Senin, 24 November 2014

Benteng Kalamata

Ada banyak benteng yang menjadi obyek wisata di Ternate. Salah satunya benteng yang masih utuh tembok kelilingnya adalah benteng Kalamata. Benteng ini sering dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Konstruksi benteng Kalamata memperlihatkan bentuk khas arsitektur Portugis. Tembok kelilingnya tidak begitu tebal seperti halnya benteng-benteng buatan Belanda. Ketebalan benteng Kalamata hanya 60 cm, dan tingginya 3 m.
Benteng ini merupakan bangunan berbentuk segi empat yang tidak lurus (poligon), memiliki empat bastion yang runcing di ujungnya. Setiap bastion dilengkapi sejumlah lubang bidik. Selanjutnya, pada lapangan dalam benteng terdapat bekas pondasi sejumlah bangunan, terdapat pula bekas jalan, tangga dan sumur.


Benteng Kalamata terletak di Jalan Kayu Merah, Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di bibir pantai Pulau Ternate menghadap Selat Maitara, yang tidak begitu jauh dengan Ternate Waterboom.
Awalnya, benteng Kalamata ini bernama benteng Santa Lucia (Fort Santa Lucia), yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1540 atas inisiatif Antonio Pigafetta. Pendirian benteng tersebut sebagai pusat pertahanan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan Portugis di Pulau Ternate. Namun setelah Portugis meninggalkan Ternate 1575, Spanyol menduduki benteng tersebut dan digunakan sebagai pos perdagangan. Pada tahun 1609 benteng ini direstorasi Belanda di bawah pimpinan Pieter Both dan dipergunakan sebagai benteng pertahanan.
Pada 13-16 Februari 1624, Gubernur Belanda Le Febre dan Deputy Admiral Geen Huigen Schapenham mencoba memperbaiki benteng namun kemudian ditelantarkan. Tahun 1627 Gills van Zeyst meninggalkan benteng dan kemudian diduduki oleh bangsa Spanyol.


Setelah Spanyol meninggalkan Ternate, dan menghancurkan benteng ini pada tahun 1663, Belanda membangunnya kembali dan diberi nama benteng Kalamata. Nama Kalamata diambil dari nama seorang Pangeran Ternate, Kaicil Kalamata, kakak dari Sultan Mandarsyah dan paman dari Sultan Kaicil Sibori Amsterdam (1675-1690). Pangeran Kalamata wafat di Makassar pada 1676.
Selain digunakan sebagai pos perdagangan, benteng yang juga dikenal dengan benteng Kayu Merah ini juga dimanfaatkan sebagai pusat untuk melancarkan serangan terhadap bangsa Belanda. Pada 29 April 1798, benteng Kalamata direbut oleh pasukan Kaicil Nuku (Sultan Tidore ke-19) yang dibantu pasukan dan kapal Inggris. Benteng ini diperbaiki oleh Mayor Lutzow pada tahun 1799. Akibat dikhianati, benteng ini jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1810. Tahun 1843, Residen van Helback resmi mengosongkan benteng ini.
Benteng Kalamata pernah dipugar oleh Pemerintah RI tanggal 1 Juli 1994 dan diresmikan purna pugarnya tanggal 25 November 1997 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro. Kemudian pada tahun 2005, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate merenovasi benteng ini dengan menambahkan halaman dan rumah untuk penjaga benteng Kalamata.
Pada tahun 2013, Balai Pelestarian Cagar Budaya melakukan kegiatan rehabilitasi terhadap benteng Kalamata yang bertujuan untuk memperbaiki bagian-bagian benteng yang mengalami kerusakan. Rehabilitasi itu dilakukan dengan membongkar dan memasang kembali batu pada dinding dan lantai yang mengalami retak-retak, melakukan pemadatan tanah di bawah lantai, membersihkan sumur yang terdapat di dalam benteng, dan sekaligus menata lingkungan benteng. Sehingga, kawasan benteng ini menjadi the spirit of place yang mengandung nilai heritage yang sesungguhnya. *** [161014]

0 komentar:

Posting Komentar