The Story of Indonesian Heritage

Klenteng Hok Tek Bio Salatiga

Klenteng Hok Tek Bio Salatiga (Foto: 4 Januari 2025)

Terletak di lereng Gunung Merbabu, Kota Salatiga menawarkan nuansa sejuk yang memikat para pengunjung. Kota kecil yang dikenal dengan julukan "Kota Hati Beriman" ini, menyimpan berbagai cerita sejarah yang menarik, salah satunya adalah jejak budaya Tionghoa yang dapat ditemukan melalui Klenteng Hok Tek Bio.

Klenteng Hok Tek Bio yang terletak di Jalan Sukowati No. 13 Kelurahan Kalicacing, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, adalah salah contoh bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting. 

Sebagai sebuah klenteng, Hok Tek Bio bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah Tri Dharma bagi umat Buddha, Konghucu, dan Tao, tetapi juga menjadi simbol penting dalam sejarah perkembangan komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya di Salatiga. Klenteng ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai arsitektur dan sosial yang turut memperkaya warisan budaya Indonesia.

Tahun berdiri klenteng ini belum diketahui dengan pasti. Sumber dalam prasasti marmer beraksara Tiongkok menunjukkan adanya pemugaran klenteng pada tahun 1872. Awalnya, kelenteng ini dibangun oleh masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke wilayah Salatiga untuk tujuan perdagangan dan memperluas pengaruh budaya mereka.

Nama "Hok Tek Bio" sendiri berasal dari bahasa Hokkian, salah satu bahasa Tiongkok, tepatnya dari Minnan (Min selatan) dan bahasa ini digunakan secara luar di wilayah Fujian. Secara etimologis, "Hok Tek Bio" terdiri dari gabungan kata “Hok” (bumi), “Tek” (kebajikan), dan “Bio” (rumah ibadah). Sehingga, nama tersebut mengandung arti "Kelenteng Dewa Hok Tek," yang merujuk pada Dewa Hok Tek (atau Hotei) yang dipercaya sebagai dewa kebahagiaan dan kelimpahan dalam tradisi Taoisme.

Patung Dewa Hok Tek, atau lengkapnya bernama Hok Tek Ceng Sin, digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwarna putih, dan sering kali digambarkan dalam posisi duduk.

Klenteng Hok Tek Bio dengan luas 600 m² ini memiliki gaya arsitektur khas Tionghoa, dengan atap melengkung yang indah, ornamen-ornamen berwarna cerah, dan ukiran-ukiran yang sarat dengan makna simbolis. Bangunan ini memadukan elemen-elemen arsitektur tradisional China dengan pengaruh lokal, menciptakan kesan yang eksotik sekaligus harmonis dengan lingkungan sekitar.

Pada bagian depan klenteng, terdapat sebuah gapura paduraksa bertuliskan nama klenteng dalam aksara Tionghoa sebagai pintu gerbang masuk ke dalam lingkungan klenteng, yang biasa disebut dengan shan men atau pai lou. Di atas gapura ini terdapat hiasan dengan ukiran mutiara bola api milik Sang Buddha (huo zhu) yang diapit oleh sepasang naga yang saling berhadapan (xing long).

Memasuki pintu gerbang, pengunjung akan berada di pelataran (courtyard), sebuah halaman terbuka yang biasanya banyak ditemukan di rumah-rumah tradisional Tiongkok. Pelataran dengan bangunan keliling pada keempat sisi yang menghadap taman di tengahnya dan umumnya bersumbukan utara-selatan itu disebut si he yuan.

Di pelataran (si he yuan) itu, pengunjung akan menyaksikan ada dua tempat pembakaran kertas (kim lo) yang berbentuk botol besar berwarna merah yang ditaruh di atas umpak putih dengan pelisir warna merah di bagian bawah dan pelisir kuning di bagian atas umpak. Sedangkan, pada atap bangunan klenteng juga terdapat ragam hias seperti pada pintu gerbang, yaitu huo zu yang diapit xing long.

Melangkah menuju ke dalam, pengunjung akan menjumpai sepasang arca singa (shi zi) berwarna hijau dengan paduan warna kuning, merah, dan putih. Lalu, tepat di pintu utama mau masuk bangunan utama terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan.

Lanjut langkah kaki ke dalam, pengunjung akan menjumpai altar-altar bagi penganut untuk bersembahyang. Ada sembilan altar di dalam sembilan ruang. Ruang paling depan pada bangunan utama yang bentuknya menyerupai huruf T terbalik adalah ruang penyembahan Thian Than (Tuhan Yang Maha Esa). Ruang tengah yang merupakan ruang utama terdapat altar Dewa Bumi (Hok Tek Cing Sien) beserta dewa lain dan pengawalnya.

Melihat peletakan altar Dewa Bumi di ruang utama tengah, menandakan bahwa di klenteng ini yang menjadi tuan rumahnya yakni Dewa Bumi (Hok Tek Ceng Sien). Dewa ini diyakini memiliki wewenang dalam mengatur rezeki pada manusia sehingga biasa dipuja oleh orang yang mengharapkan rezeki yang lancar dan usaha yang maju. Oleh sebab itu, Klenteng Hok Tek Bio yang diperuntukkan kepada penganutnya sering kali dibangun dekat dengan pasar, seperti yang ada di Kota Salatiga ini. Jarak ke Pasar Salatiga sekitar 150 meter.

Kemudian di sebelah timur, terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Welas Asih (Mak Co Kwan Im) dan ruang penyembahan Dewa Rezeki lainnya. Sementara, di sebelah barat bangunan utama juga terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Lautan (Mak Co Thian Siang Sing Bo) dan ruang penyembahan Smiling Buddha (Buddha yang selalu tersenyum).

Terpisah dari bangunan utama, pada sebelah barat terdapat bangunan memanjang ke utara yang berisi tiga ruang penyembahan. Ruang paling utara terdapat altar Buddha Sidharta Gautama, sedangkan ruang tengah terdapat altar Thay Sang Lo Kun. Sementara, ruang paling timur terdapat altar Nabi Khong Hu Cu.

Selain bangunan klenteng yang masih asli sejak 1872, sekitar tahun 2008 dibangun aula di bagian belakang. Adapun umat yang melangsugkan sembahyang di sini mencapai 300-an orang.

Klenteng Hok Tek Bio ini dikelola oleh Yayasan Tri Dharma Amurvabhumi Hok Tek Bio, sehingga klenteng ini sering juga disebut sebagai Klenteng Amurvabhumi. *** [100325]



Share:

BACA JUGA:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Kota tanpa tempat-tempat historis bagai orang kehilangan jati dirinya. (Prof. Eko Budihardjo)
Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami