Jumat, 18 Desember 2015

Gereja Imanuel Jemaat Amahai

Maluku sebagai daerah yang pernah menjadi tempat bercokolnya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, dalam rangka ekspansi terhadap jalur perdagangan rempah-rempah dunia, hampir seluruh wilayah Maluku menyimpan situs bangunan peninggalan sejarah kolonial Belanda, seperti benteng, gereja maupun bekas permukiman warga Belanda.
Tak terkecuali dengan daerah Amahai, masih berdiri kokoh sebuah gereja yang digunakan sebagai tempat peribadatan jemaat Kristiani yang berada di tepi jalan antara Amahai menuju Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah. Gereja tersebut bernama Gereja Imanuel Jemaat Amahai. Gereja ini terletak di Jalan Christina Martha Tiahahu, Desa Amahai, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Lokasi gereja ini berada samping Kantor Badan Saniri Negeri dan Lembaga Adat Negeri Amahai atau sebelah timur SDN 1 Amahai.
Cikal bakal bangunan gereja ini sudah ada sejak tahun 1890. Dulu, konstruksi bangunan gerejanya masih menggunakan kayu besi yang pada waktu itu masih banyak dijumpai di daerah tersebut. Namun, ketika terjadi tsunami pada 1 Desember 1899, bangunan gereja tersebut hancur.


Pada tahun 1924, gereja ini dibangun kembali oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikenal dengan nama De Protestantse Kerk te Amahai, atau biasa disebut juga dengan Indische Kerk. Chr. G.F. de Jong dalam sebuah artikel Voorlopig overzicht van Nederlands kerkelijk ergoed in Indonesië uit de periode 1815-1942 yang diunggah di dalam situsnya, menyebutkan bahwa gereja ini tergolong sebagai bangunan gereja yang besar (een flink kerkgebouw).
Pada waktu Jepang ingin menguasai Maluku, terjadi perlawanan dari pihak Belanda terhadap serangan Jepang tersebut. Bombardir yang dilakukan pada 21 Desember 1943, menyebabkan bangunan gereja mengalami kerusakan berat. Setelah Jepang hengkang dari Maluku, kondisi perpolitikan di sana masih belum stabil. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, masih tersisa ketidak ikhlasan Belanda untuk mengakui negara baru Indonesia. Agresi Belanda pun muncul tapi senantiasa mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia, sehingga Belanda yang dengan segala cara tak bisa menguasai Indonesia lagi.
Setelah dirasa aman dan stabil, gereja tersebut mulai dibangun kembali. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pendeta Pelamonia Souhoka Pesuarissa Sipalsuta pada 8 Mei 1950, dan selesai pada 6 November 1961. Lalu, ditasbihkan oleh Pendeta Warela K. Haullussy pada 23 Agustus 1964 dengan nama Gereja Imanuel Jemaat Amahai-Soahuku. Pada 7 Juli 1986, Gereja Imanuel ini direstorasi yang pertama, kemudian dilanjutkan dengan restorasi yang kedua pada 18 Oktober 1993.
Kehadiran Gereja Imanuel ini tidak terlepas dari kesejarahan Gereja Protestan Maluku (GPM). GPM merupakan salah satu gereja di Indonesia yang beraliran Protestan Reformasi atau Calvinis. GPM berdiri di Ambon, Maluku pada 6 September 1935. GPM memandirikan dirinya dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) atau Indische Kerk sebagai bentuk kemandirian gereja. *** [011015]

0 komentar:

Posting Komentar