Kamis, 27 November 2014

Benteng Tolukko

Benteng Tolukko adalah salah satu peninggalan Portugis di Ternate yang hingga kini masih berdiri. Dari atas benteng ini, kita bisa melihat pemandangan laut yang indah, dengan latar belakang pulau Halmahera, Tidore, dan Maitara.
Benteng Tolukko terletak di Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di sebelah tenggara Kantor PDAM Ternate yang berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat kota menuju ke arah Bandara Sultan Babullah Ternate. Dilihat dari segi aksebilitasnya, benteng Tolukko ini mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.
Menurut sejarahnya, setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis, Laksamana Alfonso d’Albuquerque mengirim Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao dengan armada yang terdiri dari tiga kapal ke Maluku pada Desember 1511. Dalam bulan Januari 1512, mereka tiba di Banda. Setelah beberapa waktu di Ambon, karena mengalami ketidakberuntungan dengan karamnya kapal yang ditumpangi, Serrao dijemput utusan Sultan Ternate dan dibawa ke Ternate pada awal 1512.


Kedatangan Fransisco Serrao di Ternate adalah kedatangan seorang pejabat pertama Eropa – dalam hal ini Portugis – dan sebuah program eksplorasi penguasa Portugis yang ambisius dan telah dimulai sejak abad ke-15. Serrao sendiri adalah fungsionaris Portugis pertama yang berhasil merundingkan hak-hak monopoli negerinya atas perniagaan rempah-rempah dan hak eksklusif pendirian sejumlah benteng di Ternate, yang salah satunya adalah benteng Tolukko.
Benteng Tolukko ini semula dibangun oleh Fransisco Serrao (Portugis) pada tahun 1540, kemudian direnovasi oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1610.  Benteng ini kerap disebut benteng Hollandia (Fort Hollandia) atau benteng Santo Lucas.
Pemerintah Hindia Belanda pada 1661 mengizinkan Sultan Mandarsyah untuk menempati benteng ini dengan kekuatan pasukan sebanyak 160 orang. Letaknya yang berada di atas bukit batu karang yang terletak di ketinggian kemungkinan untuk memudahkan mengawasi kegiatan Sultan Ternate dan lalu lintas perdagangan di perairan Ternate.


Beberapa catatan mengatakan bahwa nama Tolukko adalah nama dari penguasa kesepuluh yang duduk di singgasana Ternate, yaitu Kaicil Tolukko, akan tetapi karena Sultan ini baru memerintah di tahun 1692 maka tidak mungkin nama benteng ini diberikan mengikuti nama tersebut. Menurut catatan sejarah Belanda, di tahun 1610 benteng Portugis tersebut diperbaiki oleh Pieter Both, seorang Gubernur VOC, dan dimaksudkan sebagai pertahanan terhadap bangsa Spanyol yang memang sedang sibuk menggempur pulau Ternate.
Pada tahun 1864, benteng ini dipugar oleh residen P. van der Crab. Dari data yang didapatkan, dalam pemugaran tersebut telah meninggikan benteng 70 cm. Benteng yang berdiri di atas bukit batuan beku terletak pada 620 cm di atas permukaan laut, letaknya menjorok ke laut. Dengan denahnya yang tidak simetris kemungkinan banhwa benteng ini disesuaikan dengan kondisi bentuk bukit yang ada. Bentuknya yang cenderung membulat dengan 2 bastion di depan dan 1 di belakang yang mengundang interpretasi tersendiri merupakan keunikan yang menjadi ciri khas Portugis.
Bentuk bastion tidak seperti kebanyakan benteng kolonial lainnya, yang umumnya berbentuk mata panah (arrow head), pada benteng Tolukko bastion berbentuk bulat. Pada dinding sebelah kiri setelah pintu masuk terdapat pahatan lambang yang hingga kini belum diketahui makna pahatan tersebut.
Benteng Tolukko ini sebenarnya memiliki terowongan yang terhubung hingga laut atau pantai yang berada di depannya. Namun, kini terowongan tersebut ditutup untuk umum karena berbahaya.
Benteng ini sempat terlantar karena tidak terawat beberapa tahun. Sekitar tahun 1996, benteng ini mulai dipugar oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Selesai purna pugarnya pada tahun 1997 dan diresmikan oleh Prof DR. Ing. Wardiman Djojonegoro.
Kini, benteng ini menjadi terpelihara dengan baik, sehingga bisa menjadi bukti sejarah bagi masyarakat Ternate, dan sekaligus dikembangkan menjadi obyek wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. *** [171014]

0 komentar:

Posting Komentar