar

Nanisetti, S. (2018, July 02).   The very many mysteries of Hyderabad’s Charminar. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/the-very-many-mysteries-of-hyderabads-charminar/article24311906.ece

Rajjak, S. M. (2015). Mir Mohammad Momin Astarabadi’s Contribution to Qutb Shahi Deccan History. JRSP, 52(2), 203–209. https://pu.edu.pk/images/journal/history/PDF-FILES/15.%20Shaikh%20Musak%20Rajjak_v52_2_15.pdf

Saidulu, Prof. H. C., & Manu, A. r. (2025). Holistic Vision Of The Monument Charminar. International Journal of Creative Research Thoughts (IJCRT), 13(2), 73–80. https://www.ijcrt.org/papers/IJCRT2502478.pdf

Seshan, K. S. S. (2018, March 24).   General Bussy’s Charminar home. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/bussys-charminar-home/article23342015.ece



Share:

Klenteng Hok Tek Bio Salatiga

Klenteng Hok Tek Bio Salatiga (Foto: 4 Januari 2025)

Terletak di lereng Gunung Merbabu, Kota Salatiga menawarkan nuansa sejuk yang memikat para pengunjung. Kota kecil yang dikenal dengan julukan "Kota Hati Beriman" ini, menyimpan berbagai cerita sejarah yang menarik, salah satunya adalah jejak budaya Tionghoa yang dapat ditemukan melalui Klenteng Hok Tek Bio.

Klenteng Hok Tek Bio yang terletak di Jalan Sukowati No. 13 Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, adalah salah contoh bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting. 

Sebagai sebuah klenteng, Hok Tek Bio bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah Tri Dharma bagi umat Buddha, Konghucu, dan Tao, tetapi juga menjadi simbol penting dalam sejarah perkembangan komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya di Salatiga. Klenteng ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai arsitektur dan sosial yang turut memperkaya warisan budaya Indonesia.

Tahun berdiri klenteng ini belum diketahui dengan pasti. Sumber dalam prasasti marmer beraksara Tiongkok menunjukkan adanya pemugaran klenteng pada tahun 1872. Awalnya, kelenteng ini dibangun oleh masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke wilayah Salatiga untuk tujuan perdagangan dan memperluas pengaruh budaya mereka.

Nama "Hok Tek Bio" sendiri berasal dari bahasa Hokkian, salah satu bahasa Tiongkok, tepatnya dari Minnan (Min selatan) dan bahasa ini digunakan secara luar di wilayah Fujian. Secara etimologis, "Hok Tek Bio" terdiri dari gabungan kata “Hok” (bumi), “Tek” (kebajikan), dan “Bio” (rumah ibadah). Sehingga, nama tersebut mengandung arti "Kelenteng Dewa Hok Tek," yang merujuk pada Dewa Hok Tek (atau Hotei) yang dipercaya sebagai dewa kebahagiaan dan kelimpahan dalam tradisi Taoisme.

Patung Dewa Hok Tek, atau lengkapnya bernama Hok Tek Ceng Sin, digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwarna putih, dan sering kali digambarkan dalam posisi duduk.

Klenteng Hok Tek Bio dengan luas 600 m² ini memiliki gaya arsitektur khas Tionghoa, dengan atap melengkung yang indah, ornamen-ornamen berwarna cerah, dan ukiran-ukiran yang sarat dengan makna simbolis. Bangunan ini memadukan elemen-elemen arsitektur tradisional China dengan pengaruh lokal, menciptakan kesan yang eksotik sekaligus harmonis dengan lingkungan sekitar.

Pada bagian depan klenteng, terdapat sebuah gapura paduraksa bertuliskan nama klenteng dalam aksara Tionghoa sebagai pintu gerbang masuk ke dalam lingkungan klenteng, yang biasa disebut dengan shan men atau pai lou. Di atas gapura ini terdapat hiasan dengan ukiran mutiara bola api milik Sang Buddha (huo zhu) yang diapit oleh sepasang naga yang saling berhadapan (xing long).

Memasuki pintu gerbang, pengunjung akan berada di pelataran (courtyard), sebuah halaman terbuka yang biasanya banyak ditemukan di rumah-rumah tradisional Tiongkok. Pelataran dengan bangunan keliling pada keempat sisi yang menghadap taman di tengahnya dan umumnya bersumbukan utara-selatan itu disebut si he yuan.

Di pelataran (si he yuan) itu, pengunjung akan menyaksikan ada dua tempat pembakaran kertas (kim lo) yang berbentuk botol besar berwarna merah yang ditaruh di atas umpak putih dengan pelisir warna merah di bagian bawah dan pelisir kuning di bagian atas umpak. Sedangkan, pada atap bangunan klenteng juga terdapat ragam hias seperti pada pintu gerbang, yaitu huo zu yang diapit xing long.

Melangkah menuju ke dalam, pengunjung akan menjumpai sepasang arca singa (shi zi) berwarna hijau dengan paduan warna kuning, merah, dan putih. Lalu, tepat di pintu utama mau masuk bangunan utama terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan.

Lanjut langkah kaki ke dalam, pengunjung akan menjumpai altar-altar bagi penganut untuk bersembahyang. Ada sembilan altar di dalam sembilan ruang. Ruang paling depan pada bangunan utama yang bentuknya menyerupai huruf T terbalik adalah ruang penyembahan Thian Than (Tuhan Yang Maha Esa). Ruang tengah yang merupakan ruang utama terdapat altar Dewa Bumi (Hok Tek Cing Sien) beserta dewa lain dan pengawalnya.

Melihat peletakan altar Dewa Bumi di ruang utama tengah, menandakan bahwa di klenteng ini yang menjadi tuan rumahnya yakni Dewa Bumi (Hok Tek Ceng Sien). Dewa ini diyakini memiliki wewenang dalam mengatur rezeki pada manusia sehingga biasa dipuja oleh orang yang mengharapkan rezeki yang lancar dan usaha yang maju. Oleh sebab itu, Klenteng Hok Tek Bio yang diperuntukkan kepada penganutnya sering kali dibangun dekat dengan pasar, seperti yang ada di Kota Salatiga ini. Jarak ke Pasar Salatiga sekitar 150 meter.

Kemudian di sebelah timur, terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Welas Asih (Mak Co Kwan Im) dan ruang penyembahan Dewa Rezeki lainnya. Sementara, di sebelah barat bangunan utama juga terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Lautan (Mak Co Thian Siang Sing Bo) dan ruang penyembahan Smiling Buddha (Buddha yang selalu tersenyum).

Terpisah dari bangunan utama, pada sebelah barat terdapat bangunan memanjang ke utara yang berisi tiga ruang penyembahan. Ruang paling utara terdapat altar Buddha Sidharta Gautama, sedangkan ruang tengah terdapat altar Thay Sang Lo Kun. Sementara, ruang paling timur terdapat altar Nabi Khong Hu Cu.

Selain bangunan klenteng yang masih asli sejak 1872, sekitar tahun 2008 dibangun aula di bagian belakang. Adapun umat yang melangsugkan sembahyang di sini mencapai 300-an orang.

Klenteng Hok Tek Bio ini dikelola oleh Yayasan Tri Dharma Amurvabhumi Hok Tek Bio, sehingga klenteng ini sering juga disebut sebagai Klenteng Amurvabhumi. *** [100325]



Share:

Daftar Bangunan Kuno di Jayapura

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jayapura:

Museum Negeri Provinsi Papua
Museum ini terletak di Jalan Raya Sentani Km. 17, Kelurahan Waena, Kecamatan Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua

Museum Sarwo Edhi Wibowo
Museum ini terletak di Jalan Sam Ratulangi Dok V, Kelurahan Argapura, Kecamatan Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Papua

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Biak Numfor

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Biak Numfor:

Museum Cendrawasih
Museum ini terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Mandala, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Ternate

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Ternate:

Benteng Kalamata
Benteng ini terletak di Jalan Kayu Merah, Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Benteng Kastela
Benteng ini terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, Desa Kastela, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Benteng Kota Janji
Benteng ini terletak di Jalan Ngade, Dusun Laguna, Desa Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Benteng Oranje Ternate
Benteng ini terletak di Jalan DR. Hasan Boesoiri, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Benteng Tolukko
Benteng ini terletak di Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Kedaton Kesultanan Ternate
Istana ini terletak di Jalan Sultan Khairun No. 1 Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Masjid Kesultanan Ternate
Masjid ini terletak di Jalan Sultan Baabullah, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Kepulauan Sula

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kepulauan Sula:

Benteng De Verwachting
Benteng ini terletak di Kelurahan Sanana, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Halmahera Selatan

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Halmahera Selatan:

Benteng Barnaveld
Benteng ini terletak di Jalan Benteng Barnaveld RT 04 RW 08, Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara

Kedaton Kesultanan Bacan
Kedaton atau Kraton ini terletak di Jalan Oesman Syah RT 03 RW 07, Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara

Masjid Kesultanan Bacan
Masjid ini terletak di Kelurahan Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Halmahera Barat

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Halmahera Barat:

Rumah Adat Sasadu Golo
Rumah adat ini terletak di Desa Golo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Maluku Tengah

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Maluku Tengah:

Gereja Ebenhaizer Soahuku
Gereja ini terletak di Jalan Nona SAR Sopacua, Lingkungan Soahuku, Desa Soahuku, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku

Gereja Imanuel Jemaat Amahai
Gereja ini terletak di Jalan Chrisitna Martha Tiahahu, Desa Amahai, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku

Masjid Ar-Rahman Soahuku
Masjid ini terletak di Jalan Samalili, Lingkungan Namalo II RT 12 RW 05 Desa Soahuku, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Ambon

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Ambon:

Masjid Jami’ Ambon
Masjid ini terletak di Jalan Sultan Baabullah, Kelurahan Honipopu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku

Museum Siwalima
Museum ini terletak di Jalan Dr. Malaihollo Taman Makmur, Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Gorontalo Utara

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Gorontalo Utara:

Benteng Maas
Benteng ini terletak di Dusun Molu’o, Desa Molu’o, Kecamatan Kwandang, Kabuaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo

Benteng Oranye
Benteng ini terletak di Lingkungan I, Desa Dambalo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo

Situs Taman Purbakala Kota Jin
Situs purbakala ini terletak di Di Desa Kota Jin Utara, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Gorontalo

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Gorontalo:

KOTA GORONTALO

Benteng Otanaha
Benteng ini terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo

Kantor Pos Gorontalo
Kantor pos ini terletak di Jalan Nani Wartabone No. 15 RT 01 RW 01, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo

Masjid Hunto Sultan Amay
Masjid ini terletak di Jalan A.R. Koniyo, Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo

KABUPATEN GORONTALO

Museum Pendaratan Pesawat Ampibi Soekarno
Museum ini terletak di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Kendari

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kendari:

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara
Museum ini terletak di Jalan Abunawas No. 191 Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara

Museum Wallacea
Museum ini terletak di Jalan Mayjen S. Parman, Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Maros

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Maros:

Museum Kupu-Kupu
Museum ini terletak di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Rumah Informasi Taman Prasejarah Leang-Leang
Rumah informasi ini terletak di Dusun Panaikung, Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Taman Prasejarah Leang-Leang
Taman prasejarah ini terletak di Dusun Panaikung, Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Gowa

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Gowa:

Museum Balla Lompua
Museum ini terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Makassar

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Makassar:

Fort Rotterdam
Fort Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang No. 1 Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Gedung Kesenian Sulawesi Selatan
Gedung ini terletak di Jalan Riburane No. 15 Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

GPIB Jemaat Immanuel Makassar
GPIB ini terletak di Jalan Balai Kota No. 1 Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Museum Kota Makassar
Museum ini terletak di Jalan Balai Kota No. 11 Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Museum La Galigo
Museum ini terletak di Jalan Ujung Pandang No. 1 Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Sulawesi Tengah

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Palu

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Palu:

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tengah
Museum ini terletak di Jalan Kemiri No. 23, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah

 

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Mempawah

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Mempawah:

Istana Amantubillah
Istana ini terletak di Jalan Adiwijaya RT 04 RW 12 Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Masjid Jamiatul Khair Mempawah
Masjid ini terletak di Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami